Without You

Without You
[S2] Seminar


__ADS_3

"Baiklah saya sebentar lagi sampai, tunggu saja."


Klik


Arya mengakhiri panggilannya dengan Bram asistennya, secara sepihak. Kini pria itu sudah kembali fokus ke depan meggendarai mobilnya.


Hari ini adalah hari selasa pagi, cuaca hari ini sangat kurang mendukung namun meskipun begitu Arya harus tetap berangkat bekerja. Hari ini, hari yang berbeda bagi Arya karna Arya mendapatkan panggilan untuk mengisi sebuah seminar tentang bisnis bagi anak muda yang akan di adakan di salah satu kampus ternama di kotanya.


Arya tidak mau telat tuk datang ke sana, maka dari itu sebisa mungkin Arya mencoba untuk keluar dari kemacetan yang memang selalu menjadi kendala di setiap paginya.


Arya menghela nafasnya, fikirannya saat ini sedang tidak bisa berkonsentrasi. Seharusnya Arya tidak pergi ke kampus itu pagi ini karna mengingat putri kecilnya di rumah saat ini sedang terkena demam dan sangat membutuhkan dirinya.


Arya sebenarnya lebih memilih mengurus Reilla saja di rumah daripada harus datang sebagai pengisi acara di seminar itu, tapi ia sudah terlanjur berjanji pada Bram bahwa dirinya akan hadir dan Bram pun juga sudah berjanji pada pihak kampus bahwa Arya bersedia hadir, jadi Arya sebisa mungkin tidak ingin mengingkari janji yang ia buat alhasil Arya pun berusaha untuk menepati janjinya pada Bram.


Brakkk ... ckittt


Arya mengerem mobilnya secara mendadak ketika ia tidak sengaja menabrak sesuatu, Arya meringis dan merutuki dirinya yang sedaritadi melamun memikirkan keadaan putri kecilnya.


Arya kemudian turun dari mobil, mata Arya membulat ketika ia melihat seseorang yang sedang meringis di depan mobilnya. Ternyata benar dugaan Arya bahwa dirinya tadi sudah menabrak seseorang, Arya pun segera menghampiri orang yang baru saja tertabrak mobilnya itu.


"Anda tidak apa-apa?" Tanya Arya dengan bahasa yang begitu baku, ya begitulah Arya saat ini. Ketika ia sedang berhadapan dengan orang yang baru dia pasti akan menggunakan bahasa yang baku.


Orang tersebut yang sadar akan kehadiran Arya pun langsung mengangkat wajahnya, menatap wajah Arya dengan raut tak bersahabat.


"Lo gk liat gue luka gini? Apa gue keliatan masih baik-baik aja di mata lo?" Tanya orang tersebut dengan nada judesnya lalu orang itu kembali meniupi luka memar yang lumayan besar di lututnya itu.


Arya meringis melihatnya, luka itu pasti sangat perih. Kemudian Arya menatap orang di hadapannya, melihat raut wajah tak bersahabat dari wajahnya sudah bisa di pastikan kalau gadis itu pasti sangat marah karna Arya tidak sengaja menabraknya.


"Saya minta maaf," ucap Arya yang pada akhirnya membuat gerakkan orang itu terhenti.


Orang itu menatap Arya lalu tak lama ia berdecih dan memasang wajah judesnya lagi.


"Enak banget cuma minta maaf, lo gk liat nih kaki gue sampai memar lebar banget begini? Mata lo buta apa gimana? Gk ada rasa bersalahnya sama sekali jadi orang."


Arya berusaha untuk bersabar menghadapi orang tersebut yang baru saja memarahi dirinya, tapi Arya tidak membalas karna memang di sini dirinyalah yang sudah bersalah.


"Baiklah kalau begitu, anda mau minta apa sebagai tanda permintaan maaf dari saya?" Tanya Arya pada orang tersebut.


Orang itu terlihat sedang berfikir, menimbang-nimbang jawaban apa yang akan ia berikan. Di saat orang itu sedang berfikir Arya kembali melirik jam di pergelangan tangannya, Arya sontak langsung membulatkan mata ketika tau kalau ia sudah hampir terlambat untuk hadir ke seminar hari ini.


Arya pun akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada salah satu bawahannya untuk segera datang.


"Om," panggil orang tersebut, namun Arya yang merasa belum setua itu untuk di panggil dengan sebutan Om pun hanya diam saja.


"Om! Kalau orang lagi ngomong tuh dengerin bukan malah di kacangin kaya gini."


"Ah iya, kamu mau apa sebagai ganti rugi dari saya karna tidak sengaja menabrak kamu?" Tanya Arya menatap orang tersebut, berharap orang itu segera memberikannya jawaban apa yang ia inginkan.


"Gue mau-"


Belum sempat orang itu menyelesaikan ucapannya, anak buah Arya yang tadi Arya kirimkan pesan kini sudah tiba di TKP.


"Bos saya sudah di sini jadi Bos tidak perlu merasa khawatir," ucap anak buah Arya itu sambil menunduk sopan.


Arya merasa lega kalau begitu akhirnya dia bisa segera berangkat ke kampus dengan tepat waktu.


