Without You

Without You
Akhir dari Kisah ( Ending Without You)


__ADS_3

7 bulan kemudian ....


Hari bahkan minggu sudah di lewati oleh Arya dan Vidya, keduanya di liputi rasa bahagia karna kini kandungan Vidya sudah memasuki usia 7 bulan. Vidya merasa senang, selama masa kehamilannya ia selalu di temani oleh suami dan juga putrinya.


Seperti saat ini Vidya sedang melakukan piknik bersama dengan suami dan putri sulungnya, Vidya tertawa bahagia melihat Reilla dan Arya yang sedang saling bercanda serta berceloteh ria.


Namun senyuman Vidya berubah menjadi sendu, kala ia kembali teringat akan sosok putranya yang sudah tiada. Putra kecilnya yang manis, siapa lagi kalau bukan Gama.


Rasa kehilangan tentu saja masih Vidya rasakan, karna bagaimanapun ia adalah Ibu dari Gama. Ia yang sudah mengandung dan merawat Gama sejak ia lahir ke dunia ini, ketika Gama pergi rasanya separuh jiwa nya juga ikut merasa pergi bersama dengan Gama. Air mata Vidya menetes di pelupuk matanya, namun ia segera menghapusnya dan kembali menyungingkan senyuman manisnya saat Reilla memanggil dirinya.


"Ummah kenapa?" Tanya Reilla yang sadar kalau Ummahnya terlihat sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Vidya gelagapan, namun ia segera menghapus air matanya dan kembali tersenyum serta mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Vidya kembali tertawa melihat tingkah Reilla, putri sulungnya itu adalah sosok anak yang pemberani, cerdas, dan tegas jika pada orang lain namun jika sedang bersama dengan keluarganya Reilla akan berubah menjadi sosok yang lembut dan cenderung manja terlebih lagi pada Vidya.


Seperti sekarang ini, Reilla sudah merebahkan kepalanya di pangkuan Vidya. Vidya tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut rambut Reilla dengan penuh kasih sayang serta mendaratkan kecupan di dahi Reilla.


"Ummah jangan sedih-sedih lagi ya," kata Reilla sambil mengecup punggung tangan Vidya dengan sayang.


"Iya sayang," jawab Vidya di sertai senyumannya. Tangannya masih terulur membelai lembut puncak kepala Reilla.


"Rei, gk sabar pengen liat adik bayi," kata Reilla sambil menatap wajah Ummahnya.


Vidya tersenyum, bukan hanya Reilla ia dan Arya pun juga sangat menantikan kelahiran adik bayi yang kini masih ada di dalam kandungannya. Vidya tak pernah menyangka jika Allah akan memberikan kebahagiaan yang begitu besar untuknya dengan mendatangkan hal yang tak terduga dan tentu saja patut di syukuri.


"Aksa udah bangun belum ya?" Tanya Arya yang menyita perhatian Reilla dan Vidya.


"Aku kurang tau deh Mas, tadi sih belum tapi gk tau sekarang," jawab Vidya sambil mengedikkan bahunya pertanda bahwa ia tidak tau.


Arya menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.


"Rei, coba kamu lihat dulu Aksa sudah bangun atau belum," ujar Arya membuat Reilla membulatkan matanya.


"Kenapa Rei? Ada masalah?" Tanya Vidya yang menyadari perubahan raut wajah putrinya.


Reilla langsung mengeleng dan memasang senyumannya, ia lalu bangkit melaksanakan perintah yang di berikan oleh Arya padanya yaitu melihat apakah Aksara saat ini sudah bangun atau belum.

__ADS_1


"Duh gimana ya, ketuk gk ya pintunya," gumam Reilla yang bimbang ingin mengetuk pintu kamar Aksara atau tidak. Reilla merasa gugup, entah mengapa ia jadi merasa deg-degan sendiri.


"Ehem, ngapain?"


Reilla berjengit kaget, ia baru saja ingin mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Aksara tapi pria itu tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Reilla dengan wajah datar dan tampang tak bersalahnya padahal dia sudah membuat Reilla kaget bukan main.


