Without You

Without You
[S2] Cinta Tak Bisa di Paksa


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu, hari yang selalu Reilla nantikan karna itu artinya ia tidak perlu berangkat ke sekolah dan ia bisa bersenang-senang di rumah.


Pagi ini setelah menyantap sarapan bersama dengan Syabil dan tentu juga dengan Ayahnya, Reilla pun memutuskan untuk duduk di depan televisi menonton acara kartun kesukaannya sambil menyantap camilan yang sudah Syabil buatkan untuknya.


"Rei kamu gk ada kegiatan kan hari ini?" Tanya Arya yang datang dan langsung ikut duduk di samping Reilla.


"Nggak kok Yah, emangnya kenapa?" Tanya Reilla sambil menyuapkan camilan ke dalam mulutnya.


"Ayah mau ajak kamu ke rumah Tante Siren, dia kan baru pindah ke komplek ini. Jadi dia ngundang kita buat datang ke sana."


Reilla yang mendengar hal itu pun menghentikan kunyahannya, ia menatap wajah Ayahnya dengan tatapan berbinar.


Reilla mulai berfikir, jika ke rumah Tante Siren itu artinya ia pasti akan bertemu dengan Aksara kan? Tentu saja Reilla pasti akan ikut ke sana.


"Ayo Yah! Kapan mau ke sana?" Tanya Reilla begitu antusias membuat Arya terkekeh.


"Sekarang."


"Hah? Sekarang? Nanti dulu ya Yah, Rei mau siap-siap dulu hehe," ujar Reilla yang langsung bangkit dari duduknya dan ngacir menuju kamarnya.


Arya yang melihat tingkah aneh putrinya hanya bisa mengedikkan bahunya saja dan memilih untuk menikmati camilan yang sama dengan yang tadi Reilla makan.


"Syabil," panggil Arya ketika melihat Syabil yang kebetulan lewat.


"Iya ada apa?" Tanya Syabil yang langsung menghentikan langkahnya.


Arya bangkit dari duduknya, ia lalu berjalan menghampiri Syabil. Syabil hanya bisa mengerenyitkan dahinya bingung.


"Kamu mau ikut saya dan Rei ke rumah Siren tidak?" Tanya Arya ketika sudah berada di depan Syabil.


Syabil menghela nafasnya, ia sudah menduga yang tidak-tidak sebelumnya ternyata Arya memanggilnya hanya untuk menanyakan hal itu saja.


"Mau ikut?" Tanya Arya lagi.


Syabil belum menjawab ia sedikit menimbang-nimbang sebentar, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya juga.


"Kalau gitu aku siap-siap dulu deh ya," ucap Syabil dan di balas anggukkan oleh Arya.


Syabil pun pergi meninggalkan Arya yang memilih kembali duduk di sofa dan menikmati camilan sambil menunggu Syabil dan Reilla siap.


Lumayan lama Arya menunggu akhirnya Syabil dan Reilla pun siap.


"Kok kamu rapih banget Rei?" Tanya Arya yang terheran-heran melihat penampilan putrinya yang begitu rapih bahkan melebihi Syabil.


"Eh? Emangnya gk boleh ya Yah?" Tanya Reilla yang sambil memperhatikan pakaiannya.


"Boleh aja sih, tapi kan kita cuma mau kunjungan ke rumah Tante Siren doang, Rei. Kita bukan mau kondangan," ucap Arya membuat Reilla meringis mendengarnya.


"Ya udah deh kalau gitu Rei ganti baju lagi aja," ujar Reilla yang baru saja ingin berbalik namun terhenti ketika mendenga suara Arya yang mengintrupsi untuk berhenti.


"Gk usah nanti Ayah lama lagi nunggunya," ucap Arya membuat Reilla mengurungkan niatnya untuk mengganti pakaiannya kembali.


"Ayo kita berangkat," ajak Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Syabil dan juga Reilla.


Lalu ketiganya pun keluar dari rumah, setelah berpamitan pada satpam yang berjaga di depan gerbang rumah Arya. Mereka pun berjalan menuju rumah Siren yang memang tidak terlalu jauh dari rumah Arya hanya beda blok saja.


...............................


Arya, Syabil, dan Reilla akhirnya sampai di rumah baru Siren. Sirenlah yang langsung menyambut kedatangan mereka bertiga, dengan ramah Siren mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah barunya.


"Maaf ya masih agak berantakkan karna kita baru sempet beresin beberapa barang dan selebihnya masih belum terurus," ujar Siren yang menjelaskkan kondisi rumahnya yang agak berantakkan.


"Gk apa-apa kok," ujar Arya yang ikut melangkah mengikuti langkah Siren begitupun dengan Syabil dan juga Reilla yang berjalan di belakang Arya.


"Silahkan duduk," ujar Siren mempersilahkan para tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Siren pun mengobrol dengan Arya dan Syabil, sementara Reilla hanya diam sesekali matanya mengamati ke arah tangga berharap jika ia bisa melihat Aksara sebelum waktu kunjungannya habis dan ia harus pulang kembali ke rumah.


