
Part ini spesial Vidya POV/ Sudut pandang Vidya.
Happy reading gais!
-
-
-
-
Malam ini aku sedang menunggu kepulangan Arya dari kantornya.
Ah iya sudah sejak dua minggu lalu, pria itu pulang dari rumah sakit karna ia sudah lebih baik.
Aku sudah bilang pada Arya untuk sementara ini tidak pergi ke kantor dulu karna salah satu kakinya yang masih sulit di gerakkan.
Tapi Arya bersikeras ia ingin tetap pergi dan bekerja di kantor, dan malah membuat diriku merasa sangat khawatir padanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari, tapi Arya belum juga pulang.
Aku menguap, merasa mengantuk namun aku tidak bisa tidur karna merasa khawatir dengan Arya.
Aku takut dia terluka lagi seperti sebelumnya.
Saat mataku sudah mau terpejam, aku mendengar suara bel pintu rumah berbunyi.
Aku langsung bangun dan berjalan ke arah pintu depan, aku yakin itu pasti Arya.
"Arya kamu- Astagfiruallahaladzim, ada apa dengan Arya?"
Aku terkejut melihat keadaan Arya yang begitu memperihatinkan, pria itu pulang dalam keadaan mabuk.
"Suami lo mabuk tuh, makannya gue yang bawa dia pulang." Ujar teman Arya yang kalau tidak salah bernama Rafi itu, aku pernah melihat dia waktu itu saat aku datang ke tempat terkutuk bersama Arya.
"Terimakasih, biar saya saja yang bawa Arya masuk ke dalam."
"Iya udah, gue pulang dulu deh ya." Setelah itu Rafi pun pergi, aku memampah Arya yang berada dalam pengaruh alkohol ini hingga ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Arya, aku membaringkan pria itu di ranjangnya.
Aroma alkohol menyeruak dari mulut Arya.
"Siren, jangan pergi." Aku tersentak saat Arya tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku.
"Arya lepas, aku bukan Siren." Ujarku mencoba melepaskan tanganku dari cengkramannya, namun bukannya membiarkanku pergi justru Arya malah menarik diriku ke arahnya, alhasil aku pun jatuh menimpahnya.
"Siren sayang, jangan pergi."
"Arya sadar! Aku bukan Siren jadi lepasin aku." Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri namun Arya malah memeluk tubuhku dengan erat.
"Siren, aku gk akan biarin kamu menikah sama pria lain. Aku cinta kamu Siren, maaf kalau malam ini aku bakalan bikin kamu terluka tapi aku harus lakuin ini supaya kamu gk pergi." Aku mengerenyit bingung mendengar ucapan Arya barusan.
Namun perlakuan Arya selanjutnya membuatku sangat kaget, tiba-tiba saja pelukkannya berubah menjadi lebih dari itu, dia bahkan menyentuhku dengan begitu ganas.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Siren." Ujar Arya lagi, aku mengelengkan kepalaku merasa takut dengan tatapan Arya.
"Aku...hiks...jangan Arya...aku gk mau melakukan hubungan itu dalam keadaan begini." Ujarku memohon agar Arya melepaskanku.
Namun bukannya melepaskan diriku Arya malah semakin menjadi.
Rasanya sangat sakit, bahkan aku memintanya untuk berhenti namun ia tidak menghiraukanku, dia malah melampiaskan nafsunya itu.
Aku menangis, kejadian malam itu kembali berputar di kepalaku. Kejadian yang membuatku trauma, kejadian pemerkosaan itu kembali muncul di fikiranku.
Arya melakukan hubungan ini tanpa rasa cinta, tapi berdasarkan obsesi dan nafsunya karna takut kehilangan Siren.
Ia bahkan dengan tega menjadikan aku sebagai pelampiasannya.
Aku tidak bisa melakukan apapun lagi, aku tidak bisa melawan Arya karna tenaga pria itu terlalu kuat dariku.
"Maaf..." Arya menghentikan pergerakkannya, aku menangis menahan rasa sakit itu, aku memukuli dada bidang Arya namun Arya malah membawaku ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku." Hanya itu yang Arya ucapkan padaku, sebelum akhirnya tubuhku melemas dan aku tidak ingat apapun lagi setelahnya.
[]
Aku membuka mataku saat aku mendengar sayup-sayup suara adzan subuh berkumandang.
Aku menatap ke arah sampingku, di sana ada Arya yang berbaring.
Aku pun langsung bangun dari tidurku, aku meringis saat aku merasakan sakit di bagian bawahku.
Aku terdiam sebentar, mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam.
Arya telah merengut mahkotaku, aku tau itu wajar karna status kami sekarang adalah sebagai suami dan istri.
Tapi yang membuatku terluka adalah, semalam dia menganggap ku sebagai Siren bukan sebagai Vidya istrinya.
