Without You

Without You
[S2] Perlu Bersabar lagi


__ADS_3

Sang bagaswara mulai menampakkan dirinya, sinarnya yang terik mampu menyinari setiap sudut bagian dari dunia ini.


Pagi ini Vidya baru saja selesai memasak makanan untuk ia bawa ke sekolah nanti, tak lupa ia juga membawakan satu kotak bekal lagi yang akan ia berikan untuk Reilla nanti.


Vidya juga membawa coklat, yang rencananya akan ia bagi-bagikan pada anak-anak yang kelak bisa menjawab kuis darinya.


"Ceria banget kayanya anak Umi hari ini," ucap Umi Vidya yang sedaritadi mengamati ekspresi wajah putrinya yang tampak sumringah pagi ini.


Vidya yang mendengar ucapan Umi hanya bisa tersenyum saja.


"Iya dong mi, kita harus selalu ceria!" Seru Vidya sambil terus mengumbar senyumannya.


"Alhamdulillah kalau kamu senang, Umi juga ikut senang lihatnya. Umi gk mau ngeliat kamu sedih terus lagi," ucap Umi Vidya menatap dalam Vidya.


"Umi gk usah khawatir ya, mulai sekarang Vidya lagi berusaha untuk move on dari masalalu. Umi hanya perlu doakan Vidya saja agar bisa cepat move on," ucap Vidya lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Umi.


"Vidya berangkat ngajar dulu ya mi. Assalamu'alaikum Umi sayang," pamit Vidya tak lupa ia memberikan kecupan sayang di pipi Umi sebelum benar-benar pergi.


Vidya berjalan kaki menuju ke sekolah tempat ia mengajar saat ini, jarak antara rumahnya ke sekolah tidak terlalu jauh. Dengan berjalan kaki seperti ini selain hemat pengeluarn juga bisa membuat badan sehat.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, Vidya akhirnya sampai di sekolah tempat ia mengajar.


"Jangan lupa belajar yang rajin ya, nanti pulang Ayah yang bakalan jemput kamu."


Langkah Vidya terhenti di depan gerbang tatkala ia melihat sosok Arya dan Reilla yang saat ini sedang berdiri agak jauh dari tempat Vidya berdiri.


Arya terlihat sedang merapihkan jepit rambut Reilla, pria itu juga sepertinya sedang memberikan nasihat pada Reilla. Setelah itu Arya terlihat pamit, tak lupa pria itu juga memberikan kecupan penuh kasih sayang di puncak kepala Reilla.


Dalam diam Vidya menyaksikan semuanya, dalam diam juga ia tersenyum haru melihat interaksi antara anak dan Ayah itu. Arya ternyata menepati janjinya, pria itu benar-benar menyayangi putri mereka dengan sepenuh hatinya. Arya berhasil membesarkan Reilla dengan sangat baik.


"Ayah berangkat dulu ya," ucap Arya sambil mengacak rambut Reilla singkat.


"Hati-hati ya Ayah," balas Reilla dengan senyuman lebarnya.


Arya pun mengangguk baru saja ia ingin kembali melangkah ke arah mobilnya, ia tak sengaja melihat sosok Vidya. Vidya yang sadar jika Arya menoleh ke arahnya pun jadi gelagapan.


"Bu Shafa!" Panggil Reilla sambil melambaikan tangannya dengan riang ke arah Vidya.


"Hai," balas Vidya sambil melambaikan tangannya juga.

__ADS_1


Reilla berlari menghampiri Vidya, ia menarik tangan Vidya katanya ia ingin mengenalkan Vidya pada Ayahnya. Awalnya Vidya menolak hal itu namun Reilla tidak menghiraukannya, gadis muda itu tetap menarik tangan Vidya menghampiri Arya yang saat ini hanya diam di tempat sambil memandangi Vidya yang sedang Reilla bawa menju ke arahnya.


"Ayah, kenalin ini Ibu Shafa. Guru Agama Rei yang baru," ucap Reilla memperkenalkan Vidya pada Arya.


"Ayah? Kok diem?" Tanya Reilla membuat Arya tersadar.


"Ah iya, saya Ayahnya Reilla," jawab Arya yang masih menatap wajah Vidya yang saat ini sedang mengenakan cadar.


"Saya Vidya, gurunya Reilla," balas Vidya lagi.


"Rei, ayo masuk ke kelas bareng."


Reilla, Vidya, dan Arya pun menoleh serempak. Keduanya menoleh tatkala ada temannya Reilla yang mengajak gadis itu untuk masuk kelas bersama.


"Ayah, Bu Shafa. Rei pamit ke kelas dulu ya," pamit Reilla dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya juga Arya.


Saat ini Arya maupun Vidya hanya saling diam, saling melirik ke arah satu sama lain.


"Kamu ngajar di sini?" Tanya Arya yang memecah keterdiaman di antara mereka.


"Iya," jawab Vidya singkat sambil menganggukkan kepalanya.


"Tunggu Vidya!" Panggil Arya membuat langkah Vidya jadi terhenti.


"Siapa pria yang mengantar kamu pulang kemarin?" Tanya Arya yang rupanya masih merasa penasaran dengan sosok Barga yang kemarin mengantar Vidya pulang ke rumah.


