
Happy reading! Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.
-
-
-
-
-
Arya menghela nafasnya kesal sambil terus menatap wajah Vidya yang tampak sumringah.
"Harus banget gue yang makan?" Tanya Arya yang di sambut anggukkan antusias oleh Vidya.
"Tapi buah belimbing muda kan asem, lo tega nyuruh suami lo makan beginian?"
Arya berharap agar Vidya tidak jadi menyuruhnya untuk makan buah belimbing muda, yang terkenal sangat asam tersebut.
Namun sepertinya Arya harus menelan kekecewaan saat Vidya mengelengkan kepalanya di sertai senyuman yang masih merekah di bibir ranum Vidya.
"Gue makan nih?" Tanya Arya ragu-ragu hendak menyuapkan buah belimbing ke mulutnya.
"Iya Arya, ayo dong cepetan langsung di makan!" Arya menghela nafasnya agak ngeri juga mau makan buah belimbing muda itu.
Awalnya jika tau akan seperti ini Arya ogah menuruti permintaan Vidya yang ingin di belikan buah belimbing muda, jika ujung-ujung nya dia juga yang harus makan buah belimbing tersebut.
"Ah gila! Asem bangett ini mah." Ucap Arya yang matanya udah melem-melek, menahan keaseman buah belimbing muda tersebut.
Sementara Vidya? Dia cuma tertawa senang melihat raut wajah Arya yang tersiksa.
"Enak kan? Ayo di makan lagi dong Arya." Pinta Vidya lagi, Arya membulatkan matanya seketika.
"Ogah! Gue gk mau makan ini lagi, ini rasa asam nya belum ilang nih di mulut gue." Arya berujar kesal ketika Vidya menyuruh dirinya untuk makan buah belimbing itu lagi.
"Lagian yang beli buah ini kan lo, kenapa gk lo aja yang makan? Kenapa harus gue?"
"Hmmm kenapa ya? Aku juga gk tau, tapi aku pengen aja ngeliat muka Arya yang keaseman kaya tadi, lucu soalnya hehe." Arya mendengus, tiba-tiba amarahnya hilang entah kemana saat Vidya menyebut dirinya lucu.
"Di makan lagi ya buah belimbingnya? Satu aja deh, abis itu udah." Bujuk Vidya pada Arya.
Arya akhirnya menghela nafas pasrah, tidak tega juga melihat wajah memohon Vidya.
"Oke, tapi ini yang terakhir." Vidya mengangguk senang, apalagi ketika Arya kembali memakan buah tersebut dan menampilkan raut wajah nya yang keaseman.
"Udah kan? Puas lo?" Tanya Arya setelah ia meneguk segelas air untuk menetralkan rasa asam di mulutnya.
"Hehe, makasih Arya. Kalau gitu aku ke kamar dulu ya, ngantuk." Ucap Vidya yang bangkit dari duduknya, pergi ke kamarnya.
Meninggalkan Arya yang terkejut dengan tingkah Vidya yang sangat aneh sejak kemarin.
"Kenapa sih dia? Aneh banget daritadi." Gumam Arya, namun ia kembali teringat pada ucapan supir taksi kemarin.
"Ah elah nggak mungkin, ya kali tiba-tiba Vidya hamil. Gue aja gk pernah ngapa-ngapain dia." Ucap Arya pada dirinya sendiri.
Arya memijit pelipisnya yang terasa pusing memikirkan tingkah aneh Vidya.
[]
Malam harinya, Arya baru saja merebahkan tubuhnya di kasur. Namun saat ia hendak memejamkan mata ketukan di pintu kamar membuat Arya terpaksa harus kembali membuka matanya.
"Lo ngapain ke kamar gue?" Tanya Arya pada sosok Vidya yang sudah berdiri depan pintu kamarnya, sambil menunjukkan cengiran khas gadis itu.
"Arya boleh gk aku tidur di kamar kamu malam ini?"
__ADS_1
Arya menghela nafasnya melihat Vidya yang ternyata ingin mengungsi ke kamarnya.
"Emang di kamar lo kenapa? AC nya mati?" Tanya Arya pada Vidya dan di balas gelengan oleh gadis itu.
