
Partnya lumayan panjang, 2000 kata lebih hehe ... enjoy gais!
-
-
-
-
Reilla membuka kedua matanya, ia tersenyum senang saat melihat mentari masuk dari sela-sela gorden kamarnya. Reilla selalu menyukai mentari pagi yang selalu menyambut dirinya saat ia bangun dari tidur.
Reilla merubah posisi tidurnya menjadi duduk di pinggir tempat tidurnya, sebelum keluar dari kamar tak lupa Reilla mengangkat kedua tangannya untuk membaca doa setelah bangun dari tidur. Reilla sudah sering melakukan hal itu, semua itu Reilla dapatkan dari Ayahnya yang selalu mengajari dirinya untuk membiasakan membaca doa setelah bangun dari tidur.
Setelah selesai membaca doa bangun tidur, Reilla pun mulai menginjakkan kakinya di atas lantai lalu melangkah keluar dari kamarnya.
Reilla turun ke dapur, di sana ia melihat sosok Bi Imah yang sudah datang ke rumahnya. Hari ini adalah hari minggu jadi Reilla tidak perlu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
"Eh Non cantik sudah bangun," ujar Bi Imah yang baru menyadari kehadiran Reilla.
Reilla tersenyum lalu ia berdiri di samping Bi Imah yang saat ini sedang mencuci piring kotor, Bi Imah yang merasa heran kenapa Reilla terus berdiri di dekatnya pun akhirnya bertanya pada gadis kecil itu.
"Non Rei kenapa? Ada yang bisa Bi Imah bantu?" Tanya Bi Imah yang sepertinya peka dengan kehadiran Reilla.
"Bi Imah bisa bikin kue gk?" Tanya Reilla, Bi Imah yang sudah selesai mencuci piring pun kini menatap Nona mudanya itu.
"Kue apa emangnya Non?"
"Kue ulang tahun, bisa gk Bi?" Tanya Reilla penuh harap semoga saja Bi Imah bisa membantu dirinya kali ini.
"Kue ulang tahun buat siapa Non? Ulang tahun Tuan dan Non Rei kan masih lama."
"Buat Kak Aksa, Rei denger kalau hari ini Kak Aksa itu ulang tahun makannya Rei mau buatin kue buat Kak Aksa. Bi Imah bisa bantu Rei kan?" Tanya si kecil Reilla yang kembali menaruh harapan pada Bi Imah.
"Maaf ya Non kalau kue ulang tahun Bi Imah gk bisa buatnya Non," ucap Bi Imah yang nampak ikut sedih karna tidak bisa membantu Reilla.
"Yah, ya udah deh."
Reilla pun akhirnya membalikkan badannya, ia berjalan dengan lesu ke arah anak tangga.
"Non Rei!"
Langkah Reilla pun terhenti saat Bi Imah kembali memanggil dirinya, akhirnya Reilla pun membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Bi Imah.
"Bibi emang gk bisa buat kue ulang tahun, tapi tetangga Bi Imah bisa kok buat kue ulang tahun. Kita minta tolong tetangga Bi Imah aja, gimana Non? Mau gk?"
Wajah Reilla kembali berseri, dengan semangat Reilla menganggukkan kepalanya menyetujui saran Bi Imah.
Akhirnya Reilla pun bersiap-siap terlebih dahulu sebelum ia ikut Bi Imah ke rumah tetangganya Bi Imah yang akan mengajarkan Reilla membuat kue ulang tahun.
Kini Reilla dan Bi Imah sudah siap untuk pergi ke rumah tetangga Bi Imah yang tidak terlalu jauh dari komplek rumah Reilla.
Sebelumnya Reilla sudah izin terlebih dahulu pada Ayahnya dan Arya mengizinkan Reilla karna ada Bi Imah yang menemani putrinya itu.
Dengan penuh semangat Reilla dan Bi Imah berjalan kaki menuju tempat tujuan mereka, selama di jalan Reilla bercerita sedikit tentang Aksara yang hari ini sedang berulang tahun.
Dari cerita yang Bi Imah dengar, ia bisa tau kalau anak bernama Aksara itu sepertinya sangat dekat dengan Reilla sehingga Nona mudanya ini sampai rela ingin membuat kue ulang tahun sendiri.
"Nah kita sudah sampai, Rei tunggu bentar di sini ya."
Reilla menganggukkan kepalanya, ia lalu menunggu Bi Imah yang berjalan mengetuk pintu rumah tetangganya itu.
Tak lama keluarlah sosok wanita muda dari dalam rumah, Bi Imah terlihat berbicara dengannya dan tak lama Bi Imah memanggil Reilla untuk mendekat ke arahnya.
"Nah ini dia anak majikkan saya, namanya Reilla. Dia yang mau di ajarkan membuat kue ulang tahun untuk temannya yang ulang tahun hari ini," ujar Bi Imah menjelaskan.
Wanita muda yang merupakan tetangga Bi Imah pun menganggukkan kepalanya, ia tersenyum menatap Reilla yang sedaritadi terus menyungingkan senyumannya.
