Without You

Without You
23. Tenggelam


__ADS_3

Arya mengerjapkan matanya, ia menguap dan mulai terbangun dari tidurnya.


Setengah sadar Arya mulai membuka matanya, saat matanya terbuka sempurna betapa kagetnya ia melihat posisi dirinya dan Vidya yang begitu dekat.


Arya menatap Vidya yang tertidur dalam dekapannya, terlihat sangat pulas.


"Astaga, kenapa gue bisa meluk dia sih?" Arya merutuki dirinya sendiri, namun Arya berfikir untung saja Vidya belum bangun. Jika Vidya bangun dengan posisi dia memeluk Vidya sudah pasti gadis itu akan salah paham padanya dan harga dirinya bisa jatuh.


Arya menarik tangannya perlahan, namun saat ia ingin bangkit tiba-tiba ia tidak bisa.


Rupanya rambut Vidya menyangkut pada kancing bajunya.


"Aishhh merepotkan saja." Gerutu Arya, yang segera bergegas melepaskan rambut Vidya yang menyangkut di kancingnya.


"A...Arya?" Arya pun terdiam, ia lalu menoleh ke arah Vidya yang sudah membuka matanya.


Mata Arya dan Vidya saling bertubrukkan antara satu sama lain.


"Ka...kamu ngapain?" Tanya Vidya dengan raut terkejutnya, Arya pun jadi gelagapan sendiri.


"Ra...rambut lo nyangkut di kancing baju gue, Gk usah mikir macem-macem!" Tukas Arya dengan ketus sambil terus berusaha melepaskan rambut Vidya yang menyangkut di kancing bajunya.


"Aduh sakit Arya!" Ringis Vidya kesakitan saat Arya menarik rambutnya.


Namun akhirnya rambut Vidya terlepas juga dari kancing baju Arya, Arya pun segera menjauhkan dirinya dari Vidya bahkan ia melengang pergi keluar dari kamar Vidya.


Vidya hanya diam sambil memegangi rambutnya yang tadi tersangkut dan baru saja Arya lepaskan dari kancing bajunya.


Vidya menatap nanar Arya yang keluar dari kamarnya, ia tersenyum miris.


"Cinta ini akan begitu menyiksa." Lirih Vidya pada dirinya sendiri, lalu tatapan Vidya beralih pada baskom yang berisi air dan ada juga kain di dalamnya.


"Apa semalam aku sakit?" Tanya Vidya pada dirinya sendiri, Vidya bisa menarik kesimpulan, kalau baskom yang berisi air itu dan juga kain itu di gunakan oleh Arya untuk mengompresnya.


Tiba-tiba senyuman Vidya kembali terbit, namun mata nya berkata lain. Matanya malah berkaca-kaca.


"Dia masih perduli padaku." Ujar Vidya, ada rasa senang di hatinya ketika ia tau jika Arya masih memperdulikan dirinya, buktinya saja pria itu pasti sampai kelelahan setelah semalaman menjaga dan mengobati dirinya.


[]


"Vidya!"


Vidya yang sedang memasak di dapur begitu kaget mendengar suara teriakan Arya yang mengema.


Vidya pun segera mematikan kompornya, lalu bergegas menemui suaminya yang berteriak memanggil namanya.


"Ada apa?" Tanya Vidya ketika sudah sampai di hadapan Arya.


"Apa yang lo lakuin sama kemeja gue?!" Teriak Arya, Vidya sempat kaget ketika Arya berteriak keras seperti itu padanya.


"Kemeja? Apa maksud kamu?" Tanya Vidya lagi yang masih tidak mengerti apa yang terjadi.


"Tuh, lo liat sendiri apa yang udah terjadi sama kemeja gue karna lo."


Vidya menangkap kemeja yang baru saja Arya lemparkan ke arahnya, Vidya mengamati kemeja itu dengan seksama ternyata di kemeja itu ada lubang yang sangat besar seperti bekas terbakar.


"Lo sengaja kan buat kemeja gua kaya gitu?" Tanya Arya penuh penekanan.


Vidya mengelengkan kepalanya, ia tidak tau kenapa kemeja itu sampai bisa bolong dan gosong seperti itu.


"Aku beneran gk tau." Jawab Vidya jujur.


Namun sepertinya Arya kurang puas dengan jawaban Vidya, ia pun langsung mencengkram kedua pipi Vidya dengan sangat kencang membuat Vidya meringis kesakitan.


"Jawab yang jujur dasar cewek munafik! Cewek kotor kaya lo gk bisa di percaya." Ujar Arya ia terus menatap wajah Vidya yang terlihat sangat tertekan dengan tindakan Arya.


