Without You

Without You
22. Perasaan Tersirat


__ADS_3

Part ini dan next part akan memakai sudut pandang Author/ Author POV/ Oke deh happy reading gais!


-


-


-


-


-


Vidya dan Arya sudah sampai di rumah mereka, namun belum ada satupun dari mereka yang turun dari dalam mobil.


Keduanya masih diam, lebih tepatnya hanya Arya yang berdiam diri menatapi wajah Vidya yang lagi-lagi tertidur di dalam mobil.


Arya memperhatikan wajah Vidya, sesekali gadis itu mengerenyitkan dahinya lalu sesekali juga gadis itu terlihat tak nyaman dengan tidurnya seperti ada hal yang menganggu dalam tidurnya itu.


Arya menghela nafasnya, ia mengelengkan kepalanya. Entah kenapa sekarang ia jadi sering memperhatikan wajah Vidya yang sedang tertidur seperti itu, entahlah Arya juga tidak tau ada apa dengan dirinya.


Arya pun berniat untuk turun dari mobil meninggalkan gadis itu sendirian.


"Jangan pergi..." Arya menghentikan pergerakannya, ia tidak jadi membuka pintu mobil.


Ia kembali menutup pintu mobilnya, lalu berbalik kembali menatap Vidya yang masih memejamkan matanya.


Arya mendekat ke arah Vidya, kembali memperhatikan Vidya lagi.


"Ck dia mimpi apaan sih? Sampe keringetan begini?" Arya heran sendiri, sebenarnya apa yang ada di dalam mimpi gadis itu? Sampai-sampai keringat membasahi dahinya.


Arya menggambil tisu, lalu setelah itu tangannya terulur untuk menyeka bulir-bulir keringat yang ada di dahi Vidya.


"Hiks...hiks...maaf...hiks." Arya mendengar tangisan dan ucapan maaf dari bibir Vidya.


Arya kembali memperhatikan gadis itu, setelah keringat menetes di dahinya, sekarang gadis itu malah meneteskan air matanya.


Ada apa lagi dengan dia? Kenapa dia sampai seperti ini?


Tangan Arya tergerak untuk menghapus air mata Vidya, namun pergerakkan itu terhenti. Ia justru menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Vidya.


"Dingin?" Punggung tangan Arya lalu pindah untuk menyentuh dahi Vidya, dan benar ternyata tubuh gadis itu terasa dingin padahal Arya tidak menyalahkan AC mobil sama sekali.


"Dia kenapa?" Arya semakin bingung dengan apa yang terjadi pada Vidya.


"Heh bangun, woi bangun!" Arya menguncang tubuh Vidya tapi Vidya tidak membuka matanya. Justru Arya malah mendengar suara desisan dari mulut Vidya.


"Di...dingin..sshh...di...dingin." Vidya mulai meracau lagi, tubuhnya terlihat mengigil.


"Gue harus gimana ini?" Arya bertanya pada dirinya sendiri, ia terlihat bingung menghadapi kondisi Vidya saat ini.


Arya pun hendak keluar dari mobil tapi justru Vidya malah menahan tangannya, Arya pun menoleh ke arah Vidya lagi.


Vidya menatap mata Arya dengan tatapan sendunya.

__ADS_1


"Ja...jangan per...pergi la..lagi." ucap Vidya lirih, lalu matanya kembali tertutup lagi.


"Vidya! Woi lo kenapa? Bangun heh!" Arya menepuk-nepuk pipi Vidya namun tak ada respon sama sekali, sementara tubuh Vidya semakin terasa dingin.


"Jangan-jangan..." Arya langsung mengarahkan jari telunjuknya di depan hidung Vidya, lalu ia masih merasakan desiran nafas Vidya meskipun terasa tersendat sendat namun setidaknya Arya tau jika Vidya masih hidup.


"Syukurlah..." lirih Arya tanpa sadar.


Akhirnya Arya mengendong Vidya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


Rumahnya terlihat sepi karna Siren masih tidak akan pulang bahkan untuk tiga bulan ke depan, gadis itu masih sibuk dengan dunia modelnya yang sekarang meluas hingga ke luar negri.


Arya langsung membawa Vidya masuk ke dalam kamar gadis itu, Arya menidurkan Vidya di atas ranjang.


Lalu Arya mulai mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk menghangatkan dari di dalam lemari Vidya, akhirnya ia menemukan selimut tebal.


Arya menyelimuti Vidya bahkan ia menyelimuti Vidya hingga lima lapis selimut, tak lupa juga Arya mematikan AC di kamar Vidya.


"Lo gk boleh kenapa-napa, gue bakal rawat lo sampai sembuh, supaya gue bisa menyiksa lo dan melihat lo menderita sama seperti yang dulu lo lakuin sama gue." Ucap Arya yang jemarinya mengelus lembut pipi Vidya.


[]


22.30.


Arya mengerjapkan matanya, sudah hampir tengah malam tapi gadis itu belum juga membuka matanya.


Arya kembali menggambil kain kompresan di dahi Vidya, kemudian kembali memasukkan kain itu ke dalam air hangat, memerasnya, lalu meletakkan nya kembali di dahi Vidya.


"Udah gk terlalu dingin lagi." Ujar Arya bermonolog, ia mengelus rambut Vidya.


Sedangkan pakaian gadis itu, Arya meminta tolong pada Bu Susi yang merupakan tetangganya yang juga sudah ia kenal untuk mengantikan pakaian Vidya.


Vidya terlihat semakin cantik, walaupun Arya sebelumnya sudah pernah melihat Vidya tanpa kerudungnya tapi saat itu kondisinya berbeda, saat itu ia melihat Vidya terluka dan saat itu ia juga belum membenci Vidya seperti sekarang ini.


