Without You

Without You
[S3] Berlatih


__ADS_3

Reilla tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengan Aksara di pesta hari jadi pernikahan orang tua nya Keanu.


Saat ini yang Reilla rasakan adalah kecanggungan, karna ia kini sedang berdirii di hampitĀ  oleh kedua cowok tampan. Siapa lagi kalau bukan Keanu dan Aksara. Aksara menghampiri Reilla atas permintaan Siren tentunya, jika tidak karna Siren mungkin Aksara enggan untuk bergabung dengan Reilla.


Walaupun mereka bertiga berdiri saling bersisian dalam jarak yang tidak terlalu dekat, tapi tetap saja Reilla merasakan debaran jantungnya yang tidak karuan. Wajahnya mungkin sudah memerah saat ini, padahal ia hanya berdiri di sebelah Aksara tapi groginya sudah tidak karuan.


"Rei, makan dulu yuk," ajak Keanu sambil menoleh, menghadap pada Reilla.


"Makan? Nggak deh makasih, aku udah makan kok tadi di rumah," tolak Reilla secara halus. Namun Keanu tidak menyerah, ia terus membujuk Reilla untuk ikut bersamanya. Sebenarnya Keanu merasa risih dengan kehadiran sosok Aksara di antara dirinya dan juga Reilla, apalagi wajah datar Aksara yang entah kenapa selalu membuat dirinya merasa kesal.


"Tapi, Aksara gimana?" Tanya Reilla saat Keanu kembali memohon padanya agar menemani pria itu makan siang.


Aksara yang namanya baru saja di sebut, hanya melirik sekilas lalu setelah itu kembali acuh.


"Lo gk apa-apa kan di sini sendirian? Gk apa-apa dong ya kan udah gede," kata Keanu sarkas, sambil menatap tajam Aksara yang juga sedang menatapnya.


"Mau ke mana?" Tanya Aksara masih dengan wajah lempeng nya.


Keanu berdecak mendengar pertanyaan Aksara yang ia ajukan pada Reilla.


"Mau nemenin Kean makan siang, mau ikut?" Tanya Reilla yang sudah menolehkan kepalanya pada Aksara.


"Ngapain? Dia kan udah gede," jawab Aksara membuat Keanu membulatkan matanya, rupanya Aksara tengah membalas dendam pada dirinya. Benar-benar menyebalkan.


Sadar kalau suasana saat ini begitu canggung dan mengintimidasi, Reilla pun akhirnya menghela nafasnya pelan. Di tatapnya ke dua orang yang berdiri di samping kanan dan kirinya, Reilla juga jadi bingung sendiri mau melakukan apa.


"Rei! Ayo ikut yuk!" Sampai pada akhirnya Kayla datang, menarik tangan Reilla menjauh dari dua orang laki'-laki yang sedaritadi mengeluarkan aura permusuhan yang begitu ketara.


Reilla tak membantah, ia menurut pada Kayla. Sementara Aksara yang melihat Reilla mulai menjauh hanya bisa memandang datar, sedangkan Keanu sudah berdecak sebal.


"Rese lo!" Ketus Keanu sambil merotasi matanya di depan Aksara, Aksara hanya diam tak mau membalas ucapan Keanu yang baginya tidak lah penting.


Aksara justru juga ikut pergi, menghampiri Siren yang sedang mengobrol bersama teman-temannya yang lain.


"Bun, Aksara pulang."


Siren yang tadi sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya pun menoleh pada putranya yang sudah berdiri di samping dirinya.


"Loh? Pulang? Acaranya kan belum selesai Sa," ujar Siren sambil menatap putra nya bingung.


"Aksa masih ada urusan Bun," jawab Aksara. Siren menganggukkan kepalanya lalu mengizinkan Aksara tuk pulang lebih dulu.


Setelah mendapatkan izin dari Bundanya, Aksara pun berjalan ke luar rumah Keanu. Aksara tidak berbohong, ia memang masih memiliki urusan penting dengan orang yang penting juga tentunya.


"Rei, Aksara mau ke mana ya?" Tanya Kayla setengah berbisik pada Reilla.


Reilla yang tadi sedang menatap ke arah lain segera menolehkan kepalanya menatap ke arah Aksara yang sedang berjalan menuju pintu keluar dari rumahnya Kayla.


