
Sepulangnya Rayn dari rumah Keira, Rayn langsung masuk ke dalam kamar dan tak bicara sepatah katapun pada Mamahnya.
Rayn marah, ia begitu kecewa dengan keputusan Mamahnya yang sepihak. Selama ini Rayn tak pernah membantah apa yang Mamahnya perintahkan bahkan untuk melenyapkan nyawa seseorang sekalipun Rayn tetap patuh.
Namun malam ini berbeda, sebelumnya ia tak pernah sekecewa ini pada sang Mamah. Rayn menatap pantulan dirinya di cermin, ia tersenyum sinis. Matanya menyiratkan dengan jelas betapa dalamnya rasa kecewa yang saat ini tengah melanda.
Rayn tertawa, entah apa yang pria itu tertawakan. Namun perlahan tawanya berhenti, wajahnya kembali berekspresi datar. Rayn terlihat mengepalkan kedua tangannya, lalu menatap cermin di hadapannya yang masih memantulakan pantulan dirinya.
Bughhh
Darah segar mengalir dari punggung tangan Rayn, pria itu baru saja meninju cermin di hadapannya hingga retak dan berguguran. Rayn menatap cermin di hadapannya yang sudah terlihat begitu mengenaskan, Rayn mendengus rupanya rasa marahnya belum juga reda.
Tanpa memperdulikan tangannya yang masih mengucurkan darah, Rayn melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya.
Angin malam berhembus, menerpa rambut Rayn yang kini sudah berantakkan. Rayn memejamkan matanya menikmati rasa sakit di hatinya yang lebih terasa perih di bandingkan tangannya yang saat ini terluka.
Rayn tau ini semua salah, seharusnya tidak begini. Seharusnya ia hanya perlu mendekati Keira bukan malah menikahinya, jelas ini salah.
Rayn menghela nafasnya yang terasa sesak, ia tidak mungkin menikahi Keira. Gadis itu, tidak layak untuk seorang pembunuh seperti dirinya.
Bahkan di dalam kamus hidup Rayn, tak pernah sekalipun terbesit di dalam fikirannya untuk menikah. Ia berfikir, mana mungkin ada gadis di luar sana yang mau menerima dirinya setelah tau bahwa dirinya berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran.
Rayn juga tak bisa membayangkan bagaimana kelak suatu saat nanti ketika Keira tau bahwa dirinya seorang pembunuh bayaran, gadis itu pasti akan sangat menyesal dan merasa jijik memiliki suami seperti dirinya yang bahkan Rayn pun kadang jijik dengan profesinya. Namun bagaimana lagi, ini adalah dunia yang sejak kecil sudah ia tempuh.
"Rayn."
Rayn yang tadi sedang memejamkan matanya pun perlahan kembali membuka kedua matanya, perlahan ia menolehkan kepalanya ke arah bawah karna dari sanalah suara seseorang yang memanggilnya itu berasal.
Saat kepala Rayn menunduk ke bawah, di sana sudah ada seorang gadis yang melambaikan tangan pada dirinya dan juga senyuman yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Aku ke sana ya!" teriak gadis itu agar Rayn bisa mendengar suaranya.
Rayn menganggukkan kepalanya, ia tak pernah bisa menolak kehadiran gadis itu. Setelah mendapat persetujuan dari Rayn, gadis itu memasang senyuman lebar dan segera berlari masuk ke dalam rumah Rayn.
Rayn menghela nafasnya, gadis itu selalu saja datang di saat yang tepat.
"Rayn!" suara bernada ceria itu kembali memasuki gendang pendengaran Rayn, membuat Rayn membalikkan badannya.
Mata Rayn terbelalak, bahkan ia hampir jatuh ke bawah dan hampir terjungkal jika saja ia tidak bisa mengontorol tubuhnya karna gadis itu baru saja menerjang Rayn dan kini sudah memeluk Rayn dengan erat.
"Nay kangen Rayn," ucap gadis itu sambil di posisi yang sama memeluk erat Rayn. Rayn tersenyum tipis, tangannya tergerak membalas pelukkan gadis bertubuh mungil itu.
Rayn memejamkan matanya, menghirup dalam aroma vanilla yang menyeruak dari tubuh gadis di pelukkannya ini.
"Rayn kok kurusan? Pasti Rayn susah makan ya semenjak Nay pergi." Rayn hanya diam mendengar omelan gadis itu yang bertanya kenapa badan Rayn kurusan dan kenapa Rayn tak pernah menelfonnya, saat Rayn baru saja ingin membuka mulut menjawab semua pertanyaan itu, gadis itu sudah lebih dulu memotongnya dengan pertanyaan lainnya yang membuat kepala Rayn pusing mendengarnya.
