
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Arya dan Vidya kini sama-sama diam, tak ada yang berbicara antara satu dan yang lainnya.
Kini mereka berdua sedang berteduh di sebuah gubuk yang sudah tidak terpakai namun masih bisa mereka gunakan untuk tempat berteduh dari hujan.
Arya diam, wajahnya terlihat begitu pucat.
Luka tembak di tangannya terus mengeluarkan darah, membuat Arya harus meringis menahan rasa sakitnya.
Vidya yang masih belum tau jika Arya juga menjadi korban dalam tragedi tembak menembak itu, hanya diam saja memandangi hujan.
Arya kini duduk agak jauh di belakang Vidya, ia terus memperhatikan punggung gadis yang jujur saja sangat ia rindukan.
Arya rinduk akan sosok Vidya, yang kini sudah menjadi bagian dari kisah masalalunya.
Arya masih mencintai Vidya, ya itulah yang Arya rasakan dalam hatinya.
Namun karna gengsi dan ego Arya yang begitu besar, ia bersikap seolah-olah ia tak lagi mencintai Vidya.
Dan untuk melupakan Vidya, Arya harus menikah dengan Siren dengan harapan bahwa bayang-bayang Vidya tak selalu menghantui fikirannya.
Namun Arya ternyata salah, sekeras apapun ia mencoba mengusir Vidya dari fikirannya, justru ia semakin terasa tersiksa.
Tersiksa oleh kerinduannya pada sosok Vidya.
Vidya sedang menyenandungkan sholawat, sambil mengelus-elus perutnya lembut.
Sesekali gadis itu tersenyum ketika merasakan pergerakkan dari dalam perutnya.
Arya terus mengamati gerak-gerik Vidya, ia ikut tersenyum menikmati suara merdu Vidya yang melantunkan sholawat.
Mata Arya perlahan terasa begitu berat, namun sekuat tenaga Arya berusaha menahannya.
Ia tak ingin rasa sakit membuat kesadaran dirinya hilang, ia harus tetap terjaga agar bisa melindungi Vidya.
Arya merasa takut dan merasa belum aman jika mereka masih berada di dalam hutan ini, karna Arya yakin pasti penculik itu masih berada di daerah sekitar hutan ini.
Maka dari itu sekuat tenaga, Arya berusaha untuk, tetap sadar dan tetap waspada untuk melindungi Vidya, apalagi saat ini gadis itu sedang dalam keadaan mengandung.
Vidya mengakhiri lantunan sholawatnya ketika ia mendengar suara rintihan kesakitan.
Vidya membalikkan badannya, menatap ke arah Arya yang duduk di belakangnya.
Pria itu terlihat kesakitan, ia terus memegangi lengannya sambil meringis seperti menahan sakit.
__ADS_1
Vidya pun bangkit perlahan dari duduknya, ia berjalan mendekat ke arah Arya dan duduk di samping pria itu, sambil menatap wajah Arya dengan cemas.
"Kamu kenapa?" Tanya Vidya seraya menatap wajah Arya.
Arya mengelengkan kepalanya, namun ia masih meringis kesakitan.
Vidya pun menyingkirkan tangan Arya yang pria itu gunakan untuk menutupi luka tembaknya.
"Astagfiruallahaladzim." Vidya terperanjat kaget melihat lengan bagian atas Arya terus mengeluarkan darah.
"Kenapa bisa sampai begini?" Tanya Vidya pada Arya yang masih merintih kesakitan.
"Kena tembak." Jawab Arya sambil meringis kesakitan.
Vidya yang mendengar itu mendadak merasa sedih, ia menatap wajah Arya yang sedang berusaha menahan rasa sakitnya.
"Tunggu sebentar ya." Vidya bangkit ia menggambil kain yang kebetulan ada di gubuk itu.
Kain itu masih terlihat bersih dan untung saja kering dan tidak basah.
Setelah itu Vidya kembali.menghampiri Arya.
"Tahan sebentar ya." Ucap Vidya yang berusaha membalut luka Arya dengan kain dan mengikatnya.
Arya mengerang kesakitan saat Vidya membalut luka nya.
"Sudah selesai, dengan begini semoga darahnya bisa berhenti mengalir. Agar kamu juga tidak sampai kehabisan darah." Ucap Vidya.
Lalu tak sengaja manik mata Arya dan Vidya saling bersitubruk.
Membuat jantung keduanya berdegup tidak karuan, lalu mereka berdua pun saling membuang muka ke arah yang juga saling berlawanan, karna merasa canggung.
suara tembakkan kembali terdengar di tengah hujan yang sudah tidak terlalu deras seperti sebelumnya.
Vidya dan Arya kembali bertatapan, mereka tau itu suara tembakkan milik siapa.
"Arya." Panggil Vidya yang sudah mulai kembali merasa takut.
