
Hari sudah sore, Arya juga sudah pulang ke rumahnya sedaritadi. Pria itu sedang menatap sang istri yang sedaritadi pagi sudah bertingkah begitu aneh padanya.
"Vidya, kamu tuh kenapa sih? Dari tadi bawaannya marah-marahin aku terus, emang aku ada salah apa sama kamu?" Tanya Arya yang pada akhirnya menyampaikan apa yang ia rasakan.
Jujur saja sikap Vidya yang memarahinya dan selalu ketus, serta menolak untuk ia peluk pun menjadi pertanyaan di dalam benak Arya sedaritadi.
"Gk apa-apa! Udah sana minggir! Aku mau lewat!" Ucap Vidya dengan nada juteknya lagi.
Arya berusaha tetap sabar menghadapi istrinya itu, mungkin saja hari ini istrinya sedang kedatangan bulan jadi sikapnya agak ketus dan menyebalkan seperti ini.
"Kamu mau ngapain bawa-bawa tangga?" Tanya Arya lagi yang bingung saat melihat Vidya melewatinya lagi dengan membawa tangga.
"Nanya mulu kamu tuh kaya dora! Terserah aku dong mau ngapain, gk usah komentar terus deh!"
Tuh kan, Vidya mulai lagi mengeluarkan kata-kata menyebalkannya. Arya berusaha tetap sabar, ia selalu mengumamkan kata sabar pada hatinya saat ini.
"Ya tapi kalau perlu apa-apa kan aku bisa bantuin kamu, kamu gk usah pake tangga-tangga kaya gitu segala," ucap Arya dengan nada lembutnya.
"Gk perlu, aku bisa sendiri."
Setelah mengatakan itu Vidya berlalu dengan membawa tangga menuju dapur, entah apa yang akan di lakukannya. Tentu saja hal itu membuat Vidya jadi penasaran, ia pun berniat mengikuti langkah Vidya menuju dapur.
"Astagfiruallahaladzim Vidya," ucap Arya sambil mengelengkan kepala melihat tingkah Vidya.
"Lampunya rusak?" Tanya Arya yang sudah berdiri di samping tangga yang sedang Vidya naiki.
"Kalau gk nyalah ya artinya rusak, gitu aja gk tau!" Ketus Vidya lagi.
Ya Allah, Vidya kenapa sih? Dari tadi marah-marah mulu? Aku salah apa sih?-batin Arya bertanya-tanya tentang kesalahan yang sudah ia perbuat.
"Ya udah kamu turun deh ya, biar aku yang benerin lampu nya."
"Gk usah sok perhatian, sana urusin aja kerjaan kamu terus!"
Arya hanya bisa pasrah kalau sudah seperti ini, ia tidak tau kenapa Vidya jadi sensian banget gini padahal Arya sudah bertanya dan berucap dengan nada lembut pada Vidya tapi tetap saja gadis itu selalu ketus padanya.
Ting tong ting tong
"Biar aku aja yang buka," ucap Vidya dingin lalu ia pun turun dari tangga dan melewati Arya begitu saja seolah-olah tidak ada sosok Arya di sana.
"Bukan bawang doang ternyata yang mahal di pasar, tapi kacang juga mahal kayanya," cibir Arya seraya menghela nafas gusarnya.
Karna kebetulan Vidya sedang ke depan, Arya pun berinisiatif memasangkan lampu dapur. Melanjutkan pekerjaan Vidya yang sebelumnya belum selesai.
Sementara itu Vidya saat ini sudah berjalan ke arah pintu, ia pun membukakan pintu tersebut karna sepertinya ada tamu yang datang ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum Vidya!" Seru seorang wanita yang berhijab dan terlihat sangat cantik serta anggun.
"Wa'alaikumussalam, Masyaallah Siren! Ayo silahkan masuk dulu," ucap Vidya yang tampak bahagia menyambut kedatangan Siren di rumahnya.
"Nggak Vidya, aku ke sini cuma mau nganterin seseorang yang mau ke rumah kamu tapi ternyata lupa sama rumah kamu di mana."
Vidya mengerenyitkan dahinya bingung saat mendengar perkataan Siren barusan.
"Siapa yang mau datang ke rumah ku tapi lupa jalan?" Tanya Vidya lagi dan di balas senyuman misterius oleh Siren.
Siren pun mengeser badannya, lalu kini Vidya pun sontak membulatkan matanya. Ia begitu terkejut melihat sosok gadis yang berdiri di belakangnya Siren.