"Aku baik-baik aja, gk usah khawatir," balas Rayn sambil memegang kedua bahu gadis di hadapannya dan menatap wajah gadis itu lekat.
Gadis itu tertegun melihat wajah Rayn, namun seperkian detik kemudian manik matanya menangkap luka yang ada di punggung tangan Rayn bahkan darah di luka tersebut masih terlihat begitu segar.
"Bagaimana dengan luka itu? Apa kamu masih mau bilang kalau kamu baik-baik saja, hah?!" gadis itu berdecak lalu menarik tangan Rayn untuk masuk ke dalam kamar Rayn.
Rayn menurut, bahkan saat gadis itu mengobati punggung tangannya ia tetap diam. Rayn justru asyik mengamati wajah cantik milik gadis di hadapannya yang terlihat begitu serius mengobati dan memperban luka di punggung tangan Rayn.
"Sudah selesai, kamu pasti habis memukul cermin itu kan?" tanya gadis itu sambil menatap cermin di kamar Rayn yang sudah hancur. Rayn tak menjawab dan hanya menganggukkan kepala saja.
"Sudah aku duga, lain kali jangan berbuat begitu lagi. Aku sangat khawatir padamu tau," kata gadis itu sambil mengercutkan bibir mungilnya membuat Rayn mau tak mau menyungingkan senyumnya.
"Maaf," ucap Rayn membuat gadis itu mendengus dan raut wajahnya kembali terlihat melembut.
__ADS_1
"Sudah aku maafkan tapi jika kau mengulanginya lagi ... jangan harap aku mau menjadi sahabatmu lagi," kata gadis itu dengan ancaman di akhir kalimatnya.
Rayn mendengus geli, tangannya bergerak merangkul bahu gadis di sampingnya dengan akrab. Gadis itu diam dan menikmati rangkulan Rayn yang begitu nyaman dan begitu ia rindukan.
"Sampai kapan ...." ucap gadis itu lirih namun masih bisa terdengar di telinga Rayn.
"Sampai kapan kita merahasiakan hubungan kita?" tanya gadis itu yang memainkan jarinya di dada Rayn.
Rayn menghela nafasnya, ia semakin mengeratkan rangkulannya bahkan kini ia sudah mendekap gadis itu dengan erat.
"Aku lelah Rayn, Ayah semakin ganas. Aku tidak tau sampai kapan aku akan bertahan, aku mungkin--"
"Ssttt, jangan bicara begitu lagi. Aku ada di sini, aku akan melindungimu dan akan membawamu pergi." gadis itu tersenyum sendu mendengar ucapan Rayn yang terdengar begitu meyakinkan.
"Kau akan benar-benar membawa diriku pergi? Sungguh? Lalu bagaimana dengan Mamah mu? Apa dia akan merestui hubungan kita?" tanya gadis itu dengan suara yang mulai bergetar.
Rayn mengusap punggung gadis itu dengan lembut, sesekali ia mendaratkan kecupan di kepala gadis itu.
"Kau bilang kita ini teman dekat jadi--"
"Ralat, teman hidup," sahut Rayn memotong ucapan gadis itu dengan wajah datarnya membuat gadis tersebut mendengus sebal karna Rayn sudah asal memotong ucapannya.
"Tapi sampai kapan? Sampai kapan kau akan menepati janji mu itu yang akan membawa diriku pergi jauh dari tempat ini, aku sangat takut Rayn. Aku begitu takut saat Ayah berkata padaku bahwa ia akan menjual diriku pada seseorang pria tua kaya yang genit. Aku tidak mau Rayn, sungguh lebih baik aku mati daripada harus menjadi istri muda pria tua itu." lalu isak tangis pun mulai terdengar dari bibir gadis itu.
Rayn ikut merasakan apa yang gadis di dalam dekapannya itu rasakan, gadis itu sudah banyak menderita sejak mereka masih kecil dulu.
"Tenang Naya, aku akan membawamu pergi. Aku tak akan meninggalkan dirimu sendirian di sini, aku akan membawamu pergi. Aku janji," bisik Rayn dengan nada yang begitu meyakinkan.
Namun sayangnya Rayn lupa bahwa tak boleh sembarang mengumbar janji yang justru dia sendiri tau bahwa pada akhirnya hanya mendatangkan luka baik itu pada dirinya ataupun gadis di dalam dekapannya yang sangat ia sayangi dan ingin ia lindungi.
__ADS_1