Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

"Lo sebenernya punya masalah apa sih?" Tanya Keira yang sudah kesal dengan tingkah Rayn.


Rayn yang sedang bermain ponsel di sofa pun mengalihkan tatapannya pada Keira yang sudah berkaca pingang.


"Gk ada masalah," kata Rayn dengan tampang polosnya minta di tabok.


"Gk ada masalah tapi gangguin gue belajar terus sama Kak Rama tadi."


"Ralat Pak Rama bukan Kak Rama," kata Rayn mengoreksi ucapan Keira.


"Lo kenapa sih? Aneh banget hari ini," kata Keira meminta penjelasan Rayn.


Rayn menghela nafasnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan bangkit berjalan ke arah Keira, Keira yang melihat hal itu hanya memundurkan langkahnya.


"Karna saya gk suka kamu deket-deket sama dia," bisik Rayn tepat di telinga Keira lalu setelahnya ia berlalu begitu saja meninggalkan Keira yang masih berdiri mematung.


Setelah beberapa saat Keira baru tersadar dan mengerenyitkan dahi bingung.


"Maksud dia apaan ngomong kaya gitu?"


Begitulah pasutri yang satu ini, sang suami gengsinya tinggi sementara sang istri? Lamban sekali untuk peka.


[]


Drttt drttt


Gawai Rayn berdering nyaring, sementara yang punya sedang berada di dalam kamar mandi saat ini.


"Rayn! Ponselnya bunyi!" Panggil Keira yang sedang memberikan susu formula untuk Hana, namun sepertinya Rayn tak mendengar panggilan Keira membuat Keira terganggu akan bunyi ponsel Rayn.


Akhirnya Keira memutuskan untuk melihat siapa yang baru saja menelpon Rayn.


Namun panggilan yang masuk tersebut berasal dari nomor yang tak dikenal.


Keira mematikannya begitu saja, lalu kembali lagi menghampiri Hana namun tak berapa lama ponsel Rayn kembali berbunyi.


"Astagfiruallahaladzim bener-bener tuh ya yang nelpon," geram Keira sementara Hana, bayi itu hanya tertawa melihat wajah kesal Keira.


"Lihat tuh, Papah kamu ponselnya bunyi terus berisik," kata Keira pada Hana si bayi mungil yang cantik itu.


Tak lama setelahnya Rayn keluar dari kamar mandi.


"Rayn ponsel- Astagfiruallahaladzim!" Pekik Keira yang langsung memalingkan wajahnya dari arah Rayn.


"Kenapa sih? Heboh banget," ucap Rayn.

__ADS_1


"Kalau mau keluar kamar mandi setidaknya lo pakai baju di dalam dulu kek jangan kaya gitu," omel Keira.


Rayn menaikkan sebelah alisnya bingung, perasaan dia gk salah deh. Selama ini dia memang begini jika setelah mandi, hanya melilitkan handuk sampai sepingang saja sementara bagian atasnya ia biarkan terbuka.


"Kaya gitu gimana?" Tanya Rayn membuat Keira beristigfar menghadapi Rayn yang lemot.


"Dah lah gk jadi, ayo Hana kita pergi aja dari kamar Papah kamu sebelum mata Mamah yang masih suci ini ternodai," kata Keira lalu mengendong Hana dan pergi begitu saja dari kamar Rayn.


"Kenapa sih? Emang ada yang salah ya?" Tanya Rayn si tulalit.


Setelahnya Rayn memutuskan untuk segera memakai pakaiannya dan setelahnya menggambil ponsel untuk melihat apakah ada panggilan masuk atau tidak.


Ternyata ada panggilan yang masuk, ada 36 panggilan yang masuk dan itu berasal dari Mamahnya.


"Halo Mah," ucap Rayn yang mengangkat panggilan ke 37 dari Mamahnya.


"Kamu ini kemana aja? Kenapa gk angkat telpon saya dari tadi Hah?!"


Rayn menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar suara nyaring yang berasal dari Mamahnya.


"Iya Maaf, ada apa Mamah telpon saya?" Tanya Rayn menanyakan alasan apa Mamahnya menelponnya sebanyak itu di pagi hari ini.


"Mamah ada pekerjaan untuk kamu, ini menyangkut bisnis kita. Ada seorang klien yang ingin kamu membantunya."


"Harus kamu karna dia meminta kamu langsung, dia sanggup memberikan bayaran yang mahal untuk tugas tersebut."


Rayn mengerenyitkan dahi sejenak, kenapa harus dia yang menjalankan tugas ini?


"Apa tugasnya?"