"Lo ngapain?" Tanya Aksara sambil menaikkan satu alisnya.


Reilla berdehem sejenak menetralkan rasa gugup dan keterkejutnya.


"Itu ... anu tadi saya mau ... ehem ... itu anu ...."


Aksara menatap bingung Reilla, gadis itu terlihat aneh pagi ini. Ia bicara sambil mengusap-usap belakang lehernya, dan mengigit bibir bawahnya yang memang sebenarnya sudah menjadi kebiasaan Reilla sejak kecil yang susah ia ubah tiap kali ia merasa panik dan tertekan pasti selalu saja mengigit bibir bawahnya.


"Jangan di gigit bibirnya," kata Aksara sambil berdecak dan wajahnya juga sudah terlihat memerah.


"Kenapa Kak?" Tanya Reilla dengan tampang polosnya.


Aksara berdecak lagi, ia merasa gemas dengan Reilla yang malah mengerjap-ngerjapkan mata nya. Kalau begitu kan Aksara jadi pengen cubit pipinya Reilla.


"Lo mau ngomong apa sih?!" Tanya Aksara dengan suaranya yang tidak sengaja meninggi membuat Reilla kembali berjengit kaget.


"Ehem, iya gk apa-apa kok," kata Reilla lagi sambil menyungingkan senyumannya.


"Ngapain lo di sini?" Tanya Aksara lagi membuat senyuman Reilla luntur berganti dengan raut wajah yang tegang serta gugup lagi.


"Anu ... tadi Ummah sama Ayah nyuruh saya buat bangunin Kak Aksa, mau ngajakin sarapan bareng," jelas Reilla yang sudah bisa mengendalikan kegugupannya.


"Sarapan bareng?" Tanya Aksara yang mengulangi sedikit ucapan Reilla.


"Iya, Kakak mau ikut kan?" Tanya Reilla lagi, Aksara terlihat berfikir sejenak namun pada akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya.


"Ayo Kak, kita sarapannya di taman belakang. Sudah di tunggu sama Ummah dan Ayahnya Rei," kata Reilla lagi dan lagi-lagi Aksara hanya menganggukkan kepala.


Tanpa berucap apapun lagi Aksara melangkahkan kakinya mengikuti langkah Reilla yang berjalan lebih dulu di depannya, gadis itu terlihat begitu mungil. Tinggi Reilla bahkan tak sebanding dengan tinggi Aksara, Reilla hanya setinggi dadanya saja, membuat Aksara diam-diam menyungingkan senyuman.

__ADS_1


"Nah ini dia sudah bangun ternyata," kata Arya yang pertama kali menyadari kehadiran Aksara dan Reilla.


"Sini nak, sarapan dulu," ajak Vidya ramah dan menyuruh Aksara untuk bergabung bersama mereka.


Aksara mengangguk, dan mengulas senyuman tipis. Ia menggambil tempat duduk di samping Arya, Arya tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Aksara begitu akrabnya.


"Aksa mau sarapan sama apa?" Tanya Vidya yang sudah siap ingin menggambilkan menu sarapan untuk Aksara.


"Aksa mau roti bakar aja Tan," kata Aksara lagi dan di balas anggukkan oleh Vidya.


"Gimana sa kuliahnya?" Tanya Arya yang mulai mengajak Aksara berbincang.


"Lancar Om," jawab Aksara singkat. Vidya diam-diam tersenyum dan menahan tawa melihat perubahan wajah Arya yang tadinya tersenyum sekarang jadi tersenyum masam setelah mendengar jawaban Aksara yang begitu singkat, padat, dan jelas.


"Lagi sibuk apa nih di kampus?" Tanya Arya lagi yang ternyata tak kapok mengajak ngobrol Aksara walaupun tadi di balas singkat oleh pemuda berwajah bule itu.


