Without You

Without You
47. Tawaran


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Sepi dan begitu lenggang.


Begitulah suasana di dalam ruangan tempat Vidya di rawat saat ini, hanya ada suara dari monitor pendeteksi jantung yang berbunyi.


Vidya masih memejamkan matanya, selang oksigen sudah terpasang di hidungnya untuk membantu Vidya untuk mempermudah dirinya bernafas.


Seorang perawat berpakaian putih, sedang berdiri di sebelah brankar Vidya.


Ia sedang mengecek kondisi perkembangan kesehatan Vidya, ia menatap prihatin pasa pasien yang satu ini.


Lalu pintu ruangan terbuka menampilkan seseorang berpakaian jas putih dan tetoskop yang melingkar di lehernya.


"Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?" Tanya orang tersebut yang ternyata dokter yang menangani Vidya.


Suster tersebut mengelengkan kepalanya, dengan raut wajah sedih.


Dokter menghela nafas, ia menatap pasiennya yang masih terbaring lemah.


Ia sangat ingat ketika di bawa ke rumah sakit, kondisinya juga terlihat begitu memperihatinkan.


Pasiennya itu sempat sadar sebentar, dan menangis meminta dokter tersebut untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Dokter Anam." Panggil suster tersebut membuat sang dokter itu tersentak, kaget.


"Saya permisi keluar untuk mengecek pasien lain dulu." Ujar suster tersebut dan di balas anggukkan oleh dokter Anam.


Dokter Anam kembali menatap wajah Vidya, ia memang asing sekali dengan wajah Vidya namun manik mata Vidya terlihat tidak asing, dan dia pernah melihat manik mata itu sebelumnya.


Dokter Anam menghela nafasnya, menatap Vidya, yang ia rasa seusia dengan putrinya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


"Ar...arya." dokter Anam tersentak ketika Vidya mengeluarkan suara.


Dokter Anam langsung memeriksa kondisi Vidya, senyuman terbit di wajahnya.


[]


Sementara Arya menghela nafasnya, ia menatap Siren yang masih memejamkan matanya padahal sudah empat hari berlalu.


Arya terus mengenggam tangan Siren, mengecupi tangan Siren dengan penuh harap agar gadis itu bisa segera sadar.


Tangan Arya yang bebas ia gunakan untuk mengelus rambut hitam Siren.

__ADS_1


"Cepet sadar sayang, maafin aku seharusnya aku lebih merhatiin kamu daripada perempuan munafik itu." Bisik Arya lirih di telinga Siren.


Ia menghela nafasnya, rasanya sangat sesak melihat Siren dalam kondisi seperti ini, bahkan gadis itu hampir saja kehilangan anak yang sedang ia kandung.


Untung saja anak yang di kandung Siren dapat selamat, jika tidak Arya sudah pastikan ia tidak akan segan-segan menjebloskan Vidya ke dalam penjara.


"A...arya." Arya mengangkat kepalanya, senyuman terbit di bibirnya ketika melihat Siren sudah sadarkan diri.


Arya menekan tombol darurat, lalu seketika dokter pun berdatangan masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan Siren.


Arya berdiri tidak jauh dari brankar Siren.


"Kondisinya sudah lebih membaik dari sebelumnya, namun masih harus dalam pemantauan." Ucap dokter tersebut lalu pamit pergi keluar dari ruang rawat itu.


"Siren! Ka...kamu gk apa-apa kan? Sayang...ini aku, kamu gk apa-apa kan? Hmm?" Arya mengelus kepala bahkan mencium dahi Siren dengan perasaan senang.


"A...arya, anak a...aku baik-baik aja kan?" Tanya Siren khatir sambil meraba perutnya yang sudah agak sedikit membesar.


"Anak kamu baik-baik aja, dia kuat kok." Ucap Arya sambil tersenyum mencoba menenangkan Siren.


Siren terlihat menghela nafasnya lega, namun ia kembali teringat akan sosok Vidya.


"Vidya...di...dia-"


"Sttt udah kamu gk usah mikirin dia, setelah kamu sembuh aku bakalan cerai sama perempuan munafik itu yang udah berusaha ngelenyapin kamu dan anak kamu."


Siren tertegun, namun tidak bisa menampik bahwa ia merasa sangat senang dengan kabar yang Arya beritahu, itu artinya tidak sia-sia ia harus merasa kesakitan seperti ini.


Sebenarnya Siren juga tidak perduli, jika anaknya ini mau mati atau tidak karna Siren tidak perduli.


Namun kini Siren rasa ia tidak perlu takut atau cemas lagi, karna Arya sudah mengatakan bahwa dia akan segera menceraikan Vidya setelah dirinya sembuh.


Gk sabar jadi pengen cepet-cepet keluar dari rumah sakit, biar gue bisa ngeliat muka kekalahan Vidya.-batin Siren tersenyum puas.


"Kamu istirahat aja ya, gk usah mikirin apa-apa. Kamu masih belum pulih untuk saat ini." Siren mengangguk, ia tersenyum saat Arya mencium dahinya lumayan lama.


"Jangan tinggalin aku lagi." Ucap Siren menatap penuh harap pada Arya.


Arya menganggukkan kepalanya, seraya mengusap lembut pipi Siren.


"Tentu, aku gk akan kemana-mana. Aku selalu ada di dekat kamu, aku bakalan lindungin kamu, sesuai janji ku dulu." Siren tersenyum senang, ia sudah menang saat ini.


