Without You

Without You
[S2] Bertemu Mamah Arya


__ADS_3

Syabil sudah sampai di rumah sedaritadi, saat ini gadis itu sedang membantu Bi Imah memasak menu makan siang di dapur.


Bi Imah merasa senang karna ada Syabil yang membantunya, sebelumnya Bi Imah merasa kaget karna kehadiran Syabil di rumah Tuannya ini. Namun setelah mendengarkan cerita dari Syabil, Bi Imah mengerti dan merasa bersyukur karna Tuannya Arya sudah melakukan hal yang benar dengan membawa Syabil ke rumah ini.


Ting tong ting tong


"Biar saya saja yang buka pintunya Bi," ucap Syabil ketika mendengar suara bel pintu berbunyi nyaring.


Bi Imah menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Syabil sudah beranjak untuk membukakan pintu depan.


"Maaf nyari siapa ya Bu?" Tanya Syabil ketika melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian modis, bahkan wajahnya juga masih terlihat sangat cantik walaupun sudah tidak muda lagi.


"Kamu siapa? Kenapa ada di rumah anak saya?"


Syabil mengerenyitkan dahinya bingung, kenapa wanita paruh baya itu malah meninggikan suaranya pada Syabil? Memangnya Syabil ada salah ucap ya? Begitulah kiranya yang ada di fikiran Syabil saat ini.


Mendengar keributan dari arah depan, Bi Imah pun memutuskan untuk menyusul Syabil.


"Siapa bil?" Tanya Bi Imah yang sedang berjalan ke arah Syabil.


"Gk tau Bi," ucap Syabil berkata jujur.


"Astagfiruallah maaf Nyonya, ayo silahkan masuk."


Wanita paruh baya itu melirik sekilas pada Syabil lalu ia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Kamu ini bagaimana, dia itu Mamah dari Tuan Arya."


Syabil gelagapan, ia sendiri tidak tau jika wanita paruh baya itu adalah Mamah nya Arya. Jika ia tau, sudah pasti Syabil tidak akan bersikap tidak sopan seperti itu padanya.


"Minta maaf dulu sana," suruh Bi Imah dan di balas anggukkan oleh Syabil.


Syabil pun berjalan, lalu menghampiri Mamahnya Arya yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Nyonya ... maafkan saya tadi saya bersikap tidak sopan pada Nyonya," ujar Syabil yang menundukkan kepalanya sopan di depan Mamah Arya.


Mamah Arya tidak berkata apa-apa dia malah memandangi Syabil dari ujung kepala sampai ujung kaki, semua tak luput dari tatapan Mamah arya.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di rumah anak saya?"


Syabil mengangkat kepala ketika mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Mamah Arya padanya.


"Saya Syabil, saya di sini atas ajakan dari Pak Arya," ucap Syabil yang kembali menundukkan kepalanya tidak berani menatap tatapan Mamahnya Arya yang penuh intimidasi itu.


"Arya yang bawa kamu ke sini?" Tanya Mamah Arya yang begitu terkejut dengan fakta yang Syabil ucapkan.


"Iya Nyonya."


Mamah Arya terdiam, ia agak syok juga mendengar hal itu. Selama ini Arya tidak pernah membawa perempuan lain untuk tinggal di rumahnya, tapi gadis itu begitu hebat bisa di izinkan tinggal di rumah ini oleh Arya. Mamah Arya yakin bahwa Syabil bukanlah wanita biasa melainkan wanita yang istimewa bagi Arya.


"Kemari duduk di samping saya."

__ADS_1


Syabil mengangkat kepalanya, ia menatap Mamah Arya yang sedang menepuk sofa sebelahnya yang kosong.


"Ada apa? Saya cuma nyuruh kamu duduk di dekat saya bukan mau memakan kamu kok," ucap Mamah Arya yang menyadari raut ketakutan dari wajah Syabil.


"Baik Nyonya."


Syabil hanya menurut saja, ia ikut duduk di samping Mamahnya Arya. Mamah Arya masih mengamati Syabil, kemudian senyuman terbit di bibirnya melihat wajah Syabil yang cantik, pantas saja jika Arya tertarik pada gadis muda ini.


"Kamu umur berapa?"


"Umur 19 tahun Nyonya," jawab Syabil masih dengan menundukkan kepalanya.


"Masih muda sekali ya, tapi gk apa-apa kamu dan Arya hanya selisih 11 tahun saja kok."


Dalam diam Syabil mulai merasa tak enak, kenapa pula usianya harus di banding-bandingkan dengan usia Arya, itu terdengar sangat aneh di telinga Syabil.


"Kamu masih kuliah?" Ujar Mamah Arya yang mulai membuka sesi tanya jawab.


"Masih, tapi tahun ini saya lulus kok."


Mamah Arya menganggukkan kepalanya, ia sudah mulai menyungingkan senyumannya. Bahkan raut wajahnya sudah terlihat bersahabat daripada sebelumnya.


"Sejak kapan kamu kenal Arya? Kalian sudah dekat berapa lama? Dimana kalian pertama kali bertemu?"


Syabil kebingungan mendapatkan pertanyaan yang banyak dari Mamah Arya, ia tidak tau harus lebih dulu menjawab pertanyaan yang mana.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, nah ini dia orangnya sudah datang!" Seru Mamah Arya yang langsung bangkit menghampiri putranya yang baru saja pulang.