"Gk tau aku juga," jawab Reilla sambil mengedikkan bahunya.


"Penasaran, ikutin kuy!" Ajak Kayla membuat Reilla membulatkan matanya, Reilla hendak protes saat Kayla menarik lengannya lagi tapi sudah terlambat gadis itu sudah berhasil menarik dirinya untuk mengikuti langkah Aksara.


"Eh? Kok ada cewek sih?" Tanya Kayla dengan berbisik pada Reilla saat mereka sudah tiba di luar rumah dan sedang melihat Aksara dengan seorang perempuan yang tidak mereka kenal tentunya.


Aksara menghampiri perempuan itu sambil tersenyum lebar, perempuan itu terlihat mencebikkan bibirnya melihat kedatangan Aksara.


"Udah lama nunggunya?" Tanya Aksara mengawali obrolan.


"Udah! Sampe mau lumutan nunggu kamu," ucap perempuan itu lagi yang membuat Aksara semakin melebarkan senyumannya.


Tangan Aksara terulur mengusap kepala perempuan itu dengan lembut.


"Maaf ya," ucap Aksara lembut membuat perempuan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi, harus ada bayarannya. Kamu harus temenin aku makan siang di luar." Aksara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, perempuan itu ikut tersenyum senang lalu segera berhambur ke dalam dekapan Aksara.


"Eh? Kok pake peluk-peluk segala?!" Tanya Kayla yang sudah heboh di tempatnya berdiri, ia terkejut ketika perempuan yang bersama dengan Aksara saat ini sedang berpelukkan dengan Aksara.


Reilla yang sedaritadi ikut mengamati juga sama terkejutnya dengan Kayla, dalam benaknya ia juga ikut bertanya-tanya siapa sebenarnya perempuan yang saat ini sedang bersama Aksara itu. Kenapa mereka terlihat sangat dekat bahkan terlihat begitu akrab?


Aksara merangkul mesra perempuan itu, keluar dari pelantaran rumah Kayla dan Keanu. Keduanya berjalan beriringan menuju ke arah mobil milik Aksara, lalu mobil itu pun melaju pergi.


"Siapa sih tuh cewek? Bikin penasaran aja," gerutu Kayla sambil berkacak pingang dan mengeleng-geleng kan kepalanya.


"Menurut kamu tuh cewek siapa Rei?" Tanya Kayla mengajak obrol Reilla yang daritadi hanya diam saja.


"Aku juga gk tau Kae," jawab Reilla sambil mengelengkan kepalanya juga.


Reilla menghela nafasnya, tiba-tiba hatinya terasa begitu ngilu melihat kedekatan antara Aksara dan perempuan yang entah siapa dia, Reilla pun tak tau.


"Pacar Aksara sih kayanya," ujar Kayla lagi berusaha menganalisis.


Reilla tidak menimpali ucapan Kayla, ia hanya diam. Sibuk dengan segala asumsi yang kini berseliweran di dalam benaknya, Reilla tau ini tidak lah mudah namun mau bagaimana lagi Reilla tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan Aksara lebih jauh lagi. Karna Reilla sadar dia bukan siapa-siapanya Aksara, jadi yang Reilla bisa lakukan hanyalah diam.


"Kae, aku pamit pulang dulu ya. Kasian Ummah sendirian di rumah," ucap Reilla yang pada akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke rumah.


Kayla mengangguk, ia menjawab salam setelah Reilla mengucapkan salam sebelumnya. Setelah itu Reilla mulai melangkah pulang ke rumah nya dengan berjalan kaki, ia lelah dan ingin beristirahat serta ingin mengalihkan fikirannya yang sedaritadi selalu berkutat pada perihal tentang Aksara dan perempuan yang tadi bersama dengan pria itu.


"Assalamu'alaikum Ummah," ucap Reilla saat ia sudah tiba di rumahnya.


"Wa'alaikumussalam, sudah selesai pestanya?" Tanya Vidya yang baru saja menyelesaikan jahitannya hari ini.


Reilla mengangguk seraya meletakkan sepatu miliknya di rak sepatu.