Siren sudah sangat bahagia, akhirnya Arya kini menjadi milik dirinya, hanya punya Siren seorang.


[]


Vidya perlahan membuka mata, namun ia kembali memejamkan matanya lagi, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk.


Setelah itu mata Vidya kembali terbuka sempurna.


Vidya menatap kesekelilingnya, ia menatap ke arah samping nya yang ada tabung oksigen, ia juga melihat punggung tangannya yang sudah tertancap jarum infus.


Vidya kemudian teringat satu hal.


Vidya langsung meraba-raba perutnya, rasa takut kembali menghampiri Vidya.

__ADS_1


Vidya begitu panik, ia bahkan sudah menangis. Vidya bingung harus bertanya pada siapa untuk memastikan bahwa anak dalam kandungannya dalam keadaan baik-baik saja.


"Dokter! Dokter!" Vidya berteriak dengan kencang, sambil menangis.


Tak lama datang beberapa perawat dan dokter Adnan, mereka mencoba menenangkan Vidya yang begitu ketakutan.


"Anak saya! Bagaimana keadaan anak saya?! Di...dia baik-baik aja kan dok? Hiks...anak saya...hiks baik-baik saja kan?" Tanya Vidya penuh harap.


"Tenang dulu bu, Alhamdulillah janin dalam kandungan Ibu baik-baik saja. Atas izin Allah, dia bisa terselamatkan. Untung saja segera di tangani jika terlambat sedikit saja, Ibu bisa menggalami keguguran." Ucap dokter tersebut memberitahu.


Vidya menghela nafasnya, ketakutannya tidak terjadi. Vidya mengucap syukur pada Allah karna dia dan bayinya bisa selamat.


Vidya juga mengucapkan terimakasih pada dokter tersebut karna sudah merawatnya.


"Dokter siapa yang membawa saya ke sini?" Tanya Vidya, dokter pun memberitahu tadi ada seorang pejalan kaki yang lewat lalu menelpon pihak rumah sakit ini, dan Vidya segera dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulance.


"Mohon maaf, saya mau bertanya memangnya dimana suami kamu? Atau kamu ingin menghubungi suami kamu, agar bisa ke sini untuk menjaga kamu di sini." Vidya terdiam mendengar ucapan dokter Anam.


Arya, nyatanya pria itu tidak merasa khawatir sama sekali pada dirinya, bahkan pria itu sengaja tidak mengangkat panggilan darinya yang begitu kesakitan tadi.


Air mata Vidya kembali menetes, membuat dokter Anam terkejut dan merasa khawatir.


Dokter Anam mencoba bertanya pada Vidya ada apa, namun Vidya hanya diam sambil menangis.


Namun akhirnya Vidya pun berusaha bercerita pada dokter Anam.


Bercerita pada dokter Anam membuat Vidya seperti sedang bercerita pada Abi nya, karna usia dokter Anam ini sama seperti usia Abi nya, mendadak Vidya jadi rindu Abi.


Dokter Anam begitu terenyuh mendengar cerita Vidya, ia begitu perihatin dengan apa yang Vidya alami.


Vidya harus berjuang melawan maut seorang diri, sedangkan suaminya tidak perduli pada Vidya.


"Keluargamu bagaimana? Dimana mereka tinggal?" Tanya dokter Anam, Vidya terdiam sejenak ia tidak mau memberitahu dokter Anam tentang keluarganya.


Ia tidak mau nanti dokter Anam malah memberitahu atau membawanya pulang ke rumah, Vidya juga tidak mau membuat keluarganya ikut merasa sedih sama seperti dirinya.


"Tidak ada dokter." Jawab Vidya pada akhirnya setelah memutuskan matang-matang, bahwa ia tidak akan memberitahu soal keluarganya pada dokter Anam.


Dokter Anam kembali merasa sedih dan sangat perihatin pada Vidya.


"Saya seperti pernah melihat kamu..." lirih dokter Anam, ia mengamati lagi wajah Vidya.


Lalu dia teringat, bahwa Vidya adalah orang yang sama yang dulu menolong putrinya yang hampir saja menjadi korban pemerkosaan.


Dan seminggu setelah kejadian itu kemudian dokter Anam mendapat kabar bahwa orang yang menolong putrinya lah yang malah hampir di perkosa oleh para laki-laki bejad itu.


Dokter Anam sempat bertemu dengan Vidya di kantor polisi saat itu, dua hari setelah putri nya meninggal karna penyakit kanker yang di derita putrinya untuk mengucapkan terimakasih dan maaf pada Vidya.


"Saya sangat berterimakasih pada kamu, kamu anak yang baik. Kamu sudah menolong putri saya, bahkan kamu hampir saja jadi korban pemerkosaan." Vidya mengelengkan kepalanya lalu tersenyum pada dokter Anam.


"Tidak apa dokter, saya menolong dengan ikhlas."


Dokter Anam tersenyum mendengar ucapan Vidya, dia sangat berhutang banyak pada gadis di hadapannya ini.


"Kalau begitu sebagai balas budi saya pada kamu, tinggal lah di rumah saya dulu, sampai kamu memikirkan mau bagimana kamu ke depannya nanti." Ucap dokter Anam, membuat Vidya terdiam sesaat.

__ADS_1


Namun akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya, sepertinya tawaran dokter Anam tidak buruk, setidaknya untuk sementara waktu.


__ADS_2