Without You

Without You
15. Tinggal Bersama


__ADS_3

Part ini dan seterusnya akan balik lagi ke sudut pandang Vidya/ Vidya POV ya gais, happy reading!


.


.


.


.


.


Aku tidak menyangka bahwa perempuan itu benar-benar datang, tepat saat ini aku sedang berdiri di depan pintu menyaksikan sepasang kekasih yang sedang bercengkrama satu sama lain. Aku hanya bisa bungkam, dan menyaksikan mereka dalam diam. Aku tidak tau harus bagaimana, aku tidak bisa mencegah Siren untuk tinggal di sini karna rumah ini bukanlah rumahku ini rumah Arya dan aku cukup tau diri.


"Hai Vidya, kita bakalan satu rumah mulai hari ini. Aku harap kita bisa deket ya." Aku hanya tersenyum di balik cadarku ketika mendengar ucapan Siren, sebenarnya aku tak punya alasan untuk membenci Siren. Bagaimanapun dia perempuan yang baik, dia juga ramah padaku, paket sempurna dengan kecantikannya.


"Ayo aku tunjukkin kamar kamu." Arya menarik tangan Siren membawanya ke ruangan atas, ruangan yang tidak boleh aku masuki karna bagi Arya ruangan atas sudah termasuk kawasannya.


Aku menghela nafasku yang terasa sesak, namun aku harus kuat untuk saat ini aku yakin semua penderitaan ku ini akan berakhir.


Akhirnya aku memutuskan untuk memasak menu makan malam hari ini, aku segera menyiapkan bahan-bahan untuk masakkan ku.


"Vidya." Aku menolehkan kepalaku, di sana sudah ada Siren ia lalu berjalan mendekat ke arahku.


"Wah kamu mau masak ya, aku harus bantu apa?"


"Eh? Gk usah kamu gk perlu bantu apa-apa, aku bisa sendiri." Ujarku, tapi sepertinya Siren tetap bersikeras ingin membantuku memasak.


"Aku mau masakin makanan buat Arya." Ujar Siren dengan raut wajahnya yang sumringah, aku hanya tersenyum kecil mendengarnya.


"Vidya aku boleh tanya?"


"Tentu." Siren terlihat penasaran saat ini, ia kembali menatapku.


"Kamu gk panas pakai pakaian kaya gini? Dan itu cadar kamu, apa kamu gk kesusahan bernafas pake itu?" Tanya Siren, aku tersenyum mendengar pertanyaannya yang memang sudah sering di tanyakan oleh teman-teman ku dulu.


"Alhamdulillah aku gk merasa terbebani memakai pakaian seperti ini, sama seperti kamu yang nyaman berpakaian seperti itu aku juga sudah nyaman memakai pakaian seperti ini." Siren menganggukkan kepalanya, lalu tak ada lagi pembahasan di antara kami karna kami berdua sibuk memasak.


Adzan magrib pun berkumandang aku pun memutuskan untuk melaksanakan sholat magrib terlebih dahulu.


"Siren, aku pamit sholat magrib dulu ya." Ujarku Siren pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Okey tak apa, biar aku yang meneruskan semuanya." Ujar Siren dengan senyuman ramahnya itu.


Setelah selesai melaksanakan sholat magrib, aku pun memutuskan untuk kembali ke dapur siapa tau Siren membutuhkan bantuan.


Gadis itu masih ada di sana ternyata sedang berdiam diri memainkan gawainya, sepertinya ia menyadari kehadiranku lantas ia memberikan senyumannya padaku.


"Bagaimana masakannya sudah jadi?" Tanyaku, Siren terlihat menunjukkan cengirannya.


"Belum, aku tidak bisa memasak ayamnya. Aku takut minyaknya akan mengenai kulitku."


"Baiklah biar aku saja, kamu yang tata makanannya di meja makan saja ya." Siren mengacungkan ibu jarinya, lalu ia langsung melakukan perintahku.


Sementara aku mulai mengoreng ayam yang sebelumnya sudah aku bumbui.


"Sayang..." aku menolehkan kepalaku saat aku mendengar panggilan sayang di belakangku ah lebih tepatnya di area meja makan.


"Arya? Kenapa sudah turun ke bawah? Aku belum memanggilmu, makanannya juga belum siap tau." Arya terlihat acuh ia justru memeluk Siren dari belakang menyandarkan kepalanya di bahu Siren.


Aku memejamkan mataku sebentar, aku tidak tau kenapa setiap kali melihat Arya memperlakukan Siren dengan manis seperti itu justru membuat sesuatu di hatiku terasa sakit.


"Ih geli Arya!" Siren terkekeh saat Arya menciumi pipinya dari samping.


"Biarin aja, abisnya aku kangen kamu." Aku melongo melihat tingkah Arya yang berbeda drastis saat ia sedang bersama Siren.


Aku kembali memfokuskan diriku untuk melanjutkan mengoreng ayam.