"AC nya masih nyalah kok, aku cuma lagi mau tidur di kamar Arya aja."
Arya terlihat berfikir sejenak, namun akhirnya ia pun membiarkan Vidya masuk ke dalam kamarnya.
Dengan raut wajah bahagia Vidya langsung merebahkan dirinya di kasur Arya.
"Vidya." Panggil Arya namun hanya di balas deheman oleh Vidya yang kini tidur dengan posisi membelakangi Arya.
Arya yang masih berdiri di pinggir ranjang masih terus memanggil nama gadis itu, namun kini tak lagi terdengar sautan dari Vidya yang ternyata sudah terlelap.
"Lah? Cepet amat udah tidur?" Arya mendengus geli melihat Vidya yang tiba-tiba saja sudah tertidur.
"Gue juga tidur deh."
Arya pun menggambil posisi berbaring di samping Vidya, dan perlahan mulai memasuki alam mimpi nya.
[]
"Arya bangun." Panggil Vidya sambil menguncang-guncangkan badan Arya.
"Hmm." Arya hanya berdehem saja namun matanya masih terpejam.
Vidya memberengut kesal melihatnya.
"Arya bangun dulu." Vidya rupanya masih tak menyerah untuk membangunkan Arya.
"Apaan sih?" Tanya Arya dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Arya, aku mau seblak." Arya langsung membuka kedua matanya dengan sempurna.
"Seblak?" Tanya Arya dan di balas anggukkan antusias oleh Vidya.
Kemudian Arya pun menolehkan kepalanya ke arah jam dinding di kamarnya yang baru menunjukkan pukul 01.05 dini hari.
"Ini masih jam 1 malam mending lo tidur lagi, makan seblaknya dalam mimpi aja deh ya." Saran Arya yang kemudian merebahkan dirinya lagi.
Vidya memberengut kesal ketika Arya kembali memejamkan matanya.
"Ya udah kalau Arya gk mau, aku beli seblak sendiri aja." Ucap Vidya yang kemudian turun dari kasur, lalu berjalan keluar dari kamar Arya.
Arya pun membuka mata, menatap Vidya yang sudah keluar dari kamarnya.
"Dia beneran mau beli seblak sendiri? Malem-malem begini? Udah ah bodo, gk usah perduliin dia Arya, mendingan lo tidur aja lagi." Ucap Arya pada dirinya sendiri, lalu kembali memejamkan mata.
"Ah sial!" Namun tak berapa lama mata Arya kembali terbuka, ia tidak tenang karna memikirkan Vidya.
"Gue susul aja deh."
Akhirnya Arya memutuskan untuk menyusul Vidya, yang ia fikir masih berada di lantai bawah.
"Vidya." Panggil Arya namun tidak ada sahutan dari Vidya.
Arya mengecek ke kamar Vidya, gadis itu pun tidak ada, Arya bahkan sudah mengecek ke ruangan yang kemungkinan Vidya datangi namun gadis itu tidak ada juga.
"Ah elah dia beneran pergi beli seblak sendiri? Malam-malam begini? Astaga nyusahin banget sih dia." Ucap Arya, yang lalu tanpa fikir panjang langsung menyambar kunci mobilnya.
Ia segera keluar dari rumah, berjalan masuk ke dalam mobilnya, lalu setelah itu ia mulai menjalankan mobilnya untuk mencari keberadaan Vidya.
Arya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, ia mencoba mencari sosok Vidya namun ia belum juga menemukan sosok gadis itu.
Saat Arya hendak keluar dari komplek perumahannya ia melihat sosok Vidya, dan Arya pun langsung menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Vidya." Panggil Arya yang sudah turun dari dalam mobil.
Vidya membalikkan badannya ke belakang, menatap Arya yang sedang berlari ke arahnya.
"Ngapain Arya ke sini?" Tanya Vidya dengan raut wajah kesalnya.
"Gue nyariin lo, ternyata lo ada di sini. Lo beneran mau beli seblak?" Tanya Arya, namun Vidya malah membuang mukanya.
"Kenapa? Arya bukannya gk mau beliin aku seblak? Wajarlah kalau aku keluar terus beli seblak sendiri." Arya menghela nafasnya kasar dan mengusap wajahnya yang frustasi.
