
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Happy Reading!
-
-
-
-
Udara dingin pada saat tengah malam ini, tak membuat semangat Arya untuk beribadah menyurut.
Saat ini pria itu sedang duduk bersimpuh di atas sajadah, menangis seraya mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
Di tengah malam yang sunyi sepi ini, Arya mulai bermunajat. Air matanya perlahan menetes mengalir membasahi pipi, segala penyesalan menyeruak dari dalam dada. Arya memohon ampun pada Allah atas segala dosa yang telah ia lakukan selama ini.
Dosanya yang telah begitu banyak, Arya merasa dirinya selama ini sudah terlalu egois selalu menomor duakan Allah dari segalanya dan kini Arya menyesalinya. Dalam hati Arya bertanya masih adakah pintu taubat untuk dirinya yang merupakan seorang pendosa ulung.
Arya menangis tergugu, ia sungguh sangat menyesal terutama pada Vidya yang selama ini telah ia sia-siakan bahkan telah ia sakiti. Bagi Arya tidak ada balasan yang paling menyakitkan selain melihat Vidya terbaring tak berdaya seperti saat ini.
Kabar terakhir yang Arya dapatkan dari dokter adalah kondisi Vidya semakin kritis bahkan harapan Vidya untuk hidup sangat kecil, walaupun kita tau hidup dan mati setiap manusia Allah yang sudah mengaturnya.
Para dokter sudah mengerahkan semua kemampuan mereka untuk menangani Vidya, dan kini Arya hanya bisa berdoa pada Allah. Semua kini telah ia serahkan sepenuhnya pada Allah, jadi yang Arya bisa lakukan adalah berdoa untuk kesembuhan Vidya.
Setelah selesai melaksanakan sholat tahajud dan juga berdoa, Arya tidak langsung beranjak pergi dari mushola rumah sakit ini. Yang Arya lakukan saat ini adalah duduk sambil menundukkan kepalanya, berusaha menahan tangisnya yang mulai mereda.
"Assalamu'alaikum."
Sebuah suara mengejutkan Arya, Arya pun langsung menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
"Wa'alaikumussalam," Jawab Arya seraya menoleh ke arah belakang.
Ucapan salam itu berasal dari seorang Kakek yang berjalan menggunakan tongkatnya, lalu Kakek itu pun mendudukkan dirinya di hadapan Arya.
"Saya lihat dari wajah kamu, sepertinya kamu baru saja habis menangis. Benarkan?" Tanya Kakek tersebut yang tepat sasaran.
Arya hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menyungingkan senyuman tipisnya.
"Anak muda, saya tidak tau apa yang saat ini sedang kamu alami tapi melihat raut wajah sedih kamu itu saya jadi paham bahwa saat ini kamu sedang bersedih dan gelisah."
Arya menghela nafasnya, ia sangat ingin bercerita perihal apa yang saat ini sedang ia rasakan. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat bagi Arya untuk menceritakan segala gundah gulana yang sedang mendera dirinya.
"Istri saya sedang hamil dan menggalami kecelakaan, saat ini anak saya sudah lahir tapi kata dokter keadaan istri saya semakin kritis karna menggalami pendarahan bahkan detak jantungnya saja sedang tak stabil bahkan dokter juga bilang kalau harapannya untuk bisa hidup sangat kecil."
Arya kembali menundukkan kepalanya, tatapannya menyiratkan kesedihan yang mendalam bahkan Kakek itupun dapat melihatnya.
Arya kembali mengangkat kepalanya ketika merasakan pundaknya di tepuk pelan.
"Anak muda, kamu tau? Saya juga dulu kehilangan istri saya yang begitu saya cintai, dia meninggal karna menggalami sakit parah. Dia meninggalkan saya bersama dengan dua orang anak kami yang saat itu masih kecil, ia pergi meninggalkan duka yang mendalam di hati kami bahkan saya merasa apakah saya sanggup hidup tanpanya tapi akhirnya seiring berjalannya waktu semuanya sudah tampak membaik dan saya juga mampu membesarkan kedua anak saya seorang diri."
Arya mendengarkan cerita Kakek itu dengan seksama, ia juga turut merasakan apa yang Kakek itu rasakan.