"Tugasnya mendapatkan sebuah kalung, untuk lebih jelasnya kamu bisa langsung bertanya padanya nanti saat sudah sampai disana."


Rayn makin bingung, kenapa hanya ingin mendapatkan sebuah kalung harus menyewa pembunuh bayaran sepertinya?


"Dimana saya akan bertugas kali ini?"


"Rusia, besok kamu akan segera berangkat ke sana. Saya sudah pesankan tiket pesawat dan memenuhi semua keperluan kamu selama di sana."


"Rusia?! Kenapa jauh sekali? Mah kenapa harus ke Rusia? Berapa lama saya akan menjalankan tugas ini?"


"Selama satu tahun, tugas ini diberi waktu selama satu tahun. Tapi jika kamu bisa melakukan lebih cepat dari ini, kamu bisa segera pulang lebih cepat dari waktu yang ditentukan."


Rayn seketika terdiam, Rusia? Dia harus pergi ke Rusia selama satu tahun dan meninggalkan Keira serta Hana? Tidak, Rayn bisa-bisa rindu nanti, merindukan Hana maksudnya.


"Bersiaplah, besok jadwal keberangkatanmu. Pastikan bahwa kamu harus siap dengan tugas ini."

__ADS_1


Tutt tutt


Panggilan pun terputus seketika membuat Rayn berdecak pelan, bisa-bisanya Mamahnya memberikan ia tugas dengan seenak jidatnya.


Satu tahun bukanlah waktu yang singkat, dan apakah misi yang harus ia jalani kali ini begitu berat? Tapi hanya mendapatkan sebuah kalungkan? Rayn pasti bisa mendapatkannya lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Tentu saja ia adalah pembunuh bayaran terhandal selama ini.


Tok tok tok


"Rayn? Lo udah selesai ganti bajunya belum? Kalau udah ayo kita sarapan, gue udah buatin sarapannya di bawah."


Suara Keira membuat Rayn tersadar dari pertanyaan yang memenuhi fikirannya saat ini.


"Iya! Saya turun sebentar lagi," sahut Rayn dan setelah terdengar suara langkah kaki Keira menjauh, barulah Rayn bergegas untu turun juga ke bawah. Bagaimanapun ia harus menceritakan semuanya pada Keira, menceritakan tentang tugasnya yang mengharuskan ia pergi ke Rusia.


Saat sampai di meja makan, Rayn melihat Keira yang ternyata belum memulai sarapannya. Gadis itu masih mensisiri rambut Hana yang sedang tertawa.


"Ehem," Rayn berdehem membuat Keira mengalihkan perhatiannya.


"Nah tuh Papahnya sudah turun dari kamar," kata Keira berbicara pada Hana yang masih tersenyum.


Rayn tersenyum tipis, lalu berjalan menghampiri Keira dan Hana.


"Boleh saya gendong Hana dulu sebelum sarapan?" Tanya Rayn dan tentu Keira memperbolehkannya untuk mengendong Hana.


"Hana cantik," ujar Rayn menyapa Hana yang sudah ada di dalam gendongannya, Hana tertawa sambil menatap wajah Rayn.


"Kayanya dia seneng banget ngeliat lo," kata Keira yang melihat betapa antusiasnya Hana berada dalam gendongan Rayn.


"Papah kangen Hana," ucap Rayn seraya menciumi wajah Hana membuat Hana tertawa geli.


"Masyaa Allah lucu banget," gumam Keira namun masih bisa di dengar oleh Rayn, membuat Rayn menoleh ke arah Keira yang berdiri tepat disampingnya.


"Kenapa?" Tanya Keira bingung kenapa Rayn menatapnya seperti itu.


"Barusan kamu bilang saya lucu?" Tanya Rayn membuat Keira terkejut.


"Dih! Geer loh, orang gue bilang lucunya ke Hana bukan ke lo," kata Keira membuat Rayn meringis agak malu juga karna terlalu narsis barusan.


"Setelah sarapan saya mau ajak kalian jalan-jalan," kata Rayn yang masih mengendong Hana.


"Wihh asik! Jalan-jalan kemana btw?"  Tanya Keira antusias.


"Kemana saja asal sama Hana," kata Rayn lalu menciumi kembali wajah dan pipi bulat Hana membuat bayi mungil itu kembali tertawa geli.


Setelahnya Rayn memberikan Hana pada Keira, lalu mengajak Keira untuk sarapan bersama tentu saja Keira tidak menolak karna kebetulan perutnya juga sudah merasa lapar sedaritadi.

__ADS_1


__ADS_2