
Part ini aku memakai judul baru gais😊 yang seterusnya bakalan aku pakai untuk Season dua ini, so semoga suka ya😊
.........
Saat ini Arya sedang menunggu Reilla pulang, kebetulan sekali hari ini Arya bisa pulang cepat dari kantor jadi dia bisa menjemput Reilla sebelum anak itu menunggunya dan akan berakhir dengan menasihati Arya yang terlalu lama menjemputnya.
Arya tersenyum lalu membuka kaca mobilnya ketika melihat putrinya yang berjalan keluar bersama dengan anak-anak yang lainnya.
"Halo Anak Ayah, gimana hari ini belajarnya?" Tanya Arya sambil membukakan pintu mobil untuk Reilla.
Reilla tidak menjawab anak itu hanya menyungingkan senyumannya saja, ia bahkan hanya menatap wajah Arya sekilas lalu setelah itu menoleh ke arah jendela luar.
"Rei kenapa?" Tanya Arya yang merasa bingung melihat tingkah Reilla yang berbeda dari biasanya.
Reilla menoleh, lalu mengelengkan kepalanya setelah itu ia kembali lagi menatap ke arah luar jendela. Menatap ke arah jalanan.
Arya akhirnya diam ia tidak lagi bertanya apapun pada Reilla, mungkin saat ini anaknya itu belum ingin bercerita. Mungkin nanti dengan sendirinya Reilla pasti akan becerita padanya.
Akhirnya Arya dan Reilla pun sudah sampai di rumah, Reilla segera turun dari dalam mobil meninggalkan Arya yang masih dia menatap punggung kecil putrinya itu.
Arya kembali merenung dan berfikir apakah dirinya sudah melakukan kesalahan sehingga membuat putrinya tampak acuh seperti itu padanya.
Arya menghela nafasnya ia sudah merenung namun tidak bisa menemukan kesalahan apa yang telah ia perbuat, akhirnya Arya pun memutuskan untuk turun dari dalam mobil. Menyusul Reilla yang sudah masih terlebih dahulu ke dalam rumah.
"Rei kemana Bi?" Tanya Arya pada Bi Imah yang kebetulan sedang lewat.
"Tadi Non Rei langsung naik ke atas, pas Bi Imah tanya ada apa Non Rei gk jawab."
Arya menganggukkan kepalanya lalu ia mengucapkan terimakasih pada Bi Imah, setelah itu Arya pun akhirnya memutuskan untuk naik ke atas dan menemui Reilla.
"Rei kenapa? Hmm? Coba cerita sama Ayah," ucap Arya lembut yang saat ini sudah duduk di samping Reilla.
Reilla masih enggan berbicara, anak itu malah menundukkan kepalanya dalam.
Tangan Arya terulur merapihkan rambut Reilla yang terurai, Arya mengumpulkannya menjadi satu lalu mengikatnya dan Reilla masih tetap diam menundukkan kepalanya.
"Rei ada apa? Kenapa Rei tidak mau cerita sama Ayah? Hmm?"
Bukannya menjawab Reilla malah berhambur memeluk tubuh Arya dengan erat, Arya yang kaget dengan pelukkan putrinya yang secara tiba-tiba itupun hanya diam sambil membalas pelukkan Reilla.
"Kamu kenapa?" Tanya Arya lembut sambil mengelus rambut Reilla.
"Reilla gk apa-apa Ayah," jawab Reilla yang langsung melerai pelukkannya, Reilla menatap Arya lalu ia menyungingkan senyumannya.
"Reilla mau istirahat dulu capek." Ujar Reilla yang menarik Ayahnya untuk segera keluar dari kamar.
Blamm
Arya hanya bisa menatap nanar pintu kamar putrinya yang sudah tertutup rapat, ia heran sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Reilla? Mengapa putrinya itu tampak murung?
Arya akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Reilla, ia berfikir mungkin Reilla membutuhkan waktu untuk sendiri dulu saat ini.