Dia mengira aku adalah orang lain, sungguh miris bukan?
Aku pun dengan susah payah menggambil pakaianku, lalu setelah itu aku pergi dari kamar Arya, sebelum pria itu bangun.
[]
Aku sudah selesai mandi, dan juga sudah selesai melaksanakan sholat subuh.
Saat ini aku sedang memasak di dapur, walaupun keadaanku masih belum pulih, rasanya bagian bawahku masih terasa sakit.
Sementara Arya, entahlah pria itu sudah bangun atau belum aku tidak tau dan tidak mau tau.
Setelah selesai berkutat di dapur, dan menyajikan masakkanku di meja makan, aku pun memilih untuk menyiram tanaman di halaman belakang.
Saat sedang asyik menyiram tanaman, kemudian suara Arya terdengar, pria itu memanggil namaku.
"Ada apa?" Tanyaku setelah aku menghampiri dirinya yang sedang duduk di meja makan.
"Semalam siapa yang nganter gue pulang?" Tanya Arya yang menatap ke arahku.
"Rafi yang mengantar kamu pulang semalam." Jawabku yang sedang mencuci kedua tanganku.
__ADS_1
"Semalam apa aja yang udah terjadi? Gue gk inget sama sekali."
Aku menatap Arya lekat, benarkah dia tidak mengingat kejadian semalam? Dia bahkan tidak ingat bahwa semalam dia telah merengut mahkotaku? Ah aku lupa semalam dia berada dalam pengaruh alkohol.
Haruskah aku bilang apa yang terjadi antara aku dan dia semalam? Ah tidak, aku tidak mau mengatakan itu, mengingatnya saja membuat ketakutanku kembali muncul.
"Lo kenapa? Sakit? Kok keringetan gitu?"
"Eh? Ng...ngak Ini saya cuma kecapean." Jawabku agar tidak membuat Arya curiga.
"Beneran gua gk berbuat hal aneh semalem?" Tanya Arya lagi, aku menggelengkan kepalaku dan sepertinya Arya percaya.
"Dikit aja nasinya." Ujar Arya yang mengintrupsi ku, yang saat ini sedang menggambilkannya nasi dan lauk untuk dirinya.
"Gue gk suka sayur." Ucap Arya, aku pun tidak jadi menggambilkannya sayur tersebut.
Setelah menyiapkan nasi dan lauk pauk untuk Arya, aku pun berjalan ke tempat duduk ku yang tepat berhadapan dengan Arya.
"Jalan lo kok beda? Lo sakit?" Aku tersentak kaget mendengar ucapan Arya barusan.
"Eh? Nggak kok, aku jalan biasa aja." Jawabku, padahal memang benar aku sedang menahan sakit.
Lalu tak ada lagi percakapan di antara kami, kami masing-masing sibuk menyantap sarapan.
"Lo gk mau nganter gue ke depan?" Tanya Arya, aku tersentak kaget mendengar nya berbicara begitu.
Biasanya dia paling tidak mau di antar ke depan oleh ku, dia selalu menolaknya.
"Ayo anter gue ke depan." Ujar Arya, aku pun menurut saja, aku berjalan di belakangnya yang sedang berjalan susah payah dengan bantuan tongkatnya.
"Taksi online gue udah sampe." Aku menganggukkan kepalaku, namun Arya bukannya masuk ke dalam taksi tersebut dia masih berdiri di sampingku.
"Kenapa gk masuk?" Tanyaku pada Arya yang masih berdiri.
"Masa lo gk salim dulu sama suami loh sih?"
"Hah? Emang boleh?" Tanyaku, Arya terlihat mendengus mendengarnya.
Padahal biasanya saja dia paling anti saat aku ingin menyalimi tangannya sebelum berangkat ke kantor.
"Ya boleh lah, kan udah gue bilang sesuai kesepakatan kita kan?"
Ah ternyata lagi-lagi tentang kesepakatan itu, kesepakatan bersikap normal seperti sepasang suami istri yang lainnya.
Akhirnya aku menurut, dan menyalimi tangan Arya.
"Hati-hati di jalan." Ujarku pada Arya, setelah ia masuk ke dalam taksi tersebut.
Arya menurunkan kaca mobilnya.
"Makasih." Ujarnya sambil memberikan senyuman, senyuman yang jarang ia tampilkan padaku sejak awal kami menikah.
Sampai mobil Arya berlalu pergi, aku masih terpaku di tempat.
Aku meraba dadaku, jantungku terasa berdetak begitu kencang, lagi-lagi aku mengalami hal semacam ini.
__ADS_1
Ya ampun jantungku kenapa cuma di senyumin sama Arya jadi lemah begini? Ish aku gk tau tapi rasanya aneh.