Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

"Naya!" Panggil Rayn ketika melihat sosok Naya yang sedang menangis dan dikelilingi oleh tiga orang pria sementara seorang pria lagi sedang duduk memantau di sudut ruangan.


"Rayn!" Seru Naya yang begitu lega melihat kedatangan Rayn, Rayn langsung menyingkirkan tiga orang pria yang mengelilingi Naya agar ia bisa sampai pada Naya.


"Rayn ....hiks akhirnya kamu datang," kata Naya lirih sambil menangis dalam pelukkan Rayn. Rayn mengusap lembut punggung Naya yang bergetar hebat karna menangis terisak.


"Paman, apa yang Paman lakuin ke Naya? Dia kan putri Paman sendiri, kenapa Paman tega membiarkan Naya yang hampir di perkosa oleh orang-orang ini?!" Tanya Rayn menatap tajam pria paruh baya yang duduk di sudut ruangan tadi, pria paruh baya yang merupakan Ayah dari Naya itu pun hanya diam sambil menyesap rokok di tangannya lalu membuang asapnya dari mulut dengan begitu santainya.


"Sudah selesai bicaranya? Bagi gue uang lebih penting daripada anak sialan itu," jawab Ayah Naya membuat Rayn terbelalak mendengarnya.


Sungguh Ayah yang sangat jahat, begitu tega menyiksa putrinya sendiri hanya demi uang dan Rayn sudah tahu itu pasti karna suruhan Mamahnya untuk mencelakakan Naya, ia tak bisa tinggal diam kalau seperti ini terus Naya akan selalu ada dalam bahaya.


"Ayo kita cabut," perintah Ayah Naya kepada ketiga anak buahnya. Rayn hendak ikut beranjak dengan niatan ingin memberikan pelajaran pada mereka yang telah berani membuat Nayanya menangis ketakutan seperti ini.


"Rayn ... jangan pergi lagi," pinta Naya sambil menahan tangan Rayn agar tidak pergi meninggalkan dirinya lagi.


Rayn menurut, lalu menatap Naya di hadapannya yang saat ini begitu kacau, bahkan baju Naya sampai robek di bagian tangannya mengekspos kulit putih bersihnya itu.


Belum lagi di wajah gadis itu tepatnya di pipi bagian sebelah kiri Naya yang terlihat memerah dan nampak jelas ada bekas telapak tangan di sana bukan hanya itu di sudut bibir Naya juga berdarah bahkan Rayn baru menyadarinya.


Dengan tatapan yang menyiratkan kekhawatiran dan kesedihan, Rayn mengerakkan tangannya mengusap lembut sudut bibir Naya yang berdarah-darah.


"Apa masih sakit?" Tanya Rayn dengan suara lembut membuat hati Naya menghangat.


"Gk lagi, karna kamu sudah ada di sini," jawab Nay lalu kembali memeluk Rayn dan Rayn juga membalas pelukkan Naya dengan erat.


Naya begitu mencintai Rayn, bahkan sangat. Pria itu sudah bagaikan pahlawan untuknya yang selalu ada kala ia membutuhkannya, Naya tak ingin kehilangan Rayn, Naya akan terus meminta Rayn untuk tetap di sisinya sampai kapanpun karna Rayn hanya ditakdirkan untuk dirinya.


"Rayn ..." panggil Naya lirih sambil melapas pelukkannya.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada yang terasa sakit lagi?" Tanya Rayn khawatir sambil menatap kebagian wajah Naya yang lain.


Naya tersenyum melihat perhatian Rayn padanya, pria itu terlihat jelas sangat mencemaskannya.


"Nggak, aku baik-baik aja kok."


"Terus? Apa ada yang mau kamu bicarakan? Hmm?" Tanya Rayn sambil membelai lembut pipi Naya kemudian jari-jarinya bergerak merapihkan rambut Naya yang acak acakkan.


"Rayn, berjanjilah kamu akan segera bawa aku pergi dari tempat ini. Aku ... aku sangat takut, aku takut mereka akan ... hiks menyakiti aku lagi Rayn. Rasanya aku hampir gila jika begini terus," kata Naya sambil menangis tergugu. Rayn pun kembali membawa Naya dalam dekapannya berusaha menenangkan gadis itu yang terlihat begitu jelas ketakutan dimatanya itu.


"Rayn kamu janji kan bakalan bawa aku keluar dari tempat ini secepatnya?" Tanya Naya memastikan bahwa Rayn memang akan membebaskannya dari tempat terkutuk ini.


