
Seperti janji Rayn sebelumnya yang ingin mengajak jalan-jalan, kini mereka bertiga sudah sampai di sebuah wahana bermain.
Keira tak berhenti-hentinya tersenyum melihat kesekelilingnya, rasanya seperti sudah lama tak mendatangi taman bermain ini semenjak ia menikah, Rayn juga tentu saja ikut bahagia melihat Keira dan Hana bahagia.
"Mau naik wahana apa?" Tanya Rayn pada Keira yang masih antusias menatap sekitarnya.
"Gue mau naik-" namun perkataan Keira terhenti saat dia ingat bahwa ia harus menjaga Hana juga.
"Gk jadi deh, gue harus jagain Hana," kata Keira mengurungkan niatnya yang sangat ingin sekali menaiki kora-kora.
"Pilih saja, biar saya yang menjaga Hana," kata Rayn membuat mata Keira beralih menatap pria disampingnya.
"Seriusan? Lo yang bakalan jagain Hana?" Tanya Keira dan dibalas anggukkan kepala oleh Rayn.
Keira tersenyum lebar, ia begitu bahagia sekali. Lalu setelah menjelaskan apa saja kebutuhan Hana pada Rayn, Keira pamit untuk menaiki kora-kora.
Rayn tersenyum melihat Keira yang sangat bahagia hari ini, ia memang sengaja mengajak Keira dan Hana jalan-jalan hari ini sebelum ia berangkat ke Rusia.
Rayn mendorong stroller bayi Hana untuk mencari tempat duduk dan tempat yang pas agar ia bisa menjaga Hana.
"Eh liat deh Mas-mas itu, ganteng banget deh!"
"Iya bener! Eh tapi dia udah punya anak, tuh liat tuh anaknya."
Rayn yang mendengar percakapan antara dua orang remaja itu pun hanya diam saja fokus pada Hana.
"Ah palingan juga dia duren, duda keren," sahut teman si Remaja itu, kita sebut saja dia Mawar dan Melati.
"Mana ada dia duda? Orang muda banget gitu," sahut Melati menolak opini Mawar.
"Atau mungkin itu adik sepupunya? Eh atau keponakkannya ya?" Tanya si Mawar lagi yang sudah hanyut pada sesi gibah.
"Gue yakin sih itu keponakannya sih fix, masih muda gitu masa udah jadi duda, mana ganteng lagi. Istrinya aja yang gk bersyukur dapet suami ganteng gitu," ucap Melati menimpali lagi.
Lalu keduanya diam, tapi kemudian ada sebuah suara lain yang menimpali namun Mawar dah Melati belum sadar.
"Bisa jadi dia duda kok," ucap suara tersebut.
"Sok tau dih mana ada duda," kata Melati menyangkal.
"Iya bener sok tau," ucap Mawar membenarkan perkataan Melati.
Namun kemudian keduanya terdiam dam baru sadar kalau barusan ada suara orang lain selain mereka, lalu keduanya menoleh dan menemukan sosok perempuan yang baru saja berbicara tadi.
__ADS_1
"Eh? Siapa?" Tanya Mawar dan Melati secara bersamaan.
Perempuan itu hanya tersenyum lalu berjalan begitu saja melewati keduanya dan menghampiri Rayn serta Hana.
"Halo sayang, maaf ya aku lama. Mas udah nungguin daritadi ya? Aduh Hana maaf ya nak Mamah lama," kata perempuan itu yang tak lain adalah Keira.
Rayn yang bingung kenapa Keira berkata seperti itu hanya bisa menerka apakah Keira baik-baik saja? Ataukah kepalanya tadi terbentur saat naik kora-kora?
Keira melirik ke arah Mawar dan Melati yang memang sedang memperhatikan dirinya.
"Ternyata bukan duda, dia udah punya istri," kata Mawar dan Melati hanya bisa mengangguk lesu lalu setelahnya kedua remaja itu pergi begitu saja membuat Keira tertawa puas sudah membuat keduanya terkena mental breakdance.
"Kamu sakit?" Tanya Rayn membuat Keira yang tadi sedang tertawa seketika jadi terdiam.
"Kenapa emangnya?" Tanya Keira bingung.
"Kamu aneh," jawab Rayn membuat Keira kembali terkekeh mendengarnya.
"Kepala kamu gk kebentur kora-kora kan?" Tanya Rayn lagi.
"Hah?" Keira bingung lalu kemudian Rayn dan Keira sama-sama tertawa entahlah apa yang mereka tertawakan.
[]
Keira, Rayn, dan Hana menghabiskan waktu mereka hingga siang hari menjelan. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia.
