Without You

Without You
[S2] Prolog


__ADS_3

Langit kembali menampakkan mendungnya, pertanda hujan akan turun sebentar lagi.


Sebagian orang berbondong-bondong untuk mencari tempat berlindung, dan sebagian lagi memilih untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Namun lain halnya dengan seorang pria yang masih terpaku di tempat, seraya menatap gundukkan tanah di depannya.


Tatapannya kosong, namun tak bisa menampik terdapat banyak kesedihan di dalam manik matanya itu.


Pria itu menghela nafasnya, bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat sulit, dadanya terasa sesak karna menanggung semua luka yang harus ia derita.


Jdarrrr


Suara petir mulai terdengar memekakkan telinga, dan di iringi tetesan air yang sedikit demi sedikit mulai membasahi jalanan dan pepohonan di sekitarnya.


Namun sepertinya hujan tak membuat pria itu merubah posisinya.


Di bawah rinai hujan pria itu masih tetap di tempatnya semula.


Terpaku menatap nanar batu nisan yang bertuliskan nama orang yang begitu ia sayangi, yang sudah pergi mendahului dirinya.


Air mata mulai berlinang membasahi pipinya, bersamaan dengan tetesan air hujan yang jatuh menimpah tubuhnya yang kini sudah bermandikan air hujan.


Perlahan tubuh pria itu meluruh ke tanah.


Tangannya terulur meraba batu nisan yang bertuliskan nama seseorang yang akan selalu terkenang di dalam relung hatinya.


Vidya alfiatus Zahra


Nama yang sangat indah, yang membuat tangisan pria itu kembali luruh.


"Aku merindukan mu ... sangat merindukan dirimu," bisik pria itu lirih dengan diiringi tangisannya yang mampu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


Pria itu tau keadaannya kini sudah berubah.


Kekasih hatinya sudah pergi sangat jauh, dan ia tidak akan pernah bisa melihatnya lagi mulai sekarang.


"Vidya, kamu tau? Semua orang bilang aku harus mengikhlaskanmu, tapi mereka tidak tau Vidya. Bagiku mengikhlaskanmu tidaklah mudah." Pria itu mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Banyak kenangan yang sudah kita lalui bersama bagaimana bisa aku melupakanmu begitu cepat? Dan kenapa juga kamu pergi meninggalkanku? Bukan hanya aku tapi juga putri kita yang sangat membutuhkan dirimu." Ucap pria itu sambil kembali terisak membayangkan wajah putri kecilnya.


"Vidya ... bagiku menikahimu adalah sebuah anugerah dari Allah, pertemuan ku denganmu bukan tanpa alasan. Aku menyayangi mu Vidya, aku sangat menyayangimu."


Pria itu menyungingkan senyuman, senyuman yang ia gunakan untuk menutupi rasa sakit di hatinya.


Ia terluka, jelas sangat terluka. Kekasih hatinya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

__ADS_1


"Aku pulang dulu Vidya, besok aku akan datang lagi."


Setelah usapan terakhirnya di batu nisan, pria itu mulai bangkit pergi meninggalkan area pemakaman dengan membawa luka membiru di hatinya akibat kenangan masalalu.


Pria itu yang tak lain adalah Arya, yang harus rela di tinggal mati oleh pujaan hati untuk selama-lamanya.


Arya merasa bahwa ia tidak akan pernah sanggup hidup tanpa Vidya, namun bukankah hidup harus berlanjut? Ia tidak bisa harus larut dalam kesedihan, tapi nyatanya kehilangan seseorang yang begitu kita sayangi sangatlah menyakitkan.


................


Cklekk


"Darimana kamu nak? Kenapa basah kuyup begitu?" Tanya seorang wanita paruh baya yang panik melihat tubuh Arya yang sudah basah kuyup.


Wanita paruh baya itu pun kembali lagi sambil membawakan handuk untuk Arya.


"Terimakasih Umi." Ujar Arya yang menerima uluran handuk dari wanita paruh baya yang ia panggil dengan sebutan Umi.


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu mau seperti ini terus? Ikhlaskan Vidya nak, dia sudah tenang di sana. Umi tau kamu terluka, bahkan Umi juga sangat terluka dengan kepergian Vidya. Tapi Umi mencoba untuk mengikhlaskannya dan kamu juga harus mengikhlaskan Vidya."


Arya pun seketika menghentikan pergerakkan tangannya yang tadi sedang mengelap wajah.


Perkataan Umi membuat dirinya kembali teringat lagi pada sosok Vidya yang bahkan baru genap sebulan pergi meninggalkannya.


"Setidaknya fikirkan Reilla, dia juga butuh kamu. Dia butuh kamu Arya, sebagai Ayah nya."


Arya memejamkan matanya, dadanya kembali terasa sesak apalagi ketika ia mulai mendengar suara tangisan bayi yang mengema.


