Without You

Without You
66. Berbincang


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Sudah dua bulan terakhir ini Vidya tinggal jauh dari negara kelahirannya, dan kini ia memilih menetap di Turki.


Untuk menenangkan fikirannya sejenak dari segala permasalahan yang menimpanya.


Semenjak Arya mengajak dirinya untuk rujuk kembali, semenjak itu juga kehidupan Vidya menjadi tidak tenang.


Vidya memang sebenarnya masih menyimpan rasa cinta pada Arya namun ia juga tidak mau menjadi perusak rumah tangga Arya dan Siren.


Akhirnya Vidya memilih untuk menjauh, karna ia fikir memang sebaik nya dia pergi menjauh saja daripada harus terlibat masalah yang rumit dengan Siren nantinya.


Vidya memilih menjauh terlebih dahulu, ia perlu waktu untuk mencerna semuanya dengan baik.


Tak ada yang pernah baik-baik saja dari hubungan antara dua orang yang sudah terjalin namun berakhir di tengah jalan.


Begitu juga dengan Vidya, ia tidak sekuat perempuan di luar sana yang mungkin tetap tabah dalam menghadapi ini semua.


Vidya mungkin bisa untuk tetap sabar tapi lagi-lagi logikanya selalu kalah dengan perasaan.


Vidya pun menyerah dan memilih untuk menyepi sejenak dan mengasingkan dirinya ke tempat yang jauh dari Arya dan segala sumber yang bisa membawa permasalahan bagi hidupnya.


Vidya menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya sudah kembali terlihat jauh lebih segar sejak dirinya memutuskan untuk menetap di Turki untuk sementara waktu.


Di sini Vidya tinggal di sebuah rumah milik Astrid, jadi Vidya tidak perlu repot-repot membayar uang sewa rumah.


Vidya juga senang berasa di Turki, udara di Turki seolah-olah membawa angin sejuk bagi Vidya untuk bisa membuka lembaran baru dan berusaha perlahan melupakan masalalu nya.


Vidya menatap ke arah bagian perutnya, yang membuat Vidya tersenyum dengan lebar.


Alasan ia pergi ke Turki juga karna anaknya, ia ingin menjauhkan anaknya dari segala hal yang membuat anaknya berada dalam bahaya.


Vidya mengelus perutnya dengan lembut, kandungannya kini sudah menginjak usia delapan bulan dan bulan depan adalah bulan dimana Vidya akan melahirkan anaknya.


Vidya tidak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan anaknya, yang selama ini menjadi penguat untuk dirinya dalam menghadapi masalah yang silih berganti datang menghampiri.


"Sebentar lagi kita akan bertemu sayang, Ummah nggak sabar mau ketemu kamu." Ucap Vidya seraya menatap foto hasil USG nya yang selalu Vidya pandangi dan ia ajak bicara seolah-olah ia seperti sedang berbicara dengan anaknya.


"Vidya, ayo kita makan dulu." Ucap Astrid yang datang dan mengajak Vidya untuk makan bersama.


Vidya memang tidak pergi sendiri ke Turki, ada Astrid yang menemani dan akan menjaga Vidya selama berada di Turki, karna Astrid sangat khawatir jika membiarkan Vidya tinggal sendirian selama berada di Turki, dengan keadaan Vidya yang sedang hamil besar pula seperti sekarang ini.


Vidya menurut, ia kini duduk di hadapan Astrid yang sudah menghidangkan beberapa makanan di atas meja makan.


Vidya menatap makanan itu dengan penuh selera, apalagi ada ayam sambal balado kesukaan Vidya, yang seketika membuat Vidya tidak tahan untuk tidak langsung menyantapnya.


[]

__ADS_1


Sementara itu di lain tempat, ada Siren yang sedang menimang Aksara.


Pandangan Siren lurus kedepan, ada sesuatu yang menganjal di hatinya ketika terus-menerus melihat Arya yang termenung dan terlihat jelas pancaran kesedihan di dalam matanya.