"Re ... Reila?" Tanya Vidya agak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Di sana, tepatnya di belakang Siren ada putrinya yang sedang berdiri. Putrinya Reilla, yang selama ini pergi karna marah padanya kini ia sudah kembali lagi dan membuat Vidya sangat senang melihat kedatangannya.
"Nah Rei, ini baru rumah kamu. Kalau yang tadi kamu datangi pertama itu rumahnya Tante Siren," ucap Siren pada Reilla yang dari tadi hanya diam di tempat.
"Sana masuk Rei, sapa Ummah kamu."
Reilla pun perlaha mengerakkan kakinya maju menghampiri Vidya yang wajahnya menyiratkan kebahagiaan serta keharuan.
"Assalamu'alaikum," ucap Reilla saat sudah berada di hadapan Vidya.
"Wa'alaikumussalam," ucap Vidya seraya tersenyum lalu segera mendekap tubuh Reilla dengan erat.
Reilla agak tersentak dengan pelukkan dari Vidya yang secara tiba-tiba, Reilla hendak membalas pelukkan Vidya namun ia urungkan karna ada sesuatu dalam dirinya yang masih belum menerima Vidya.
"Akhirnya kamu kembali nak," bisik Vidya yang masih mendekap erat Reilla.
Reilla yang berada di dalam pelukkan Vidya merasa hatinya berdesir dan terasa menghangat.
Jadi gini ya rasanya di peluk oleh seorang Ibu?- tanya Reilla dalam hati.
"Saya senang kamu bisa kembali," ucap Vidya yang masih menyebutkan saya dan kamu karna Vidya tidak mau memanggil dirinya sebagai Ummah di depan Reilla karna Vidya juga tau bahwa Reilla belum sepenuhnya menerima dirinnya namun Vidya yakin lambat laun Reilla pasti akan menerima dirinya.
"Siren, makasih banyak ya sudah mengantarkan Reilla ke rumah ini," ucap Vidya setelah melerai pelukkannya dengan Reilla.
__ADS_1
Siren tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia pun pamit pulang pada Vidya dan tentu saja Vidya mengizinkannya.
"Ayo silahkan masuk Rei," ucap Vidya dengan senyumannya dan mempersilahkan Reilla untuk masuk ke dalam rumah.
"Vidya tadi lampunya sud- Reilla?!" Pekik Arya yang kaget dengan kehadiran putrinya itu.
Arya tersenyum lalu segera melangkah menghampiri putrinya itu, di tatapnya wajah Reilla lalu ia pun tersenyum dan mendekap Reilla dengan erat.
Reilla memejamkan matanya saat berada di dalam pelukkan Arya, Reilla tidak bisa menampik lagi bahwa kini dirinya sangat merindukan dekapan dari Arya yang dulu selalu Reilla dapatkan. Entah saat Reilla sedang senang maupun saat Reilla sedang sedih, Arya selalu ada dan mendekapnya erat seperti sekarang ini.
"Ayah yakin kamu pasti akan kembali sayang," ucap Arya dengan lirih di telinga Reilla.
"Rei akan tinggal di sini lagi kan sayang?" Tanya Arya yang melerai pelukannya dan menatap Reilla lekat.
"Saya datang untuk memberi kalian berdua kesempatan satu kali lagi," kata Reilla dengan ekspresi wajah datarnya.
Saya? Kalian? Hati Vidya mencelos mendengar perkataan Reilla barusan, putri kandungnya sendiri terasa seperti orang lain dan itu semua karna dirinya yang sudah membohongi Reilla selama ini, tapi apakah memang sebenci itu kah Reilla padanya? Hingga gadis itu bahkan enggan menatap ke arahnya.
"Makasih sudah memberikan kami kesempatan," ujar Vidya dengan senyuman bahagianya.
Reilla tak menjawab ia hanya diam dengan wajah datarnya,.
"Ayo biar Ayah anter ke kamar kamu Rei, kamu pasti capek banget habis terbang dari Jerman," ucap Arya yang sudah menggambil alih koper milik Reilla dan mengajak gadis itu pergi ke kamarnya.
Vidya menatap punggung Arya dan Reilla yang mulai menjauh, Vidya masih tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca menatap penuh haru pada sosok putrinya yang ia sendiri masih tidak menyangka bahwa putrinya akan tinggal dengan Vidya mulai hari ini dan semoga saja selamanya.
Vidya meringis saat ia merasa kepalanya terasa sakit, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Mungkin ia kurang beristirahat hari ini jadi kepalanya pusing begini.
