Without You

Without You
39. Vidya Kenapa?


__ADS_3

Happy reading! Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.


-


-


-


-


-


Setelah insiden Vidya yang minta di belikan seblak tadi malam, justru berdampak pada diri Arya.


Berulang kali pria itu terus menguap, karna ia masih sangat ngantuk namun apa boleh buat hari ini adalah hari pertamanya bekerja di kantor barunya ah lebih tepatnya di perusahaan milik keluarganya.


"Arya kok suntuk banget sih mukanya?"


Arya mendengus mendengar pertanyaan Vidya yang bilang muka nya suntuk sekali.


"Ini juga gara-gara lo semalem yang tiba-tiba nyuruh gue beli seblak, gue kurang tidur kan jadinya." Ujar Arya yang tersirat rasa kesal di dalamnya.


"Loh kok nyalahin aku? Bukannya kamu sendiri yang mau beliin aku seblak? Padahal semalam aku udah mau beli seblaknya sendiri loh." Ucap Vidya, membuat Arya menatap gemas campur kesel pada Vidya.


"Hiks...hiks...Arya mah malah nyalahin aku huaaa."


Arya meringis melihat Vidya yang sudah menangis kencang, membuat Arya gelagapan sendiri.


"Eh kok lo malah nangis sih? Gue kan gk ngapa-ngapain lo?"


Bukannya berhenti menangis, tangisan Vidya semakin kencang membuat Arya bingung di buatnya.


"Duh udah jangan nangis lagi dong, gue minta maaf ya. Iya lo gk salah kok, gue yang salah."


"Iya Arya yang salah! Perempuan kan selalu bener...hiks."


Ya udah iya terserah lo aja dah.-batin Arya yang tak mau berkata apapun lagi takut bikin Vidya makin nangis.


"Gue mau berangkat kerja dulu, lo gk mau nganterin gue ke depan nih?" Tawar Arya namun Vidya terlihat cemberut dan mengelengkan kepalanya.


"Nggak mau." Jawab Vidya yang masih mencebikkan mulutnya yang membuat Arya gemas sendiri.


"Ya udah deh." Akhirnya Arya pun melangkahkan kakinya keluar.


"Arya tunggu!" Vidya ternyata berlari mengejar Arya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Arya sambil menatap Vidya yang baru saja mengejar dirinya.


"Maaf." Ujar Vidya yang menundukkan kepalanya.


"Iya udah gk usah di bahas, lo mau salim kan?" Vidya menganggkat kepalanya, lalu tangannya tergerak menggambil tangan Arya untuk dia salimi.


Cup


"Udah jangan cemberut gitu."


Vidya yang kaget dengan ciuman Arya yang tiba-tiba di dahinya itu, kini hanya bisa menegang di tempat.


Sementara Arya? Pria itu sudah masuk ke dalam mobil dan pergi.


"Ya Allah jantung Vidya deg deg an lagi." Gumam Vidya sambil meraba dadanya, lalu kedua pipinya yang terasa memanas.


Lain hal nya dengan Arya, ia kini sedang senyum-senyum sendiri sambil menyetir mobil.


Ia terkekeh ketika teringat wajah Vidya yang memerah setelah ia cium keningnya tadi.


"Ah elah kayanya gua udah gk waras nih, senyum-senyum sendiri kaya orang gila haha." Arya malah terkekeh, menertawai dirinya sendiri yang sangat aneh pagi ini.


Arya sudah sampai di perusahaan milik keluarganya, yang kini ia juga akan mulai bekerja di perusahaan milik keluarga nya itu.


"Akhirnya kamu mau juga bekerja di sini, udah Mamah bilang kan dari dulu. Kamu itu anak pengusaha kaya yang cabangnya udah sampai ke Luar Negri, tapi kamu tetep aja ngeyel malah kerja di perusahaan kecil milik si tua bangka Hermawan itu."


Arya menghela nafasnya dan memasang senyumannya saja ketika ia mendengar ucapan Mamahnya.