Siren mengkhawatirkan suaminya itu, Arya tak pernah mengatakan apapun tapi Siren sangat tau bahwa Arya memang masih mencintai Vidya.


Gadis itu, entahlah Siren juga tidak tau apa yang membuat gadis itu lebih menarik dan istimewa di mata Arya dibandingkan dirinya.


Padahal saat ini Siren sudah berhasil memisahkan Arya dan Vidya, dan kini dialah yang memiliki seutuhnya.


Mungkin raga Arya berada di sini bersama dirinya, tapi fikiran Arya berkelana jauh pada Vidya.


Siren menghebuskan nafasnya kasar, lelah juga memikirkan hal ini terus menerus.


Siren menggambil gawainya yang berada di atas nakas, lalu menghubungi seseorang.


"Halo? Lo lagi sibuk atau gk? Gue mau ngajak lo ketemuan," ucap Siren pada seseorang di sebrang sana yang menjadi lawan bicaranya.


"Nggak nih, ketemuan dimana?"


"Di tempat biasanya aja," jawab Siren, lalu setelah berbasa-basi dia mengakhiri panggilan tersebut.


Siren mulai bersiap-siap, tak lupa ia memoles wajahnya dengan make up.


Lalu setelah selesai memoles make up di wajahnya, Siren pun bergegas pergi, namun sebelum itu dia sempatkan untuk menitipkan Aksara terlebih dahulu pada Bi Asri.


Lalu setelah memastikan Aksara aman bersama Bi Asri, Siren pun pergi dengan menaiki mobil miliknya.


Tak butuh waktu lama, Siren pun kini sudah sampai di tempat yang ia janjikan sebelumnya.


Tempat yang Siren adalah sebuah kafe, Siren pun langsung melengang masuk ke dalam kafe tersebut.


Siren dengan riang menghampiri Aida.


"Duh, udah lama banget ya kita gk ketemu. Kangen banget deh gue sama lo," kata Siren sambil cepika cepiki dengan temannya yang bernama Aida itu.


"Iya, udah lama banget gila kita gk ketemu. Lagian lo tiap di ajak ketemu pasti selalu sibuk," gerutu Aida membuat Siren terkekeh.


"Hehe sorry, BTW lama nunggunya?" Tanya Siren.


"Belum lama kok, sans aja elah."


Siren menganggukkan kepalanya, lalu ia mengangkat tangannya memanggil seseorang pelayan untuk datang ke meja nya.


Siren pun mulai memesan makanan, begitupun dengan Aida.


Setelah itu mereka mulai berbincang, perbincangan di awali oleh Siren yang notabennya adalah orang yang memang mengajak Aida tuk bertemu.


"Gue pusing banget nih," gerutu Siren seraya menghebuskan nafasnya kasar.


"Pusing kenapa sih lo? Kenapa lagi? Gk bahagia lo pacaran sama si Arya? Hahaha."


Siren mendengus mendengar ucapan Aida barusan.


"Bukan gitu, gue sih jelas bahagia karna bisa sama Arya."


Aidah mengerutkan keningnya, ia sedang berfikir jika Siren bahagia menikah dengan Arya lalu apa yang membuat gadis itu pusing? Bukannya sejak dulu Siren memang selalu bermimpi dapat menikahi Arya dan sekarang impian Siren sudah tercapai, apa lagi coba yang gadis itu pusingkan?


"Arya berubah banget gk kaya dulu, sekarang dia lebih sering ngelamun gitu."

__ADS_1


Aida menganggukkan kepalanya, ia lalu teringat dengan suatu hal. Seingat Aida bukankah Arya dulu pernah menikah? Tapi bukan dengan Siren tapi dengan seorang perempuan bercadar, tapi kemana perempuan itu sekarang? Dan kenapa juga Siren masih menjadi pacar Arya? Padahal jelas-jelas Arya sudah punya istri.


Lalu tiba-tiba pelayan mengantarkan pesanan Siren dan Aida, membuat keduanya diam sesaat.