"Aksa kemana? Kok gue gk liat dia ya?" Tanya Arya membuat Reilla tersenyum samar, ia bersyukur karna Ayahnya sudah mewakili dirinya yang sedaritadi ingin menanyakan keberadaan Aksara namun ia terlalu gengsi.


"Dia lagi di kamarnya," ujar Siren memberitahu.


Arya pun menganggukkan kepalanya lalu tak bertanya lagi, sementara Reilla yang merasa belum puas dengan jawaban yang di berikan Siren hanya bisa menghela nafasnya, pasrah.


"Bunda."


Suara panggilan itu dan derap langkah kaki seseorang yang terlihat menuruni tangga membuat perhatian Reilla teralihkan.


Reilla menatap Aksara yang menuruni anak tangga dengan tatapan berbinar, akhirnya pria yang ia kagumi itu turun juga.


"Aksa lihat siapa yang datang," ujar Siren pada Aksara yang sedang berjalan ke arahnya.


"Ngapain dia ke sini?" Tanya Aksara dengan raut wajah yang kurang bersahabat.


Siren yang merasa tak enak pada Arya pun akhirnya menasihati Aksara untuk bersikap lebih sopan.


"Bunda nyuruh aku sopan sama orang ini? Aku gk sudi," ujar Aksara dengan ketus membuat Arya terdiam sedangkan Reilla dan Syabil terkejut mendengarnya.


"Aksara kamu kok jadi gini sih? Bukannya dulu kamu seneng ya tiap Om Arya datang ke rumah?" Tanya Siren membuat Aksa menyungingkan senyuman miringnya.


"Itu kan dulu sebelum aku tau kalau pria ini pernah nyakitin hati Bunda dan lebih memilih perempuan lain," ujar Aksara membuat Siren terkejut. Ia merasa heran kenapa Aksara bisa tau jika dulu Arya dan dirinya pernah bersama?


"Aksa cuma mau pamit keluar sebentar sama Bunda," ujar Aksara memberitahu tujuannya yang datang menghampiri Siren.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Siren pada putranya itu.


"Aku mau kerja kelompok di rumah Bimo. Udah ya aku berangkat Bun," ucap Aksara lalu menyalimi tangan Siren, sedangkan Arya dan Syabil serta Reilla hanya ia lewatkan begitu saja seolah-olah mereka tak ada di sana.


"Aksa!" Panggil Siren namun putranya itu tampak acuh dan tetap berjalan keluar dari rumah.


"Maafin Aksa ya, anak itu emang bandel susah banget di bilanginnya," ujar Siren yang meminta maaf dan merasa tidak enak dengan tingkah putranya itu.


"Iya gk apa-apa kok namanya juga anak remaja," ujar Arya memakluminya.


"Rei sekarang sudah kelas berapa sayang?" Tanya Siren sambil tersenyum pada Reilla yang sedaritadi hanya diam saja.


"Rei sekarang kelas 9 Tante," jawab Reilla dengan sopan.


"Wah berarti udah masuk SMA ya? Kamu beda setahun doang kan ya sama Aksa?" Tanya Siren lagi.


"Iya Tante," jawab Reilla sambil menyungingkan senyumannya.


"Kapan acara kelulusannya?" Tanya Siren yang sangat ingin tau tentang Reilla, ia begitu merindukan Reilla yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik persis seperti Vidya.


"Masih lumayan lama Tan."


"Wah cepet banget ya udah mau lulus aja, gk kerasa kamu udah mau masuk SMA aja kaya Aksa. Padahal dulu kalian masih pada kecil-kecil banget loh," ujar Siren yang masih tak menyangka jika Reilla dan putranya sudah tumbuh besar bahkan sudah menjadi anak remaja bukan anak TK yang manja lagi.


Lalu setelah itu Siren kembali mengobrol dengan Arya dan Syabil lagi, sementara Reilla hanya diam mendengarkan. Jujur saja ia merasa bosan saat ini, apalagi Aksara yang menjadi tujuan awalnya ke sini justru malah pergi entah kemana membuat Reilla menjadi lesu.


"Tan maaf menyela, Rei mau ke kamar mandi. Kira-kira letak kamar mandinya dimana ya?" Tanya Reilla ketika merasa kebelet ingin buang air kecil.


"Itu ada di dekat dapur. Di sana," ujar  Siren sambil menunjukkan dimana letak dapurnya yang memang tidak terlalu jauh dengan letak kamar mandi.


"Biar Kak Syabil anter Rei," ujar Syabil dan di balas anggukkan oleh Reilla.


Setelah kepergian Syabil dan Reilla, Siren menatap lekat Arya yang wajahnya tak pernah berubah masih saja awet muda dan tampan bahkan tak terlihat jika umur pria itu sudah memasuki kepala tiga.


"Syabil baik ya?" Tanya Siren secara tiba-tiba karna ia ingin melihat reaksi Arya.


"Iya dia baik banget," jawab Arya lalu setelah itu ia menyeruput kopinya yang di suguhkan oleh Siren.

__ADS_1


"Kenapa lo gk nikahin dia? Gue rasa dia cocok kok jadi Ibunya Rei," ujar Siren membuat Arya tersedak kopi yang ia minum.


