Without You

Without You
27. Malam Yang Panjang (2)


__ADS_3

Happy reading!


-


-


-


-


-


Arya terdiam saat mendengar ucapan Vidya beberapa jam lalu.


Arya menolehkan kepalanya ke arah gadis itu, yang kini sudah terlelap sambil memeluk lengannya.


"Kayanya Vidya mulai suka sama Arya."


Arya mengelengkan kepalanya ketika ucapan Vidya kembali terngiang di telinganya.


"Ck ck pantesan si Bram nekat, istri lo emang beneran titisan bidadari kayanya."


Arya lagi-lagi teringat ucapan Rafi juga, kemudian Arya mengangkat wajah Vidya terlihat menunduk.


Arya lalu membaringkan kepala Vidya di paha nya, ia mengamati wajah Vidya dengan seksama.


"Cantik." Ujar Arya tanpa sadar mengakui bahwa Vidya cantik, jari jemari Arya bergerak menyusuri wajah gadis itu namun terhenti seketika.


"Vidya! Bilang sama mereka! Bukan saya pelaku pelecehan kamu!"


"Adik anda meninggal dunia."


Sekelebat ingatan menyakitkan itu kembali menghampiri benak Arya, membuat Arya menjauhkan jemarinya dari wajah Vidya, dan terkepal kuat.


Ia lalu menatap wajah Vidya lagi dengan seksama.


"Kayanya Vidya mulai suka sama Arya."


Arya tersenyum sinis ketika kembali mendengar ucapan Vidya yang bilang bahwa dia menyukainya.


"Tapi gue gk akan pernah suka sama lo, yang ada gua semakin benci sama lo." Ucap Arya sinis, ia lalu menjauhkan Vidya dari dirinya.


Lalu ia keluar dari mobil meninggalkan Vidya sendirian di dalam sana.


Namun saat baru beberapa langkah keluar dari mobil, Arya menghentikan langkahnya.


"Astaga!" Arya mengumpat, namun ia tetap berbalik kembali ke arah mobil, lalu membukakan pintu mobil dan membawa Vidya ke dalam gendongannya.


Arya menatap wajah damai Vidya yang ada di gendongannya.


"Kenapa gue masih perduli sama lo" tanya Arya lirih namun ia malah melangkahkan kakinya, dengan Vidya yang tertidur dalam gendongannya, membawa Vidya masuk ke dalam rumah, rumah Vidya dan Arya.


Arya meletakkan Vidya di kamar, namun kali ini di kamarnya Arya.

__ADS_1


Entahlah Arya mendadak ingin membawa Vidya ke kamarnya malam ini.


Setelah itu Arya melengang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tak lama ia kembali sudah terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.


Arya duduk di pinggir ranjang, tangannya terulur menaikkan selimut Vidya hingga menutupi seluruh tubuh gadis itu.


Arya terus memandangi wajah Vidya, ia merasakan getaran aneh di dadanya ketika memandangi wajah Vidya, namun Arya segera menepisnya.


"Hoamm." Arya menguap, lalu ia memutuskan untuk ikut berbaring di sebelah Vidya.


"Selamat malam." Ujar Arya sambil terus menatap wajah Vidya yang masih memejamkan matanya, lalu mata Arya juga ikut terpejam, ia pun segera menyusul Vidya ke alam mimpi.


[]


Vidya membuka matanya, kepalanya terasa sangat pusing bahkan perutnya terasa bergejolak.


"Huekkk." Vidya pun memuntahkan isi perutnya begitu saja, ia sudah tidak tahan jika harus berjalan ke kamar mandi, kepala dan perutnya benar-benar terasa sangat sakit.


"Astaga sprei gue!" Arya yang baru saja terbangun langsung terbelalak melihat seprainya yang terkena muntahan Vidya.


"Lo- aish bener-bener ya lo tuh! Nyusahin doang!" Umpat Arya kesal, ketika melihat seprainya yang terkena muntahan Vidya.


"Kalian sudah bangun? Hmm?" Arya dan Vidya menolehkan kepala mereka ke arah seseorang yang kini sedang menatap mereka berdua dengan tatapan datar dan dinginnya.


"Si...Siren?" Arya terlihat pucat, ia bahkan berbicara sangat gugup karna kaget dengan kehadiran Siren.


"Si...siren kamu ta..tau su..sudsh tau?" Tanya Arya lagi, Siren berjalan mendekat ke arah Vidya dan Arya yang masih duduk di atas ranjang yang sama.


"Se...semuanya?" Tanya Arya lagi memastikan apa ia tidak salah dengar.


"Iya semuanya, aku tau dari Rafi semalam kamu menolong Vidya yang mabuk karna perbuatam Bram kan? Ck si Bram itu, gk tau apa dia lagi berurusan sama kamu, dia gk tau kalau Vidya itu sepupu kamu, ck parah emang dia." Ujar siren panjang lebar.


Arya menghela nafasnya, sepertinya Siren masih belum tau jika hubungannya dengan Vidya bukan sepupuan melainkan suami dan istri.


"Vidya sepertinya kurang sehat, ini aku bawakan teh hangat. Ini bisa menetralisir rasa mabuk, biasanya aku meminum ini untuk menahan gejolak di perut yang tidak enak." Ujar Siren yang menyodorkan teh hangat pada Vidya.


