
"Satu suap lagi ya," ucap Rayn yang saat ini sedang menyuapi Keira yang sangat susah sekali makan.
"Udah!" ucap Keira seraya mengeleng-gelengkan kepalanya lalu menjauhkan kepalanya dari sendok yang Rayn sodorkan ke arah mulutnya.
"Makan dulu nanti kamu sakit."
"Udah sakit," sahut Keira dengan santainya membuat Rayn menghela nafasnya.
"Kamu mulai nakal lagi ya, mau saya hukum?" tanya Rayn yang sudah menjondongkan badannya ke arah Keira.
"Eh? Ngapain lo!" ujar Keira seraya mendorong Rayn menjauh.
"I ... iya gue makan tapi sekali lagi ya? Habis itu udah," kata Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.
Akhirnya Keira mulai membuka kembali mulutnya, dan Rayn mulai menyuapkan bubur ke dalam mulut Keira.
"Anak pintar," ucap Rayn seraya menepuk-nepuk kepala Keira membuat Keira berdecih melihat tingkahnya Rayn.
"Gue bukan anak lo!" sahut Keira ketus seraya mendelikkan matanya.
"Tentu, kamu kan istri saya," ucap Rayn seraya menaik turunkan alisnya membuat Keira bergidik ngeri sejak kapan es kutub Rayn jadi narsis seperti ini? Berguru darimana dia? Begitulah yang Keira fikirkan saat ini.
Drtt drttt
Perhatian Rayn teralihkan saat ia merasakan sakunya bergetar, rupanya ponsel di dalam saku yang bergetar dan menampilkan sebuah notifikasi panggilan masuk dari Nayya.
"Astaga ..." ucap Rayn lirih namun masih bisa di dengar oleh Keira.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Keira penasaran saat melihat raut perubahan wajah Rayn.
"Kei maaf, sepertinya saya harus segera pergi karna ada tugas mendadak yang harus saya kerjakan. Jaga diri baik-baik ya, semoga lekas sembuh," ucap Rayn yang kembali mengusap kepala Keira lalu setelahnya Rayn benar-benar pergi meninggalkan Keira yang masih diliputi tanda tanya perihal tugas penting apa yang akan Rayn lakukan saat ini?
Namun tugas apapun itu, Keira merasa tak berhak tau. Dia memang istrinya Rayn, namun Keira menganggap itu hanya status saja karna mereka menikah atas perjodohan bukan karna kemauan keduanya.
Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya Keira memilih bungkam, tak bertanya apapun pada Rayn padahal ia sangat penasaran tugas dan pekerjaan apa yang ingin dilakukan Rayn selama ini.
Namun memang dasarnya Keira adalah perempuan yang cuek, ia memilih untuk tidak memperdulikannya. Itu adalah urusan Rayn dan bukan urusannya, jadi Keira tak perlu terlalu ikut campur. Begitulah yang Keira fikirkan saat ini dan berbanding terbalik dengan kondisi benak dan hatinya yang masih merasa penasaran namun gengsi untuk mencari tahu lebih jauh lagi tentang Rayn.
........
Rayn berusaha mengatur nafasnya yang memburu, saat sampai tadi untuk menuju ke lokasi tujuannya ia harus berlari dan meninggalkan mobilnya di tepi jalan sementara dirinya harus berlari masuk ke dalam hutan belantara seperti saat ini.
"Bagaimana apakah anak itik sudah bisa kita kasih umpan?" Tanya Rayn pada rekan kerjanya dengan menggunakan istilah yang biasa dirinya gunakan untuk menjalankan tugas.
"Tentu, lima menit dari sekarang anak itik itu akan keluar mencari makan," jawab rekan Rayn yang juga menggunakan kata-kata khusus yang hanya di pahami oleh orang-orang di organisasi Rayn.
__ADS_1
"Bagus, kita tunggu saja anak itik keluar dengan tenang," ucap Rayn dan di balas anggukkan kepala oleh rekannya yang satu lagi.