"Haha sampe keselek gitu denger omongan gue," ujar Siren sambil terkekeh melihat reaksi Arya.


"Gue gk mau bikin dia sakit hati dan berharap lebih."


Siren mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Arya barusan.


"Oh ya? Lo gk mau bikin dia sedih karna berharap lebih?" Tanya Siren dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.


"Iya gue gk mau kasih dia harapan, kalau gue nikahin dia itu percuma aja karna gue gk akan pernah bisa cinta sama dia. Lo tau kan kalau gue tuh cintanya cuma sama Vidya," ujar Arya lalu menghela nafasnya.


Namun tak lama Arya jadi gelagapan karna tiba-tiba saja Reilla dan Syabil datang.


"Aku pulang dulu ya Kak, permisi," ujar Syabil yang tiba-tiba saja pamit.


"Rei kamu-" belum sempat Arya menyelesaikan ucapannya, Reilla sudah lebih dulu berlari mengejar Syabil yang lebih dulu pergi.


"Kayanya mereka denger apa yang lo ucapin deh," ujar Siren membuat Arya panik.


"Gue pamit dulu ya, makasih atas  jamuannya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, iya hati-hati ya Ar," ujar Siren dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.


Arya akhirnya memutuskan mengejar Syabil dan putrinya yang sudah lebih dulu pergi dari rumah Siren.


Dengan perasaannya yang tak menentu, Arya merutuki ucapannya sendiri yang berbicara seperti tadi. Ia yakin jika apa yang Siren katakan tadi itu benar bahwa Reilla dan Syabil sudah mendengar apa yang ia ucapkan tadi.


Arya pun sudah sampai di rumah, ia segera mencari Syabil terlebih dahulu. Akhirnya Arya menemukan Syabil, namun gadis itu tak sendiri ada Reilla yang sedang memeluknya. Sepertinya Reilla sedang mencoba menenangkan Syabil saat ini.


"Syabil," panggil Arya yang berdiri di ambang pintu kamar Syabil.


Syabil tidak menoleh justru malah Reilla yang menoleh, ia menatap datar Ayahnya itu. Tak lama karna ia lebih memilih kembali menatap Syabil dan menenangkannya.


"Ayah ngapain ke sini?" Tanya Reilla ketus membuat Arya menghela nafasnya.


"Maaf," ujar Arya sambil menundukkan kepalanya.


Syabil pun akhirnya mau menolehkan kepalanya dan menatap ke arah Arya.


"Kenapa minta maaf? Kamu gk salah, bukannya di sini aku yang selalu salah kan? Kamu gk perlu minta maaf," ujar Syabil dengan suara bergetar membuat Arya menghela nafasnya gusar.


"Saya minta maaf Syabil, jika perkataan saya tadi sudah menyakiti hati kamu. Saya minta maaf," ucap Arya membuat Syabil menyungingkan senyumannya lalu menghapus air mata yang menetes di pipinya.


"Rei pergi keluar dulu," ujar Reilla yang memberikan ruang pada Arya dan Syabil untuk berbicara.


Setelah Reilla keluar dari kamar, Syabil dan Arya hanya diam antara satu sama lain.


"Apa tidak ada ruang di hati kamu untuk saya? Walau sedikit saja, apakah tidak ada?" Tanya Syabil dengan mata yang kembali berkaca-kaca, ia menatap Arya dengan tatapan sendu.


"Syabil saya-"


"Sedikit saja Arya? Apa tidak ada?" Tanya Syabil dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Syabil maafkan saya," ujar Arya yang hanya bisa mengumamkan kata maaf.


Syabil tersenyum nanar mendengar ucapan Arya, ia muak mendengar Arya yang selalu mengucapkan kata maaf padanya jika ia bertanya perihal ruang untuk dirinya di hati Arya.


"Kamu gk pernah salah! Berapa kali harus aku bilang kalau kamu gk salah? Aku yang salah karna sudah menyalah artikan kebaikanmu itu," ujar Syabil yang kini sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya.


"Aku yang salah karna sudah berharap lebih padamu, tapi Arya apakah cintaku padamu itu juga sebuah kesalahan? Apa aku tidak  berhak mencintaimu dan berharap bahwa kamu akan membalas cintaku? Aku tau kamu masih belum bisa berpaling dari mendiang istrimu. Aku tau itu," ujar Syabil sambil memasang senyumannya lagi walau air mata terus menggalir dari pelupuk matanya.


"Maka dari itu aku selalu menunggumu, siang dan malam, dari hari ke hari bahkan sampai berganti bulan dan tahun. Aku masih tetap menunggumu, menunggu dirimu membalas perasaamku Arya ...." lirih Syabil yang kembali menangis sambil memukuli dadanya yang terasa sesak.


Arya tidak tega setiap kali melihat gadis itu menangis, dan kali ini Syabil menangis karna dirinya. Ini tidak seharusnya terjadi, Syabil seharusnya tidak mencintai dirinya. Karna itu hanyalah sebuah kesia-siaan saja karna jujur perasaan Arya sampai saat ini masih untuk satu nama yaitu Vidya.

__ADS_1


__ADS_2