
"Bunda! Aksa pulang!"
Deg
Suara itu sukses membuat tubuh Reilla menegang di tempat, jantungnya kembali berdegup kencang. Usaha untuk melupakan yang Reilla lakukan buyar sudah, padahal Reilla baru saja mendengar suaranya apalagi jika dia sudah melihat sosok pria itu, ambyar sudah hati Reilla saat ini.
Gadis itu pun berusaha tetap di posisinya, enggan membalikkan badan. Sudah lebih dari lima tahun Reilla tak lagi bertemu dengan sosok Aksara, terakhir kali ia bertemu adalah saat dirinya akan berangkat ke Jerman. Kira-kira saat itu Reilla masih kelas satu SMA dan bahkan dia melanjutkan SMA nya di Jerman jauh dari kedua orang tuanya karna memang saat itu Reilla sedang ada masalah dengan kedua orang tuanya.
"Bi Iyem? Ada tamu? Siapa?"
Reilla masih diam dan mendengarkan percakapan Aksara yang sedang bertanya pada Bi Iyem, mungkinkah Aksara saat ini sedang membicarakannya? Entahlah Reilla juga tidak tau dan tak mau tahu karna debaran jantungnya semakin mengila.
"Iya, ada tamunya Nyonya," jawab Bi Iyem dan berhasil membuat Reilla lega karna Bi Iyem tak menyebutkan namanya di depan Aksara, jika Aksara tau bahwa dirinya yang datang bertamu entah apa yang akan terjadi nanti, Reilla tak bisa membayangkannya.
"Maaf ya, Bunda saya sepertinya sedang pergi ke luar."
Reilla mengigit bibir bawahnya, berusaha mengontrol dirinya sendiri saat mendengar suara Aksara yang entah mengapa aura maskulinnya begitu menguar dengan kuat.
Untung saja Aksara hanya bicara di belakangnya saja dan tidak langsung menghampiri Reilla yang saat ini jantungnya sedang berdebar-debar tak karuan.
"Bi Iyem, Aksa mau ke kamar dulu ya istirahat capek baru pulang."
Reilla dapat bernafas lega, ketika mendengar ucapan Aksara barusan dan juga mendengar langkah kakinya yang menaiki anak tangga satu persatu.
Reilla membalikkan tubuhnya ia menatap pada sosok Aksara yang sedang menaiki anak tangga, senyuman pun mengembang di bibir Reilla. Pria itu sudah sangat tinggi saat ini, punggung tegapnya membuktikan bahwa Aksara saat ini sudah berbeda dengan Aksara yang saat terakhir ia lihat dulu.
"Assalamu'alaikum, loh ada tamu rupanya."
Reilla pun tersenyum saat menangkap sosok Siren yang baru saja datang dengan senyumannya.
"Wa'alaikumussalam Tante," jawab Reilla yang bangkit dari duduknya lalu menyalimi tangan Siren dengan sopan.
Siren tersenyum melihat perilaku Reilla yang sopan, ia memang menyukai gadis ini. Reilla benar-benar seperti Vidya, selain wajahnya yang mirip, sebagian dari perilakunya juga mirip dengan Vidya.
"Udah lama Rei nunggunya? Maaf ya tadi Tante ada urusan ke luar sebentar," kata Siren dengan wajah tak enaknya.
"Gk apa-apa kok Tan, lagian juga Rei belum terlalu lama nunggunya kok," balas Reilla di iringi senyumannya.
"Ah iya, ini Tante. Ada rendang dari Ummah, katanya ini pesanan Tante Siren."
Siren pun menerima kotak bekal dari tangan Reilla, ia tampak sumringah melihat rendang yang di berikan oleh Reilla padanya.
"Makasih banyak ya Rei, bilang juga ke Ummah kamu."
"Iya, sama-sama Tan, nanti Rei bilangin ke Ummah," jawab Reilla sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Bunda, tadi den Aksa baru saja pulang," ucap Bi Iyem yang datang menghampiri Siren.
"Oh ya? Aksara sudah pulang dari Jepang? Di mana dia sekarang Bi?" Tanya Siren antusias mendengar kabar kepulangan putranya.
"Aksa di sini Bun."
Reilla menengang di tempat, tak berani menolehkan badannya kebelakang saat mendengar suara Aksara.
"Ya ampun sayang, kok gk bilang kalau mau pulang? Kan Bunda bisa jemput kamu di bandara," omel Siren sedangkan Aksara hanya tersenyum saja.
"Gk perlu Bun, Aksa bisa sendiri kok," jawab Aksara.
Sedangkan Reilla masih diam di tempatnya, Aksara sepertinya masih tidak menyadari keberadaannya saat ini.
"Tante, Rei pulang dulu ya," ucap Reilla yang ingin buru-buru pulang ke rumahnya.
"Ah iya, makasih banyak ya rendangnya. Salam buat Ummah dan Ayah kamu ya," kata Siren lagi.
Reilla mengangguk lalu menyalimi tangan Siren dengan sopan, ia lalu segera berlalu setelah sebelumnya mengucapkan salam terlebih dahulu. Ia melewati Aksara begitu saja, Aksara menatap Reilla yang sudah berjalan ke luar dari rumahnya.
