Without You

Without You
55. Mengharu Biru


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Vidya masih terus berusaha mengusap perutnya, ia terus berbicara sendiri pada anak yang ada di dalam kandungannya.


Seseorang yang daritadi berada di dekatnya tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata melihat betapa rapuhnya Vidya saat ini.


Tangisan gadis itu terus menggema, berulang kali ia memanggil anaknya agar mau menunjukkan reaksi untuk memastikan ada atau tidak adanya lagi anak itu di dalam perutnya.


"Vidya udah hentikan." Ucap orang itu berusaha menggambil tangan Vidya, namun Vidya menepisnya.


"Nggak! Dia pasti baik-baik aja kan? Dia pasti akan baik-baik aja kan?" Tanya Vidya pada orang itu, matanya sudah terlihat begitu sembab, pakaiannya juga sudah lepek terkena tetesan air hujan.


"Arya, dia akan baik-baik aja kan? Anakku akan baik-baik aja?" Tanya Vidya pada orang itu yang tak lain adalah Arya.


Arya jugalah orang yang sama, yang sedaritadi membuntuti mobilnya Vidya.


Bahkan Arya jugalah yang telah nekat masuk ke dalam mobil untuk menyelamatkan Vidya, mendorongnya keluar dari mobil, jika tidak mungkin Vidya sudah jatuh ke jurang bersama dengan mobil yang Vidya naiki sebelumnya.


Arya tidak kuat melihat Vidya yang begitu rapuh saat ini.


Gadis itu terus meracau, tangisnya menderu terdengar begitu pilu, mengiris kalbu.


Arya menatap perut Vidya yang membesar, ia begitu terkejut saat ia tau kalau Vidya sedang mengandung.


Semua ini berawal dari Arya yang kembali mendatangi rumah Bu Astrid, dengan maksud ingin menggambil dompetnya yang tertinggal.


Namun saat sampai di sana, Arya melihat satpam yang menjaga rumah tersebut sudah tergeletak pingsan.


Sementara tak jauh dari sana, Arya melihat seorang gadis yang di bekap mulutnya sedang di seret masuk ke dalam sebuah mobil.


Arya yang merasa ada yang tidak beres pun, segera kembali masuk ke dalam mobilnya.


Ia mengikuti mobil tersebut, sebelumnya ia tidak tau sama sekali jika gadis yang di bawa oleh orang itu adalah Vidya.


Arya terus mengukutinya, mobil tersebut menyadari jika ia sedang diikuti oleh Arya.


Mobil itu sengaja masuk ke dalam hutan, yang sepi jauh dari rumah penduduk.


Arya terus mengikuti mobil itu, tidak perduli walau hujan turun dengan deras sekalipun. Entahlah ia merasa kalau ia memang harus mengikuti mobil itu.

__ADS_1


Namun tanpa Arya duga, ternyata penculik itu memiliki pistol.


Untungnya Arya juga punya pistol yang memang biasanya hanya ia gunakan untuk berjaga-jaga saja.


Kemudian baku tembak antara Arya dan penculik itu tak terelakkan, walaupun Arya harus menahan sakit di lengannya yang tertembak namun akhirnya Arya berhasil melumpuhkan penculik itu.


Mobil penculik itu pun oleng tak terkendali, dan di saat mobil itu hendak mengarah ke arah jurang yang curam.


Dengan liciknya penculik itu menjatuhkan diri dan meninggalkan gadis itu sendirian di dalam mobil yang sudah mengarah ke jurang.


Tanpa memikirkan penculik itu, Arya segera turun dari mobilnya dan berlari sekuat tenaga menerjang hujan.


Ia berlari mencoba mengejar mobil itu, dan Arya pun dengan susah payah akhirnya berhasil naik ke dalam pintu mobil itu yang masih terbuka.


Arya mendorong gadis itu hingga terjerembab keluar, sementara Arya menjatuhkan dirinya hingga ia terguling di tanah yang basah dan lembab.


Arya meringis menahan sakit di tubuhnya, lalu ia berjengit kaget mendengar suara tangisan dan teriakan dari gadis itu.


Arya berusaha melihat dengan jelas sosok gadis yang baru saja ia tolong itu.


Kedua mata Arya terbelalak saat ia tau bahwa gadis yang baru saja ia tolong adalah sosok yang sangat ia kenali, itu adalah Vidya.


Arya memanggil Vidya, namun tak ada balasan, gadis itu masih terus menangis dan meraung.


Arya memutuskan untuk jalan mendekati Vidya, dengan tak menghiraukan luka tembak nya yang terasa sakit.


Saat Arya sudah berada di dekat Vidya, tubuhnya langsung luruh dan terduduk di samping Vidya yang masih menangis.