"Jangan takut, gue ada di sini. Gue akan ngelindungin lo." Ucap Arya berusaha meyakin kan Vidya dengan tatapannya.
Vidya pun akhirnya menganggukkan kepala, ia yakin Arya pasti akan melindungi dirinya.
"Ayo kita pergi dari sini, sebelum dia datang ke sini." Ajak Arya yang mengenggam tangan Vidya erat.
Vidya pun menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Arya yang mengajaknya untuk segera pergi dari gubuk itu.
Di bawah rinai hujan yang sudah tidak terlalu deras namun tetap membuat sekujur tubuh basah, dan di malam yang gelap, Vidya dan Arya melangkahkan kaki mereka berusaha menjauh dan menyelamatkan diri dari kejaran si penculik.
Arya mengajak Vidya memasuk hutan, berjalan di antara semak belukar, dan di antara pepohonan yang tinggi menjulang.
"Sini gue bantu naik, pelan-pelan aja jalanannya licin." Ucap Arya, kedua tangannya sudah mengenggam tangan Vidya dengan erat.
Ia berusaha membantu Vidya untuk menaiki jalanan yang menanjak dan licin karna tanah yang terkena hujan menjadi basah dan dapat bisa membuat orang terpeleset hingga jatuh.
Setelah memastikan Vidya berhasil naik dengan selamat, Arya kembali mengandeng tangan Vidya untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Walaupun Vidya melangkah dengan tertatih-tatih dan merasa letih, mengingat kondisinya juga yang saat ini sedang mengandung.
__ADS_1
Meskipun tertatih dan letih, Vidya masih terus melangkah bersama dengan Arya.
Bagaimanapun caranya dan bagaimana pun jalan yang harus mereka hadapi, mereka yakin mereka pasti bisa melaluinya bersama.
Dorr dorrr
Suara tembakkan kembali terdengar, Arya menyuruh Vidya untuk mempercepat langkahnya.
Mereka berdua berencana mencari jalan raya, siapa tau nanti di sana mereka bisa menemukan tumpangan atau tidak mereka mencari perkampungan agar bisa meminta pertolongan.
Namun sedaritadi melangkah, mereka juga tidak menemukan jalan raya ataupun perkampungan.
Sementara suara tembakkan itu semakin terdengar kian dekat.
"Arya...berhenti dulu." Vidya menahan tangan Arya, ia meminta pria itu untuk berhenti sejenak.
"Ada apa? Kita harus tetap jalan, kalau tidak penculik itu bisa menangkap kita." Ucap Arya, namun Vidya sepertinya memang tidak sanggup melanjutkan perjalanan.
Ia terlihat sedang berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"A...aku capek Arya, aku gk kuat." Ujar Vidya yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Kalau ka...kamu mau lanjut silahkan, tapi aku gk kuat." Ucap Vidya lagi.
Arya mengelengkan kepalanya, bagaimanapun ia tidak akan tega meninggalkan Vidya sendirian.
"Kita masuk ke hutan ini sama-sama dan kita juga harus keluar dari sini sama-sama juga."
Vidya tersenyum mendengar ucapan Arya barusan, membuat hatinya terasa menghangat.
"Udah gk capek?" Tanya Arya pada Vidya, Vidya menolehkan kepalanya dan memasang senyumannya.
"Udah nggak, ayo kita lanjutkan perjalanannya." Ucap Vidya dan di balas anggukan kepala oleh Arya.
Arya dan Vidya pun kembali melanjutkan langkah mereka, menyusuri hutan dan mencari jalan keluar.
"Dimana kalian?!"
Arya dan Vidya makin mempercepat langkah mereka, ketika suara penculik itu kembali terdengar dan mengema.
"Kalian gk akan bisa lari!" Teriak penculik itu lagi, yang suaranya semakin terdengar makin dekat.
Arya mengenggam tangan Vidya erat, berusaha untuk tetap lari agar tidak tertangkap oleh penculik itu.
Brukkk
"Vidya." Arya menoleh kebelakang, ia melihat Vidya yang sudah terjerembab jatuh di atas tanah merah yang lembab.
Gamis Vidya terlihat semakin kotor begitu juga dengan kerudung, bahkan wajah gadis itu.
Arya bergerak membantu Vidya berdiri, jari-jemarinya bergerak membersihkan bekas tanah merah yang mengenai pipi gadis itu.
Vidya sempat terdiam sejenak karna Arya berada sangat dekat dengan dirinya.
"Lo gk apa-apa kan? Gk ada yang luka kan?" Tanya Arya.
Vidya terdiam, matanya sudah berkaca-kaca ia begitu rindu mendengar pertanyaan itu dari Arya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, ayo kita lanjut." Ucap Vidya lagi, dan di balas anggukkan oleh Arya.
Setelah Arya membantu Vidya berdiri, mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah mereka untuk bisa keluar dari hutan dan kejaran penculik yang terus mengancam.