
Setelah pulang ke rumah Reilla langsung tertidur dan saat ini Arya baru saja menaruh anaknya itu di kamar.
Setelah memastikan Reilla aman, Arya pun pergi keluar dari kamar Reilla. Kejadian di sekolah tadi masih terus terbayang di benaknya, ia merasa menjadi Ayah yang sangat egois untuk putrinya itu.
Arya menghela nafasnya dan tak lama ia mendengar gawainya berbunyi dengan nyaring, ada panggilan masuk ke dalam gawainya lalu Arya pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum ini siapa ya?" Tanya Arya yang bingung karna panggilan tersebut berasal dari nomor yang tidak di kenal.
"Ya Halo, Wa'alaikumsalam. Ini Syabil, gimana tugas kuliah saya yang anda janjikan itu? Apakah sudah selesai? Hmm?"
Arya menepuk dahinya, karna terlalu pusing memikirkan pekerjaan dan Reilla ia sampai lupa menepati janjinya pada gadis bernama Syabil itu.
"Kenapa? Oh jangan-jangan Om belum buat tugasnya ya?! Sudah Syabil duga, Om itu cuma ingkar janji doang ch."
"Bukan begitu, saya minta maaf karna lupa mengerjakannya. Tapi saya akan segera kerjakan dan saya pastikan besok sudah akan selesai kok," ujar Arya yang mencoba menenangkan Syabil yang tampak murka.
"Gk bisa! Besok udah harus di kumpulin Om, pokoknya nanti sore sudah harus selesai! Bawa tugasnya ke Kafe Melati, kita ketemuan di sana."
"Tapi saya--"
Tutt tutt tutt
Panggilan pun berakhir, Arya berdecak kesal. Perempuan itu memang selalu menguju kesabarannya, akhirnya Arya pun memilih untuk mengerjakan tugas gadis itu dengan cepat dan ia harap bisa segera selesai tepat waktu, ya semoga saja.
.............................
Saat ini hari sudah menjelang sore, Syabil berkali-kali mengecek jam yang melingkar di tangannya.
Sudah pukul 17.30, namun orang yang ia tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Bahkan makanan yang Syabil pesan juga sudah habis ia santap karna sudah terlalu lama menunggu.
Syabil mencebikkan bibirnya, dalam hari ia merutuki pria yang saat ini ada janji dengannya untuk menyerahkan tugas kuliahnya sebagai ganti rugi karna pria itu sudah menabraknya.
Syabil yang akhirnya tidak tahan menunggu lagi memutuskan untuk pulang saja.
"Maaf saya terlambat."
Syabil kembali mendudukkan dirinya saat orang yang sedaritadi ia tunggu sudah datang dengan nafas yang tersengal-sengal mungkin karna berlari.
"Om tau gk ini udah jam berapa? Ini tuh udah lewat dari jam perjanjian kita," ujar Syabil yang begitu kesal karna sudah di buat menunggu begitu lama.
"Saya tau dan saya juga minta maaf atas keterlambatan saya," ujar pria itu yang tak lain adalah Arya.
"Mana tugas saya Om? Udah jadi kan?" Tanya Syabil sambil menyodorkan tangannya pada Arya.
"Udah nih, sesuai janji saya kan? Jadi urusan kita sudah selesai," ucap Arya yang menyerahkan map berisi tugas-tugas milik gadis di hadapannya ini.
"Saya pulang dulu."
__ADS_1
"Eh Om! Mau kemana? Enak aja main pergi gitu aja saya udah lumutan nunggu di sini daritadi," ucap Syabil yang kembali membuat Arya terduduk.
"Ada apa lagi?" Tanya Arya menatap Syabil dengan malas.
Bukannya menjawab Syabil malah terdiam, raut wajahnya berubah terlihat begitu tegang membuat Arya bingung melihatnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Arya yang bingung melihat ekspresi Syabil.
"Sa ... saya pergi dulu."
Setelah mengatakan itu Syabil benar-benar pergi, Arya berusaha bertanya ada apa namun Syabil tidak menjawab dan justru berjalan keluar dari Kafe tersebut.
"Kenapa sih dia? Aneh banget," ucap Arya yang bingung sendiri dengan tingkah Syabil.
Arya hanya mengangkat kedua bahunya saja berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu, Arya pun berniat pulang ke rumah namun saat ia berdiri ia melihat sebuah dompet berwarna merah tergeletak di atas meja.
"Jangan-jangan ini punya gadis itu?" Tanya Arya pada dirinya sendiri, ia pun menggambil dompet tersebut dan untuk memastikannya Arya membuka dompet itu.
Di dalam dompet itu ada KTP pemilik dompet tersebut, fotonya sama persis dengan gadis itu dan benar dugaan Arya dompet ini memang milik gadis itu. Lalu Arya pun melihat nama yang tertera di sana.
"Jadi namanya Syabil," ujar Arya sambil menganggukkan kepalanya, ia sudah tau sekarang siapa nama gadis muda itu.
Arya pun membawa dompet tersebut, ia berjalan keluar Kafe berharap bahwa gadis itu belum jauh dari Kafe.
Namun saat Arya keluar dari Kafe ia tidak menemukan keberadaam gadis itu, Arya hanya bisa menghela nafasnya saja. Ia gagal menggembalikan dompet tersebut alhasil Arya pun memutuskan untuk menggembalikannya nanti jika dia bertemu dengan gadis itu lagi.
Akhirnya karna Arya sudah tidak ada urusan apapun lagi di Kafe itu, Arya memutuskan untuk pulang saja ke rumah.
Jalanan kecil ini adalah salah satu jalan pintas menuju rumahnya, namun jalanan ini cenderung lebih sepi.