"Kamu kok gk bilang Mamah sih kalau ada perempuan secantik dia yang tinggal di sini?"


"Maaf Arya belum sempat bilang sama Mamah," jawab Arya.


"Syabil," panggil Arya membuat Syabil yang sedaritadi menundukkan kepalanya pun harus mengangkat kepalanya kembali dan menatap Arya yang baru saja memanggilnya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Arya membuat Syabil mendadak salah tingkah alhasil gadis itu hanya bisa mengelengkan kepalanya saja sebagai jawaban.


"Mamah udah makan?" Tanya Arya yang kini bertanya pada Mamahnya.


"Belum nih hehe," jawab Mamah Arya sambil menunjukkan cengirannya.


"Ya sudah kalau begitu kita makan bareng aja," ujar Arya dan di iyakan oleh Mamahnya dan juga Syabil.


Lalu setelah Arya mengganti pakaiannya, ia bergabung bersama dengan Syabil dan yang lainnya untuk makan siang bersama.


Setelah makan siang Syabil memilih membantu Bi Imah kembali di dapur, kini hanya tinggal Arya dan Mamahnya saja.


"Syabil cantik ya," celetuk Mamah Arya.


"Iya dia kan perempuan Mah," balas Arya membuat Mamahnya itu menghela nafasnya kasar.

__ADS_1


"Kamu ada hubungan apa sama Syabil? Kok kamu bisa ngajak dia buat tinggal di sini?" Tanya Mamah Arya penuh selidik.


"Kita cuma temen kok, Syabil itu dekat sama Rei jadi aku putuskan buat jadiin dia pengasuh Rei aja selama aku kerja."


"Yakin kamu cuma sebagai pengasuh doang? Mamah liat-liat Syabil anaknya baik kok, cantik juga lagi dia kayanya cocok jadi calon Ibu nya Rei."


Uhuk uhuk


Arya sampai tersedak salivanya mendengar ucapan Mamahnya barusan yang di luar ekspetasinya.


"Mamah kenapa ngomong gitu sih?" Tanya Arya yang tampak sewot.


"Kamu gk kasihan sama Rei? Dia juga butuh Ibu, kamu gk bisa egois mikirin diri kamu sendiri. Kamu gk kasihan sama Rei?"


"Mah udah cukup, kita udah bahas ini berulang kali kan?" Ujar Arya yang jengah mendengakan ucapan Mamahnya yang selalu berputar pada topik perihal menikah lagi.


"Mamah dapat kabar dari wali kelasnya Rei, dia bilang Rei suka nangis sendiri di kelas bahkan dia sering di ejek sama teman-teman yang lainnya karna dia gk punya Ibu. Apa kamu gk kasihan sama putri kamu? Setidaknya kamu juga harus mikirin gimana perasaannya Rei."


Arya hanya diam, ia menghela nafasnya kasar. Salah satu tangannya ia gunakan untuk menyugar rambutnya ke belakang, ia baru tau jika selama ini putrinya selalu menderita di sekolah dan itu karna keegoisannya yang memilih untuk tidak menikah lagi. Ia tidak pernah memikirkan nasib putrinya itu yang pasti sangat menderita karna tidak mempunyai Ibu seperti anak-anak yang lainnya.


"Mamah cuma mau yang terbaik untuk kamu dan Rei, keputusan ada di kamu tapi Mamah harap kamu dapat lakukan yang terbaik untuk Rei."


Setelah mengatakan itu Mamah Arya pamit pulang, kini hanya tinggal Arya sendiri yang masih duduk termangu memikirkan semua perkataan Mamahnya yang kali ini ada benarnya juga.


"Pak Arya."


Arya tersentak dari lamunannya, ia kemudian di kejutkan dengan kehadiran Syabil yang kini berdiri di hadapannya hanya terhalang meja makan saja.


"Kamu manggil saya Pak?!" Tanya Arya yang baru sadar jika Syabil memanggilnya dengan sebutan Pak.


"Kemarin kamu panggil saya Om dan sekarang Pak, kamu fikir saya sudah setua itu? Saya ini masih muda tau."


Syabil hanya terkekeh mendengar ucapan Arya yang tak terima jika dirinya memanggil Arya dengan sebutan Om ataupun Pak.


"Terus saya harus panggil apa?" Tanya Syabil yang masih memasang senyumannya, ia senang melihat raut wajah kesal Arya.


"Terserah kamu tapi jangan panggil saya Pak ataupun Om lagi," ujar Arya memperingati Syabil.


"Terserah saya ya? Ya udah kalau gitu saya panggil sayang boleh?" Tanya Syabil yang sedang mengoda Arya.


"Bole- eh apa kamu bilang tadi?!" Tanya Arya dengan raut wajah kaget bercampur kesal.


"Hehe bercanda pak."


"Syabil! Jangan panggil saya Pak!" Ucap Arya yang suaranya agak meninggi.


"Iya gk di panggil Pak lagi deh tapi di panggil sayang aja hehe," ucap Syabil lalu setelah itu ia berlari pergi karna ia sudah tau kelanjutannya seperti apa.


"Syabil!"


Benar bukan? Syabil sudah tau kelanjutannya seperti apa, ia yakin bahwa Arya akan berteriak kesal seperti itu padanya. Syabil merasa sangat puas bisa melihat wajah kesal Arya, sepertinya melihat wajah kesal Arya menjadi kesenangan tersendiri bagi Syabil mulai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2