Arya ternyata tidak salah duga, bahwa memang Vidya saat ini sedang hamil, namun yang menjadi pertanyaan di benaknya adalah anak siapa yang sedang Vidya kandung saat ini.


Arya hendak bertanya namun ia urungkan saat tangisan Vidya semakin kencang, ia meraung-raung sambil memegangi perutnya.


Arya di buat meneteskan air mata melihat Vidya yang begitu mengkhawatirkan anak yang ada di dalam kandungannya.


Sampai-sampai Arya rasa Vidya mengacuhkan keberadaannya.


Apalagi saat Vidya bertanya padanya, apakah anaknya itu baik-baik saja.


Lidah Arya kelu untuk menjawab, jadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


Arya yang sudah tidak tega melihat kondisi Vidya pun, tanpa sadar langsung membawa tubuh Vidya ke dalam dekapannya.


Vidya meronta-ronta, namun Arya menenangkan Vidya dan akhirnya perlahan tubuh Vidya tidak ada lagi perlawanan.


"Anakku...hiks...anakku sayang, ini Ummah nak...hiks...hiks...kamu pasti anak baik-baik aja, pasti." Ucap Vidya yang menangis tergugu.


"Arya." Vidya mengangkat kepalanya menatap Arya dengan nanar.


Arya pun menatap wajah Vidya yang sudah basah dengan air hujan dan air mata gadis itu.


"Dia...hiks...dia tidak bergerak." Ucap Vidya yang sedang mengadu pada Arya tentang anak di dalam perutnya yang tidak menunjukkan pergerakkan.

__ADS_1


Arya menatap perut Vidya lalu menatap wajah Vidya dan terakhir kembali menatap ke arah perut Vidya.


Perlahan tangan Arya terulur hendak menyentuh perut Vidya namun ia menghentikan pergerakkan, ia menatap Vidya terlebih dahulu, dan setelah Vidya mengangguk memberinya izin untuk menyentuh perutnya, Arya pun baru melanjutkan pergerakkannya.


Arya meletakkan telapak tangannya dia atas permukaan perut Vidya yang membesar, ia merasa sangat dingin, dan ia juga tidak merasakan pergerakkan apapun seperti yang Vidya rasakan.


Namun Arya tidak menyerah, ia mengerakkan tangannya membentuk gerakkan mengusap permukaan perut Vidya.


Dugg


Arya membelalakkan matanya, saat telapak tangannya merasakan suatu pergerakkan dari dalam perut Vidya.


Meskipun terasa agak pelan, namun Arya dapat merasakan pergerakkannya.


"Dia bergerak!" Seru Arya dengan mata berkaca-kaca, Vidya menghentikan tangisnya ia menatap Arya dengan raut wajah tak percaya.


Arya pun kembali mengusapkan tangannya di permukaan perut Vidya, mencobanya sekali lagi.


Dugh


Lagi, Arya merasakannya lagi.


Arya kembali menatap Vidya yang menunggu apa yang Arya rasakan.


"Dia bergerak lagi!" Seru Arya lagi, Vidya tersenyum dan menangis haru.


"Kemarikan tanganmu."


Arya menggambil salah satu tangan Vidya dan meletakkan tangannya di atas perut Vidya, sementara  tangan Arya ia letakkan di atas tangan Vidya.


Arya mengerakkan tangan Vidya yang ada di bawah tangannya, untuk mengusap perut Vidya.


Dugh dugh dugh


Mata Vidya dan Arya saling bertatapan, lalu senyuman terbit di wajah keduanya.


"Alhamdulillah, Masyallah, Allahu Akbar..." lirih Vidya yang tak kuasa menahan tangis harusnya.


Ia bersyukur pada Allah saat ia kembali merasakan pergerakkan anak yang ada di dalam perutnya itu.


"Benarkan yang gue bilang, dia bergerak." Ucap Arya yang begitu senang.


Padahal Arya sudah pernah merasakan pergerakkan itu ketika ia menyentuh perut Siren, namun ketika ia menyentuh perut Vidya tadi ia merasa sangat berbeda.


Entahlah, Arya juga tidak tau tapi yang pasti ia merasa sangat senang sekaligus ikut bahagia ketika kembali merasakan pergerakkan bayi di dalam perut Vidya.


Aneh, itulah yang ada di fikiran Arya namun sekuat tenaga Arya berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi semakin ia berusaha lupakan ia semakin penasaran.


Satu pertanyaan di benaknya yang belum ia ketahui jawabannya.


Sebenarnya anak yang ada di dalam kandungan Vidya itu, anak siapa?

__ADS_1


__ADS_2