Saat Arya sedang melajukan mobilnya, tiba-tiba saja ia melihat sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan. Awalnya Arya tidak terlalu memperdulikan hal itu namun ketika ia melihat ada seseorang yang ia kenal di sana, akhirnya Arya pun menepikan mobilnya dan memilih untuk segera turun dari dalam mobil.
"Syabil!" Panggil Arya memastikan bahwa orang yang ia lihat itu benar Syabil, perempuan yang tadi baru saja ia temu di Kafe.
Syabil yang kaget dengan kedatangan Arya pun hanya diam di tempatnya.
"Syabil muka kamu kenapa? Kok biru gitu?" Tanya Arya yang bingung melihat memar di pipi Syabil.
"Gk usah sok perduli!" Ucap Syabil dengan ketus.
"Syabil sini lo! Gue belum selesai ngomong sama lo."
Kemudian seorang pria yang tidak Arya kenal menarik tangan Syabil dengan kasar, membuat Syabil meringis kesakitan.
"Lepasin Syabil!" Ucap Arya yang membuat pergerakkan pria itu terhenti, pria itu menoleh pada Arya sambil tersenyum miring.
"Lo emangnya siapa? Hah? Ikut campur urusan orang aja," ujar pria itu yang menatap nyalang pada Arya.
__ADS_1
"Lepasin tangan Syabil dia kesakitan," ucap Arya yang tak mengubris pertanyaan pria itu.
"Kenapa emangnya? Apa hak lo nyuruh-nyuruh gue? Lo siapanya Syabil? Gue ini pacarnya! Jadi gue berhak lakuin apa yang gue mau pada Syabil."
Arya menoleh pada Syabil, gadis itu terlihat mengelengkan kepalanya pada Arya. Gadis itu juga terlihat memohon pada Arya agar tidak ikut campur.
"Saya memang bukan siapa-siapanya Syabil, tapi saya gk suka ngeliat perempuan di sakiti seperti ini," ujar Arya yang menatap tajam pria tersebut yang mengaku pacarnya Syabil.
"Lo mau jadi pahlawan nih ceritanya? Oke kita baku hantam aja kalau gitu."
Bughhh
Tubuh Arya terjatuh, ia belum siap namun sebuah pukulan sudah mendarat terlebih dahulu di pipinya membuat ia terjatuh dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Sialan!" Umpat Arya yang sudah sangat kesal.
Bughh ... bughh ... bughh
Arya memberikan pukulan bertubi-tubi pada perut pria itu, membuat pacar Syabil itu terkapar di tanah. Namun sepertinya pria itu masih belum kalah, ia membalas pukulan Arya dan adegan baku hantam pun tak dapat di hindarkan.
"Berhenti!" Teriak Syabil histeris saat Pacarnya memukuli perut Arya dengan membabi buta.
"Stop! Kevin berhenti! Dia bisa mati!" Teriak Syabil mencoba menghentikan pacarnya itu yang masih sangat bernafsu untuk memukuli Arya yang terlihat sudah tak berdaya.
Bughhh
"Argggg sialan lo!" Pekik Kevin, pacar Syabil saat Arya berhasil memukul perutnya dengan sangat kencang membuat Kevin ikut jatuh tak berdaya di sebelah Arya.
"Ke ... Kevin kamu gk apa-apa?" Tanya Syabil yang langsung menghampiri pacarnya yang tampak kesakitan itu.
"Syabil ayo kita pergi," ucap Arya yang mengajak Syabil pergi.
"Gk bisa! Gue gk bisa tinggalin Kevin gitu aja," ujar Syabil yang masih teguh pendirian untuk selalu ada di sisi Kevin.
"Sebentar lagi ambulance akan datang, dia akan segera di bawa ke rumah sakit, gk usah perduliin dia. Bahkan dia aja gk pernah perduli sama kamu kan?"
Syabil melepaskan tangan Arya yang menarik tangannya, lalu gadis itu menatap Arya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Kalau lo mau pergi silahkan, gue gk akan pergi! Gue akan tetap di sini, Kevin pacar gue dan dia sangat butuh gue saat ini."
Arya menatap tak percaya pada Syabil yang begitu keras kepala, padahal sebelumnya Kevin sudah bertindak kasar padanya tapi Syabil masih tetap perduli pada Kevin.
"Kenapa? Bukannya dia jahat udah nyakitin kamu?" Tanya Arya yang tak mengerti jalan fikiran Syabil.
"Dia memang sering mukulin gue dan kasar sama gue, tapi cuma dia yang gue punya saat ini dan lo gk akan ngerti apa yang gue alami jadi mendingan lo pergi aja Om," ucap Syabil penuh penekanan.
Lalu tak lama mobil ambulance pun datang, para petugas medis segera mengangkat Kevin masuk ke dalam mobil ambulance tersebut dan Syabil juga ikut masuk ke dalamnya.
__ADS_1
"Syabil!" Panggil Arya yang baru ingat kalau dia belum menggembalikan dompet milik Syabil, tapi sayangnya mobil ambulance yang di naiki Syabil sudah jalan terlebih dahulu alhasil Arya gagal mengembalikan dompet milik Syabil.
Arya menatap mobil ambulance tersebut yang mulai menjauh, entah mengapa hatinya merasa tidak tega melihat Syabil yang di pukuli oleh pacarnya dan Arya juga merasa bahwa banyak hal yang Syabil sembunyikan dalam hidupnya, hal itu membuat Arya semakin di buat penasaran dan semakin ingin tau dan berkeinginan untuk melindungi gadis itu yang terlihat tegar namun sebenarnya sangat rapuh. Terlalu banyak teka-teki yang Arya tak mengerti perihal gadis itu, dan membuat Arya ingin segera menguaknya.