Without You

Without You
[S2] Kabar mengejutkan


__ADS_3

3 bulan kemudian ....


Selama tiga bulan ini Vidya sudah tidak lagi mengajar di sekolahnya Reilla karna waktu kontraknya sudah habis, saat ini Vidya memilih mengajar di pesantren. Vidya menerima tawaran Barga untuk mengajar di pensantren miliknya.


Saat ini Vidya sedang berjalan-jalan di lingkungan pesantren, ia baru saja selesai mengajar para santriwati di pesantren.


"Vidya."


Vidya pun menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


"Vidya ... huh ... ka ... kamu ...."


Vidya mengerenyitkan bingung, wanita di hadapannya nafasnya nampak terengah-engah mungkin karna tadi terlalu terburu-buru menghampiri dirinya.


"Tenang ya Aisye, tarik nafas dan hembuskan perlahan baru kamu cerita apa yang terjadi sama aku."


Wanita bernama Aisye itu pun mengangguk dan menuruti kata-kata Vidya barusan. Setelah nafasnya lancar kembali ia pun memberitahu Vidya apa yang ingin ia sampaikan.


"Itu tadi kamu di cariin sama Pak Ustad Barga," ucap Aisye memberitahu.


"Mau ngapain?" Tanya Vidya dan di balas gelengan kepala oleh Aisye.


"Makasih ya, nanti segera kesana kok," kata Vidya seraya mengucapkan terimakasih pada Aisye yang sudah memberikannya informasi.


"Iya harus itu, kalau gk ke sana nanti Pak Ustad Barga marah loh."


Vidya tersenyum lalu pamit pergi, di perjalanan Vidya terus berfikir. Sebenarnya kenapa Barga memanggil dirinya ke ruangan pria itu? Vidya jadi bertanya-tanya sendiri.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum," ucap Vidya setelah selesai mengetuk pintu di depannya.


"Wa'alaikumussalam, silahkan masuk Vidya," balas suara dari dalam ruangan itu.


Cklek


"Aku sudah menunggumu sedaritadi, silahkan duduk dulu," suruh seorang pria berwajah tampan dengan setelan baju kokonya yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan Vidya.


"Ada apa ya, Bapak sampai memanggil saya ke sini?" Tanya Vidya menatap bingung Barga, namun yang di tatap hanya terkekeh membuat Vidya semakin bingung.


"Vidya, sudah aku bilangkan. Selain hubungan formal yang berhubungan pesantren, kamu tidak boleh memanggilku dengan julukkan Bapak. Karna saya belum setua itu tau," ucap Barga lagi dan kini giliran Vidya yang tertawa mendengarnya.


"Oke baiklah, ada apa kamu memanggilku datang ke ruanganmu ini?" Tanya Vidya lagi, Barga menghentikan tawanya ia berdehem singkat lalu kembali memasang wajah penuh keseriusan.


"Pertanyaan yang akan aku ajukan masih sama, seperti empat bulan yang lalu," ucap Barga seraya tersenyum lembut.


Vidya berdehem sejenak, ia tau kemana arah pembicaraan Barga saat ini. Kemana lagi kalau bukan ke pertanyaan yang ia ajukan empat bulan lalu padanya setelah ia tau semua cerita tentang Vidya yang selama ini ia alami termasuk hubungan antara Vidya dan Arya yang sudah merengang.


"Jawabanku juga masih sama, aku tidak bisa menerima lamaranmu," ucap Vidya sambil menundukkan kepalanya dalam.


Alih-alih akan marah, namun Barga justru tidak marah mendengar lamarannya yang ke lima kali ini kembali di tolak oleh sosok cantik di hadapannya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya dalam.


"Alasannya juga masih sama, kamu belum sepenuhnya melupakan sosok Arya kan?" Tanya Barga lagi dan tepat sasaran hingga membuat Vidya kalah telak bahkan tak bisa menjawabnya. Jadi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.

__ADS_1


"Maafkan aku Barga," cicit Vidya pelan. Dari nada suaranya terdengar bahwa Vidya saat ini merasa begitu tak enak pada Barga karna sudah menolak lamaran pria itu untuk yang kesekian kalinya.


"Gk apa-apa kok, gk usah minta maaf. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, itu hak kamu. Aku tidak bisa berbuat banyak, aku hanya bisa mendoakan dirimu agar bisa luluh padaku namun mungkin doaku belum di kabulkan dan itu artinya aku harus banyak berdoa lagi pada Allah untuk mendapatkan dirimu," balas Barga sambil tersenyum menenangkan.


