
Tok tok tok
Keira yang baru saja selesai melaksanakan salat Isya pun dikejutkan dengan suara ketukkan dari luar pintu kamarnya.
"Iya tunggu sebentar!" ujar Keira yang kemudian dengan cepat bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu kamarnya.
"Loh Rayn? Eh ini bayi siapa?" tanya Keira yang bingung melihat sosok Rayn dan yang lebih membuat ia kebingungan adalah sosok bayi mungil yang kini ada dalam gendongan Rayn.
"Ini bayi siapa? Ibunya mana?" tanya Keira lalu tak lama bayi itupun menangis lagi.
"Eh kok nangis? Sini biar gue yang gendong," kata Keira lalu menggambil alih bayi tersebut dari dalam gendongan Rayn.
Keira mengendong bayi tersebut dan berusaha menenangkannya.
"Jangan nangis ya anak pinter, anak sholeh," ucap Keira sambil membelai lembut pipi bayi tersebut. Keira berusaha masih menenangkannya lalu menbacakan bayi tersebut sholawat dan ajaibnya tak lama tangisan bayi itupun berangsur reda.
"Alhamdulillah sudah gk nangis, anak pinter," puji Keira lalu mengecup kening bayi mungil tersebut membuat bayi mungil itu menatap Keira lalu tak lama tersenyum pada Keira.
"Masyaa Allah senyumannya lucu sekali!" puji Keira lagi lalu kembali memberikan kecupan dipipi kanan bayi tersebut.
Rayn yang sedaritadi memperhatikan interaksi Keira dan bayi itupun tersenyum dan bernafas lega karna akhirnya bayi itu berhenti menangis.
"Rayn," panggilan dari Keira membuat Rayn sedikit terkejut lalu menolehkan pandangannya pada gadis itu.
"Bayi siapa ini?" tanya Keira mengulangi pertanyaan yang telah ia ajukan sebelumnya pada Rayn.
"Dia anak teman saya, namun belum lama ini teman saya dan istrinya menggalami kecelakaan dan tak terselamatkan, jadi bayi ini sekarang seorang anak yatim piatu." jawab Rayn tentu saja berbohong.
Keira yang mendengar penuturan Rayn barusan tertegun, hatinya terenyuh mendengar bahwa bayi mungil yang ada didalam dekapannya ini sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.
"Maka dari itu saya memutuskan untuk membawa dia bersama saya itupun jika kamu mengizinkan," lanjut Rayn lagi.
"Tentu, gue gk keberatan kok. Justru gue seneng kalau bayi ini tinggal sama kita di rumah ini," kata Keira sambil tersenyum tulus pada bayi mungil tersebut.
"Nama bayi ini siapa?" Rayn diam sejenak, jujur saja ia juga tak tau siapa nama bayi mungil itu.
"Belum ada nama," ujar Rayn jujur. Keira menganggukkan kepalanya lalu mulai berfikir nama apa yang cocok untuk bayi tersebut.
"Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Keira pada Rayn.
"Bayi perempuan."
Keira diam untuk berfikir kembali, lalu senyuman terbit di bibirnya pertanda bahwa apa yang sedang ia fikirkan sudah terselesaikan.
__ADS_1
"Gue udah punya nama yang bagus buat bayi ini!" seru Keira menatap lembut bayi digendongannya yang sudah terlelap.
"Namanya Hanani Salsabilla, kita panggil dia Hana. Bagaimana lo setuju gk?" seru Keira semangat sekali.
"Iya, itu nama yang bagus," jawab Rayn yang menyetujui pemberian nama untuk bayi mungil itu yang kini sudah memiliki nama yang cantik secantik parasnya yaitu Hana.
"Kalau begitu malam ini biar Hana tidur sama gue ya," putus Keira dan tentu saja Rayn menyetujuinya. Sebelum kembali ke kamar masing-masing, Rayn menghampiri Hana lalu memberikan kecupan singkat di dahi Hana.
"Selamat malam, mimpi yang indah," bisik Rayn di telinga Hana. Perlakuan Rayn barusan tak luput dari pandangan mata Keira, setelah selesai mengucapkan selamat malam untuk Hana, Rayn pun pamit untuk pergi ke kamarnya.
"Ayo Hana, malam ini kamu tidur sama aku ya," ucap Keira pada Hana yang terlelap. Keira mencium pipi Hana lagi sebelum akhirnya melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya bersama dengan Hana tentunya.
[]
Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Rayn berjalan dengan hati-hati keluar dari kamarnya setelah memastikan bahwa Keira dan Hana sudah tidur ia pun pergi ke luar dari rumah.
Rayn menjalankan sepeda motor miliknya menembus udara dingin malam yang saat ini sedang turun rintik hujan, Rayn merapatkan jaketnya dan kembali fokus menatap ke arah jalanan yang sedang ia lalui.
Motor yang Rayn kendarai memasuki jalanan sepi yang di kiri dan kanannya banyak pepohonan yang berdaun lebat, saat sedang fokus tiba-tiba saja Rayn merasakan ada sesuatu yang mengenai pundaknya alhasil Rayn pun kehilangan fokusnya.
Motor yang Rayn kendarai oleng akibat jalanan yang licin dan hilangnya fokus Rayn akhirnya Rayn beserta motornya pun terjerembab ke jalanan aspal yang licin.