"Bukan gitu Vidya, gue tadi cuma bercanda elah. Lagian lo aneh, masa malem-malem begini minta beliin seblak? Mana ada tukang seblak yang masih buka?"
Vidya mengangkat bahunya, dan diam saja tidak mengubris ucapan Arya.
"Ayo naik ke mobil, kita beli seblak nya bareng-bareng."
"Arya, lepasin!"
Arya tidak mendengarkan ucapan Vidya yang meminta nya untuk melepaskan genggaman tangannya pada tangan Vidya untuk menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"Udah diem aja, gua bakalan bantuin lo nyari seblak."
Vidya hanya diam saja, ia masih kesal dengan Arya.
Arya pun menjalankan mobilnya, ia sibuk mencari tukang seblak yang masih buka pukul setengah dua malam, namun Arya rasa itu sangat mustahil.
Namun Arya tidak mau menyerah, entahlah padahal dulu dirinya ini orang yang paling anti di suruh ini dan itu, ia juga orang yang paling malas jika harus mencari hal-hal yang tidak berfaedah namun entah mengapa ia malah menurut saja ketika Vidya meminta dirinya untuk mencari tukang seblak seperti sekarang yang sedang ia lakukan ini.
"Vidya kayanya gk ada yang buka deh tukang seblak jam segini." Ucap Arya yang sedaritadi tidak menemukan sosok tukang seblak.
"Gk mau tau, harus ada." Ucap Vidya, membuat Arya menghela nafasnya lagi dengan kasar.
"Lo tunggu sini, gue mau nanya sama bapak-bapak itu dulu." Ujar Arya yang melihat segerombolan bapak-bapak yang masih nongkrong di pos ronda.
"Permisi pak, maaf menganggu saya mau nanya. Bapak-bapak ada yang tau gk di mana rumah penjual seblak? Atau yang bisa bikin seblak?" Tanya Arya pada bapak-bapak tersebut.
"Saya kebetulan tukang seblak nih mas." Ucap salah satu dari lima orang bapak-bapak tersebut.
"Iya nih mas, pak Jirman emang penjual seblak." Ujar salah satu bapak-bapak tersebut.
"Saya boleh minta tolong bikinin saya seblak satu porsi gk pak? Buat istri saya pak, dia kepengen makan seblak."
"Oalah buat istrinya toh, lagi ngidam ya mas istrinya? Yo wes lah tak bikinin, ayo mas ikut saya ke rumah." Ucap pak Jirman, Arya hanya menganggukkan kepalanya saja, gk apa-apalah Vidya di sangka ngidam, yang penting dia bisa dapat seblak sesuai kemauan Vidya.
Akhirnya Arya berjalan kaki menuju rumah pak Jirman yang tidak jauh dari pos ronda tempat Arya menemukan pak Jirman sebelumnya.
"Mas tunggu sini yo, saya buatin seblaknya dulu." Arya hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan pak Jirman yang logat Jawanya sangat medok itu.
Dengan sabar Arya menunggu seblak pesanannya jadi, berkali-kali juga ia menguap karna rasa kantuk menghampiri.
"Mas ini seblaknya, sudah jadi." Ucap pak Jirman sambil memberikan sebungkus seblak pada Arya.
"Wah makasih banyak pak, ini pak uangnya semua buat bapak yang udah baik mau saya repotin bikin seblak malem-malem begini."
"Alhamdulillah makasih yo mas uang nya, semoga istri sama jabang bayinya sehat sehat yo mas sampe lahiran nanti."
Arya cuma nyengir bingung juga mau ngomong apa, karna Vidya kan lagi gk hamil.
Setelah berpamitan, Arya pun berjalan kembali ke arah mobilnya yang tadi terparkir.
"Vidya ini-"
Arya mengelengkan kepalanya melihat Vidya yang ternyata sudah tertidur sangat pulas.
"Lah terus ini seblaknya gimana *****? Astaga Vidya lo nyusahin guaa doangg." Ucap Arya yang geram, dan berusaha sabar sambil menatap nanar seblak di tangannya.
__ADS_1