"Baik terimakasih banyak ya," ujar Arya sambil menepuk pelan bahu anak buahnya itu.

__ADS_1


"Loh? Mau kemana Om?" Tanya orang tersebut yang menyadari bahwa Arya akan pergi.


"Saya harus pergi karna masih ada urusan dan ya jika kamu sudah tau apa yang kamu inginkan sebagai ganti rugi, kamu bisa memintanya pada bawahan saya ini."


Setelah mengatakan itu Arya langsung masuk kembali ke dalam mobilnya, ia tidak perduli pada teriakkan orang itu yang sedaritadi terus memanggil dirinya dengan sebutan Om padahal Arya berfikir bahwa dirinya belum setua itu untuk di sebuat sebagai Om.


Arya berusaha untuk tidak perduli dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju kampus untuk mengisi seminar di sana.


.....................


Arya turun dari mobil dan langsung di sambut oleh dua orang yang Arya duga adalah mahasiswa di kampus ini.


"Selamat datang di kampus kami, silahkan ikuti kami Kak. Kami akan mengantarkan Kakak ke tempat seminarnya," ucap salah satu dari dua orang mahasiswa itu.


Arya pun menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah dua orang mahasiswa itu untuk bisa sampai ke ruangan tempat seminar di adakan.


Ternyata seminarnya di adakan di sebuah Aula kampus, dan di sana Arya juga sudah melihat Bram yang saat ini sedang berbicara dengan seseorang.


"Waktunya akan di mulai 5 menit lagi ya Kak jadi di harapkan untuk segera bersiap," ujar mahasiswa itu lagi, dan di balas ucapan terimakasih oleh Arya.


Setelah kedua mahasiswa itu pergi, Arya pun berjalan menghampiri Bram. Sadar akan kedatangan Bos nya, Bram pun langsung membalas senyuman Bos nya itu.


"Maaf saya datang terlambat dan saya yakin pasti kamu sudah tau alasannya," ujar Arya dan di balas anggukkan oleh Bram.


Jelas saja Bram tau karna Arya sempat memberitahu Bram juga tentang alasan keterlambatannya.


"Sudah ramai sekali," ucap Arya yang mengintip dari balik panggung.


"Tentu saja Pak, mereka ingin mendengarkan seminar dari Bapak."


Arya hanya menganggukkan kepalanya, tapi Arya tidak pernah membayangkan bahwa penontonnya akanĀ  seramai ini.


"Sekitar 5000 orang Pak."


Arya membulatkan matanya, itu jumlah yang sangat banyak dari seminar sebelumnya yang sudah pernah ia hadiri.


"Dan rata-rata yang paling banyak adalah para perempuan Pak," ujar Bram memberitahu Arya.


Arya menghela nafasnya, ia sudah menduga hal itu sebelumnya karna berdasarkan pengalamannya selama mengisi seminar di beberapa kampus dan sudah pasti hadirin yang paling banyak adalah kaum perempuan.


Suara pembawa acara mulai terdengar, acara di buka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya lalu dilanjutkan dengan pembukaan yang entah mengapa Arya malas mendengarkan isi pembukaan tersebut karna selain penyampaiannya yang terlalu panjang dan sudah di pastikan akan terdengar sangat membosankan.


"Baiklah acara yang sudah kita tunggu-tunggu yaitu penyampaian seminar dari seorang pembisnis muda dan sukses serta merupakan lulusan terbaik dari Harvard University, mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk pengisi seminar hebat kita yaitu Kak Arya Fernando Syauqi. Kepada beliau di persilahkan. "


Kemudian terdengar suara tepukkan tangan yang sangat meriah, Arya pun langsung naik ke atas panggung yang memang berada di dalam aula tersebut.


Arya menatap 5000 orang penonton di hadapannya, lalu Arya pun menyungingkan senyumannya membuat suasana menjadi ricuh dan penuh dengan siulan serta pekikan kaum hawa yang histeris melihat Arya tersenyum.


Kemudian Arya pun mulai mengisi seminar tersebut dan memberikan kiat-kiat bisnis untuk para anak muda, ia juga bercerita tentang pengalamannya ketika masih menjadi mahasiswa di Harvard University.


Seminar pun berjalan dengan lancar, tidak terasa sudah tiga jam waktu Arya mengisi seminar tersebut dan di penghujung acara Arya memperkenalkan buku bisnis yang merupakan tulisannya sendiri serta satu buku terbarunya yang berjudul Bidadari Surga.


Selain menjadi pembisnis hebat, ternyata Arya juga memiliki bakat terpendam dan Arya baru mengetahui hal itu saat Vidya sudah tiada di sisinya.


Buku keduanya yang berjudul


Bidadari Surga itu memang ia dedikasikan untuk almarhumah istrinya, Arya begitu mencintai Vidya maka dari itu ia mengabadikan Vidya dalam sebuah tulisan yang menjelema menjadi sebuah buku agar kisah Vidya abadi dan bisa menginspirasi banyak orang.