"Hmm, kenapa ngeliatin Rei terus?" Tanya Siren yang menangkap basah Aksara sedang menatap Reilla.
"Hah? Nggak, siapa juga yang natap dia," elak Aksara yang kembali memasang wajah acuhnya.
"Awas loh nanti suka lagi sama Rei," goda Siren sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih Bun, siapa juga yang suka sama dia. Cewek aneh plus nyebelin gitu dih," kata Aksara sambil mengendikkan kedua bahunya sambil memasang tampang tak sukanya.
"Sebegitu gk sukanya ya kamu sama Reilla? Awas loh nanti bisa berubah jadi rasa cinta."
"Bunda apaan sih, udah ah gk usah bahas dia lagi. Malesin," ujar Aksara yang enggan membahas perihal Reilla.
[]
"Assalamu'alaikum, Rei pulang."
Reilla berjalan masuk ke dalam rumahnya, ia bisa bernafas lega karna sudah bisa keluar dari rumah Siren atau lebih tepatnya ia bisa terhindar dari Aksara.
"Wa'alaikumussalam sayang, kamu lihat Gama gk?" Tanya Vidya yang datang dengan wajah paniknya.
"Nggak tuh Ummah,emang Gama kemana Ummah?"
"Ummah juga gk tau Rei, ini Ummah lagi cari adik kamu," jawab Vidya yang nampak gusar.
"Coba Rei cari di lapangan dulu, biasanya Gama main ke sana Ummah," ucap Reilla dan di balas anggukkan oleh Vidya.
__ADS_1
"Hati-hati ya sayang!" Teriak Vidya dan di balas acungan ibu jari oleh Reilla.
Reilla pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah lapangan untuk mencari Gama yang tidak ada di rumah.
"Kean!" Panggil Reilla saat ia melihat sosok Keanu yang ada di lapangan dengan komplek perumahannya.
"Kenapa Rei?" Tanya Kean yang sedang bermain bola dengan anak-anak remaja komplek lainnya.
"Lihat Gama gk? Dia gk ada di rumah," jawab Reilla yang nampak gusar.
"Gama? Gk ada Gama kok di sini Rei.
Kepanikan mulai menghampiri Reilla, Gama tidak ada di lapangan juga di rumah. Lalu di mana adiknya itu berada? Apa yang harus Reilla jawab jika Ummahnya nanti bertanya di mana keberadaan adiknya itu.
"Duh, di mana ya Gama. Di rumah gk ada soalnya," ucap Reilla lagi membuat Keanu merasa iba melihat Reilla yang panik.
"Ya udah deh, makasih ya Kean. Aku mau cari Gama lagi."
"Tunggu Rei! Aku bantu cari ya," ujar Keanu menawarkan dirinya untuk ikut mencari keberadaan Gama. Reilla tak menolak ia membiarkan Keanu ikut membantunya mencari Gama.
Keanu dan Reilla mulai mencari keberadaan Gama yang hilang, mereka berdua mencari Gama ke taman dan juga ke rumah teman-teman Gama. Namun jawaban yang mereka dapatkan adalah sama, Gama tak ada di taman ataupun di rumah teman-temannya.
Hari sudah semakin sore, Reilla semakin khawatir karna belum bisa menemukan keberadaan Gama.
"Kamu yang sabar ya Rei, aku yakin kita pasti bisa nemuin Gama kok," ucap Keanu yang sedang berusaha menyemangati Reilla. Reilla hanya membalasnya dengan anggukkan kepala saja.
"Makasih ya Kean sudah bantu aku cari Gama, aku pulang dulu dan sebaiknya kamu juga pulang, sudah sore."
"Iya, tapi kalau ada apa-apa jangan lupa telpone aku ya," ucap Keanu sebelum akhirnya ia pamit pulang begitupun juga Reilla yang memilih untuk pulang ke rumah.
[]
Sesampainya di rumah, Reilla di sambut pertanyaan dari kedua orang tuanya yang tampak begitu khawatir bahkan Ummahnya sudah menangis.
"Gimana Rei? Kamu bisa nemuin Gama kan?" Tanya Vidya sambil menatap lekap putri sulungnya.
Reilla mengeleng pelan lalu menundukkan kepala sambil mengucapkan kata maaf, tubuh Vidya pun hampir oleng dan untung saja Arya segera menangkap tubuh Vidya.
"Kamu tenang ya, kita pasti bisa nemuin Gama," ujar Arya yang berusaha menenangkan Vidya.
"Mas, Gama Mas ... hiks ... anak kita hilang ... hiks," ucap Vidya sambil terisak dan Arya pun langsung membawa Vidya ke dalam pelukkannya dan mendudukkan Vidya di sofa.
"Rei, kamu jaga Ummah mu dulu ya. Ayah mau menghubungi bawahan Ayah untuk membantu mencari Gama," ucap Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.
Reilla pun berusaha menenangkan Ummah nya yang masih terisak, dalam hati Reilla berdoa agar adiknya bisa segera di temukan keberadannya.
__ADS_1