Rayn dan kedua rekannya berusaha mengatur siasat kembali karna sudah lebih satu jam target mereka tak juga terlihat, akhirnya cara penyergapanlah yang Rayn dan rekannya lakukan.
Rayn dan rekannya sudah berpencar, saat ini Rayn bahkan sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah kayu di tengah hutan yang merupakan rumah targetnya.
"Tenanglah sayang, Ayah akan segera datang," ucap seorang wanita muda yang sedang berusaha menenangkan bayi yang menangis lalu tidak jauh wanita itu ada seorang anak kecil laki-laki yang bermain dengan mobil-mobilannya.
Rayn melirik ke arah rekannya yang ternyata juga sudah masuk ke dalam rumah, memberi kode bahwa target saat ini sedang lengah.
"Biar aku yang menembaknya, kalian awasi keadaan luar," bisik Rayn seraya mengerakkan tangannya sebagai isyarat yang hanya dipahami oleh Rayn dan rekan kerjanya saja.
Setelah kedua rekannya menganggukkan kepala, dan pergi meninggakkan Rayn sendirian dengan pistol di tangannya yang sudah ia siapkan untuk menembak targetnya.
"Diam di tempat kalian!" seru Rayn yang keluar dari tempat persembunyiannya seraya menodongkan pistolnya ke arah wanita muda itu dan juga ke arah putranya yang sudah tidak lagi bermain melainkan menghampiri wanita muda itu yang Rayn yakini adalah Ibunya.
"To ... tolong jangan sakiti kami," ucap wanita muda itu dengan raut wajah memelas sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan dada.
"Biarkan kami pergi," mohon wanita muda itu lagi dan kali ini dengan air mata yang sudah berlinang.
"Tidak semudah itu," sahut Rayn dengan senyuman miringnya.
"Bersiaplah menemui kedamaian dalam seumur hidupmu," bisik Rayn yang sudah melangkah maju ke arah wanita muda itu seraya mengacungkan pistolnya tepat di kepala wanita muda tersebut.
"Ada pesan-pesan terakhir nyonya sebelum anda menemui kedamaian?" tanya Gama dengan wajah dingin dan menyeramkannya.
"Kalau begitu, apa saya harus menghabisi putra anda lebih dulu?" tanya Rayn yang sudah mengeluarkan satu lagi pistol dari kantongnya dan menodongkannya pada kepala putra wanita muda itu membuat wanita muda itu histeris.
Sementara anak laki-laki yang ditodongkan pistol ke kepalanya oleh Rayn hanya menangis ketakutan, dan justru malah membuat Rayn semakin senang hati untuk menghabisi nyawa anak malang tak berdosa itu.
"Tutup matamu dan pergilah dengan damai," bisik Rayn tepat pada telinga anak laki-laki itu yang sesegukkan karna menangis.
"Jangan! Kumohon jangan sakiti putraku! Dia tidak bersalah, hukum saja diriku!" ucap wanita muda seraya bersimpuh di hadapan Rayn.
"Dia memang tidak bersalah, namun dia juga harus tetap tiada karna ...." Rayn mengantungkan ucapannya ia mencondongkan kepalanya menatap lekat wajah penuh ketakutan bocah laki-laki itu seolah sedang memandang sebuah pemandangan yang sangat seru.
"Karna dia sudah melihat wajahku," lanjut Rayn diakhiri dengan seringaian di wajah tampannya.
Brukk
"Aaaaa!" pekik wanita muda saat ada seorang pria yang jatuh tepat di depan kakinya.
"Kalian sudah membereskan itik besar rupanya," ucap Rayn kepada kedua rekannya yang baru saja masuk ke dalam rumah dan bergabung bersamanya.
"Tentu saja, sangat mudah membuat itik besar tertidur pulas seperti ini," ucap rekan Rayn yang berbadan tinggi bernama Bruno sementara rekan Rayn yang satunya lagi bernama Brana yang merupakan kembarannya Bruno.
__ADS_1
"Lihat suamimu sudah damai di alam sana, kamu tidak mau menyusulnya?" tanya Rayn seraya menginjak tubuh itik besar yang tak lain adalah suami dari wanita muda itu, yang kini sudah meregang nyawa.