"Tidak usah-"
"Gk apa-apa ayo pak!" Seru Keira senang lalu segera menarik Rayn untuk ikut foto bersama.
"Siap ya 1 ... 2 ... 3..."
Ckrek!
[]
"Akhirnya sampe rumah juga," kata Keira yang sudah rebahan di sofa sementara Hana terlihat sudah tidur nyenyak karna mungkin kelelahan kebetulan mereka pulang sudah malam.
"Keira," panggil Rayn pada Keira yang lagi rebahan sambil menatap hasil foto yang diambil saat di taman bermain tadi.
"Keira," panggil Rayn lagi lalu duduk di sebelah Keira.
"Hmm?" Keira hanya berdehem tanpa menolehkan kepalanya kepada Rayn.
__ADS_1
"Saya mau bicara sebentar," kata Rayn membuat Keira akhirnya mengalihkan tatapannya pada Rayn.
"Apa?" Tanya Keira yang sudah merubah posisinya menjadi duduk.
"Besok saya akan pergi," kata Rayn mengawali pembicaraan.
"Pergi? Lo mau pergi ke mana?" Tanya Keira bingung.
"Sebentar, biar saya jelaskan dulu. Besok saya akan pergi ke Rusia untuk melaksanakan tugas," jelas Rayn.
Keira diam sejenak kemudian menatap ke arah Rayn masih dengan tanpa sepatah katapun.
"Sebenarnya lo kerja apa sih kalau gue boleh tau?" Tanya Keira yang sudah Rayn duga akan menanyakan hal itu suatu hari nanti dan benar saja Keira menanyakannya pada hari ini.
"Suatu saat nanti saya akan beritahu kamu tapi tidak sekarang," kata Rayn lagi membuat Keira bingung namun ia hanya mengangguk saja mengiyakan ucapan Rayn.
"Berapa lama lo di Rusia?" Tanya Keira.
"Satu tahun."
"Hah?! Satu tahun? Kok lama?!" Tanya Keira bahkan refleks agak berteriak.
"Iya, saya harap kamu dan Hana disini baik-baik saja sampai saya kembali lagi."
"Gue akan jaga diri dengan baik kok, dan juga akan selalu menjaga Hana dengan baik. Lo gk usah khawatir, lo juga jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa makan tiga kali sehari, jangan lupa juga jaga kesehatan," kata Keira yang justru memberi wejangan banyak pada Rayn.
"Iya pasti, saya akan selalu memberi kabar pada kamu dan Hana," kata Rayn lagi.
"Iya gue juga akan selalu ngasih kabar tentang perkembangan Hana ke lo."
Rayn tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan manik mata yang masih menatap lekat wajah Keira. Tidak ada yang bicara diantara keduanya baik Rayn maupun Keira, keduanya hanya saling bungkam dan saling tatap.
"Pulanglah dengan selamat," ujar Keira lirih dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.
"Boleh saya peluk kamu?" Tanya Rayn tiba-tiba membuat Keira terkejut mendengarnya namun entah angin dari mana Keira menganggukkan kepalanya, memperbolehkan Rayn memeluknya.
Sudah diberi lampu hijau oleh Keira, tentu saja Rayn langsung memeluk tubuh Keira erat dan menengelamkan wajahnya dalam pelukkan Keira.
Wangi vanila yang menenangkan tercium memasuki rongga hidung Rayn, wangi khas Keira ini akan selalu ia kenang dan bahkan ia ingat ketika sedang merindukan Keira.
Cukup lama Keira dan Rayn saling berpelukkan sampai akhirnya Rayn sendirilah yang mengurai pelukkan mereka berdua.
"Istirahatlah kamu pasti lelah," ucap Rayn lalu setelahnya pergi begitu saja menaikki anak tangga menuju ke kamarnya meninggalkan Keira yang masih diam di tempat memandangi punggung Rayn sampai hilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Kok gue ngerasa gk rela ya Rayn ngelepas pelukkannya?" Tanya Keira pada dirinya sendiri, namun setelahnya Keira kembali tersadar.
"Kenapa sih Kei? Kenapa? Bisa-bisanya lo keenakkan di peluk Rayn! Eh tapi kan gk apa-apa? Lagi pula dia suami gue? Ish! Mikir apa sih Kei! Astagfiruallahaladzim fikiran gue keknya harus dinetralisir udah gk beres," gerutu Keira kemudian ia juga bangkit menuju ke kamarnya untuk beristirahat juga karna lelah setelah seharian berekreasi bersama Rayn dan Hana, hari yang melelahkan memang namun juga hari yang amat sangat menyenangkan dan mungkin nanti Keira akan merindukan hari ini lagi.