"Halo Reilla, perkenalkan nama Kakak Syabil. Kamu bisa panggil aku Kak Syabil," ujar wanita muda itu yang tak lain adalah Syabil.
__ADS_1
"Kak Syabil cantik," ujar Reilla tulus setelah sedaritadi menatapi wajah Syabil.
Syabil yang mendengarkan ucapan Reilla hanya bisa terkekeh saja mendengarnya.
"Reilla juga cantik kok, ah iya kamu mau buat kue ulang tahun ya? Tapi Kak Syabil belum ada bahan-bahannya, gimana kalau kita beli dulu bahan-bahannya? Reilla mau ikut gk?" Tanya Syabil berusaha untuk akrab dengan Reilla.
Reilla tentu saja langsung menganggukkan kepalanya, ia begitu senang ketika Syabil menawarinya untuk ikut membeli bahan-bahan untuk membuat kue ulang tahun.
"Kalau Bu Imah mau kembali bekerja gk apa-apa kok, Reilla aman sama saya."
Bi Imah yang sudah mengenal Syabil sejak lama pun akhirnya mempercayakan Syabil untuk menjaga Reilla, lalu Bi Imah akhirnya pamit ke rumah Reilla untuk kembali bekerja lagi.
Kini tinggal Syabil dan Reilla saja, Syabil meminta Reilla menunggu di dalam karna Syabil ingin bersiap-siap terlebih dahulu dan Reilla pun akhirnya menurut.
Selama menunggu Syabil bersiap, Reilla hanya duduk diam di sofa yang ada di ruang tamu rumah Syabil. Reilla mengamati rumah tersebut, rumahnya tidak terlalu besar berbeda dengan rumahnya yang besar itu namun rumah ini begitu nyaman dan bersih.
"Udah selesai, yuk kita pergi."
Reilla tersenyum, lalu ia menerima uluran tangan Syabil. Syabil mengengam tangan mungil Reilla agar anak itu tetap aman dan selalu dekat dengannya.
Di sepanjang perjalanan Reilla dan Syabil banyak bercerita, Syabil yang memang notabennya sangat suka pada anak kecil pun sangat suka pada Reilla yang menurut Syabil terbilang sangat pintar untuk anak di usianya.
Tak terasa akhirnya Syabil dan Reilla sampai juga di toko yang menjual bahan-bahan serta perelengkapan untuk membuat kue.
Di sini Reillalah yang paling antusias, selama ini baru kali ini Reilla menginjakkan kakinya di pasar tradisional, ya toko bahan-bahan kue tersebut memang berada di sebuah pasar tradisonal.
Reilla melihat pasar tersebut yang lumayan ramai oleh orang-orang yang juga ingin berbelanja sama seperti dirinya.
"Reilla suka hiasan yang mana? Sini, kamu pilih mau yang mana untuk hiasan kue nya nanti," panggil Syabil, Reilla pun berjalan mendekat pada Syabil.
Reilla melihat dua hiasan untuk kue yang kini berada di tangannya Syabil, satunya berbentuk mobil dan satunya lagi berbentuk karakter super hero.
Reilla memilih hiasan berbentuk karakter super hero, karna setaunya Aksara memang menyukai karakter super hero tersebut.
Akhirnya setelah selesai membeli bahan dan perlengkapan untuk membuat kue, dan kebetulan juga mereka sedang ada di pasar Syabil pun mengajak Reilla untuk menemaninya berbelanja bahan makanan terlebih dahulu dan tentu saja Reilla mau.
Syabil dan Reilla berjalan menuju pedagang yang menjual ikan segar, saat Syabil sedang memilih ikan. Reilla dengan antusiasnya menatap ikan lele yang berada dalam bak, ikan itu sepertinya masih hidup karna terus melakukan pergerakkan.
"Ikan lele?" Tanya Reilla yang tidak pernah mendengar nama ikan tersebut sebelumnya.
"Iya itu namanya ikan lele, Reilla belum pernah coba? Itu rasanya enak banget kalau di masak," ujar Syabil memberitahu Reilla.
Reilla yang baru saja menemukan informasi baru pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar senang.
"Kak Syabil mau beli ikan lele gk?" Tanya Reilla, Syabil diam dan sedang berfikir karna sebenarnya ia ingin membeli ikan mas tapi melihat wajah penuh harap Reilla akhirnya Syabil menganggukkan kepalanya.
"Horee! Nanti Reilla boleh coba ikan lelenya gk?" Tanya Reilla antusias.
"Tentu boleh, nanti kita makan bareng ya."
Reilla kembali bersorak senang, ia sungguh merasa begitu bahagia hari ini karna bisa berbelanja bersama dengan Syabil. Walaupun Reilla kadang juga suka pergi berbelanja namun kali ini berbeda, Reilla tidak pergi ke mall melainkan ke pasar tradisional dan itu merupakan hal yang baru baginya karna Ayahnya belum pernah mengajak dirinya ke sini.
