
Pagi-pagi sekali bahkan sebelum adzan subuh Keira sudah terbangun, karna harus melaksanakan salat malam ia juga harus membereskan persiapan Rayn yang hari ini akan pergi ke Rusia.
"Semua pakaian sudah aku masukkin ke dalam koper, kecuali ehem underware kamu," kata Keira dengan pipi yang memerah saat mengatakan hal itu.
Rayn menganggukkan kepalanya dan kembali diam memperhatikan wajah Keira yang masih memerah.
"Kamu sakit?" Tanya Rayn pada Keira membuat pergerakkan Keira memasukkan kaus kaki ke dalam koper jadi terhenti.
"Nggak, kenapa?"
"Pipi kamu merah," ucap Rayn membuat Keira gelagapan dan kembali menundukkan kepala berusaha terlihat sibuk kembali.
Rayn bangkit dari duduknya di pinggiran kasur, ia berjalan menghampiri Keira lalu pergerakkan Rayn selanjutnya bahkan diluar dugaan Keira.
Rayn memeluk leher Keira dari belakang, meneselipkan kepalanya di punggung Keira menbyat Keira membeku.
"Saya pasti akan merindukan Hana dan juga kamu tentunya," ucap Rayn lirih tepat di telinga Keira membuat bulu kuduk Keira meremang karna sebelumnya tak pernah ada pria yang sedekat ini dengannya kecuali Rayn.
"Jaga diri kamu baik-baik disini, saya janji akan segera pulang untuk menemuimu dan Hana kembali," ucap Rayn lagi masih dengan posisi memeluk Keira dari belakang.
Keira mengerakkan badannya membuat pelukkan Rayn terlepas, ia lalu berbalik menghadap ke arah Rayn. Di tatapnya wajah Rayn lekat, begitupun dengan Rayn yang menatap manik mata Keira dengan lekat.
Namun tak lama kemudian untuk saja Rayn kuat menahan tubuhnya karna mendapatkan serangan pelukkan tiba-tiba dari Keira yang kini sudah memeluknya erat.
"Harus, kamu harus balik lagi ke sini dengan selamat sentosa," ucap Keira yang menengelamkan wajahnya di dada bidang Rayn.
Rayn tersenyum, kali ini senyumannya sudah agak lebar dari biasanya ia membalas pelukkan hangat Keira dan memeluk gadisnya dengan erat.
"Apa kamu akan merindukan saya nanti Kei?" Tanya Rayn membuat Keira malu sendiri untuk menjawabnya.
Keira tak menyahut namun menganggukkan kepalanya saja, tapi Rayn yang ternyata iseng pun kembali mengulangi pertanyaannya pada Keira.
"Iya ih! Udah tau nanya terus kaya dora!" Ucap Keira sebal dan semakin menengelamkan kepalanya di dada bidang Rayn membuat Rayn terkekeh pelan kemudian tangannya tergerak mengusap kepala Keira yang dibalut oleh kerudung.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar..."
Suara adzan subuh mulai berkumandang, mengajak seluruh umat muslim untuk segera menunaikkan kewajibannya sebagai seorang hamba yaitu menunaikkan Salat.
"Sudah Adzan subuh," kata Keira yang masih di peluk oleh Rayn.
__ADS_1
"Iya saya tahu," balas Rayn masih bertahan di posisinya.
"Lepasin ih, aku mau ambil wudhu mau salat," ucap Keira yang mendorong dada Rayn agar ia bisa lepas dari pelukkan pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
Setelah bebas dari pelukkan Rayn, Keira langsung lari masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Rayn yang berdiam diri memandangi istrinya yang sedang malu-malu kucing.
Di dalam kamar mandi Keira berdiam diri sebentar, menetraliris sesuatu hal yang aneh yang terjadi pada dirinya saat ini. Ia merasa pipinya memanas, dan degupan jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya.
"Astagfiruallah Ya Allah, Keira beneran demam ya?" Tanya Keira yang tak peka pada perasaannya sendiri.
Setelah agak tenang, Keira kemudian mulai menggambil wudhu untuk melaksanakan salat subuh pagi ini.
Sudah selesai wudhu Keira berjalan keluar dari kamar mandi dengan perlahan dan berharap saat ia keluar nanti Rayn tak ada jadi dia bisa segera lari ke kamarnya untuk salat subuh.
"Astagfiruallahaladzim!" Pekik Keira kaget setelah ia membuka pintu kamar mandi, di depan pintu sudah ada sosok Rayn yang memang memiliki badan tinggi melebihi dirinya yang terbilang pendek kalau dibandingkan dengan Rayn.
"Ngagetin aja! Minggir aku mau ke kamarku mau salat subuh," kata Keira menyuruh Rayn untuk minggir dan jangan menghalangi jalannya.
Tapi Rayn masih diam, dari raut wajahnya Rayn seperti ingin mengatakan sesuatu. Keira yang bisa melihat hal itu pun akhirnya bertanya pada Rayn.
"Ada yang mau lo omongin?" Tanya Keira yang tak konsisten sebelumnya ia memanggil dengan sebutan 'aku-kamu" namun sekarang sudah kembali seperti sebelumnya yaitu 'gue-lo'.
"Mau kan?" Tanya Rayn menyadarkan Keira.
"Tentu, kalau gitu lo ambil wudhu dulu sana," kata Keira menyuruh Rayn untuk menggambil wudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat namun Rayn masih saja diam di hadapannya membuat Keira bingung.