Baru sampai di depan pintu kamar, Vidya merasa pandangannya sudah agak memburam. Dengan susah payah ia berusaha berjalan sambil berpegangan pada tembok atau apapun yang bisa menompang tubuhnya yang hampir limbung.
"Huekk."
Vidya merasa perutnya bergejolak tak menentu, ia pun segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Vidya merasa agak lega namun tak lama perutnya lagi-lagi terasa bergejolak dan Vidya kembali memuntahkan isi perutnya.
Dengan tubuh yang sudah terasa lemas, Vidya menyandarkan dirinya di tembok kamar mandi. Kepalanya masih berdenyut pusing sedangkan rasa mual yang bergejolak di perutnya sudah sedikit berkurang.
"Aku kenapa sih?" Tanya Vidya bingung sendiri dengan dirinya yang tiba-tiba muntah dan merasa lemas.
"Vidya? Kamu di mana?"
Samar-samar Vidya mendengar pintu kamarnya terbuka, lalu terdengar pula suara Arya yang memanggil-manggil dirinya. Vidya mau menjawab panggilan dari Arya namun rasanya lidahnya terasa kelu.
Cklek
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Arya menatap khawatir Vidya yang wajahnya tampak memucat.
"Gk apa-apa," jawab Vidya dengan suara paraunya.
Arya segera membantu Vidya berdiri, dan membaringkan tubuh Vidya di atas tempat tidur.
"Rei udah di kamarnya?" Tanya Reilla dengan suara lemahnya.
"Iya udah, sekarang kamu istirahat aja ya. Kamu kecapean kayanya sampai sakit begini," ucap Arya sambil mengusap kepalanya dan juga mengusap bulir keringat dingin yang membasahi dahi Vidya.
"Jangan pergi," ucap Vidya sambil menahan tangan Arya yang hendak beranjak menjauh darinya.
Arya pun kembali duduk, ia tersenyum lalu mengenggam tangan Vidya erat dan mengecupnya singkat.
"Aku mau ngurusin pekerjaan kantor dulu sayang," kata Arya lagi, dengan lembut ia memberi pengertian pada istrinya itu.
"Gk usah, di sini aja temenin aku," ucap Vidya yang masih kekeuh menahan Arya untuk tetap bersamanya.
"Iya aku temenin kamu deh," kata Arya lagi dan membuat Vidya tersenyum senang.
Arya tetap di sisi Vidya, ia mengusap lembut kepala Vidya meminta gadis itu untuk memejamkan matanya untuk beristirahat.
Arya menatap raut wajah Vidya yang meringis kesakitan.
"Sakit banget ya? Aku panggilin dokter dulu ya," ucap Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.
Arya pun bangkit dan segera menyambar gawainya, ia menekan nomor untuk menghubungi dokter Hans yang menjadi dokter langanannya dan kenal dekat dengan Arya juga Vidya.
"Dokter Hans akan segera ke datang katanya, kamu sabar dulu ya sayang. Jangan lupa istigfar."
Vidya menurut ia beristigfar dalam hati saat ia merasa kepalanya semakin bertambah pusing, dan perutnya mulai terasa bergejolag lagi namun Vidya berusaha bersabar sampai dokter Hans tiba di rumah.
[]
Ting tong ting tong
Reilla yang baru saja dari dapur pun mengalihkan perhatiannya ke arah pintu depan rumah yang berbunyi, sepertinya ada tamu yang datang.
__ADS_1
Reilla mengurungkan langkahnya yang hendak kembali naik ke kamar, ia lebih memilih membukakan pintu depan lebih dulu.
Cklek
"Assalamu'alaikum."
Reilla menatap seorang pria muda yang berdiri di hadapannya saat ini, yang membuat Reilla bertanya-tanya siapakah gerangan pemuda ini dan kenapa dia datang malam-malam begini ke rumah ini.
"Jawab salah itu hukumnya wajib loh," ucap pria muda itu lagi membuat Reilla tersadar dari fikirannya.
"Wa'alaikumussalam, maaf anda siapa ya?" Tanya Reilla sopan.
Pria muda itu menyungingkan senyuman hingga matanya menyipit.
"Saya Hans dan saya-"
"Mau apa datang ke sini?" Tanya Reilla yang memotong ucapan pria yang baru ia tau bernama Hans itu.
