
Acara akad sudah berlangsung sejak siang tadi, saat ini hari sudah berganti menjadi malam. Keira yang sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gamis sederhana pun kini sedang duduk di pinggir kasur berukuran king size.
Jari-jemari Keira saling bertautan, meremas pelan tangannya dan merasa begitu gelisah. Bagaimana tidak, malam ini adalah malam pertama pernikahannya dengan Rayn. Saat ini pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, sedangkan Keira sudah membersihkan dirinya lebih dulu tadi.
Cklek
Tubuh Keira kembali menegang saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, ia memilih untuk menundukkan kepalanya menatap jari jemarinya.
"Tidur aja duluan," ujar Rayn yang berjalan melewati Keira.
Keira tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya saja, lalu ia perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat apakah Rayn masih ada di dalam kamar atau tidak.
"Aaaa!" pekik Keira sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, wajahnya bahkan sudah memerah saat ini.
Rayn yang mendengar teriakkan Keira pun kaget seketika, bahkan setelan pakaiannya yang tadi baru dia keluarkan dari dalam lemari sampai terjatuh ke lantai.
"Kenapa?" tanya Rayn menatap bingung bercampur kaget pada Keira.
Keira dengan wajahnya yang sudah memerah hanya mengelengkan kepalanya pelan, sedangkan Rayn kembali menggambil pakaiannya yang tadi jatuh ke lantai.
"Rayn!" teriak Keira dengan hebohnya bahkan ia sudah menutupi kedua wajahnya lagi saat handuk yang melilit di pinggang Rayn hampir saja terjatuh ke lantai.
Rayn yang menyadari hal itu, wajahnya pun ikut memerah dan membenarkan kembali handuk yang melilit di pinggangnya. Setelah itu Rayn segera masuk ke dalam ruang khusus untuk menganti pakaian yang memang tersedia di dalam kamarnya.
Setelah Rayn pergi, barulah Keira dapat bernafas lega. Tadi ia benar-benar merasa malu, sebelumnya Keira tak pernah melihat pria bertelanjang dada dan ini adalah kali pertamanya.
Kemudian tiba-tiba saja Keira teringat akan alasan di balik perjodohannya dengan Rayn, Mamah Rayn rupanya adalah orang yang dulu sempat membantu Ayahnya saat ia kena tipu dan bahkan perusahaan Ayahnya nyaris bangkrut kalau saja Mamah Rayn tak membantunya. Dan Ayah Keira menganggap hal itu sebagai hutang budi, lalu tiba-tiba saja Mamah Rayn datang dan mengatakan ingin menjodohkan putranya dengan Keira.
Awalnya Keira tidak tau jika yang akan di jodohkan dengannya adalah Rayn, tapi saat ia mendengar nama Rayn terucap dari mulut Bundanya ia pun pada akhirnya mengetahui siapa nama pria yang akan di jodohkan dengannya persis saat sebelum malam perjodohan itu di laksanakan.
"Keira?" Keira pun mengerjap kaget saat ada sebuah tepukkan di pundaknya. Keira pun menoleh ke samping kanannya, rupanya Rayn lah yang tadi sudah menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Eh, iya?" bukannya menjawab Keira justru malah balik bertanya. Membuat Rayn menaikkan sebelah alisnya.
"Sorry, tadi gu- eh maksudnya aku lagi gk fokus," kata Keira sambil menampilkan cengirannya.
"Senyaman kamu saja." kini giliran Keira yang mengerenyitkan dahinya menatap Rayn.
"Maksudnya?" Rayn tersenyum tipis mendengar pertanyaan Keira, namun senyuman tipis Rayn justru malah terlihat seperti seringaian.
"Senyaman kamu saja, gk perlu kamu merubah gaya bahasa kamu itu," kata Rayn menjawab keterbingungan Keira.
Keira hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, ia bingung sendiri mau bicara apa pada Rayn saat ini.
"Tidurlah, kamu pasti lelah," ucap Rayn yang menyuruh Keira untuk tidur karna ia tau pasti Keira merasa lelah karna seharian ini mereka harus menyambut tamu, walaupun tak ada resepsi tapi yang datang ke acara akad nikah mereka berdua siang tadi lumayan banyak.
"Lo mau kemana?" tanya Keira saat melihat Rayn menggambil bantal dan selimut.
"Mau tidur," jawab Rayn sambil melangkah menuju ke arah sofa yang memang sudah ada di kamar Rayn sejak Keira datang tadi.
"Iya, memangnya menurut kamu saya mau tidur di mana lagi?" Rayn malah balik bertanya membuat Keira berdecak pelan.