"Aku tidak suka berbasa basi, kita lakukan saja segera," ucap Rayn seraya mengisi pistolnya dengan peluru lalu mengarahkannya ke arah wanita muda itu yang sudah menangis dan memohon-mohon agar di bebaskan.
Dor dor dor
Tiga kali, Rayn menembakkan peluru sebanyak tiga kali. Dua kali di kepala, dan yang terakhir tepat di dada wanita muda itu.
"Momy! Momy! Wake up!" Seru bocah laki-laki itu seraya menangis menatap Ibunya yang sudah tak bernyawa lagi. Ia kemudian menatap ke arah Rayn.
"Om jahat!" teriak bocah laki-laki itu membuat Rayn terkekeh.
"Aku tidak jahat, aku ini baik. Aku membawa momy dan ayahmu ke tempat yang damai. Kalian tak akan tersakiti jika berada di tempat itu," ucap Rayn seraya berjongkok di depan bocah laki-laki itu yang masih sesegukkan memegangi tangan Ibunya yang telah tiada.
"Be ... benarkah momy dan ayah baik-baik saja?" tanya bocah lugu itu.
"Tentu, kau ingin pergi ke sana juga?" tanya Rayn seraya mengusap kepala bocah laki-laki itu dengan tangannya yang di lapisi sarung tangan.
"Mau, tapi ...." bocah itu menggantungkan ucapannya lalu menoleh ke belakang memandangi adiknya yang masih bayi.
"Tapi bagaimana dengan adik? Apa dia akan ikut bersama kami juga?" tanya bocah itu yang meminta pendapat pada Rayn.
"Tentu, dia akan ikut bersama kalian," jawab Rayn lagi, berusaha meyakinkan bocah laki-laki itu.
"Bagaimana? Kita hampir kehabisan waktu, momy dan ayahmu pasti sedang menunggu dirimu," ucap Rayn menyadarkan bocah laki-laki itu dari lamunan.
"Baiklah, antar aku menemui momy dan Ayah," pinta bocah tersebut membuat Rayn tersenyum sinis mendengarnya.
"Bersiaplah nak, tutup matamu. Ini hanya akan terasa sakit sedikit namun setelahnya kau bisa menemui momy dan Ayahmu," bisik Rayn dan bocah laki-laki itu pun menurut. Ia memejamkan kedua matanya dengan senyuman yang membingkai di bibirnya.
"Selamat menemui kedamaian abadi ...." gumam Rayn yang siap menarik pelatuk pistolnya.
Dor dor
Brukkkk
Dalam sekejap, tubuh bocah laki-laki itu langsung tergeletak di tanah dengan bersimbah darah. Rayn sudah berhasil menghabisi nyawa bocah itu dengan menembakkan peluru ke dada dan kepala persis seperti yang dilakukan Rayn pada Ibu bocah itu.
"Rayn! Cepat kita harus pergi! Polisi sedang menuju kemari!" teriak Bruno memberi kabar.
"Tapi bayinya? Bagaimana? Kita belum menghabisi bayinya," ucap Brana pada Rayn yang langsung menatap ke arah targetnya yang masih tersisa.
"Kita bawa bayinya," putus Rayn pada akhirnya seraya menggambil bayi tersebut dari dalam box bayi.
"Rayn? Kau serius?!" Sentak Bruno tak habis fikir dengan jalan fikiran Rayn.
__ADS_1
"Tak ada pilihan lain," jawab Rayn yang sudah mengendong bayi itu. Lalu ia memerintahkan Bruno dan Brana untuk segera keluar dari rumah itu bersama dengan bayi di dalam gendongan Rayn yang masih tertidur pulas seolah tak terganggu walaupun di ajak berlari cepat oleh Rayn dan juga rekannya.
Sejujurnya Rayn tak tau mau ia apakan bayi ini nantinya,yang terpenting sekarang adalah ia harus lari sejauh mungkin menyelamatkan diri bersama Bruno dan Brana.