"Saya seorang dokter dan yang pastinya saya datang ke sini karna di minta untuk memeriksa orang yang sakit," jelas Hans dengan wajah kalem nya berbanding terbalik dengan wajah jutek Reilla.
"Gk ada yang sakit di sini," ucap Reilla yang menunjukkan raut tidak ramahnya pada Hans.
Hans hanya tersenyum melihat tingkah Reilla padanya yang terkesan begitu dingin dan cuek.
"Oh ya? Kalau begitu biar saya bertemu dengan Pak Arya dulu biar saya bertanya langsung, karna dia yang sudah memanggil saya datang ke sini," ucap Hans dengan senyuman teduhnya namun sepertinya tak berpangaruh pada Reilla.
"Siapa yang datang Rei?"
Reilla pun menoleh ke belakang rupanya sudah ada Arya yang berjalan menghampiri dirinya.
"Ternyata dokter Hans sudah datang, ayo silahkan masuk dokter," ucap Arya menyambut Hans dengan ramah.
Reilla mendengus sebal menatap Hans yang tersenyum namun terlihat seperti sedang mengejek dirinya.
Namun Reilla merasa penasaran siapa yang sakit di rumah ini? Lalu fikiran Reilla melayang pada Vidya, perempuan itu tidak terlihat lagi sosoknya setelah tadi sempat menyambut kedatangannya. Akhirnya Reilla pun mencari tahu sendiri.
"Silahkan dokter Hans," ucap Arya ramah dan mempersilahkan Hans untuk memeriksa Vidya yang tampak meringis menahan sakit.
"Apa ada rasa mual juga?" Tanya Hans dan di balas anggukkan kepala pelan oleh Vidya.
Hans menganggukkan kepalanya, lalu kembali memeriksa Vidya lagi.
"Anda sudah telat datang bulan sejak kapan?" Tanya Hans.
"Sejak dua bulan yang lalu," jawab Vidya dengan raut wajah yang pucat.
"Bagaimana? Apakah istri saya baik-baik saja dokter?" Tanya Arya menatap Hans dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Ini wajar terjadi Pak Arya," ucap Hans dengan senyuman teduhnya.
Arya mengerenyit bingung mendengar perkataan Hans barusan yang tidak ia pahami.
"Maksud anda wajar terjadi tuh apa ya dokter Hans?"
"Maksud saya--"
Hans tidak langsung melanjutkan perkataannya, justru ia malah tersenyum simpul penuh arti.
"Kalau ingin tau, tidak usah bersembunyi begitu," ucap Hans dengan santainya.
Reilla berdecak sebal saat mendengar suara Hans yang ternyata mengetahui bahwa dirinya saat ini sedang bersembunyi dan menguping apa yang sedang terjadi saat ini.
"Rei? Kamu ngapain di sana?" Tanya Arya bingung melihat Reilla yang muncul dari balik tembok.
"Gk ngapa-ngapain cuma cari cicak aja," ucap Reilla random sambil melirik sinis Hans yang sedang menatapnya.
Reilla pun langsung pergi setelah sebelumnya sempat memberikan tatapan tajam dan mematikan pada Hans, namun bukannya takut Hans justru semakin tersenyum lebar.
"Jadi dokter bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Arya yang masih penasaran dengan keadaan Vidya saat ini.
"Hal ini wajar terjadi saat seorang perempuan sedang menggalami masa kehamilan Pak Arya," jelas Hans lagi.
Arya membulatkan matanya mendengar perkataan Hans barusan.
"Ha ... hamil? Ja ... jadi maksud kamu istri saya sedang hamil?!" Tanya Arya dengan nada penuh keterkejutan yang sangat ketara.
Hans tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya Pak Arya dan Ibu Vidya," ucap Hans memberikan selamat.
Arya dan Vidya yang masih memasang raut keterkejutan pun saling menoleh ke arah satu sama lain, lalu senyuman pun mengembang. Arya mengucapkan hamdalah merasa bersyukur, begitupun dengan Vidya yang tak menyangka jika di dalam perutnya kini ada mahluk kecil yang Allah titipkan untuk dirinya.
Tentu saja Vidya merasa sangat bahagia, kehadiran anak keduanya kali ini Vidya harap dapat membawa harapan baru untuk Vidya pada keluarganya. Ia merasa senang bahkan sampai terharu, begitupun dengan Arya yang juga menatap Vidya dengan penuh haru sekaligus senang dan Arya berjanji pada dirinya bahwa ia akan menjaga dan melindungi Vidya dengan sepenuh hatinya.
__ADS_1