......................
Malam hari pun tiba, Arya sedang menunggu Reilla untuk makan malam bersamanya. Namun putrinya itu tak kunjung datang menemuinya di meja makan.
Akhirnya Arya pun memutuskan untuk naik dan menemui Reilla langsung di kamarnya.
Cklek
Arya membuka pintu kamar putrinya, ia masuk perlahan lalu menyalahkan lampu kamar Reilla.
"Rei-"
__ADS_1
Arya menghentikan ucapannya saat ia melihat putrinya sudah tertidur pulas, Arya menyungingkan senyumannya perlahan ia mengelus puncak kepala Reilla dengan penuh kasih sayang.
Cup
Arya juga memberikan kecupan singkat di dahi Reilla, Arya melihat ada bekas jejak air mata yang masih mengalir membasahi pipi Reilla.
Arya pun menghapus air mata yang menggalir di pipi Reilla, Arya tau bahwa putrinya ini baru saja tertidur karna kelelahan menangis.
Lalu tatapan Arya beralih pada sebuah amplop yang ada di atas nakas di samping tempat tidur Reilla, Arya mengerenyit bingung melihat amplop itu.
Akhirnya Arya pun menggambil amplop tersebut dan membukanya, ternyata isi dari amplop tersebut adalah sebuah surat dari sekolahnya Reilla.
Arya pun membaca surat tersebut, surat itu berisikan sebuah informasi perihal acara yang akan di adakan di sekolah Reilla esok hari. Dalam surat tersebut acara yang akan di adakan adalah acara untuk memperingati hari Ibu, jadi anak-anak di minta untuk membawa Ibu mereka ke sekolah karna akan ada lomba dan penampilan dari para peserta didik.
Arya lalu mengalihkan tatapannya pada Reilla yang sudah terlelap, Arya sekarang tau mengapa dari tadi putrinya itu tampak murung dan berubah menjadi pendiam itu semua pasti karna surat edaran tersebut.
Arya tersenyum miris, ia sangat kasihan pada Reilla. Di dalam hari Arya berulang kali mengucapkan kata maaf karna walaupun ia sudah berjuang susah payah untuk menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Reilla tapi tetap saja putrinya itu masih membutuhkan sosok seorang Ibu.
Arya pun mengelus kepala Reilla lalu setelah itu ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar Reilla karna ia tidak tahan berlama-lama di sana yang hanya akan membuatnya menjadi sedih.
Arya pun kembali ke kamarnya, ia pandangi lagi bingkai foto Vidya yang mengantung di dinding kamarnya.
"Bagaimana Vidya? Aku harus gimana saat ini? Aku ternyata gagal Vidya, aku gagal gk bisa jadi Ayah sekaligus sosok Ibu untuk Reilla," ucap Arya lirih, ia bahkan kini sudah terduduk di atas lantai yang dingin sambil menangis.
Arya tidak tau harus apa saat ini, ia membutuhkan sosok Vidya. Arya sangat terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri karna sudah gagal menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk putri sematawayangnya.
"Vidya! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa kamu harus tinggalin aku sendiri? Kamu tau gimana susahnya aku ngurus Reilla tanpa adanya kamu di sisi ku? Aku rindu kamu Vidya, aku sangat rindu kamu."
Tangisan Arya kembali terdengar, ia terus menatap foto Vidya yang terpajang di tembok kamarnya. Air mata mentes mengalir dan gumaman kata maaf serta kata kembali terus keluar dari bibirnya.
"Aku merindukanmu, aku sungguh merindukanmu. Kembalilah Vidya, kembalilah ..."
.....................................
"Ayah hari ini Rei gk sekolah ya," ujar Reilla yang datang ke kamar Arya.
"Kenapa? Apa hari ini sekolah kamu libur?" Tanya Arya berusaha berupura-pura tidak tau, padahal ia jelas tau kalau putrinya itu saat ini tidak mau ke sekolah karna ada acara hari Ibu di sekolahnya hari ini.