Rayn diam sejenak, teringat kembali akan syarat yang Mamahnya berikan. Jika ia ingin membawa Naya keluar itu artinya ia harus menghamili Keira lebih dulu dan itu ... apakah akan lebih baik nantinya? Mengingat Keira juga masih sangat muda untuk menjadi seorang Ibu terlebih lagi gadis itu pasti tak akan mau berhubungan dengannya.


"Rayn! Kok bengong sih?"


Rayn tersentak agak gelagapan, namun kemudian ia tersenyum lagi dan mengecup singkat puncak kepala Naya.


Mata Naya berbinar senang, ia mengangguk lalu memeluk Rayn erat, ia tahu bahwa Rayn pasti akan menyelamatkannya.


Namun di lain sisi ada Rayn yang sedang berfikir bagaimana caranya agar ia bisa membawa Naya dari tempat ini tanpa harus menghamili Keira. Entahlah sepertinya Rayn harus segera mencari caranya.


...


Malam harinya Rayn baru bisa sampai di rumah, karna hampir seharian ia menemani Naya dan mendengarkan segala impian gadis itu, yang sangat sederhana yaitu ingin hidup bersama dengannya.


Langkah kaki Rayn terhenti saat melihat sosok Keira yang tertidur di sofa ruang tamu, gadis itu nampak pulas sekali.


Rayn jadi agak sedikit merasa bersalah karna sudah membentak gadis itu tadi, Rayn berjalan ke arah Keira yang masih tertidur.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar kamu dapat pergi dari hidup saya? Semenjak kamu datang dalam hidup saya, hidup saya yang sudah kelam bertambah kelam," ucap Rayn yang berbicara di depan Keira yang masih tertidur pulas.


"Tapi kamu adalah satu-satunya syarat agar saya bisa bersama Naya," lanjut Rayn lagi setelahnya ia beranjak menuju kamar tanpa berminat membangukan Keira yang sebenarnya tertidur pulas karna kelelahan menunggu Rayn pulang, tapi Rayn tidak tahu itu ia memilih untuk tidak membangunkan Keira.


Rayn lelah, lelah memikirkan segala beban hidup yang silih berganti datang menghampiri kehidupannya, ia butuh istirahat juga malam ini.


.......


Keira terbangun dari tidurnya saat adzan subuh berbunyi, gadis itu menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Rayn.


"Dia belum pulang juga ya?" Tanya Keira pada dirinya, ia menghela nafas pelan ternyata Rayn belum juga pulang ke rumah.


Keira pun bangkit dari duduknya berjalan ke kamar mandi untuk menggambil wudhu untuk menunaikkan salat subuh.


Setelah selesai salat dan berdoa Keira bangkit dan berjalan menuju kamar sebelahnya saat mendengar suara tangisan Hana.


Namun saat ia baru keluar dari kamar Keira mendapati sosok Rayn yang baru turun dari lantai atas.


Keira pun lebih dulu menghampiri Rayn yang baru saja turun.


"Pulang jam berapa semalam?" Tanya Keira menatap Rayn.


Rayn hanya melirik Keira sekilas lalu berjalan melewati gadis itu begitu saja dan masuk ke dalam kamar Hana lalu membawa Hana ke dalam gendongannya.


Baru saja Rayn hendak keluar dari kamar hendak membawa Hana ke luar, Keira lebih dulu menarik tangan Rayn membuat langkah Rayn terhenti.


"Kenapa gk jawab pertanyaan gue?" Tanya Keira yang sudah gemas pengen jitak kepala Rayn karna tak kunjung menjawab pertanyaannya namun Keira baru ingat jika ia menjitak kepala suami nanti bisa-bisa dia di cap sebagai istri durhaka jadi ia urungkan saja, cari aman.


"Apa pentingnya buat saya?" Tanya Rayn lagi lalu menepis tangan Keira dan berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Keira terperangah melihat sikap Rayn yang berbeda lalu  kemudian gadis itu menghentak-hentakkan kakinya, hal yang biasa ia lakukan saat sedang kesal.


"Untung dia suami gue kalau gk udah gue tinju tuh muka gantengnya ... huftt ... untung aja," ucap Keira lalu ikut keluar dari kamar. Ini tak bisa dibiarkan Keira harus membuat Rayn tak mencuekinya lagi.


__ADS_2