"Kenapa masih diam disitu? Ayo ambil wudhu nanti kesiangan subuhnya," kata Keira pada Rayn yang masih diam.
"Saya gk tau cara wudhu," jawab Rayn membuat Keira terkejut namun sekaligus prihatin. Setau dirinya Rayn beragama Islam namun nyatanya untuk wudhu saja pun Rayn tidak tau, apakah selama ini tidak ada yang pernah mengajarinya perihal wudhu dan tata cara untuk beribadah kepada Allah? Jika begitu sungguh kasihan sekali Rayn, dan Keira tentu tak akan membiarkannya begitu saja.
Rayn yang melihat Keira terus menatapnya hanya bisa menundukkan kepala dengan telinga yang memerah karna malu.
"Oke gk apa-apa, biar gue yang ajarin lo cara wudhu," kata Keira lagi membuat Rayn kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum senang.
Kemudian Keira mulai mengajari Rayn bagaimana caranya wudhu dari mulai membasuh telapak tangan dan jari-jari tangan sebanyak tiga kali, hingga ke tahap terakhir membasuh kaki sebanyak tiga kali juga.
Keira bersyukur dan merasa bangga karna Rayn adalah orang yang cerdas, ia cepat sekali paham apa yang Keira ajarkan padanya.
Lalu setelah wudhu Keira menerangkan bagaimana tata cara salat, Rayn pun begitu antusias mendengarkannya dan begitu antusias saat Keira menyuruhnya untuk langsung mempraktekkannya.
__ADS_1
"Untuk sekarang lo hafalin dulu aja bacaan salatnya, gue mau salat subuh duluan takutnya waktu subuh keburu habis."
Rayn mengangguk kemudian ia dengan serius kembali menghafalkan bacaan salat, dengan berbekal buku panduab salat yang tadi diberikan oleh Keira padanya.
Setelah selesai Keira melaksanakan salat subuh, Keira kembali menghampiri Rayn dan menanyakan progresnya sudah sampai mana.
Keira dibuat takjub, ternyata Rayn sudah berhasil menghafal semua bacaan salat dari mulai niat sampai salam. Masyaa Allah memang benar-benar cerdas sekali.
"Saya boleh bawa buku ini juga?" Tanya Rayn izin kepada Keira untuk membawa buku panduan salat, tentu Keira mengangguk antusias dan memperbolehkan Rayn membawa buku panduan salat miliknya itu ke Rusia.
"Sebentar gue juga punya hadiah buat lo," kata Keira yang keluar dari kamar Rayn katanya ingin menggambil sesuatu untuk Rayn di kamarnya.
Tak berselang lama Keira kembali lagi, dengan kedua tangan di belakang seperti menyembunyikan sesuatu dan tatapan matanya yang sok misterius itu. Sementara Rayn menatap penasaran hadiah apa yang Keira maksudkan tadi.
"Taraa!" Seru Keira seraya menyodorkan sebuah Al-Qur'an kecil serta perlengkapan alat salat untuk pria.
Jangan tanya bagaimana Keira mendapatkannya, semua itu diberikan oleh Kakaknya yaitu Nata, sebagai hadiah pernikahannya dengan Rayn. Entahlah awalnya Keira merasa sebal dan aneh dengan hadiah dari Kakaknya itu karna Keira duga pasti Rayn juga sudah punya perlengkapan salatnya sendiri namun Alhamdulillahnya kini hadiah itu tidak mubazir dan semoga bisa berguna untuk Rayn nanti.
"Itu buat lo, semoga berguna ya buat lo selama di Rusia nanti. Walaupun lo pergi jauh sekali, tapi satu pesan gue jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk lo jauh dari Allah," ucap Keira seraya memberikan senyuman tulusnya.
Rayn tersenyum, kemudian menggambil hadiah pemberian Keira tersebut.
"Terimakasih banyak, kamu memang perempuan yang baik sekali," ucap Rayn pada Keira dan kemudian keduanya terdiam kembali saling berpandangan.
"Eh, ayo lanjut beres-beres. Bukannya jam setengah tujuh kita sudah harus sampe bandara?" Tanya Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Rayn.
Lalu kemudian keduanya kembali melanjutkan membereskan perlekapan untuk Rayn yang pagi ini akan berangkat ke Rusia.
Setelah semua beres, Keira pamit untuk ke dapur sebentar sementara Rayn masih sibuk membereskan barang bawannya.
Keira kembali berkutat didapur untuk membawakan bekal buat Rayn karna ia duga pasti nanti Rayn tak akan sempat sarapan di rumah, jadi bisa dimakan saat perjalanan menuju ke bandara nanti.
Setelah selesai masak dan menyiapkan bekal untuk Rayn, Keira kemudian kembali mengecek Rayn apakah sudah beres atau belum barang bawannya sementara Rayn sedang mandi.
Barang bawaan Rayn sudah beres, tak lama terdengar tangisan Hana. Rupanya bayi mungil cantik nan imut itu sudah bangun, Keira pun bergegas untuk menghampiri Hana.
Ia menenangkan Hana, kemudian sibuk mengurus Hana karna setelah ini ia dan Hana akan pergi ke bandara bersama Rayn, guna untuk mengantarkan kepergian Rayn ke Rusia.
Pagi itu adalah pagi tersibuk menurut Keira, namun walaupun begitu Keira merasa senang karna bisa melaksanakan tugasnya sebagai istri sekaligus Ibu untuk Hana dengan baik.
__ADS_1