"Ummah udah selesai jahitnya?" Tanya Reilla sambil memeluk tubuh Vidya dari samping.


Vidya tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut kepala putrinya yang kini sudah tumbuh semakin besar dan bahkan lebih tinggi dari dirinya.


"Kamu kenapa? Lagi ada masalah ya?" Tanya Vidya yang menyadari bahwa putrinya jadi agak pendiam setelah pulang tadi.


Reilla tersentak mendengar pertanyaan Ummahnya, ternyata memang benar seorang Ibu kadang bisa merasakan apa yang anaknya sedang rasakan. Entah itu senang atau pun sedih sekalipun.


"Nggak ada kok, Rei mau ke kamar dulu ya Ummah. Mau ganti baju"


Cup


"Sayang Ummah," ucap Reilla setelah sebelumnya mengecup singkat pipi Vidya. Vidya tersenyum lalu matanya menatap punggung Reilla yang mulai menjauh, menaiki anak tangga. Vidya tau, Reilla sudah berbohong. Putrinya itu pasti sedang ada masalah namun ia enggan untuk menceritakannya, apapun masalah yang sedang Reilla hadapi saat ini Vidya hanya berharap bahwa Reilla bisa menyelesaikan masalah yang di hadapinnya sendiri.


[]


Di lain sisi, ada Gama yang saat ini sedang menatap langit siang ini. Suasana di sekitar tempat ia berada kini, terasa begitu sejuk dan sunyi. Sejauh mata memandang, Gama tidak menemukan rumah lagi selain rumah yang ia tempati saat ini. Yang katanya rumah ini adalah rumah yang Gama tinggali sejak lama. Namun Gama tidak bisa mengingat apapun, dan merasakannya.


"Di sini rupanya kamu nak."


Gama yang tadi sedang melamun pun tersadar dari lamunannya, ia menolehkan kepalanya ke arah seorang wanita yang Gama ketahui adalah Ibu nya.


"Ada apa Ibu?" Tanya Gama membuka suara.


"Ibu mau ajarkan kamu sesuatu," ucap wanita itu lagi dengan senyuman palsu yang ia berikan untuk Gama.


"Apa itu bu?" Tanya Gama bingung.


Wanita yang di panggil Ibu oleh Gama pun hanya tersenyum, lalu mendekat pada Gama dan segera menarik tangan Gama pelan untuk ikut dengannya.


Gama menurut, ia mengikuti langkah Ibu nya yang entah akan membawa Gama ke mana.


Rupanya sang Ibu, mengajak Gama ke sebuah tanah lapang. Di sana sudah ada beberapa pria berbadan kekar yang Gama ketahui adalah anak buah sang Ibu. Gama juga melihat beberapa panah di sana.

__ADS_1


"Kita mau apa bu?" Tanya Gama kembali menyuarakan rasa penasarannya.


Ibu Gama pun tersenyum, lalu menggambil salah satu panah beserta anak panahnya dan memberikannya pada Gama. Gama menatap bingung pada panah yang saat ini sedang ia genggam.


"Rayn, hari ini Ibu akan mengajarkan dirimu cara memanah."


Gama hanya menurut, ia lalu memperhatikan bagaimana cara sang Ibu memanah. Setelahnya Gama pun mulai mencobanya sendiri, percobaan pertama Gama sudah berhasil membidik tepat sasaran.


"Bagus, sekarang bidikkan mu akan semakin sulit," ucap wanita yang sudah mengaku sebagai Ibunya Gama itu.


Gama membulatkan mata saat sang Ibu menyuruhnya membidik apel yang ada di letakkan di atas kepala salah satu anak buah sang Ibu, Gama bergidik ngeri dan mulai berfikir jika bidikkannya sampai melesat entah apa yang akan terjadi nantinya.


"Cepat panah!" Perintah wanita itu dengan suara tegasnya.


Gama pun menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya perlahan, ia mulai menarik busur panah. Berusaha membidiknya supaya tepat sasaran, lalu Gama pun mulai melepaskan anak panahnya. Anak panah itu melesat cepat, membuat Gama menatap anak panahnya itu dengan was-was.


Dan ternyata dengan hebatnya Gama berhasil membidik tepat sasaran, anak panahnya berhasil tertancap di buah apel itu. Gama pun bisa bernafas lega pada akhirnya.