"Kok kamu keliatan kurusan sih sayang? Ini lagi kantung mata kamu udah kaya panda, terus rambut kamu juga nih gk rapih. Pasti istri kamu yang pemalas itu gk pernah perhatian sama kamu ya? Buat apa sih istri kaya gitu masih di pertahanin? Cerain aja udah, gk guna juga si perempuan ninja itu."


Arya dapat menangkap nada ketidak sukaan dari nada bicara Mamah nya itu, yang terang-terangan terlihat tidak suka pada Vidya.


"Nggak Mah, Vidya ngerawat Arya dengan sangat baik kok." Ucap Arya pada Mamahnya itu.


"Belain aja terus, oh atau jangan-jangan kamu udah mulai tertarik ya sama dia? Hayo ngaku kamu." Arya mengelengkan kepalanya.


"Apaan sih Mah, mana ada aku tertarik sama perempuan kaya gitu. Udah ah kenapa jadi ngomongin Vidya sih? Kan Arya ke sini mau kerja Mah." Arya jadi kesal sendiri mendengar ucapan Mamah nya.


"Ya udah kamu bisa mulai kerja, tapi inget jangan terlalu kecapean nanti Mamah aduin ke Papah kamu, kalau kamu bandel."


"Iya nggak kok Mamah sayang, udah ya sekarang Arya udah bisa kerja kan? Hmm?"


Akhirnya setelah Mamahnya pergi, Arya bisa bernafas lega dan ia juga bisa segera memulai pekerjaannya.


Namun ada satu hal yang menganggu dirinya.

__ADS_1


Apakah benar dia mulai tertarik pada Vidya?


[]


Hari sudah kembali menjelang malam, bahkan adzan Isya juga sudah berkumandang sedaritadi.


Vidya juga baru saja selesai melaksanakan sholat Isya.


Kini gadis itu sedang menonton televisi di ruang tengah, untuk sekedar menghilangkan rasa bosannya saja.


"Kok gk ada acara tv yang bagus ya?" Gumam Vidya sambil terus menganti saluran televisinya.


Hoekk


Vidya sontak langsung menutup mulut, ketika ia merasakan gejolak-gejolak tak nyaman di perutnya.


Dengan cepat Vidya langsung berlari ke kamar mandi, karna ia merasa sangat ingin muntah.


Hoekkk hoekk


Di dalam kamar mandi, Vidya mulai memuntahkan gejolak tak enak di perutnya. Namun tak ada yang keluar dari dalam mulut Vidya hanya ada cairan bening yang keluar dari mulutnya.


"Astagfiruallahaladzim..." ucap Vidya yang sudah terduduk lesu di kamar mandi, kepalanya juga tiba-tiba mendadak sangat pusing di tambah lagi perutnya yang terus terasa mual.


Hoekk hoekk


Lagi dan lagi Vidya kembali muntah, namun sama seperti sebelumnya ia tidak mengeluarkan apapun kecuali cairan bening.


"Ya Allah, aku kenapa ya? Masuk angin mungkin." Ucap Vidya yang sedang mengelus-elus perutnya.


Vidya merasa nyaman dan mualnya sedikit berkurang saat ia mengelus elus perutnya itu.


"Kok mendadak jadi pengen makan sate ya?" Kata Vidya pada dirinya sendiri, ia bahkan sampai meneguk ludahnya ketika ia membayangkan betapa nikmatnya sate yang di lumuri bumbu kacang.


"Duh jadi pengen sate." Ucap Vidya yang kini sudah melangkah keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang tengah, yang di mana tv nya itu masih menyalah.


"Mau sate." Ucap Vidya lagi yang masih mengelus-elus perutnya.


"Arya belum pulang lagi, tapi aku kepengen banget sate. Terus gimana ya?" Vidya bertanya pada dirinya sendiri, ia tidak bisa menahan hasrat dirinya yang sangat ingin menikmati sate.


Ting tong


"Itu pasti Arya!" Ucap Vidya dengan semangat 45, ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu rumahnya.


"Alhamdulillah kamu-" namun ucapan Vidya terhenti, dan raut wajah kaget serta ketakutan kembali menyelimutinya ketika ia membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2