Umi pun langsung berlari masuk ke sebuah kamar dimana bayi itu berada, sementara Arya masih tetap diam di tempatnya.


Ia akhinya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, dan memilih melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga satu persatu daripada menghampiri putrinya yang saat ini sedang menangis kencang.


Brakkk


Arya menutup pintu kamarnya dengan kencang.


Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, matannya terpejam namun nafasnya tak beraturan.


"Aku belum bisa Vidya ... aku belum bisa bertemu dengan putri kita. Karna dia selalu mengingatkanku padamu," lirih Arya dan cairan bening kembali mengalir dari pelupuk matanya.


Rasanya sangat sesak, separuh jiwanya sudah hilang. Meninggalkan kehampaan yang menyakitkan di relung hatinya.


Arya bahkan sempat berfikir untuk menyusul Vidya, ia merasa ia tidak akan sanggup hidup tanpa sosok Vidya di sisinya.


Namun sekali lagi ada sesuatu yang harus menahan Arya untuk tetap di dunia ini.

__ADS_1


Arya harus bertahan jika bukan untuk dirinya, itu untuk putri kecilnya Reilla yang masih sangat membutuhkan sosok Arya di sisinya.


Arya kembali memejamkan mata, mencoba mengatur deru nafasnya yang terasa sesak.


Perlahan mata Arya mulai kembali terbuka.


"Vidya ..." lirih Arya ketika ia melihat sosok Vidya duduk di sudut ranjangnya.


"Vidya .... ini kamu kan? Aku sungguh merindukanmu Vidya," ucap Arya begitu lirih dan sangat menyayat hati bahkan ia mengganti ucapan gue-lo menunggunakan aku-kamu.


"Arya jangan pernah membenci Reilla, dia putri kita. Teruslah bertahan, ada atau tanpa diriku di sisimu. Ada Reilla yang akan selalu menemanimu, yang akan selalu menghiburmu. Aku titip Reila ya, jaga dan besarkan dia dengan baik, aku menyayangi kalian berdua."


Arya menganggukkan kepalanya, ia kemudian hendak mendekat ke arah Vidya namun seketika sosok Vidya pun menghilang.


Arya kembali meneteskan airmatanya merasa sangat panik, ia mengidarkan pandangan ke seluruh kamar sambil meneriaki nama Vidya namun sosok Vidya tidak juga ia temukan.


Arya kembali menghela nafasnya, dan mengusap wajahnya kasar.


"Vidya ... maafkan aku, maafkan aku karna sudah melupakan tugasku sebagai seorang Ayah. Aku terlalu larut dalam kesedihan karna kepergian dirimu, aku pasti akan menjaga Reilla dan menyayanginya seperti yang kamu pinta. Aku akan merawat dan membesarkannya, itu pasti."


Ucap Arya yang mulai bertekad untuk merawat dan menerima putrinya dengan lapang dada.


Perlahan namun pasti, semua yang bernyawa pasti akan pergi, begitupun dengan dirinya yang kelak suatu saat juga pasti akan pergi meninggalkan dunia yang fana ini.


Arya tau ia harus belajar keras, belajar untuk mencoba mengikhlaskan kepergian Vidya. Karna setiap perasaan cinta kadang tak selalu berakhir dengan memiliki dan terkadang tak selalu berakhir bahagia.


Arya tau kini hidupnya harus terus berlanjur, ada atau tidaknya Vidya, Arya harus tetap bertahan, demi putri kecilnua Reilla.


Arya menyungingkan senyumannya, ia lalu menghapus air matanya.


Di dalam hati ia bertekad akan mulai menerima Reilla, ia juga pasti akan merawat dan membesarkan Reilla dengan sangat baik sesuai dengan permintaan Vidya padanya.


Karna bagaimanapun di sini bukan hanya Arya yang paling terluka, namun di sini yang paling merasakan kehilangan Vidya adalah, Reilla. Arya sudah pernah bersama dengan Vidya, tapi Reilla? Bahkan ketika ia lahir kedunia ini Vidya sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Astagfiruallahaladzim," ucap Arya beristigfar dan menyesali segala perbuatan yang pernah ia lakukan dulu.


Ia telah salah, ia harusnya menyayangi Reilla dengan sepenuh hati, karna Reilla adalah harta berharga yang Vidya tinggalkan untuk ia rawat dan ia jaga dengan sepenuh hati.


Arya mulai menyungingkan senyumannya, ia akan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Lembaran yang akan ia isi dengan cerita hidupnya bersama dengan putri kecilnya. Hanya ada dirinya dan juga Reilla.


**Assalamu'alaikum semuanya😊 selamat datang di kehidupan baru Arya tanpa Vidya:") jangan lupa vote dan komennya see you next part😊


[FV/V]


💙**

__ADS_1


__ADS_2