"Tapi percayalah bahwa Allah akan selalu ada, dia pasti akan selalu menolong hambanya yang menggalami kesulitan. Jadi jangan pernah lelah untuk menggantungkan harapan dan doamu pada Allah," ujar Kakek tersebut sambil menepuk bahu Arya kembali dengan pelan.
Lalu Kakek itu pun pamit pergi, Arya mengizinkannya untuk pergi dan kini Arya hanya sendirian kembali merenungi kata-kata Kakek itu.
__ADS_1
"Arya."
Arya pun tersadar dari renungannya, ia menoleh ke arah pintu mushola. Di sana sudah ada Dokter Adnan yang memanggil namanya.
"Ada apa Dokter?" Tanya Arya yang bingung dengan kedatangan dokter Adnan yang terlihat sangat terburu-buru.
Dokter Adnan mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal karna berlari.
"Gk ada waktu buat menjelaskannya, ayo ikut saya!"
Arya pun akhirnya bangkit lalu berjalan di belakang dokter Adnan yang saat ini berjalan dengan begitu cepat.
"Ada apa sebenarnya? Semua baik-baik saja kan?" Tanya Arya di tengah perjalanan.
Dokter Adnan tidak menjawab dia terus melangkahkan kakinya, terpaksa Arya pun harus mengikuti langkah Dokter Adnan.
"Arya!"
Arya tersentak saat Siren memeluknya erat, perempuan itu ternyata sedang menangis.
Arya mengusap bahu Siren, mencoba menenangkan gadis itu. Setelah Siren cukup tenang Arya pun bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
Siren hanya diam bahkan ia tidak berani menatap manik mata Arya, lalu setelah Arya mendesaknya barulah Siren membuka mulut.
"Vidya... kata Dokter ... Dia ...."
"Ada apa dengan Vidya?!" Tanya Arya dengan nada agak membentak sambil mencengkram kedua pundak Siren, membuat Siren terkejut.
"Kata Dokter, detak jantung Vidya saat ini berhenti berdetak."
"Tenangkan dirimu Arya, berdoalah semoga Vidya baik-baik saja." Ucap Dokter Adnan menasihati Arya.
Saat ini dilorong ruangan hanya ada Arya, Siren, dan Dokter Adnan saja sedangkan yang lainnya sudah pulang ke rumah sejak siang tadi.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Arya yang nampak frustasi.
Siren mengusap punggung Arya, mencoba memberikan semangat pada pria itu untuk tidak terpuruk walaupun Siren tau bahwa keadaan Arya saat ini sedang sangat kacau.
Kemudian seorang suster datang menghampiri Arya, dan meminta Arya untuk ikut dengannya. Arya pun menurut, ia bersama Siren pergi mengikuti langkah suster itu.
"Bayi anda terus menangis sedaritadi, kami sudah mencoba menenangkannya namun sangat sulit," jelas suster tersebut.
Arya menatap ke arah putri kecilnya yang saat ini sedang menangis kencang membuat wajahnya semakin memerah.
Arya sungguh tidak tega melihat anaknya menangis seperti itu, tapi ia juga tidak tau apa yang harus dirinya lakukan saat ini.
"Biar aku yang menenangkannya," ucap Siren yang kemudian mengendong bayi Arya dan mencoba menenangkannya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Arya yang masih khawatir pada putrinya yang terus menangis.
"Mungkin dia merasa lapar, biar aku yang akan mengurusnya."
Arya yang paham maksud Siren pun langsung keluar dari ruangan tersebut, membiarkan Siren memberi Asi pada bayinya.
Lumayan lama Arya menunggu di luar ruangan, akhirnya Siren pun keluar dari ruangan tersebut sambil masih mengendong putri Arya.
"Kenapa dia masih menangis?" Tanya Arya yang masih melihat putri mungilnya itu menangis.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa menenangkannya, dia bahkan tidak mau meminum Asi dariku."
Arya menghela nafasnya, lalu menggambil alih putrinya dari gendongan Siren. Arya mencoba menimang putrinya berharap dengan begitu putri kecilnya itu bisa merasa tenang.
Namun Arya salah, putri kecilnya masih tetap menangis bahkan semakin kencang. Arya merasa frustasi dan tidak tau bagaimana cara menghentikan tangis putrinya itu, bahkan Siren dan Suster pun juga merasa kebingungan untuk menenangkan bayi mungil nan cantik itu.
