Without You

Without You
65. Waktu


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Dua bulan kemudian....


Tak terasa hari sudah berganti dengan minggu, dan minggu sudah berganti menjadi bulan.


Waktu begitu cepat berlalu, tak ada yang bisa menyamai kecepatan waktu, maka dari itu kita di perintahkan untuk selalu menghargai waktu dengan sebaik mungkin.


Sudah dua bulan berlalu, dan selama itulah Arya selalu berjuang, berusaha membujuk Vidya untuk mau kembali ke dalam hidupnya.


Namun Vidya tak pernah mau tuk bertemu dengannya lagi, keluarga Vidya seolah-olah menjauhkan Vidya dari Arya.


Bahkan menurut seseorang yang Arya suruh untuk memata-matai Vidya mengatakan, kalau Vidya saat ini tidak tinggal di Indonesia lagi.


Gadis itu sudah pergi keluar negri, entah kemana. Hanya untuk bisa menjauh dari Arya.


Selama kepergian Vidya, hidup Arya menjadi tak menentu bahkan rasa bersalah terus datang menghantui Arya.


Seperti kata pepatah, penyesalan akan selalu datang terlambat.


Begitu pula yang di rasakan oleh Arya, pria itu baru merasa menyesal sekarang, di saat keadaannya tak lagi sama.


Bahkan Vidya juga tidak mau lagi menemuinya sekedar untuk bertatap muka lagi, Vidya juga enggan.


Vidya bilang ia tidak mau  menghancurkan rumah tangga Arya, Vidya juga bilang mungkin memang Arya bukanlah pelabuhan terakhir untuk dirinya dan bukan di takdir kan untuk Vidya.


Arya berusaha sekeras tenaga, untuk bersikap normal. Ia belajar untuk kembali mencintai Siren yang saat ini sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang baru berusia dua bulan.


Walaupun bayi itu bukanlah anaknya, tapi Arya menyayangi anak Siren seperti anaknya sendiri.


Namun kini perasaan Arya pada Siren sudah tidak seperti dulu lagi saat mereka berdua masih menjadi sepasang kekasih.


Saat ini Arya merasa hampa, ia tidak menemukan cintanya lagi pada diri Siren.

__ADS_1


Perasaan Arya pada Siren, kini hanyalah sebatas tanggung jawab dan sebatas bahwa ia harus melindungi dan menjaga Siren juga anaknya yang notabennya kini adalah keluarganya.


"Kamu kenapa? Hmm?"


Arya yang sedaritadi duduk terdiam dan melamun, tersentak kaget ketika Siren bergelayut manja di lengannya.


Arya menolehkan kepalanya lalu memasang senyuman, senyuman yang bahkan terasa berat untuk di sunggingkan.


"Nggak apa-apa, kok kamu ada di kantor ku? Aksara gimana? Siapa yang jaga?" Tanya Arya pada Siren.


Siren hanya diam, mengamati tingkah Arya.


Siren tau selama ini suaminya itu sangat berbeda, ia berbeda dengan Arya yang dulu ia kenal.


Siren memang sudah berhasil dan unggul mendapatkan Arya dari tangan Vidya.


Harusnya Siren bahagia bukan? Tapi Siren malah merasa sebaliknya, ia selalu merasakan sakit di hatinya.


Melihat Arya yang kadang sering melamun selama dua bulan terakhir ini, Siren tau walaupun pria itu tak bicara apa-apa padanya, tapi Siren mengetahui apa yang selalu Arya fikirkan.


Vidya.


Nama itulah yang senantiasa berada di fikiran dan mungkin hati Arya saat ini, perempuan itu walaupun kini sosoknya sudah tidak ada di kehidupannya dan Arya tapi tetap saja masih menjadi penganggu di dalam rumah tangannya.


Bagi Siren Arya adalah seorang suami yang baik, dia sangat bertanggung jawab dan juga penyayang.


Arya selalu menyayangi Aksara, putra nya dengan sangat baik. Bahkan saat Arya tau jika Aksara adalah anak dari pria lain, tapi pria itu selalu bilang bahwa Aksara adalah anak Arya juga.


"Sayang, kok diem?" Tanya Arya membuat Siren kembali sadar dan kembali memasang senyumannya.