"Menjijikan, muka lo bikin jijik tau gk!" Arya kembali membentak Vidya tepat di depan wajahnya, membuat Vidya sampai memejamkan matanya.

__ADS_1


Arya belum juga melepaskan cengkramannya, namun setelah Vidya meneteskan air matanya Arya pun melepaskan cengkramannya ia segera menggambil pakaiannya yang lain.


Setelah itu ia pergi begitu saja dari kamarnya, meninggalkan Vidya yang masih terisak dan merasa tertekan dengan perlakuan Arya terlebih lagi ucapan Arya yang membuat trauma nya kembali.


"Tidak! Jangan! Hiks! Jangan!" Vidya berteriak-teriak sendiri seperti orang ketakutan namun tak lama ia kembali menangis histeris.


Sepanjang hari itu Vidya habiskan dengan menyendiri dan mengurung dirinya di kamar.


[]


Malam hari pun tiba, Arya pulang dari kantor.


Saat ia masuk ke dalam rumahnya, rumahnya terasa sangat sepi bahkan lampu di rumahnya pun belum di nyalahkan sama sekali.


"Dimana si ****** itu?" Tanya Arya geram, lalu ia pun segera masuk dan mencari-cari Vidya.


"Vidya!" Panggil Arya namun tak ada jawaban sama sekali.


Arya mulai kebingungan, ia pun segera mencari Vidya di kamar gadis itu, namun Vidya tidak ada sama sekali di kamarnya.


Arya juga mencari Vidya di dapur dan tempat-tempat yang biasanya Vidya pakai, namun tak ia temukan juga sosok gadis itu.


Arya pun menghela nafasnya gusar, ia akhirnya memutuskan untuk mencari Vidya di area lantai dua rumahnya.


Arya bergegas mencari Vidya namun di lantai dua rumahnya pun ia tidak menemukan Vidya.


"Apa jangan-jangan dia...masa ia dia kesana?" Tanya Arya pada dirinya sendiri, akhirnya Arya memutuskan untuk pergi ke tempat yang ia sendiri kurang yakin Vidya berada di sana.


Arya menuruni anak tangga satu persatu, lalu berlari ke arah belakang rumahnya.


Arya berdecak saat tau hujan mulai turun, ia pun segera menggambil payung agar bisa ke area halaman belakang rumahnya itu.


Arya mulai memanggil-manggil nama Vidya sambil berlindung di bawah payung miliknya.


Namun tak ada sahutan dari Vidya, dan Arya pun hampir putus asa. Akhirnya Arya memutuskan untuk mencarinya di suatu tempat di halaman belakang ini yang belum ia kunjungi.


Arya pun mendekat betapa kagetnya ia ketika melihat bahwa yang mengapung di kolam renang nya itu adalah manusia, yang tak lain adalah orang yang sedang ia cari.


"Astaga gadis itu, ck ngerepotin!" Namun meskipun Arya terus mengumpat, ia langsung membuang payung miliknya, membiarkan baju dan tubuhnya basah terkena hujan.


Tanpa fikir panjang Arya langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renang itu, ia langsung membawa tubuh Vidya yang terkulai lemas ke tepi.


Setelah membawa Vidya ke tepi Arya pun naik kembali ke permukaan.


Arya berdecak melihat wajah Vidya yang memucat, bibir ranum yang senantiasa merah alami itu kini sudah membiru.


"Dia...masih idup kan?" Tanya Arya pada dirinya sendiri, namun sebisa mungkin Arya memberikan pertolongan untuk Vidya.


Ia menekan-nekan dada Vidya, lalu air yang lumayan banyak pun keluar dari mulut Vidya.


Vidya terbatuk batuk, namun matanya belum juga terbuka.


Arya mengerenyit bingung, ia lalu meletakkan jarinya di depan hidung Vidya, nafasnya menghilang?


"Astaga..." Arya tercekat namun hanya sebentar karna ia langsung menggambil tindakan.


"Gue harus lakuin ini." Arya pun langsung memberikan Vidya nafas buatan, hal yang sangat ia benci dan ia malah melakukan hal itu pada gadis yang sangat ia benci.


"Uhuk...uhuk...uhuk." Vidya akhirnya membuka matanya, ia terbatuk batuk hebat.


Arya hanya berdiam diri kali ini ia berjanji pada dirinya ia tidak akan lagi menolong gadis ini, sudah cukup ia harus ingat bahwa gadis ini yang membuat dirinya menderita dan karna gadis itu juga, dia tidak bisa bertemu dengan adiknya untuk yang terakhir kalinya.


"Cewek bodoh, udah tau gk bisa berenang malah berenang, ck **** banget." Ucap Arya dengan penuh penekanan.


Arya pun bangkit dari duduknya, menatap Vidya sebentar lalu ia membalikkan badannya pergi meninggalkan Vidya sendirian.