Setelah selesai memasak, aku segera membawanya ke meja makan.


"Minggir dulu, malu tau." Aku mendengar Siren berbisik pada Arya, ia tersenyum canggung melihat ke hadiranku.


Sementara aku mencoba untuk acuh saja meletakkan ayam yang sudah ku goreng tadi di atas meja makan yang juga sudah terdapat lauk lainnya.


"Ayo kita makan." Seru Siren, ia terlihat tidak sapar untuk menyantap makanan.


Arya berjalan ke arahku yang berdiri di belakang Siren, ia mendekat dan berbisik sesuatu di telinga ku.


"Lo makan di kamar aja, gue gk mau lo jadi penganggu di antara gue dan Siren. Ngerti lo?" Aku mendengarkan dengan seksama ancaman yang Arya berikan itu.


Aku menganggukkan kepalaku, aku hanya bisa menurut saja dengan ucapan Arya.


"Hei kalian berdua kok masih di sana? Ayo sini kita makan malam bersama." Seru Siren memanggil Vidya dan Arya, Arya langsung tersenyum lalu berjalan dan duduk di sebelah Siren.

__ADS_1


"Vidya? Kamu mau kemana? Ayo kita makan malam bersama." Ajak Siren, aku mengelengkan kepalaku dan saat aku ingin menjawab pertanyaannya Arya lebih dulu menjawab ucapan Siren.


"Vidya bilang dia sedang tidak enak badan, jadi dia ingin beristirahat di kamarnya. Bukan begitu Vidya?" Tanya Arya ia menatapku tajam dan menekankan kata terakhir di kalimatnya.


"Iya aku sedang tidak enak badan, kalian makan duluan saja." Akhirnya aku mengikuti kemauan Arya.


"Ah baiklah kalau begitu, semoga lekas sembuh ya Vidya." Ujar Siren yang memaklumi alasanku ini, akhirnya aku masuk ke kamarku.


Mengurung diriku di kamar, membiarkan suamiku makan berdua bersama kekasihnya. Aku tau ini salah, tapi aku tidak bisa apa-apa saat ini.


Yang hanya bisa aku lakukan adalah berdoa, berdoa pada Allah akan aku dapat menemukan titik terang dari masalahku ini.


Aku kadang merasa lelah dengan pernikahan ini, tapi aku tau ini adalah keputusanku.


Menikah dengan Arya adalah sebuah keputusan, aku juga tau bahwa perceraian sangat di benci oleh Allah.


Aku juga tidak pernah berfikir untuk bercerai dari Arya, mau bagaimana pun sikapnya, dia tetaplah suamiku, ladang pahalaku.


Mungkin saat ini aku hanya perlu bersabar sedikit, semua kerumitan yang aku hadapi ini semua pasti akan berlalu. Karna aku punya Allah, Tuhan Yang Maha Besar dengan segala kekuasaannya.


Aku yakin Allah akan membantuku, karna tujuanku baik menyelamatkan pernikahan ini, menyelamatkan ikrar sakral yang sudah Arya ucapkan sewaktu ijab kabul waktu itu.


Aku tidak akan pernah melupakan itu, walaupun aku tau pernikahan ini terjadi atas unsur ketidak sengajaan dan kesalah pahaman.


Tapi aku mencoba ikhlas menjalani ini, aku ikhlas menjalani bahtera rumah tangga ku bersama dengan Arya.


Meskipun aku tau dia tidak pernah mencintai diriku sedikit pun, bahkan untuk menatap diriku pun dia enggan.


Aku tau Arya mencintai Siren, baginya Siren yang terpenting bagi hidupnya bukan diriku.


Kadang aku juga merasa sesak melihat suamiku lebih perduli pada perasaan perempuan lain.


Dulu saat aku belum menikah dengan Arya, aku selalu bermimpi ingin memiliki suami yang menyayangiku dan mencintaiku sepenuh hati.


Yang tak pernah menyakiti hatiku, yang selalu menghiburku saat aku sedih, yang mengingatkan diriku saat aku lalai dan salah arah.


Yang membimbingku dan menuntunku terus berada di jalan Allah, menggapai Jannah bersama.


Aku tersenyum sendu, nyatanya realita memang tak pernah bisa sejalan dengan ekspetasi.


Keinginanku berbeda dengan apa yang aku jalani saat ini, nyatanya bukan suami seperti itu yang aku dapatkan melainkan suami seperti Arya yang membenciku dan sering belaku kasar padaku.

__ADS_1


Tapi di samping itu aku merasa yakin bahwa suatu saat nanti Arya akan berubah, ia tidak akan membenciku lagi dan aku selalu menunggu saat itu tiba.


Aku masih terus berdoa dan akan selalu terus berdoa serta bersyukur pada Allah, apapun ujian yang Allah berikan pasti akan ada hikmah di baliknya, aku yakin itu.


__ADS_2