Without You

Without You
Tersadar


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu, semenjak Reilla tinggal bersama dengan Arya dan Vidya, ia selalu di perlakukan dengan begitu istimewa. Vidya yang selalu sabar menghadapi Reilla yang masih cuek padanya, namun Vidya tidak menyerah, bagaimanapun Reilla adalah putrinya dan Vidya harus bisa membuat putrinya nyaman ketika berada di dekatnya.


Saat ini Vidya baru saja selesai memasak makan siang, walaupun di rumah ada Bi Imah yang bekerja tapi tetap saja Vidya ikut turun tangan. Karna Vidya ingin membuat makanan spesial untuk Reilla.


Vidya tersenyum puas melihat hasil masakannya, kerang saus padang menjadi menu andalan Vidya siang ini. Dengan wajah sumringah Vidya melangkahkan kakinya ke arah meja makan dan menyusun semua lauk pauk serta nasi di atas meja dengan rapih.


"Sayang, kamu liat ponsel aku gk?" Tanya Arya yang tiba-tiba datang menghampiri Vidya di dapur.


Vidya hanya diam tidak menanggapi, entah mengapa semenjak hamil hormon Vidya jadi suka berubah-ubah. Vidya jadi ngerasa sebel aja tiap lihat wajah Arya, Vidya juga tidak tau mengapa tapi kalau lihat wajah Arya bawaannya pengen julid terus.


"Makannya kalau naruh barang di simpen yang bener," ucap Vidya yang malah memarahi Arya.


Arya meringis mendengar omelan Vidya, sejak kemarin Vidya memang selalu saja memarahinya dan kadang mendiami dirinya padahal Arya sendiri tidak tau dia salah apa pada Vidya.


"Rei di mana?" Tanya Vidya pada Arya yang masih berdiri di tempatnya.


"Ada di taman lagi baca buku, kenapa? Mau aku panggilin?" Tanya Arya dengan raut wajah sumringah, akhirnya sejak kemarin Vidya mendiami dirinya hari ini Vidya sudah mau berbicara dengannya lagi.


"Gk perlu," jawab Vidya singkat lalu melangkah dan melewati Arya begitu saja.


"Nasib banget ngadepin bumil yang hormonnya gk stabil," ucap Arya setelah Vidya pergi dari kawasan dapur.


Arya menghela nafasnya, ia berusaha tetap bersabar. Bagaimanapun saat ini Vidya sedang mengandung anaknya, jadi dia harus ekstra sabar walaupun agak kesel juga di marahin sama Vidya tapi Arya tau itu efek dari hormon Vidya yang semenjak hamil menjadi tidak stabil.


"Rei, makan siang dulu yuk," ajak Vidya sambil tersenyum ramah dan duduk di samping Reilla.


Reilla terlihat menghela nafasnya pelan, ia meletakkan buku yang sedang ia baca di atas meja lalu menoleh pada Vidya yang saat ini sedang tersenyum sumringah padanya.


"Hmm," jawab Reilla singkat membuat Vidya tersenyum senang.


Vidya pun langsung mengajak Reilla untuk makan siang bersama dengan dirinya dan juga Arya, Vidya menatap Arya dan juga Reilla. Ia bahagia karna bisa berkumpul seperti ini dengan putrinya, Vidya membayangkan jika nanti anaknya lahir mungkin rumahnya akan semakin terasa ramai.


"Nih ayam gorengnya, di makan ya Rei. Kalau kurang bisa tambah lagi kok nasinya," ujar Vidya dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya.


Vidya begitu telaten menyendokkan nasi dan lauk-pauk lainnya ke piring Reilla, Arya pun tersenyum melihat kesabaran dan kegigihan Vidya dalam mendapatkan hati Reilla.


Arya yakin lambat-laun Reilla pasti akan menyayangi Vidya, sama seperti Vidya yang sangat menyayangi dirinya. Vidya bahkan rela tidak tidur semalaman hanya karna mencoba resep kerang saus padang yang merupakan menu kesukaan Reilla.


"Nanti kamu jadi mau ke mall nya?" Tanya Arya membuat Reilla menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Jadi," jawab Reilla tentu saja dengan singkatnya.


"Saya temenin mau gk Rei?"


Reilla beralih menatap ke arah Vidya yang terlihat antusias ingin mengantar dirinya ke mall.


"Iya," jawab Reilla dan tentu saja membuat Vidya girang bukan main.


Setidaknya nanti dia bisa punya waktu untuk berduaan dengan putrinya, dengan begitu Vidya harap ia bisa lebih leluasa meluluhkan sikap dinginnya Reilla.


[]


Makan siang pun sudah selesai, Reilla dan Vidya kini sedang dalam perjalanan menuju mall bersama dengan Arya yang hanya mengantarkan mereka saja.


Sepanjang jalan Vidya terus tersenyum, Arya yang sesekali melirik ke arah Vidya juga ikut tersenyum melihat raut wajah bahagia istrinya.


"Kita sudah sampai," ucap Arya yang menghentikan laju mobilnya.


Reilla dan Vidya pun turun, tak lupa Vidya berpamitan pada Arya sementara Reilla hanya diam saja sedaritadi. Setelah itu Vidya dan Reilla berjalan beriringan masuk ke dalam mall untuk berbelanja kebutuhan yang Reilla inginkan.


"Kita mau kemana dulu Rei?" Tanya Vidya.


"Toko buku."


Reilla dan Vidya puas berbelanja seharian, membeli buku dan juga perlengakapan lainnya yang ingin Reilla beli dan ia sukai.