"Rei gk enak badan," ujar Reilla berbohong dan Arya tau itu.
"Gk panas kok badannya," ujar Arya yang baru saja menempelkan pungung tangannya ke dahi Reilla.
Reilla yang sedang berbohongpun wajahnya menjadi gelisah, jadinya dia hanya memasang cengirannya saja.
"Kamu jangan bohong, ayo siap-siap Ayah akan antar kamu ke sekolah."
Reilla hendak membantah namun ia tidak punya alasan lagi jadinya Reilla pun menuruti perkataan Arya untuk segera bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Lumayan lama Arya menunggu putrinya selesai bersiap-siap, akhirnya ia melihat Reilla yang sudah rapih dengan seragamnya.
"Ayo kita berangkat," ucap Arya yang mengandeng tangan Reilla berjalan menuju mobil.
Selama perjalanan Reilla hanya diam, Arya juga tidak mengatkan apapun bahkan hingga mereka tiba di sekolah pun. Keduanya masih terdiam.
"Belajar yang rajin ya," pesan Arya sebelum Reilla keluar dari mobil.
Reilla mengangguk lalu turun dari mobil Ayahnya, Arya pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
Langkah kaki Reilla masih tertahan di depan gerbang, ia menatap teman-temannya yang beru saja datang bersama dengan Ibu mereka bahkan ada juga yang membawa kedua orang tuanya langsung.
Reilla hanya bisa menundukkan kepalanya, mencoba menahan rasa iri di hatinya ketika melihat keluarga teman-temannya yang lengkap dan tampak harmonis.
"Rei kok berdiri di sini? Kenapa gk masuk? Mamah Rei kok gk ada?"
__ADS_1
Reilla tersentak saat salah satu temannya datang menghampiri dan tiba-tiba bertanya seperti itu pada Reilla.
Reilla tidak menjawab ia justru malah melangkah pergi meninggalkan temannya itu, di dalam sudah banyak para orang tua yang berkumpul juga para Ibu tentu saja bersama anak-anak mereka di sampingnya.
Reilla menggambil tempat duduk di paling belakang, ia sengaja duduk di sana agar tidak terlalu mencolok di antara yang lainnya.
Di depan sana di buatkan panggung, acaranya di adakan di halaman depan TK. Kebetulan juga cuaca pagi ini terlihat cerah.
Namun Reilla berdoa semoga hujan turun dan acara tersebut di batalkan saja, karna Reilla tidak mau menyakisakn acara itu.
Acara pun di mulai dengan kata sambutan, di lanjut dengan penampilan dari kelas-kelas Tk lainnya.
Sebentar lagi, sebentar lagi giliran para anak maju lalu menampilkan bakat mereka di depan para Ibu atau orang tua masing-masing lalu setelah itu memberikan bunga mawar merah pada Ibu dan mengucapkan selamat hari Ibu.
Reilla meremas roknya, ia berusaha menahan rasa sedihnya melihat penampilan pertama dari temannya yang baru saja selesai, lalu ia pun turun dan memberikan bunga mawar untuk Ibunya.
Reilla ingin menangis saja saat ini apalagi ketika dia mengidarkan pandangannya, semua Ibu dari teman sekelasnya datang namun tidak dengan Reilla yang hanya sendirian saat ini.
"Selanjutnya akan ada penampilan dari Reilla, kepada Reilla di persilahkan untuk maju ke depan."
Suara panggilan dari atas panggung untuk Reilla pun mulai terdengar, semua orang menoleh pada Reilla. Reilla yang tak tau harus apa akhirnya bangkit lalu berjalan menuju ke arah panggung.
"Ayo nak tampilkan sesuatu yang memukau," ujar guru Reilla yang merangkap sebagai pembawa acara.
Reilla diam dan menatap para pentonton yang hadir dan juga sedang menatapnya.