__ADS_1


Setelah acara seminar selesai Arya di ajak ke sebuah stand, bukan hanya di undang untuk seminar Arya juga akan memberikan tanda tangannya langsung pada buku buatannya, jadi bagi siapa saja yang ingin meminta tanda tangannya bisa segera mendatangi stand tersebut.


Tidak butuh waktu lama, stand Arya sudah di penuhi oleh orang yang antri menunggu giliran mereka untuk bisa mendapatkan tanda tangan dari seorang penulis terkenal dan tampan seperti Arya.


Arya menandatangi buku tersebut satu persatu tak lupa juga ia menyungingkan senyuman ramahnya pada setiap orang yang berdiri di hadapannya.


Di lain sisi seorang gadis dari kejauhan menatap heran ke arah stand tersebut yang terlihat sangat ramai.


"Syabil!"


Gadis tersebut pun mengalihkan pandangannya ketika namanya di panggil oleh seseorang.


Gadis bernama Syabil itu pun tersenyum melihat kedatangan Niar yang merupakan satu-satunya sahabat yang ia miliki di kampus ini.


"Kok lo baru datang sih? Seminarnya udah kelar tau," ucap Niar memberitahu Syabil, Syabil menghela nafasnya ternyata ia sudah tertinggal seminar tersebut.


"Kok tumben lo telat? Biasanya lo yang paling rajin datang pagi."


Syabil menghela nafasnya merasa kesal ketika mengingat hal buruk yang ia alami tadi pagi, saat ia hendak berangkat ke kampus.


"Gk apa-apa kok tadi cuma telat bangun doang hehe, eh iya Niar itu di sana ada apaan ya kok rame banget?" Tanya Syabil yang merasa penasaran kenapa banyak orang yang mengantri di stand tersebut.


"Eh udah mulai ya antriannya? OMG gue telat! Ayo ikut, nanti bakalan gue jelasin."


Syabil hanya pasrah ketika tangannya di tarik oleh Niar menuju stand tersebut untuk ikut mengantri.


"Lo bisa jelasinkan ini ada apa?" Tanya Syabil setengah berbisik pada Narnia yang berdiri di depannya.


"Sttt Syabil yang mungil dan cantik, lo diem aja dulu deh ya gue mau siap-siap karna sebentar lagi mau ketemu sama Imam masa depan gue."


Syabila berdecak kesal melihat Niar yang sudah mengeluarkan liptin serta bedak dari dalam tasnya, Syabil berfikir bahwa Niar terlalu berlebihan saat ini. Memangnya siapa yang akan Niar temui di depan sana? Sampai-sampai gadis itu harus merapihkan penampilannya terlebih dahulu.


Akhirnya Syabil yang masih tidak tau apa-apa hanya diam dan ikut mengantri bersama puluhan orang lainnya, Syabil menghela nafasnya ia berusaha melihat ke depan namun Syabil tidak bisa melihat apa-apa karna tubuhnya yang memang terbilang mungil itu membuatnya jadi susah untuk melihat apa yang terjadi di depan sana.


Akhirnya setelah lumayan lama dan lumayan pegal juga tentunya, kini hanya tinggal tiga orang lagi di depannya termasuk Niar.


"Terimakasih," ucap orang terakhir di depan Niarn yang kini sudah berlalu dari antrian.


Kini giliran Niar tiba, Syabil pun berusaha memiringkan badannya karna ia terhalang oleh tubuh Niar yang tinggi lebih tepatnya itu karna Niar selalu menggunakan high heels kemanapun dia pergi yang kadang membuat Syabil jengkel karna hal itu membuat dirinya terlihat semakin mungil saja.


"Wahh makasih banget loh Kak! Saya suka banget sama bukunya Kakak yang judulnya Bidadari Surga itu ceritanya seru bikin nangis," ujar Niar yang berbicara dengan penulis tersebut.


Entahlah Syabil tidak terlalu tertarik lagipula ia sudah lelah sedaritadi berusaha melihat siapa penulis terkenal yang membuat puluhan orang rela mengantri hanya demi mendapatkan tanda tangan darinya.


"Berikutnya," ujar suara tersebut, suaranya terdengar berat khas laki-laki.


Niar pun membalikkan badannya ia menyuruh Syabil untuk maju.


"Mana buku yang mau di tanda tangani?" Tanya Arya yang masih menundukkan kepalanya sedang membaca pesan masuk di gawainya.


Syabil hanya diam, ia menunggu orang tersebut mengangkat wajahnya karna Syabil sudah sangat penasaran ingin melihat setampan apa orang itu sedaritadi. Karna selama mengantri tadi telingannya benar-benar lelah mendengar ocehan para kaum hawa yang membahas betapa tampannya penulis di hadapannya ini.


Karna Arya tidak juga mendapatkan buku yang harus ia tandatangani, Arya pun mengangkat kepalanya.


Seketika manik mata Arya bertemu dengan manik mata orang di hadapannya sontak ia pun langsung merasa terkejut ketika melihat sosok gadis yang saat ini berdiri tepat di hadapannya ini.


Begitupun dengan Syabil raut wajahnya begitu terkejut ketika melihat wajah penulis yang sedaritadi membuatnya sangat penasaran.

__ADS_1


"Lah? Kok Om disini?!"


__ADS_2