
Keira membuka kedua matanya, nafasnya memburu dan tidak beraturan. Berulang kali Keira melafalkan istigfar seraya mengelus dadanya, terasa irama detak jantungnya juga terdengar begitu cepat.
"Astagfiruallahaladzim, Ya Allah ... itu cuma mimpi Kei. Gk usah takut, Astagfiruallah," ucap Keira kembali berusaha menenangkan dirinya.
Lalu tatapan Keira beralih ke arah jam digital yang tergantung di dinding kamar, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Namun Rayn belum juga pulang, dan entah mengapa Keira merasa khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada Rayn.
"Ya Allah, lindungilah Rayn. Semoga dia pulang dalam keadaan selamat," ucap Keira lirih penuh pengharapan.
Keira terus beristigfar seraya berfikir positif untuk menenangkan dirinya bahwa Rayn pasti baik-baik saja, dan sebentar lagi ia pasti akan pulang ke rumah.
Namun sudah tiga puluh menit berlalu, Rayn tak kunjung pulang dan Keira kian resah. Akhirnya Keira memutuskan untuk menghubungi Rayn, beruntung dia sudah menyimpan nomor Rayn sejak mereka resmi menikah kemarin.
Satu kali, bahkan hingga tiga kali Keira berusaha menghubungi ponsel Rayn, namun tidak di angkat olehnya. Keira mengigit bibirnya, hal yang sering ia lakukan saat sedang gelisah dan khawatir.
"Angkat telfonnya ...." lirih Keira dengan nada khawatir yang begitu ketara.
Tok tok tok
Keira tersentak di tempat, ia beristigfar karna kaget dan selanjutnya ia mengucapkan hamdalah karna kemungkinan yang mengetuk pintu kamar saat ini adalah Rayn.
"Iya sebent ... ar," ucapan Keira melirih setelah ia membuka pintu kamarnya dan yang ia dapati memang benar Rayn namun yang membuat senyuman di wajah Keira luntur adalah seorang gadis yang berdiri di belakang Rayn yang terlihat begitu kacau.
Keira menyingkir dari pintu, memberikan jalan untuk Rayn dan gadis asing itu masuk. Keira masih terdiam belum mengucapkan sepatah katapun, meskipun ia tak bisa menampik bahwa kini fikirannya di penuhi oleh berbagai pertanyaan yang sangat ingin ia ajukan pada Rayn. Tentang kenapa pria itu terlambat pulang, dan yang utama adalah siapa gadis yang datang bersama Rayn ini.
Namun semua pertanyaan itu tak bisa Keira utarakan, ia hanya diam dan kembali menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu ya, tenangin diri kamu. Gk usah takut, aku ada di sini," kata Rayn yang sedang menenangkan gadis asing yang belum Keira ketahui siapa namanya itu.
Keira hanya diam memperhatikan dari sudut kamar, ia memperhatikan bagaimana Rayn yang berusaha keras menenangkan gadis asing itu yang nampak sekali ketakutan di wajahnya bahkan kini Rayn sudah membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
Melihat hal itu Keira mengucap istigfar, walaupun ilmu Agama Keira masih sangat jauh dari Kakak-kakaknya namun Keira tau bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tak boleh saling bersentuhan terlebih lagi apa yang di lakukan oleh Rayn saat ini, ia bahkan tak memperdulikan keberadaan Keira yang merupakan istri sahnya.
Dengan seenaknya Rayn memeluk gadis itu, Keira tau ia tak boleh egois. Gadis itu mungkin lebih membutuhkan Rayn saat ini ketimbang keingintahuannya pada apa yang saat ini sedang terjadi.
"Keira tolong ambilkan saya segelas air." suara Rayn membuyarkan lamunan Keira, dengan sigap Keira menuruti perintah Rayn.
Gadis itu segera menggambilkan segelas air yang tadi di suruh oleh Rayn.
"Ini airnya," kata Keira seraya menyerahkan segelas air pada Rayn.
Rayn tak berkata apapun lagi, ia menyuruh gadis itu untuk minum terlebih dahulu agar lebih terasa tenang katanya.
"Rayn ... aku takut mereka akan datang lagi ...." lirih gadis asing itu yang semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Rayn.
Keira merasa iba pada gadis asing itu, ia terlihat begitu ketakutan. Kondisinya sungguh kacau saat ini, namun Keira tak bisa menyangkal bahwa gadis asing yang di bawa Rayn itu sangatlah cantik.
"Sudah kamu tidak usah khawatir, ada aku di sini," bisik Rayn seraya mengusap lembut rambut panjang gadis itu yang terurai.
Gadis asing itu pun mengangguk, ia masih memeluk Rayn. Sesekali Rayn menepuk punggung gadis itu, membisikkan kata-kata yang menenangkan di telinga sang gadis asing itu. Melihat hal itu Keira tau bahwa memang sebenarnya Rayn memiliki sisi yang berbeda di balik wajah datarnya yang selama ini ia tampilkan, pria itu memiliki sisi yang lembut.
Keira duduk di tepian kasur, masih memandangi Rayn yang masih mendekap gadis asing itu hingga kini gadis itu bahkan sudah terlelap ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Bahkan saking sibuk dengan fikirannya, Keira sampai tidak sadar kalau Rayn sudah ada di sampingnya.
"Keira?" panggil Rayn membuat Keira terkejut di tempatnya.
"Ah iya? Kenapa?" tanya Keira yang sedikit ling lung.
"Malam ini biarkan dia tidur di kamar ini ya, kamu bisa kan tidur di kamar tamu? Hanya untuk malam ini saja kok," kata Rayn membuat tatapan Keira beralih pada gadis asing itu yang entah sejak kapan sudah tertidur lelap di atas tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat tidur dirinya dan juga Rayn.
"Keira?" panggil Rayn lagi membuat Keira kembali menoleh ke arah pria itu.
"Hmm, oke," jawab Keira lalu bangkit dari duduknya.
"Keira." langkah kaki Keira terhenti saat Rayn kembali memanggil namanya.
"Iya? ada apa?" tanya Keira yang baru saja hendak membuka pintu kamar namun terurungkan karna Rayn memanggil namanya.
"Maaf untuk hari ini," jawab Rayn. Keira hanya mengangguk seraya tersenyum dan membuka pintu kamar tak lupa menutupnya kembali.
Di luar pintu kamar, Keira berusaha menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang menganjal di sudut hatinya, tapi Keira berusaha menepisnya.
"Gk apa-apa Kei, lo tidur aja di kamar tamu. Lagian juga kasian tuh cewek kayanya dia emang butuh Rayn banget," kata Keira berusaha menyemangati dirinya.
Setelah itu Keira kembali mengembangkan senyumannya, lalu kembali melangkah menuju kamar tamu yang akan dia tempati malam ini.
Cklek
__ADS_1
Kamar tamu di rumah ini tidak begitu buruk, kondisinya sangat bersih dan barang-barang yang ada di dalamnya juga tertata rapih. Keira tersenyum dan kembali menutup pintu kamar tamu, ia berjalan dan duduk di tepian kasur.
Keira diam sejenak, lalu menarik nafas serta menghembuskan nafasnya perlahan. Setelah di rasa cukup lega, Keira pun segera merebahkan tubuhnya di kasur, dan memejamkan mata seraya berharap bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini, semoga saja.