"Gue juga mau ngasih tau lo sesuatu," ujar Siren yang menegakkan posisi duduknya.


"Apa?"


"Gue sebenernya ... udah nikah sama Arya."


Aida yang tadi sedang meminum jus nya langsung menyemburkan jus tersebut.


"Gila! Lo gk lagi bercanda kan? Arya bukannya udah nikah ya? Terus kok lo bisa nikah sama Arya? Gimana maksudnya sih gue gk ngerti," kata Aida panjang lebar, ia begitu terkejut mendengar ucapan Siren barusan.


Siren menghembuskan nafasnya, ia tidak menduga kalau reaksi Aida akan seperti ini.


"Arya sama istri lamanya udah cerai dan akhirnya dia nikah sama gue," jawab Siren.


Namun Aida terlihat tidak percaya, ia menatap Siren lekat seraya memicingkan matanya.


Siren yang melihat hal itu menjadi gelagapan, gadis itu duduk di tempatnya dengan tidak nyaman dan sesekali ia mengaruk tenguk dan dagunya.


"Lo pasti lagi bohongin gue kan? Lo tuh kalau bohong kelitan banget tau, lo kira kita ini baru kenal. Hah? Ceritain semuanya sama gue dengan sejelas-jelasnya," ucap Aida lagi yang sudah memberikan tatapan mengintimidasi pada Siren.


Siren pun menghembuskan nafasnya kasar, ia sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang.


Akhirnya Siren pun menceritakan semua yang terjadi pada Aida dengan sejelas-jelasnya.


Aida yang menjadi pendengar mendadak ikut terbawa emosi.


"Jadi menurut lo gue salah gk?" Tanya Siren dengan hati-hati.


Brakk


Siren berjengit kaget ketika Aida tiba-tiba saja mengebrak meja.


"Jelas banget! Lo tuh emang salah, lo tau gk sebutan cewek kaya lo yang udah ngerebut suami orang? Lo itu udah jadi pelakor! Otak lo di taruh dimana sih astaga," Aida mengacak rambutnya frustasi.


Aida tidak menyangka ternyata sahabatnya ini adalah seorang pelakor.


"Nggak, gue bukan pelakor. Gue gk ngerebut Arya dari tuh cewek tapi cewek itu yang udah ngerebut Arya dari gue," ujar Siren lagi yang tetap tidak mau di salahkan.


Aida mendengus kesal, bisa-bisanya Siren tidak mengakui dirinya sebagai pelakor. Padahal sudah jelas-jelas Siren sudah merebut Arya yang notabennya adalah suami orang, tapi Siren masih tidak mau mengaku.


Apa kabar dunia? Sudah gila sepertinya.


"Siren lo tuh udah jadi pelakor tapi masih juga gk sadar diri," ujar Aida seraya mengelengkan kepalanya.


"Ih, lo kok jadi lebih belaan tuh cewek sih dari pada gue?"


"Jelaslah gue belain tuh cewek, orang di kasus ini tuh lo yang salah. Lain ceritanya kalau di kasus ini lo yang jadi korbannya dan udah pasti gue bakalan bela lo," kata Aida lagi yang menyudahi menyeruput jus nya.


Lalu Aida membenakan posisi duduknya, agak condong ke depan dan memasang tampang serius.


"Dengerin gue ya Siren, mendingan lo ngalah aja deh ya. Kasian juga mantan istrinya si Arya itu, mana lagi hamil pula. Lagipula kan Arya sama mantan istrinya masih saling suka," saran Aida pada Siren.


Siren pun terdiam sesaat, mencoba mencerna kata-kata Aida barusan.


Apa iya Arya masih mencintai Vidya? Atau Arya hanya merasa kasihan pada Vidya yang kini sedang mengandung? Iya mungkin begitu, mana mungkin Arya menyukai Vidya.

__ADS_1


Jelas-jelas Arya pasti masih mencintai dirinya, memangnya apa istimewanya Vidya? Gadis itu tidak ada apa-apanya di banding dirinya, apa yang Siren katakan benar bukan?


__ADS_2