
Reilla dan Aksara akhirnya sampai di rumah, namun Reilla masih belum turun dari mobil. Sebenarnya Reilla merasa sangat bersalah pada Keanu, karna sudah meninggalkan pria itu sendirian.
"Turun," suruh Arya dengan nada tegasnya.
Reilla terperanjat, ia mengangguk lalu segera turun dari dalam mobil Aksara. Aksara pun juga turun dari mobil, namun ia melewati Reilla begitu saja membuat gadis itu menghela nafasnya pelan.
"Tidak!"
Reilla tersentak saat mendengar teriakan dari dalam rumahnya, gadis itu pun segera berlari masuk ke dalam rumah begitu juga dengan Aksara yang juga ikut masuk ke dalam rumah.
"Ummah kenapa Yah?" Tanya Reilla panik saat melihat Vidya sudah menangis histeris dan Siren sedang berusaha menenangkannya.
"Tidak ... hiks ... Gama!" Teriak Vidya lagi dengan tangisnya yang semakin menjadi, Reilla tidak tega, ia pun langsung memeluk erat Vidya.
"Ummah ... hiks ... istighfar Ummah. Ummah harus kuat ya, kita pasti bisa nemuin keberadaan Gama," ucap Reilla berusaha menenangkan Ummahnya yang kini juga sedang memeluk dirinya dengan erat.
Reilla melerai pelukkannya saat Arya bilang mau bicara berdua dengannya, Reilla menurut dan mengikuti langkah Ayahnya yang mulai berjalan menjauh dari Vidya.
"Ada apa Yah? Kenapa Ummah bisa sampai histeris begitu?" Tanya Reilla.
"Tadi Ummah kamu dapat telpon dari nomor yang gk di kenal, orang itu bilang kalau dia bakalan membunuh Gama sebelum matahari terbit besok. Tapi itu gk akan terjadi kalau Ummah kamu menyerahkan diri pada mereka," jelas Arya membuat Reilla terkejut.
"Tunggu deh Yah, jadi sebenarnya penculik itu mau menculik Ummah bukannya Gama. Mereka menjadikan Gama sebagai pancingan agar Ummah mau datang dan menyerahkan dirinya untuk menggantikan Gama," ucap Reilla yang terdengar masuk akal.
"Kamu benar juga, tapi kenapa penculik itu mau menahan Ummah kamu?" Tanya Arya dan di balas gelengan kepala oleh Reilla.
Reilla juga tidak tau kenapa penculik itu malah ingin menjadikan Ummahnya sandraan mereka, sebenarnya siapa dalang dari penculikan Gama ini? Itu lah kiranya yang terus terlintas di dalam fikiran Reilla.
"Terus kita harus gimana Yah?" Tanya Reilla lagi.
Arya menghela nafasnya, ia juga bingung harus bagaimana saat ini. Istrinya Vidya, juga tampak tertekan karna mendengar kabar bahwa penculik itu ingin membunuh Gama, jika Vidya tidak menyerahkan dirinya kepada para penculik itu.
Lalu tak lama gawai milik Arya pun berdering nyaring, Arya segera mengangkatnya.
"Kabar apa yang kalian dapat?" Tanya Arya mulai mengawali pembicaraan.
"Kami berhasil mendapatkan lokasi tempat penculik itu dan kemungkinan Tuan muda ada di dalamnya."
"Baiklah, kirimkan lokasinya pada saya," perintah Arya.
"Baik Tuan, akan kami kirimkan."
Tut tut tut
Panggilan pun berakhir, Arya menghela nafasnya. Ia berharap bisa mendapatkan titik terang dari masalah yang tengah menderanya.
"Ayah akan ke lokasi tempat penculik itu," ucap Arya pada Reilla yang sedaritadi diam.
"Ayah mau ke sana? Sendirian?" Tanya Reilla dengan raut wajah menyiratkan kekhawatiran.
__ADS_1
"Ayah gk sendirian, ada Allah dan juga ada rekan-rekan Ayah yang akan membantu. Kamu gk usah khawatir," ujar Arya sambil mengusap lembut kepala Reilla.
"Ayah ... hiks ... hati-hati," kata Reilla lagi sambil terisak.
Arya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia lalu membawa Reilla ke dalam dekapannya.
"Rei jagain Ummah ya di sini," ujar Arya lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.
Arya lagi-lagi tersenyum, ia lalu kembali memberikan kecupan di dahi Reilla. Setelahnya Arya menyuruh Reilla untuk pergi tidur, putrinya itu pasti lelah karna seharian membantu dirinya mencari keberadaan Gama.
Reilla menghela nafasnya lalu menganggukkan kepala, ia menuruti ucapan Arya. Malam ini Reilla memutuskan untuk tidur dengan Ummahnya, ia ingin menjaga Ummahnya karna Siren dan Aksara juga sudah pamit pulang sedaritadi.
Dalam hati Reilla berdoa, semoga adiknya segera di temukan dan tidak terjadi apa-apa pada adiknya itu. Reilla berdoa agar Gama selalu berada dalam lindungan Allah.
[]
Malam ini Arya dan beberapa bawahannya serta beberapa orang polisi mulai bergegas menghampiri lokasi yang di duga kuat adalah tempat para penculik itu berada.
Arya dan yang lainnya sudah bersiap-siap mengepung tempat penculik itu, mereka juga membawa senjata untuk berjaga-jaga jika ada serangan dari penculik itu.