"Cepet sadar, lo ngerepotin gue." Ujar Arya sambil menghela nafasnya kasar.


Arya kembali menguap, ia masih merasa mengantuk. Akhirnya Arya memutuskan untuk naik ke atas ranjang dan ia menggambil posisi di sebelah Vidya dan persis menghadap ke arah Vidya.


"Gue ngantuk, jadi biarin gue liat ekspresi wajah lo yang tenang ini, sebelum gue liat ekspresi menderita lo setelah lo sembuh nanti." Ujar Arya lalu dia kembali diam memperhatikan wajah Vidya yang masih setia memejamkan matanya.


Cup


Arya mendaratkan ciumannya di pipi Vidya tanpa ia sadari.


"Astaga gue ngapain?" Arya menggelengkan kepalanya, ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Vidya.


"Gue udah gk waras kayanya." Gumam Arya, lalu ia kembali memejamkan matanya mencoba untuk tertidur kembali.


[]


Matahari mulai bersinar dengan terang, memberikan kehangatan untuk para penghuni bumi.


Vidya mengerjapkan matanya saat ada cahaya matahari yang masuk dari sela-sela gorden kamarnya.

__ADS_1


Lalu Vidya menoleh ke arah sampingnya, hanya sekilas tapi ketika kesadarannya sudah kembali penuh ia kembali menolehkan kepalanya ke samping.


Vidya membulatkan matanya, ia melihat wajah Arya yang begitu dekat dengannya.


"Arya..." panggil Vidya seperti berbisik di wajah Arya.


Vidya hendak bangun namun tidak bisa saat ia merasakan sebuah tangan yang melingkar di pingangnya, ia kembali menatap Arya dengan mukanya yang kini sudah bersemu merah.


"Arya...lepasin." Vidya kembali berujar sambil menatap wajah Arya, namun pria itu tidak juga membuka matanya ia malah bergumam tidak jelas.


"Aaa!" Vidya hampir saja menjerit karna kaget, bagaimana tidak kaget saat Arya tiba-tiba mengeratkan pelukannya, ia bahkan sudah menaruh dagunya di atas kepala Vidya.


Vidya hanya bisa diam dengan ekspresi wajah terkejutannya, ia bahkan dapat mendengar degup jantungnya jang berdetak begitu cepat, bahkan pipi Vidya terasa panas dan sudah muncul semburat merah di sana.


Ia mendongakkan kepalanya, ia tertegun dan sadar jika posisi Arya dan dirinya begitu dekat, bahkan pria itu sampai memeluknya seperti seolah-olah tak membiarkannya pergi.


Vidya masih terus menatap wajah Arya, kemudian sebelah tangannya yang bebas dari pelukan Arya pun terulur untuk mengusap wajah Arya.


Vidya bertanya-tanya apakah ini mimpi? Lalu kenapa bisa ia memimpikan Arya yang sedang memeluk dirinya?


"Mimpi yang aneh." Guman Vidya namun senyuman Vidya terukir, pelukan ini sehangat pelukan yang Arya berikan untuknya malam itu saat ia menyelamatkan Vidya.


"Hngg Siren..." senyuman Vidya luntur seketika, ia kembali menatap wajah Arya dengan tatapan sendu.


Seberapa besar kah cinta Arya pada Siren? Apa kah sangat besar sampai-sampai ketika ia tidur begini, pria itu masih mengumamkan nama Siren, kekasihnya.


"Bahkan dalam mimpi saja dia menyebalkan." Ujar Vidya yang mencebikkan mulutnya, terlihat sangat mengemaskan.


Namun tidak lama ia kembali tersenyum sendu bahkan air matanya kembali menetes.


"Tidak ada yang bisa di harapkan dari hubungan yang berlandaskan kebencian, seperti ini." Vidya kembali mengulurkan tangannya, jari-jemarinya mengelus pipi Arya dengan lembut.


"Aku tidak tau ini mimpi atau bukan, tapi jika ini memang mimpi. Ini mimpi yang membahagiakan, dan bisakah kita seperti ini terus? Jika memang ini mimpi aku tidak akan mau terbangun sekarang, aku masih ingin merasakan dekapanmu, aku masih ingin melihatmu meskipun nanti kau akan melukaiku begitu dalam."


Air mata Vidya kembali mengalir, kali ini lebih deras dari sebelumnya. Vidya menumpahkan semua nya, semua rasa sakitnya dalam dekapan Arya.


Vidya tidak tau apakah kesempatan seperti ini bisa terjadi lagi atau tidak, Vidya merasa senang walaupun jika itu mimpi sekalipun.


Rasanya hangat, dan juga membahagiakan di peluk Arya seperti ini, bisa melihat wajah tampannya dari jarak dekat, itu adalah hal yang Vidya syukuri pagi ini.


"Aww." Vidya meringis kesakitan saat ia mencubit pipinya sendiri.


"Ini...ini bukan mimpi." Lirih Vidya ia teresenyum dengan linangan air mata di pipinya.


Vidya sangat berharap semua ini tidak hanya sementara, tapi ia tahu kenyataan sebenarnya tak akan pernah sesuai dengan keinginanya.


Setelah ini Arya akan sangat membencinya, setelah ini Vidya mungkin akan semakin terluka tapi Vidya tidak akan pernah bisa meninggalkan Arya karna Vidya sekarang sadar akan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia duga.


"Sepertinya...." Vidya memberi jeda pada ucapannya, ia menatap wajah Arya mengamati wajahnya dengan teliti, lalu Vidya mendekatkan wajahnya.


Cup


Vidya tersipu sendiri, setelah tanpa sadar ia sudah mencium pipi Arya yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Sepertinya aku mulai mencintaimu."


__ADS_2