"Kenapa lo tidur di sofa? Ini kan kamar lo, gue aja yang tidur di sofa dan lo ...." Keira mengantung ucapannya, gadis itu sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rayn lalu menarik tangan Rayn yang masih terheran-heran apa yang akan Keira lakukan selanjutnya.
"Lo tidur di kasur ini dan biar gue aja yang tidur di sofa," kata Keira yang sudah menyuruh Rayn duduk di atas kasur.
"Mana bisa begitu, nanti badan kamu akan sakit. Tidurlah di kasur dan biarkan saya tidur di sini." rupanya Rayn masih tetap kukuh ingin melarang Keira yang bersikeras ingin tidur di sofa.
"Kalau gitu gue juga gk mau tidur di kasur," kata Keira yang memang memiliki watak keras kepala sejak dulu.
"Ck, keras kepala sekali," gumam Rayn. Lalu Rayn pun memegang pergelangan tangan Keira membuat gadis itu terkejut dan terus bertanya hendak kemana Rayn mengajaknya.
"Mau ngapain?" tanya Keira yang melihat Rayn sedang merapihkan bantal dan selimutnya.
__ADS_1
"Mau tidur," kata Rayn singkat dan tanpa berkata sepatah kata pun lagi Rayn pun langsung merebahkan dirinya di atas kasur tanpa memperdulikan tatapan kebingungan Keira.
"Kita tidur seranjang?" tanya Keira masih terheran-heran.
"Iya, sudah tidur jangan berdebat lagi. Saya lelah," ucap Rayn yang sudah tidur membelakangi Keira.
Mendengar perkataan Rayn barusan Keira hanya bisa mendengus pelan, ia pun akhirna menurut dengan perkataan Rayn. Ia menggambil satu buah guling yang ia taruh di antara dirinya dan Rayn.
"Awas jangan sampe lo ngelewatin guling ini," kata Keira yang memperingati Rayn agar tidak melewati batas guling yang sudah ia buat sebagai pembatas di antara mereka.
Rayn hanya berdehem saja, ia sudah kelelahan hari ini dan tak ingin berdebat lagi dengan Keira. Mendengar deheman Rayn yang Keira anggap sebagai persetujuan, ia pun ikut membaringkan dirinya dan tidur membelakangi Rayn seperti apa yang saat ini pria itu lakukan.
Awalnya Keira tidak bisa tidur, tempat ini masih asing baginya dan Keira tidak terbiasa tidur di tempat yang baru seperti ini. Namun sekuat tenaga Keira berusaha untuk terlelap.
Keira berdecak pelan saat dirinya masih juga belum memasuki alam mimpi, padahal Keira sudah menghitung domba agar bisa terlelap dalam mimpi namun nyatanya kini ia masih terjaga.
Kriett
Kedua mata Keira terbuka sempuran saat ia merasakan kasur yang ia tiduri berguncang, lalu tak lama terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan ke arahnya, sontak saja Keira langsung memejamkan kedua matanya dan berpura-pura tidur.
Keira menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi, langkah kaki itu berdiri tepat di samping tempat tidurnya.
"Mimpi indah." suara bernada pelan dan sebuah selimut yang di tarik hingga ke bagian lehernya membuat Keira semakin memejamkan matanya, agar tidak ketahuan jika saat ini ia sedang berpura-pura tidur.
Setelah itu Keira merasakan langkah kaki itu mulai menjauh darinya, barulah di saat itu juga Keira membuka kedua matanya.
Keira membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan, lalu ia tak menemukan sosok Rayn di sana. Lalu tatapan Keira beralih ke arah balkon kamar yang pintunya terbuka sedikit, dan Keira yakin bahwa itu adalah ulah Rayn. Pria itu belum terlelap, sama seperti dirinya.
Keira tanpa sadar menghela nafasnya kasar, lalu kembali berbalik badan lagi ke posisi sebelumnya. Ia kembali menarik selimut nya hingga ke atas kepalanya, di dalam selimut Keira mengigit bibir dalamnya berusaha menahan isak tangisnya yang akan keluar.
Entah kenapa di saat seperti ini Keira sangat merindukan keluarganya, ia merindukan rumahnya, Keira merasa ingin pulang saja sekarang namun nyatanya tak bisa. Statusnya kini sudah berubah, ia telah menjadi seorang istri dan itu artinya ia harus ikut kemanapun suaminya pergi mengajaknya. Keira menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, mencoba memejamkan mata, dan berusaha tuk berdamai dengan keadaan, walaupun terasa begitu menyakitkan.
__ADS_1