Tak terasa Vidya dan Reilla pun sudah ingin beranjak pulang, keduanya memilih untuk naik bis saja karna katanya Reilla mau naik itu dan karna kebetulan juga Arya sedang ada urusan kantor mendadak jadi tidak bisa jemput, tentu saja Vidya dengan senang hati menuruti kemauan Reilla.


Keduanya berhenti melangkah, melihat ke kanan dan ke kiri karna hendak menyebrang jalan. Letak halte nya ada di sebrang mall jadi harus menyebrang dulu untuk sampai ke sana.


Lampu lalu lintas pun sudah berwarna merah, Vidya dan Reilla siap menyebrang jalan.


Namun entah bagaimana ceritanya, dari arah berlawanan ada sebuah sepedah motor yang melaju begitu kencang. Menerobos lampu lalu lintas begitu saja, Vidya yang melihat motor itu melaju kencang pun langsung membulatkan matanya.


"Rei! Awas!" Teriak Vidya lalu dengan reflek ia mendorong tubuh Reilla agar tidak tertabrak motor tersebut.


Brakkk


Reilla mengaduh kesakitan namun suara gaduh barusan membuat nafas Reilla terasa tercekat, ia menatap seseorang yang saat ini sudah tergeletak di jalanan dan tak lama orang-orang di sekitar pun menghampiri orang yang tergeletak di tengah jalan tersebut.

__ADS_1


"U ... Ummah," ucap Reilla dengan nada bergetar menatap ngeri darah yang mengalir dari tubuh Vidya.


Reilla pun bangkit, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Ia berjalan dengan mata berkaca-kaca, membelah ke rumunan untuk melihat keadaan Vidya.


Tubuh Reilla luruh ke aspal, ia menangis dan memanggil-manggil Vidya dan memintanya untuk tetap sadar.


Namun Vidya tak sadarkan diri, darah sudah mengalir dari pelipisnya. Dengan tangan bergetar Reilla berusaha mengenggam tangan Vidya erat.


"Ma ... maafin Rei Ummah," ucap Reilla di sela isak tangisnya.


Ia terus mengucapkan kata maaf sampai mobil ambulans datang, lalu Vidya pun di angkut ke dalam mobil ambulans. Reilla juga turun ikut masuk ke dalamnya.


"U ... ummah bertahan ... hiks ... Ummah maaf ... hiks ... maafin Rei," ucap Reilla di sela isak tangisnya seraya menatap Vidya yang masih memejamkan matanya.


Lalu mobil ambulans pun sudah sampai di rumah sakit, mereka segera menurunkan Vidya dan menaruhnya di atas brankar.


Reilla masih menangis dan terus menemani Vidya sampai Vidya masuk ke dalam ruangan UGD, dan ia harus menunggu di luar dengan perasaan yang di liputi ketakutan dan kekhawatiran dengan kondisi Ummahnya saat ini.


"Ya Allah maafin Rei ... hiks ... maafin Rei dan tolong selamatkan Ummah ... hiks ... Rei janji akan baik sama Ummah setelah ini tapi tolong selamatkan Ummah," ucap Reilla dengan penuh harap seraya menatap pintu UGD yang sudah tertutup rapat.


"Rei!"


Reilla pun menoleh, rupanya ada sosok Arya yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Reilla dengan wajah paniknya.


"Di mana Ummah kamu? Gimana keadaannya? Gimana ini semua bisa terjadi?" Tanya Arya saat sudah berhadapan dengan Reilla.


"U ... Ummah nyelamatin Reilla yang hampir tertabrak mobil," ucap Reilla yang lalu menceritakan kronologis kejadiannya.


Tubuh Arya seketika lemas mendenga cerita Reilla, bayangan kecelakaan yang di alami Vidya dulu saat Reilla masih berada di dalam kandungan Vidya mendadak muncul kembali dalam fikirannya.


Arya mengeleng kuat, ia tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Vidya dan bayinya. Vidya sudah cukup merasakan penderitaan selama ini, Arya hanya ingin melihat Vidya bahagia dan bukan ini yang Arya inginkan.


Arya mengusap wajahnya kasar, ia lalu membawa Reilla yang menangis ke dalam dekapannya.


"Maaf Ayah ... hiks ... maafin Reilla," ucap Reilla saat ada di dekapan Arya.


Arya berusaha menenangkan putrinya itu, dan Arya mengatakan bahwa ini semua terjadi bukan karna Reilla tapi sudah takdir jadi Reilla tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri.


Namun meskipun begitu, Reilla tetap merasa bersalah. Selama ini ia sudah terlalu keterlaluan mendiami Ummahnya yang padahal sangat menyayangi dirinya dan selalu sabar dalam menghadapi tingkahnya, Reilla sadar bahwa Vidya memang orang yang sangat baik. Ummahnya itu seperti bidadari, kesabarannya bahkan kadang membuat Reilla terpukau.

__ADS_1


Reilla pun sadar bahwa ego nya selama ini sudah mengantarkannya pada kehancuran, ia tidak mau kehilangan Ummahnya lagi, dan Reilla pun sadar bahwa betapa berartinya sosok Ummah dalam hidupnya dan untuk pertama kalinya Reilla juga sadar bahwa surga memang berada di bawah telapak kaki Ibu.


Ibu rela mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya, Ibu bahkan tak pernah kenal lelah walaupun peluh menetes di dahinya Ibu tetap tersenyum hangat dan tetap mendekat erat walaupun kita kadang sebagai anak suka membangkang padanya tapi ibu tetap menayayangi kita dengan sepenuh hati, kasih Ibu memang tak akan pernah terbalas dan Reilla menyadari hal itu.


__ADS_2