Vidya menghela nafas lalu kembali membalikkan badannya, berhadap-hadapan lagi dengan Arya.


"Kenapa? Kenapa kamu mau tau hal itu?" Tanya Vidya sambil menaikkan dagunya.


"Hanya bertanya saja," ucap Arya sambil mengaruk belakang lehernya.


Vidya diam-diam tersenyum melihat tingkah Arya barusan, Vidya tau bahwa Arya saat ini sedang gugup. Ternyata Arya memang masih tidak berubah, pria itu jika gugup masih saja melakukan hal yang sama yaitu mengaruk tenguknya.


"Ya sudah, kalau gitu aku permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Vidya lagi dan kali ini Arya tidak menghentikannya.


"Wa'alaikumussalam," balas Arya pelan sambil menatap punggung Vidya yang mulai masuk ke dalam lingkungan sekolah.


[]

__ADS_1


Bel pergantian jam pelajaran sudah berbunyi sedaritadi, kini Vidya sudah berada di kelasnya Reilla untuk mengajar pelajaran Agama Islam.


"Jadi, anak-anak menutup aurat itu wajib bagi perempuan maupun laki-laki yang sudah baligh.Aurat laki-laki itu dari ujung kepala hingga batas pusar, sedangkan aurat perempuan yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Maka dari itu bagi perempuan yang sudah baligh menutup aurat itu hukumnya wajib," ujar Vidya yang menjelaskan materi pembelajaran pada siang hari ini.


"Sekarang waktunya quiz, siapa yang bisa jawab pertanyaan dari Ibu akan dapat hadiah dari Ibu!" Seru Vidya menatap para muridnya satu persatu.


Ajaibnya murid yang tadi sedang mengantuk pun menjadi segar ketika mendengar kata hadiah yang baru saja Vidya ucapkan.


Sesi tanya jawab pun berlangsung dengan lancar dan begitu antusias, semua anak-anak berebut untuk menjawab pertanyaan yang Vidya berikan. Hal itu membuat Vidya tersenyum senang.


Tak lama bunyi bel kembali terdengar, pertanda bahwa waktu pelajaran Agama Islam sudah selesai dan waktu istirahat pun tiba.


"Waktu pelajaran Ibu sudah selesai saatnya waktu kalian untuk beristirahat, silahkan bagi yang sudah berhasil menjawab pertanyaan Ibu tadi maju ke depan. Ibu akan memberikan kalian hadiah seperti yang Ibu janjikan sebelumnya," ucap Vidya.


Lalu beberapa anak yang menang quiz pun maju ke depan satu persatu untuk menerima hadiah coklat dari Vidya, begitupun dengan Reilla yang tadi berhasil menjawab tiga pertanyaan dengan benar, ia pun mendapatkan tiga hadiah coklat dari Vidya.


"Terimakasih Ibu Shafa," ucap Reilla sambil tersenyum senang.


Lalu anak-anak pun pamit untuk pergi beristirahat setelah Vidya memberikan mereka izin.


"Rei tunggu sebentar ya, Ibu ada sesuatu buat kamu," kata Vidya yang mengeluarkan kotak bekal dan susu kotak dari dalam tasnya.


"Ini makan siang buat Rei, tadi Ibu masaknya ke banyakan."


Reilla menatap kotak bekal yang di sodorkan Vidya padanya, perlahan tangannya terulur menggapai kotak makan yang Vidya sodorkan padanya.


"Ini buat Rei, Bu?" Tanya Reilla lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.


"Iya, ini buat Rei. Di makan ya jangan sampai lupa," ujar Vidya mengingatkan.


"Makasih ya Bu Shafa," balas Reilla sambil menyungingkan senyuman lebarnya.


Vidya mengangguk, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Reilla dengan sayang. Matanya berkaca-kaca saat telapak tangannya menyentuh kepala Reilla, bayangan saat dulu ia mengandung Reilla selama 9 bulan pun kembali terlintas dalam fikirannya.


Vidya tak menyangka bahwa putri kecilnya dulu yang sering menendang di dalam perut sudah sebesar ini bahkan sudah beranjak menjadi anak remaja, Reilla memiliki wajah yang cantik. Vidya juga tidak bisa menampik ucapan Uminya yang bilang bahwa Reilla memiliki wajah yang mirip dengannya, karna nyatanya itu memang benar. Reilla memiliki wajah manis yang mirip dengan dirinya, hanya mata Reilla lah yang mirip dengan Arya.


"Rei pamit ke kantin sama teman-teman dulu ya Bu," pamit Reilla dan di balas anggukkan kepala lagi oleh Vidya.


Reilla pun berjalan pergi keluar dari kelas bersama teman-temannya, Vidya menatap punggung kecil putrinya yang mulai menjauh. Rasanya ia ingin membawa tubuh mungil Reilla ke dalam dekapannya, ingin sekali rasanya ia bilang pada Reilla bahwa dia adalah Ibu kandung Reilla yang selama ini ia anggap sudah meninggal padahal nyatanya tidak.

__ADS_1


Namun apa boleh buat, Vidya saat ini tidak bisa berbuat apapun. Vidya yakin pada Allah yang pasti memiliki takdir yang baik untuk dirinya, mungkin Vidya hanya perlu lebih bersabar lagi.


__ADS_2