Vidya mengangkat kepalanya perlaha, di tatapnya sosok Barga yang saat ini sedang menebar senyumannya. Vidya tau bahwa laki-laki di hadapannya ini sering kali merasa terluka dan itu karna dirinya yang sudah menorehkan luka itu di hati Barga, pria baik yang selama lima bulan ini sudah banyak membantunya.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Vidya sambil menatap tak enak hati pada Barga.


"Alhamdulillah kok keadaan ku baik, seperti yang kamu lihat saat ini," jawan barga dengan senyuman yang masih membingkai wajah tampannya.


"Sebenarnya masih ada hal lain yang ingin aku sampaikan kepada mu," celetuk Barga lagi dan membuat Vidya kembali di landa rasa penasaran.


"Hal apa?" Tanya Vidya bingung.


Barga tak menjawab, pria itu justru malah membuka laci mejanya lalu terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam laci.


"Amplop? Untuk apa?" Tanya Vidya bingung dengan benda yang baru saja Barga letakkan di atas meja yang menjadi sekat di antara Barga dan Vidya.


"Itu untuk kamu, di kirimkan tadi pagi ke sini oleh seseorang," ucap Barga lagi.


"Untuk aku? Dari siapa?" Tanya Vidya menatap Barga, meminta penjelasan darinya.


"Tidak tau, aku tidak menemukan nama pengirimnya di dalam sana," balas Barga seraya menaikkan kedua bahunya, pertanda bahwa memang ia tidak tau siapa yang telah mengirimkan amplop coklat itu ke pesantren.


"Apa aku boleh membukanya?" Tanya Vidya lagi.


"Tentu, silahkan saja. Aku juga jadi merasa penasaran apa yang ada di dalam amplop coklat itu," jawab Barga sambil menegakkan tubuhnya.


Vidya mengangguk, lalu tangannya terulur untuk mengenggam amplop berwarna coklat itu. Perlahan ia membuka amplop coklat itu, Vidya mengerenyitkan dahinya saat melihat ada sebuah kertas di dalamnya.


"Sepertinya itu sebuah surat," balas Barga yang juga sedang menatap kertas yang kini ada di dalam genggaman Vidya.


Vidya lalu membuka lipatam kertas tersebut, ternyata benar kata Barga. Di dalam kertas itu ada tulisan yang tertera di sana.


"Kamu benar ini memang sebuah surat," ujar Vidya pada Barga yang sedang menatap Vidya dengan tatapan penuh keingin tahuan.


"Coba baca," titah Barga dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.


Lalu Vidya pun mulai membacakan tulisan singkat yang menjadi isi dari kertas itu.


Teruntuk Vidya Alfiatus Zahra, surat ini aku kirimkan untuk dirimu yang entah ada di mana saat ini. Semoga kamu selalu bahagia, ada atau tidaknya diriku di sampingmu.


Vidya mengerenyit bingung setelah membaca penggalan isi surat itu yang memang begitu singkat untuk di baca.


"Vidya sepertinya ada sesuatu lagi di dalam amplop ini," celetuk Barga yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam amplop coklat itu.


Vidya pun mengalihkan tatapannya ke arah Barga, ia meletakkan surat tadi ke atas meja.


"Apa yang kamu temukan?" Tanya Vidya dan Barga hanya diam sambil memegang sesuatu di tangannya.


"Barga? Ada apa? Kenapa malah diam?" Tanya Vidya yang menayadari raut perubahan di wajah Barga.


"Apa itu yang ada di genggaman mu?" Tanya Vidya lagi dan Barga masih tetap diam.

__ADS_1


"T ... tidak usah, kamu tidak usah melihatnya. I ... ini tidak penting," ucap Barga yang hendak membuang sesuatu yang ada di genggaman pria itu.


"Barga, kenapa mau di buang," ucap Vidya yang ikut bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti Barga yang ingin membuang sesuatu yang tadi Vidya lihat barga temukan di dalam amplop coklat misterius itu.


"Tidak usah Vidya, kamu tidak usah tau," balas Barga lagi yang mempercepat langkahnya.


"Barga!" Seru Vidya yang merasa sebal dengan Barga yang ingin membuang sesuatu yang di temukannya tadi ke dalam tong sampah, padahal jelas-jelas kalau amplop coklat itu katanya untuk dirinya tapi malah mau di buang Barga, aneh sekali memang.


"Barga! Ayolah, itu kan punyaku," gerutu Vidya yang saat ini sedang mengejar Barga untuk tidak membuang sesuatu yang saat ini ada di genggaman pria itu.


Brukk


Barga terjatuh karna ulah Vidya yang tidak sengaja mendorong pria itu.


"Aish, kecil-kecil juga ternyata kekuatanmu cukup besar ya," ucap Barga yang sedang meringis menahan sakit dan tersungkur mengenaskan di lantai.