"Arggg!" pekik Rayn tertahan seraya memegangi pundak belakangnya, mata Rayn seketika membulat saat ia melihat tangannya yang tadi ia gunakan untuk meraba pundaknya kini sudah berlumuran darah, Rayn akhirnya sadar bahwa pundaknya terkena tembak oleh seseorang yang entah siapa Rayn pun tidak tahu.
Rayn kembali mengerang merasakan sakit, dengan susah payah Rayn berusaha bangkit namun rasanya sangatlah sulit.
[]
Adzan subuh mulai berkumandang, Keira sudah bangun dari tidurnya sedaritadi. Kini ia sudah siap dengan mungkena untuk menunaikkan salat subuh.
"Oee ... oeee."
Keira yang baru saja selesai memunajatkan doa pun segera bangkit saat mendengar suara tangisan Hana, tanpa fikir panjang Keira langsung membawa Hana ke dalam gendongannya.
Keira tersenyum lembut pada Hana, berusaha menenangkan bayi tersebut dengan menyenandungkan sholawat. Suara Keira yang merdu menambah syahdu pagi hari ini, perlahan tangisan dari Hana pun berhenti.
"Masyaa Allah Hana sudah bangun ya, mau ikut salat subuh ya nak?" tanya Keira yang mengajak Hana berbicara.
Namun tak lama Hana kembali menangis, Keira kembali menyenandungkan sholawat namun tangisan Hana tak mau reda juga. Keira mulai merasa bingung harus bagaimana supaya Hana tidak menangis lagi.
Akhirnya Keira menyerah tak tahu harus berbuat apa lagi untuk meredakan tangisan Hana, Keira pun memilih untuk membawa Hana pada Rayn. Mungkin pria itu bisa menenangkan Hana yang saat ini sedang menangis kencang.
Tok tok tok
__ADS_1
"Rayn," panggil Keira setelah mengetuk pintu kamar Rayn.
Namun tak ada sahutan dari dalam kamar Rayn, saat Keira mencoba untuk mengetuk pintu kamar Rayn sekali lagi Keira tak sengaja mendorong pintu kamar Rayn dan tiba-tiba saja pintu kamar tersebut terbuka.
"Rayn?" Panggil Keira yang masih mengendong Hana.
"Kok gk ada yang nyaut? Apa Rayn masih tidur ya?" tanya Keira pada dirinya sendiri.
Keira pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sebelum itu tak lupa ia mengucapkan salam terlebih dahulu.
Nihil, Keira tak menemukan sosok Rayn di kamar pria itu. Keira sudah mencoba mengeceknya namun Rayn memang tak ada. Keira menjadi bertanya-tanya kemana perginya pria itu dipagi hari seperti ini sementara Hana masih saja terus menangis.
"Cup cup, sabar ya sayang. Duh Rayn kemana sih? Kok pagi-pagi begini malah ngilang," gerutu Keira yang kemudian kembali berusaha menenangkan Hana.
Saat sedang berfikir dimana Rayn berada tiba-tiba Keira dikejutkan dengan suara handphone berdering, lalu tatapan mata Keira beralih ke arah nakas.
"Ini kan ponselnya Rayn? Kok tumben dia gk bawa ponselnya?"
Merasa ada yang aneh, terlebih lagi nomor yang menelpon Rayn adalah nomor orang yang tak di kenal dan tak di simpan oleh Rayn. Karna penasaran akhirnya Keira memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? Assalamu'alaikum?" ujar Keira mengawali pembicaraan.
"Halo? Ini siapa? Keira ya?"
Keira membulatkan matanya saat mendengar orang disebrang sana menyebutkan namanya, berarti orang itu memang mengenalinya.
"Iya ini saya Keira, maaf ini siapa ya kalau boleh tau?" tanya Keira lagi.
"Mamah, Rayn mana? Kenapa kamu yang angkat telponnya?"
Keira menelan salivanya saat mendengar suara dari sebrang sana lagi, ia sudah salah sangka ternyata yang baru saja berbicara dengannya tak lain dan tak bukan adalah Mamah mertuanya sendiri.
"Maaf Mah, Keira juga gk tau Rayn kemana. Keira nemuin ponselnya ada di atas nakas kamar.
"Rayn gk ada? Dia ninggalin ponselnya gitu aja? Gimana bisa?!"
Keira menjauhkan sedikit ponsel Rayn dari telinganya karna agak terganggu dengan suara kencang Mamahnya Rayn.
"Keira gk-loh? Dimatiin?" tanya Keira bingung lalu berdecak pelan saat tau bahwa sambungan panggilan tersebut dimatikan secara sepihak.
"Ya Allah berikanlah Keira kesabaran menghadapi mertua Keira yang kaya nenek sihir ini Ya Allah, eh aduh maksud Keira yang kaya ibu peri ini Ya Allah," ujar Keira sok dramatis tapi memang ia harus ekstra sabar mempunyai ibu mertua yang unik seperti ibu mertuanya itu.
Namun tak dapat dipungkiri Keira juga mulai merasa khawatir pada Rayn, entahlah Keira merasa perasaannya tak enak saat memikirkan Rayn terlebih Hana yang sedaritadi masih saja terus menangis.
__ADS_1
Keira kembali ke kamar, mengendong Hana dan berusaha menenangkan bayi mungil itu. Jujur saja Keira merasa sangat penasaran dimana keberadaan Rayn saat ini.
"Ya Allah semoga engkau selalu melindungi Rayn dimana pun dia berada," doa Keira dengan tulus sambil menatap wajah Hana sedangkan fikirannya masih tertuju pada fikiran seputar Rayn yang membuat dirinya merasa sangat khawatir.