"Sibuk nugas Om," jawab Aksara dan tentunya secara singkat juga. Arya akhirnya hanya bisa memasang senyuman masam dan menganggukkan kepalanya, benar kata Siren ternyata putranya itu seperti es batu berjalan. Terlalu dingin dan irit sekali dalam bicara.


"Nih sa, roti bakarnya," kata Vidya sambil menyerahkan roti bakar yang sudah ia olesi selai coklat kesukaan Aksara.


"Makasih Tan," balas Aksara lalu mulai menyantap sarapannya dan begitu juga dengan yang lainnya yang mulai menikmati sarapan mereka bersama.


Vidya tersenyum, dalam hati ia tetap merasa bersyukur karna di berikan kesempatan untuk merasakan kehangatan bersama orang-orang yang begitu ia sayangi dan cintai yaitu keluarganya, dan jangan lupakan juga Aksara yang hari ini dan seminggu ke depan akan ada di rumah Vidya.


Vidya diam-diam, melirik ke arah Reilla. Putrinya itu sedaritadi diam saja semenjak Aksara datang, padahal sebelumnya anak gadisnya itu selalu saja berceloteh dan paling berisik tentunya tapi entah kenapa tiba-tiba anak gadisnya itu jadi pendiam dan kalem seperti ini, ada apakah gerangan?


Tatapan Vidya diam-diam terus melihat ke arah putrinya, lalu senyuman terbit di bibir Vidya saat ia melihat Reilla yang diam-diam mencuri pandang ke arah Aksara dengan wajah yang sudah semerah tomat. Vidya berusaha menahan tawanya, dan menahan diri untuk tidak meledek putrinya itu. Padahal meledek Reilla kadang adalah hal yang Vidya sukai, karna ekspresi Reilla saat ngambek terlihat begitu mengemaskan.


Vidya lagi-lagi mengucapkan rasa syukur pada Allah yang sudah memberikan segala nikmat pada dirinya, walaupun Gama tidaka ada bersamanya dan juga keluarganya saat ini tapi Vidya tau sesuatu yang hilang akan di gantikan dengan sesuatu yang baru bahkan tak pernah terduga. Di balik kesulitan ada kemudahan, ya Vidya akui itu benar adanya.


Buktinya setelah Gama tiada, Allah mengirimkan titipan lagi untu dirinya dan juga Arya yaitu bayi yang ada di perutnya saat ini. Vidya tersenyum sambil meraba perutnya, takdir Allah memang luar biasa dan tidak pernah tertebak oleh nalarnya.


Vidya merasa bersyukur masih di berikan kesempatan untuk hidup, di berikan kesehatan, dan juga umur yang panjang sampai detik ini.


Vidya menatap Arya sambil tersenyum penuh haru, tak menyangka pria yang dulu menyebalkan justru kini adalah pria yang paling ia cintai. Ketika mengingat masalalu, kadang terasa lucu saat ini. Vidya tak pernah bisa menyangka jika takdir cinta nya akan berlabuh pada Arya, kisah cinta nya yang rumit akhirnya dapat terselesaikan dan semoga saja berakhir dengan bahagia.

__ADS_1


Vidya menatap langit pagi yang cerah, ia tersenyum saat kembali mengingat Gama yang sudah pergi mendahului dirinya. Putra kecil nya itu, apa kabar dia di sana? Apakah dia tidak tau kalau Ummahnya begitu merindukan dia? Vidya tersenyum semakin lebar, dalam hati ia berdoa agar kelak bisa bertemu dan di persatukan lagi dengan Gama dan keluarganya bisa bersama dan berkumpul kembali.


Takdir cinta ini adalah perjalanan yang panjang, yang masih akan terus berlanjut dan satu harapan Vidya semoga keluarganya selalu di berkahi dan di lindungi oleh Allah dan tetap akan selalu bahagia serta di penuhi rasa syukur. Ini adalah perjalanan cinta Vidya dan Arya, yang penuh lika-liku dan perjuangan yang cukup menguras air mata. Kisah cinta dua insan yang di pertemukan dan di pisahkan serta di persatukan kembali dalam mahabbah cinta.


__ADS_2