Tangan Reilla sambai bergetar memegang microfon yang ada di tangannya, bulir keringat mulai membasahi dahi Reilla. Gadis kecil itu tidak tau harus menampilkan apa saat ini, rasa kehilangan dan rindu itu kembali datang menghampiri.
Reilla menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Kata Ayah Rei adalah anak yang istimewa karna Rei berbeda dari anak yang lainnya, Rei tidak pernah melihat Ummah sejak Rei kecil sampai sekarang. Rei tidak tau bagaimana wajah Ummah tapi orang-orang bilang wajah Rei mirip dengan Ummah. Ummah Rei saat ini ada di Surga jadi hari ini Rei tidak bisa merayakan hari Ibu bareng sama Ummah karna Ummah jauh di sana."
Reilla menjeda ucapannya ketika ia merasa ini terlalu menyakitkan untuk dirinya, bahkan saat ini mata Reilla mulai berkaca-kaca namun Reilla berusah untuk tetap tegar dan kembali melanjutkan ucapannya.
"Katanya Ummah sudah meninggal, Rei gk tau apa itu meninggal tapi yang Rei tau Rei gk bisa ketemu Ummah lagi selamanya. Rei cuma punya Ayah tapi kata Ulil gk ada hari Ayah adanya cuma hari Ibu jadi .... Rei gk bisa ngerayain hari Ibu karna Rei cuma punya Ayah."
Setelah mengatakan kalimat yang begitu berat bagi Reilla untuk di ucapkan, Reilla pun tidak melanjutkan kata-katanya lagi anak itu sudah menangis membuat semua orang yang hadir di situ ikut menangis mendengar ucapan yang Reilla sampaikan.
"Reilla!"
Suara panggilan tersebut membuat Reilla yang tadi menundukkan kepalanya pun segera mengangkat kepalanya kembali.
"Ayah!"
Rupanya itu adalah Ayahnya yang datang, Arya yang melihat putrinya sudah menangis pun segera berlari naik ke atas panggung dan memeluk tubuh Reilla yang bergetar hebat.
Reilla menangis dengan kencang dalam pelukkan Arya, tangisan Reilla terdengar begitu memilukan membuat Arya juga ikut menangis.
"Maafin Ayah Rei ... maaf," ucap Arya lirih sambil terus mendekap putrinya erat.
"Ummah ... hiks ... Ummah."
Namun Reilla terus memanggil Ummahnya di sela isak tangisnya, kenyataan ini begitu menyakitkan bagi Reilla. Kenyataan bahwa dirinya memang berbeda dengan teman sebayanya.
Guru Reilla yang sedaritadi diam juga ikut merasa sedih melihat Reilla yang terus memanggil Ibunya dan meminta Ibunya untuk kembali, begitu juga dengan para hadirin yang datang. Mereka juga ikut menteskan air mata melihat adegan Ayah dan Anak itu yang sangat mengharukan.
"Ayah di sini sayang, Ayah gk akan tinggalin kamu." Bisik Arya tepat di telinga Reilla.
"Jangan pergi ... hiks ... Ayah jangan tinggalin Rei sendiri, Rei takut Ayah."
Arya semakin mendekap erat Reilla yang masih terisak.
"Ayah ... hiks ... ini bunganya untuk Ayah aja, karna Rei gk punya Ummah jadi bunganya untuk Ayah," ucap Reilla memberikan setangkai bunga mawar pada Arya.
__ADS_1
Arya menatap bunga mawar pemberian Reilla dengan tatapan sedih sekaligus terharu, Arya menghapus air mata Reilla lalu kembali membawa Reilla ke dalam dekapannya.
"Maafin Ayah Rei ... maaf," hanya kata itulah yang mampu Arya ucapkan, ia tidak bisa mengatakan apapun lagi saat ini karna Arya merasa sangat bersalah. Selama ini ia terlalu egois hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa mau memikirkan perasaan Reilla yang tampak terluka dengan semua kenyataan ini yang begitu terasa sulit tuk di jalani.