"Diam! Jangan berisik bocah!"
Arya mendengar suara bentakkan seseorang dari dalam sana, Arya berusaha mengintip dari balik bilik tersebut. Mata Arya membulat saat melihat keberadaan putranya di sana.
Arya menatap perihatin pada keadaan putranya yang kini tangan dan kakinya sudah terikat, mulutnya juga sudah di tutup.
"Sialan!" Geram Arya, ia sangat ingin segera menghajar wajah para penculik itu yang sudah berani menampar anaknya.
"Tahan dulu Arya, kita gk boleh gegabah," ucap Raga- salah satu anggota kepolisian dan juga merupakan temannya Arya.
"Mereka udah berani nyakitin anak gue Rag!" Bisik Arya penuh penekanan.
Raga menganggukkan kepala, ia menepukĀ pundak Arya. Berusaha menenangkan pria itu yang di landa kemarahan.
"Lo harus tenang, kendaliin diri lo," bisik Raga lagi.
Arya pun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia berusaha mengatur emosinya yang sedaritadi meledak-ledak melihat kelakuan para penjahat itu pada putranya.
"Kita harus gimana sekarang?" Tanya Arya nampak frustasi.
"Kita melakukan pergerakkan secara perlahan, gk bisa asal masuk gitu aja. Harus ada strategi," jawab Raga lagi.
Arya mengangguk pasrah, ia berusaha sebisa mungkin mengontrol emosinya agar terkendali.
Strategi pun mulai di atur agar mereka bisa masuk ke dalam tanpa harus membahayakan keadaan Gama.
Namun saat Arya dan yang lainnya hendak bergerak, tiba-tiba saja datang sekelompok orang yang lebih banyak dari Arya dan teman-temannya yang lain.
"Diam di tempat!" Perintah salah satu dari kelompok orang yang baru datang itu.
__ADS_1
"Jatuhkan senjata kalian!"
Arya dan yang lainnya pun menjatuhkan senjata yang mereka bawa, mereka tidak memberontak.
"Cepat masuk!"
Arya dan lainnya menurut, mereka semua masuk ke dalam gubuk tersebut. Gama dan komplotan penculik di dalam gubuk itu pun menoleh, saat melihat sosok Arya, Gama pun berusaha memberontak dan susah payah memanggil Ayahnya.
Arya menatap nanar ke arah putranya, yang terlihat begitu memperihatinkan. Ada darah yang mengering di pelipis Gama, Arya meringis melihatnya. Ia yakin pasti rasanya sakit sekali, apalagi mengingat kalau Gama masih kecil, ia harus menanggung semua ini.
"Duduk!" Perintah salah satu komplotan penculik itu.
Arya dan kelompoknya pun lagi-lagi menurut, Arya melirik Raga yang memberikan kode padanya. Arya mengangguk, paham dengan kode yang di berikan oleh Raga.
Bugh! Bughh!
Raga berhasil menjatuhkan tubuh tiga orang komplotan penculik itu, lalu rekan-rekan Arya lainnya juga ikut bertindak membantu Raga.
Perkelahian pun tak bisa terelakkan lagi, di saat seperti itu lah Arya menggambil kesempatan untuk membebaskan putranya.
"Tenang Gama, Ayah di sini nak," ucap Arya seraya berusaha membuka ikatan yang melilit tubuh putranya itu.
"Ayah," ucap Gama setelah Arya berhasil membuka ikatan yang menyumpal di mulutnya.
Gama sudah menangis, Arya menatap wajah putranya yang terdapat banyak luka lebam. Arya yakin putranya pasti sudah menggalami penganiayaan selama berada di sini. Arya pun segera membuka ikatan tangan dan kaki Gama.
"Ayah! Awas!" Pekik Gama saat melihat salah satu penculik yang mendekat dan membawa balok kayu.
Bughhh
Arya telat menghindar, kepalanya berhasil di hantam oleh balok kayu. Arya memegangi belakang kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Ayah ... hiks Ayah," ucap Gama yang sudah turun dari kursi dan bersimpuh di dekat Arya yang mengerang kesakitan.
"Ayah gk apa-apa nak," kata Arya dengan susah payah berusaha terlihat baik-baik saja di depan putranya.
"Ayah! Tolong Ayah!" Teriak Gama saat penculik lainnya berhasil menangkap tubuhnya.
"Lepasin dia!" Teriak Arya yang berusaha bangkit saat melihat Gama kembali di ambil oleh penculik itu.
Bughh bughh bughh
"Argggg."
Arya benar-benar tumbang, sebelum ia kehilangan kesadarannya Arya sempat menatap Gama yang sedang menangis meminta pertolongan. Dengan susah payah Arya berusaha mempertahankan kesadarannya, ia mengerang kesakitan lagi. Kepalanya benar-benar terasa berat, namun Arya berusaha tetap kuat agar bisa menyelamatkan putranya.
"Gama!" Teriak Arya saat melihat putranya di bawa ke luar dari gubuk, menuju sebuah mobil yang sudah di siapkan di luar.
Arya bangkit dan mulai berjalan ke arah luar gubuk, dengan susah payah menahan rasa sakit di kepalanya. Namun sayang Arya kembali jatuh tersungkur karna ada sebuah pisau yang tertancap di perutnya, Arya pun tak sadarkan diri.
__ADS_1