Vidya masih terbatuk batuk, namun tidak separah sebelumnya. Ia memandangi pungung Arya yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Untuk kesekian kalinya, kamu berhasil menyelamatkanku. Terimakasih."


Vidya mengembangkan senyumannya, ia senang karna Arya mau menyelamatkan dirinya.


Mungkin jika Allah tidak mengirimkan Arya lagi padanya kali ini, mungkin saja Vidya sudah tidak bisa melihat matahari terbit esok hari.


Vidya mencoba mengingat-ingat kenapa ia bisa jatuh ke dalam kolam renang itu.


Vidya akhirnya ingat, tadi saat sore hari ia ingin membersihkan kolam renang karna melihat air kolam renang yang sudah mulai kotor.


Biasanya Vidya tidak pernah melakukan itu, karna biasanya ada seseorang suruhan Arya yang di suruh membersihkan kolam renang itu.


Tapi karna Arya sudah memberhentikan mereka termasuk para pekerja di rumah ini, dan ia sengaja membebani semuanya pada Vidya sehingga Vidya harus melakukan semua pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, salah satunya membersihkan kolam renang ini.


Karna ceroboh, Vidya pun terpeleset ke dalam kolam renang yang dalam itu.


Vidya yang memang tak bisa berenang pun akhirnya tengelam begitu saja, beruntung hari ini Arya pulang lebih cepat dari biasanya. Jika Arya pulang seperti biasanya sudah dapat di pastikan Vidya tidak akan selamat.


[]


Vidya sudah selesai mengeringkan badannya, ia juga sudah merasa tidak terlalu mengigil lagi.


Vidya membuka lemari bajunya, lalu tatapannya beralih pada cadar yang tergantung di dalam lemarinya.


Vidya meneteskan air matanya, ia sudah tidak ingin memakai cadar itu lagi untuk sementara waktu.


Vidya butuh waktu untuk pulih, masa lalu nya begitu terasa menyakitkan membuat ia tidak bisa memaafkannya bahkan memaafkan dirinya sendiri.


Kadang Vidya juga merasa jijik menatap wajanya di cermin, itu terus mengingatkannya pada bayang-bayang wajah kelima orang yang hendak memperkosanya malam itu.


Brakk


Vidya menutup lemarinya dengan kencang, mendadak ia jadi sesak nafas.


Vidya pun segera membuka laci, dan menggambil obat penenang miliknya.


Vidya langsung meminum obat itu tak lupa juga dengan segelas air.


Setelah selesai meminum obat, nafas Vidya tidak beraturan. Namun sudah terasa agak tenang dari sebelumnya.


"Vidya!"  Vidya menghela nafasnya mendengar suara Arya yang meneriaki namanya.


"Ish dia gk tau apa? Aku ngantuk banget." Vidya menguap dan mengusap kedua matanya.


Ia bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar menghampiri Arya yang terus memanggil namanya.


"Aku sudah datang, jadi jangan berisik, suara kamu bisa membangunkan tetangga nantinya." Kata Vidya yang sudah sampai di hadapan Arya.


"Ikut gue." Vidya mengerenyitkan dahinya bingung.


"Mau kemana malam-malam begini?"


"Gk usah banyak nanya kaya dora deh, udah intinya lo harus ikut gue." Perintah Arya tak terbantahkan, akhirnya Vidya pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Tunggu sebentar." Vidya pergi sebentar dari hadapan Arya, semenetara Arya pun sedang menunggu Vidya.


"Ayo kita pergi." Ujar Vidya yang sudah kembali ke hadapan Arya.


"Dimana cadar lo itu?" Tanya Arya heran melihat Vidya yang hanya memakai kerudung panjang miliknya namun tidak memakai cadarnya.


"Cadar itu sunnah, dan aku sedang tidak mau memakainya untuk sementara waktu."


"Apapun itu, gue gk perduli, ayo." Arya melangkah lebih dulu keluar rumah lalu di susul Vidya di belakangnya.


Vidya tidak tau Arya akan membawanya kemana malam ini, padahal Vidya sudah merasa sangat ngantuk karna efek obat penenang yang ia minum sebelumnya.


Tapi Vidya tetap mengiyakan ajakkan Arya, apapun dan kemana Arya akan mengajaknya itu terserah Arya, ia akan ikut saja.

__ADS_1


Jauh di lubuk hatinya Vidya masih terus berharap, ia bisa terus bersama Arya, tidak apa-apa jika saat ini ia harus berjalan di belakang Arya tapi suatu hari nanti ia pasti bisa berjalan beriringan dengan Arya, itu adalah doa tulus Vidya di lubuk hati terdalamnya, semoga saja akan terkabulkan.


__ADS_2