Vidya menoleh ke arah Arya, Arya juga sedang memperhatikan interaksi antara Siren dan Vidya.


"Terimakasih." Jawab Vidya yang menerima cangkir berisi teh hangat itu dari tangan Siren.


"Sayang bu...bukannya pagi ini kamu kembali ke Australia?" Tanya Arya, Siren pun menolehkan kepalanya pada Arya lalu memberikan senyumannya.


"Kamu gk lihat aku sudah cantik begini? Tentu saja aku jadi kembali ke Australia, tapi aku menunggu kamu yang akan mengantarkan ku." Ujar Siren, Arya pun menganggukkan kepalanya.


"Tentu aku pasti akan mengantarmu sayang, tunggu sebentar aku ingin bersiap dulu."  Ucap Arya, lalu bangkit meninggalkan Siren yang kini bersama Vidya.


"Vidya." Panggil Siren, Vidya pun mengangkat kepalanya yang sedaritadi menunduk, kini menatap ke arah Siren.


"Ada apa?" Tanya Vidya, Siren tersenyum pada Vidya.


"Kau tau di tempat kerjaku ada seseorang yang menghianatiku." Curhat Siren pada Vidya, Vidya hanya dia mendengarkannya saja.

__ADS_1


"Aku sangat membenci orang yang sudah menghianatiku, aku pun membuatnya hidup menderita hingga dia menemui ajalnya." Ujar Siren yang menatap Vidya lekat, di tatap seperti itu entah kenapa Vidya merasa terintimidasi.


"Sayang, aku sudah siap. Ayo kita pergi." Ajak Arya yang sudah sangat rapih dan juga terlihat lebih tampan di mata Vidya.


"Aku harap kamu tidak begitu ya, ah iya aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi Vidya." Ucap Siren memberikan senyumnnya pada Vidya sebelum akhirnya ia bangkit lalu berjalan ke arah Arya.


Arya merangkul bahu Siren, mereka keluar dari kamar secara beriringan dan tampak mesra.


Vidya menghela nafasnya melihat hal itu, hatinya terasa ngilu saja.


Vidya memegangi dadanya, dan menatap nanar ke arah pintu kamar.


"Kenapa terasa sakit? Aish ada apa denganku?" Tanya Vidya ia memukul pelan dadanya, berharap rasa sesak di dadanya hilang.


Vidya menolehkan kepalanya ke samping kanan, di sana ada cermin besar milik Arya.


Vidya memandang tampilan dirinya di cermin, mata Vidya membulat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin.


"Astagfiruallahaladzim, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku memakai pakaian kurang bahan begini? Dan kenapa ada riasan di wajahku? Kenapa warna lipstik ini sangat merah? Dan kerudungku...dimana kerudungku?!" Pekik Vidya ia panik sendiri melihat dirinya yang tiba-tiba menjadi seperti ini.


Vidya memegangi kepalanya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.


Lalu Vidya kembali teringat dengan ucapan Siren yang bilang bahwa Arya menyelamatkannya dari Bram? Memangnya ada apa antara dirinya dan Bram? Vidya bahkan tidak bisa menemukan jawaban itu.


Drtttt drtttt drttt


Vidya tertegun ia seperti mendengar suara getaran, Vidya pun menoleh ke tempat tidur di sebelahnya, di sana ia melihat gawai milik Arya.


"Aish Arya tidak membawa ponselnya?" Tanya Vidya pada dirinya sendiri.


Lalu tak lama gawainya kembali bergetar, Vidya pun melihat ada sebuah pesan masuk dan tak lama ada panggilan masuk.


Mamah calling


Vidya membaca nama yang tertera di panggilan masuk tersebut, itu dari mamahnya Arya haruskah ia jawab? Namun tak lama panggilan itu pun mati dengan sendiri.


"Huh, mengejutkan saja." Ujar Vidya, namun tak lama ponsel Arya kembali bergetar, panggilan masuk dari orang yang sama seperti sebelumnya.


Akhirnya Vidya memutuskan untuk mengangkatnya.


"Halo Arya? Ini Mamah, hari ini Mamah dan Papah akan kembali dari Inggris. Nanti malam kami akan datang ke rumahmu, sampai bertemu nanti malam."


Tut...tut...


Sambungan pun terputus, Vidya bergeming di tempatnya.


"Mamah Arya, mau datang nanti malam?" Gumam Vidya, ia tidak tau harus bagaimana saat ini, intinya ia merasa sangat gugup.


"Ah iya aku harus membersihkan bekas muntahanku ini, kalau tidak Arya pasti akan marah nanti." Ucap Vidya, ia pun langsung bangkit dari duduknya mengabaikan kepalanya yang masih terasa sakit.


Vidya segera membersihkan muntahannya di seprai Arya, ia segera membersihkannya hingga benar-benar bersih.


Setelah itu ia mulai membereskan kamar Arya.

__ADS_1


"Aku harus memasak dan beres-beres rumah, nanti malam Mamah Arya akan datang." Vidya terlihat menghela nafasnya.


"Ya ampun aku sangat gugup." Ujar Vidya yang tersenyum dan berusaha menetralkan kegugupannya, bagaimana pun nanti malam Mamah mertuanya akan datang, dan Vidya ingin Mamah mertuanya menyukai dirinya, semoga saja.


__ADS_2