"Aksara ikut kok, dia lagi sama Bi Asri." Jawab Siren, memberitahu Arya jika sekarang Aksara sedang ada di bawah bersama dengan Bi Asri, orang kepercayaan mereka yang di tugaskan untuk membantu Siren merawat Aksara.


"Wah, ajak ke sini. Aku pengen ketemu Aksa kangen." Ucap Arya dan di balas anggukkan oleh Siren.


Siren pun terlihat sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Bi Asri sebentar lagi ke sini sama Aksara." Ucap Siren dan di balas anggukkan oleh Arya.


Kini keduanya hanya diam, tak ada lagi yang berbicara.


Baik Arya maupun Vidya, mereka berdua saling diam tidak mengatakan apa-apa.


Hingga kedatangan Aksara pun berhasil memecah keheningan itu.


"Wah ada anak Papah, gemesin banget." Ucap Arya yang langsung menggambil alih  Aksara dari dalam gendongan Bi Asri.

__ADS_1


Siren lagi-lagi diam memperhatikan, ia memperhatikan Arya yang sedang mengajak Aksara berbicara.


Siren menghela nafasnya, rasanya sangat menyakitkan memang menghadapi ini semua.


Ketika seseorang yang dulu mencintai kita kini justru tidak lagi memilik perasaan yang sama seperti dulu, itu rasanya benar-benar membuat hati terasa sakit.


"Arya." Siren memanggil Arya, Arya yang kini sedang bermain dengan Aksara pun menolehkan kepalanya.


"Ya, ada apa?" Tanya Arya mengalihkan pandangannya pada Siren.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, berdua." Ucap Siren, Arya menganggukkan kepalanya lalu menyerahkan Aksara pada Bi Asri, dan Bi Asri langsung mengajak Aksara keluar untuk memberikan privasi kepada Siren dan Arya.


"Ada apa? Mau bicarakan tentang apa?" Tanya Arya yang memang ingin mendengarkan apa yang mau Siren bicarakan dengannya.


"Kamu masih mencinta Vidya?" Tanya Siren, seraya menatap lekat wajah suaminya itu.


Arya terkejut, namun ia berusaha bersikap normal. Arya justru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Arya jawab aku." Ucap Siren yang berusaha menarik perhatian Arya.


Namun Arya tetap bungkam, dan Siren tau di balik kebungkaman Arya berarti apa yang selama ini menganggu di fikirannya terbukti benar, Arya memang masih mencintai Vidya.


"Aku tau jawabannya, kamu memang masih mencintai gadis itu. Walaupun kini dia sudah pergi dari hidupmu tapi kamu masih saja memikirkannya."


Arya tetap diam, tak berkata barang sepatah katapun. Ia membiarkan Siren terus berbicara tanpa berniat menimpalinya karna apa yang dikatakan Siren adalah kebenaran.


"Kamu tau Arya, bagaimana rasanya jika orang yang kita cintai malah memikirkan seseorang yang lain? Rasanya menyakitkan." Ucap Siren, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.


"Siren aku-"


"Sttt kamu gk perlu bicara apapun lagi, untuk membela dirimu. Yang aku tau kamu memang sudah tidak lagi mencintaiku, kamu sudah berpaling pada perempuan itu! Kamu sudah mencintainya! Sebentar lagi kamu juga akan melupakan ku kan?"


Siren menumpahkan segalanya yang selama ini menganggu fikiran gadis itu.


Siren kini sudah menangis tergugu.


"Siren bukan begitu, kamu-"


"Apa? Aku salah gitu? Arya aku tau kamu masih mencintai perempuan itu yang bahkan kini sudah tidak ada lagi di hidup kamu tapi kamu masih saja selalu memikirkannya."


Arya mengelengkan kepalanya, berusaha untuk menenangkan Siren yang sedang menangis.


"Nggak lepas! Kamu brengsek! Kamu jahat Arya! Aku benci kamu...hiks...kamu berubah!"


Arya tetap diam, walaupun Siren terus meronta-ronta tapi Arya tetap mendekap Siren erat, bahkan saat Siren memukulinya. Arya masih tetap diam tak membalas.

__ADS_1


__ADS_2