"Bagus, tapi jangan senang dulu masih ada latihan lainnya."


Gama hanya mengangguk, ia lalu di minta untuk mengganti panahannya dengan senjata lain. Kali ini Gama sudah di hadapkan dengan sebuah meja yang berisikan banyak pisau di atasnya.


"Apa ini bu?" Tanya Gama lagi yang bingung, pelajaran apa yang akan ia dapatkan lagi.


"Bidik sasaran itu dengan pisau-pisau ini," suruh Ibu Gama.


Gama membulatkan matanya, ia menelan salivanya. Menatap pisau-pisau itu dan menatap sebuah target di depannya.


"Cepat ambil pisaunya dan tebakkan pada target."


Gama lagi-lagi menurut, ia mulai menggambil salah satu pisau tersebut dan mengarahkannya pada target.


"Bravo!" Seru Ibu palsu Gama itu dengan senang saat Gama berhasil mengenai target dalam bidikkan pertama nya dan setelahnya Gama kembali membidik dan lagi-lagi kembali tepat sasaran.


"Gato! Cepat ambil posisi!"


Gato pun segera menggambil posisi, berdiri di depan target sambil merentangkan kedua tangannya.


"Cepat bidik sasaran mu, dan usahakan jangan sampai mengenai Gato."


Gama menelan salivanya lagi, ia kembali berusaha rilex dan mulai berancang-ancang untuk membidik sasarannya kembali. Sambil menarik nafas, Gama mulai melempar pisau tersebut.


Nafas Gama sempat tercekat beberapa saat, namun kemudian ia kembali bernafas lega saat melihat pisaunya tidak sampai mengenai Gato dan justru malah mengenai atas kepala Gato, dan nyaris saja melubangi dahinya Gato kalau sampai melesat sedikit saja tadi.


"Bagus, keren!" Seru Ibu palsu Gama itu sambil menatap puas dengan apa yang telah Gama lakukan.


"Sekarang kamu boleh pergi untuk beristirahat," ucap wanita yang sudah Gama anggap sebagai Ibu itu.


Gama mengangguk lalu pergi dan duduk di pinggir tanah lapang sambil menenggak air minum.


"Kemampuannya benar-benar hebat bos," ucap Gato yang sudah berdiri di dekat Ibu Gama palsu.


Wanita itu tersenyum, menatap puas dengan hasil latihan Gama. Walaupun ini yang bertama untuknya tapi bocah itu sudah berhasil membidik tepat sasaran dan akurat.


"Kita gk salah culik anak, dia bisa kita manfaatkan untuk meneruskan bisnis kita."


Gato menganggukkan kepala, membenarkan. Ia juga ikut menatap ke arah Gama yang saat ini sedang beristirahat.


"Kini hanya perlu melatih anak itu lebih keras lagi, dia pasti akan segera menjadi semakin hebat. Setelahnya baru kita berikan percobaan tugas pertama untuk dirinya," ucap wanita itu sambil tersenyum miring dan terus memperhatikan Gama.


"Benar bos, setelah latihan kita akan memberikannya tugas pertama untuk dia," sahut Gato membenarkan.


Wanita itu menyungingkan senyuman sinisnya, dalam hati ia merasa puas. Langkah pertama untuk mendidik dan menjadi kan Gama seperti harapannya mulai terealisasikan, dia juga berharap agar Gama bisa ia didik seperti keinginannya. Ia ingin menjadikan bocah itu seperti apa yang ia inginkan, dan yang pertama harus dia lakukan adalah membentuk karakter Gama.

__ADS_1


Karakter Gama yang tidak tegaan dan masih agak takut masih melekat walaupun Gama sedang hilang ingatan, wanita itu akan membantu Gama melupakan seluruh masalalunya dan juga keperibadian yang dulu Gama miliki. Gama yang dulu sudah mati, dan saat ini Gama yang akan ia didik adalah Gama yang baru dan akan meneruskan pekerjaannya dan akan ia mainkan seperti boneka miliknya. Ini pasti akan sangat menyenangkan nantinya, ini adalah awal dari kegilaan yang nanti akan Gama ciptakan kedepannya.


__ADS_2