"Kamu mau apa nak? Hmm? Ayah disini sayang, ada apa? Kenapa terus menangis? Kamu ... merindukan Ibu mu?" Tanya Arya dengan begitu lirih, Arya tersenyum sendu dengan mata yang sudah berkaca-kaca ia kembali mencoba menenangkan anaknya.
Anaknya belum juga tenang, tiba-tiba saja dirinya sudah di panggil oleh Dokter Adnan. Akhirnya Arya pun menyerahkan bayinya pada Siren dan Siren pun segera mengendongnya.
Arya berlari menghampiri Dokter Adnan yang menyuruhnya untuk segera datang.
Sesampainya di depan ruangan Vidya, Arya melihat Dokter yang menangani Vidya baru saja keluar dari ruangan Vidya.
Tanpa menunggu lama lagi, Arya pun segera menghampiri Dokter tersebut dan memberondonginya dengan banyak pertanyaan.
"Tenang dulu, biar saya jelaskan semuanya."
Akhirnya Arya pun diam mencoba mendengarkan apa yang akan Dokter itu sampaikan.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran putri anda."
"Langsung saja keintinya Dok," sanggah Arya yang sudah tak sabar ingin tau perkembangan kondisi Vidya saat ini.
"Baiklah, saya ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. Kami sudah berusaha sekuat tenaga namun kami hanyalah manusia biasa, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien. Pendarahan yang ia alami terlalu parah bahkan gumpalan darah di otaknya membuat detak jantungnya berhenti, padahal kami sudah berusaha dengan begitu maksimal namun sepertinya Allah memiliki rencana lain. Allah sangat menyayanginya jadi Allah memanggilnya lebih dulu daripada kita," jelas Dokter tersebut panjang lebar.
Arya yang mendengar itu seketika merasa bahwa bumi runtuh seketika, dunianya sudah hancur saat ini.
"Arya -" ucapan Dokter Adnan terhenti saat Arya mengangkat telapak tangannya meminta Dokter Adnan untuk diam.
Arya memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak tembok, lalu tubuh Arya pun luruh hingga ia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin.
Tatapan Arya kosong ke depan, seperti tidak punya harapan tuk hidup.
"Tuan anda-"
Bahkan Dokter itu pun menghentikan ucapannya saat Arya menoleh padanya dengan tatapan yang menyeramkan.
Lalu tak lama Arya tertawa sumbang, tawa yang tak lama berganti dengan isak tangis.
"Bagaimana Paman? Bagaimana saya bisa hidup tanpa Vidya?" Tanya Arya pada Dokter Adnan.
Dokter Adnan hanya diam, ia tidak tega melihat Arya yang begitu hancur saat ini. Jujur saja saat ini bukan hanya Arya yang terluka namun dirinya juga, Dokter Adnan juga merasa terluka ketika mendengar kabar bahwa Vidya telah pergi untuk selama-lamanya.
"Bagaimana nasib putriku nanti? Siapa yang akan membesarkannya? Kenapa Vidya harus pergi? Kenapa?! Bukankah dia bilang akan merawat dan membesarkan putrinya? Kenapa Vidya tidak menepati ucapannya Paman?" Tanya Arya dengan begitu lirih.
"Bagaimana nasib putriku nanti?"
Setelah bertanya seperti itu pada dirinya sendiri, Arya pun kembali menangis. Kali ini tangisannya terdengar keras, Arya berada di titik terendahnya saat ini.
Dokter tersebut juga ikut bersedih melihat Arya yang tampak begitu rapuh dan tampak sangat terluka. Pasti saat ini sangatlah berat bagi Arya, ia harus ditinggalkan oleh Vidya pada saat yang tidak tepat. Pada saat ia sudah menyadari bahwa cintanya berlabuh pada Vidya.
Tapi kini Vidya justru pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya, meninggalkan Arya bersama dengan putri kecil mereka yang bahkan masih sangat membutuhkan sosok Vidya dalam hidupnya.
Malam dingin menjelang pagi kala itu ternyata lebih dingin di bandingkan malam-malam sebelumnya, karna malam itu berselimut dengan duka.
Malam itu adalah malam dimana Vidya menghembuskan nafas terakhirnya, dan pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan luka yang mendalam bagi semua orang yang mencintainya.
__ADS_1