"Maaf Barga, aku gk sengaja. Habisnya kamu menyebalkan sih," balas Vidya yang ternyata masih merasa kesal dengan tingkah Barga.


"Kenapa sih aku gk boleh liat sesuatu yang katanya tadi kamu temukan di dalam amplop itu?" Tanya Vidya yang saat ini sudah penasaran akut.


Barga terlihat menghela nafasnya, ia menatap Vidya dengan tatapan yang sulit tuk Vidya artikan.


"Kenapa sih?" Tanya Vidya yang bingung di tatap seperti itu oleh Barga.


Namun Barga tetap diam, Vidya lalu melirik ke arah sesuatu yang tadi Barga bawa sudah lepas dari genggamannya dan terpental hingga ke dekat meja, mungkin karna tadi Barga jatuh, sesuatu yang tadi ia genggam itu jadi terlempar.


"Jangan Vidya!" Seru Barga yang membulatkan matanya melihat Vidya sudah berjongkok dan menggambil sesuatu yang padahal sedaritadi Barga hindarkan dari Vidya.


Vidya tidak mengubris Barga, gadis itu menggambil sesuatu yang tadi Barga dapatkan dari dalam amplop coklat misterius yang di kirimkan untuknya.


Tubuh Vidya meremang, matanya terasa memanas bahkan dadanya juga terasa sesak dan nyeri secara bersamaan.


"Aku sudah mencoba melarangmu untuk melihatnya padahal," ucap Barga di iringi dengan hembusan nafas gusarnya.


Vidya diam, namun air mata mengalir membasahi pipinya. Ia menatap nanar pada sesuatu yang kini ada di genggamannya.


Rupanya sesuatu yang tadi Barga dapatkan dari dalam amplop itu adalah undangan pernikahan, bukan undangan pernikahan biasa melainkan undangan pernikahan yang luar biasa sampai-sampai sukses meluluh lantahkan perasaan Vidya dan menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.


"Vidya? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Barga yang sudah bangkit dan berjalan menghampiri Vidya yang tubuhnya sudah luruh ke lantai.


"Barga ...." panggil Vidya lirih dengan pandangan mata yang sudah memburam terhalang air mata.


"Iya? Ada apa? Aku di sini Vidya," ucap Barga menatap khawatir pada Vidya yang saat ini hanya diam dengan raut wajah terluka.


"Ini undangan pernikahan," ucap Vidya dengan suara bergetar.


"Iya, aku tau itu Vidya. Makannya sebelum kamu mau menggambil undangan itu, aku mau menyingkirkannya darimu. Aku tidak mau kamu merasa sedih begini," ucap Barga yang ikut merasakan kesedihan yang Vidya rasakan.


"Barga ... hiks ... Arya .... dia akan menikah minggu depan dengan Syabil," ucap Vidya lirih lalu setelah itu tangisannya pecah dan terdengar memilukan.


Barga memejamkan matanya, tangannya terkepal melihat Vidya yang saat ini sedang menangis di depannya. Ia tidak bisa melakukan apapun, padahal rasanya Barga ingin membawa tubuh rapuh Vidya ke dalam dekapannya sambil ia bisikkan kata-kata yang menenangkan di telinga gadis itu. Namun sayang sampai saat ini Vidya belum halak untuk ia sentuh, gadis itu masih terpaku pada masalalunya dan enggan menerima lamaran yang Barga ajukan padanya.


Dan sekarang, gadis itu kembali terluka karna masalalunya itu. Barga tidak tega melihat Vidya bersedih seperti ini, itu membuat Barga juga ikut merasa sedih. Apalagi yang menangis saat ini adalah perempuan yang sudah mengisi relung hati Barga selama ini, perempuan yang sudah membuatnya terus melajang dalam waktu yang lama padahal usianya sudah tidak muda lagi saat ini karna ia masih terus menunggu Vidya, untuk bersanding dengannya.

__ADS_1


"Kamu harus kuat Vidya, mungkin Allah punya jalan yang lebih baik untuk dirimu. Ingat Vidya, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya. Yang perlu kamu lakukan adalah terus bertawakal dan bersabar, yakinlah bahwa Allah pasti menyiapkan rencana yang lebih indah lagi untuk dirimu," ucap Barga yang hanya bisa menenangkan Vidya lewat kata-katanya saja.


Vidya mengangguk pelan, benar apa yang Barga katakan padanya. Namun tetap saja rasa sakitnya masih terasa begitu nyata di relung hatinya, kabar pernikahan Arya dengan Syabil minggu depan sukses membuat harapan Vidya untuk bisa kembali bersama Arya, luruh sudah.


__ADS_2