Setelah berbelanja ikan, Reilla dan Syabil pun berbelanja sayuran. Keduanya terlihat sangat akrab sekali, Syabil mampu membuat Reilla merasa nyaman dan aman berada di dekatnya.
"Wah pantes aja anaknya cantik banget, Ibunya aja cantik. Anaknya umur berapa Bu?"
Syabil terdiam dia hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan seorang Ibu pedagang sayur yang lapaknya sedang ia singgahi.
Reilla yang juga mendengar pertanyaan Ibu pedagang sayur itu pun hanya bisa diam dan perlahan senyumannya hilang.
"Dia mirip Ayahnya," ujar Syabil membuat Reilla mengangkat kepalanya menatap Syabil yang baru saja mengatakan kalau dia mirip dengan Ayahnya padahal banyak orang yang bilang kalau dirinya sangat mirip dengan Ummah.
Setelah selesai membeli belanjaan yang di butuhkan, Syabil dan Reilla pun bergegas pulang ke rumah Syabil untuk membuat kue.
"Kak Syabil memangnya kenal dengan Ayahnya Rei?" Tanya Reilla yang sedaritadi penasaran.
"Kakak gk kenal Ayah kamu tadi itu Kakak cuma asal jawab aja hehe," jawab Syabil.
Reilla menganggukkan kepalanya, ia sudah menduga pasti Syabil belum mengenal sosok Ayahnya karna mereka juga baru bertemu hari ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Syabil langsung mengajak Reilla ke dapur. Sebelum itu ia mengajak Reilla untuk mencuci tangan terlebih dahulu, lalu ia juga sempat menguncir rambut Reilla sebelum memulai memasak.
"Kenapa rambutnya harus di kuncir dulu?" Tanya Reilla pada Syabil yang kini sedang menguncir rambutnya.
"Supaya gk ada rambut yang jatuh ke dalam masakannya nanti, nah udah selesai deh."
Reilla yang rambutnya sudah selesai di ikat pun kini mulai membantu Syabil memasak kue, Syabil mengajari Reilla bagaimana cara membuat kue.
Keduanya memasang dengan penuh suka cita, mereka juga tertawa bersama ketika menyadari bahwa di wajah keduanya ada krim yang menempel.
"Tinggal kita tunggu dulu deh," ujar Syabil yang memasukkan adonan kue ke dalam oven miliknya.
"Reilla tunggu di ruang TV aja ya, nonton TV dulu sambil nunggu kue nya mateng dan nanti kita hias bareng," ujar Syabil dan di balas anggukkan oleh Reilla.
Reilla pun menurut ia duduk di sofa ruang tengah sambil menyaksikan acara TV, namun mungkin karna kelelahan dan hari juga sudah siang Reilla pun tertidur di sofa.
Syabil yang datang untuk memberitahu Reilla bahwa kuenya sudah siap untuk di hias pun di buat tersenyum, saat melihat Reilla sudah meringkuk, tertidur.
"Pasti kelamaan nunggu nih jadi sampe ketiduran."
Syabil pun akhirnya memutuskan untuk memindahkan Reilla ke kamarnya, karna kalau ia membiarkan Reilla tidur di sofa badan anak itu bisa sakit nantinya.
Saat Reilla tidur, Syabil pun memutuskan untuk kembali ke dapur. Kali ini ia akan membuatkan makan siang untuk dirinya dan juga si kecil Reilla.
...............................
Reilla terbangun dari tidurnya ketika mencium sebuah wangi yang cukup membuat perutnya merasa lapar.
Reilla yang baru sadar kalau dia sedang tidak ada di rumahnya pun kembali mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah ingat Reilla pun keluar dari kamar tersebut lalu berjalan menuju dapur.
"Kamu sudah bangun ternyata, ayo sini duduk kita makan siang dulu."
Reilla melihat Syabil yang sudah menyiapkan makanan untuknya, karna perutnya juga sudah lapar alhasil Reilla pun menurut dan duduk di salah satu kursi yang disediakan oleh Syabil.
"Ini ikan lele yang kita beli tadi ya?" Tanya Reilla sambil menunjuk sebuah piring yang terdapat ikan di atasnya.
"Iya itu ikan lele, coba deh Reilla cobain rasanya."
Reilla pun mengangguk lalu ia mulai menyantap lauk yang sudah Syabil ambilkan untuknya, mata Reilla berbinar takjub ketika merasakan daging ikan lele di dalam mulutnya.
"Gimana rasanya?" Tanya Syabil yang penasaran.
"Enak banget!" Seru Reilla yang sangat menikmati makan siangnya, Syabil pun ikut senang melihat Reilla yang begitu lahap menyantap masakannya.
"Memangnya di rumah Reilla sering dimasakin apa aja sama Mamahnya Reilla?"
Reilla yang tadi sedang menyantap makanannya mendadak berhenti, ia tidak menjawab pertanyaan yang Syabil ajukan karna memang Reilla bingung ingin jawab apa.
Melihat Reilla yang hanya diam, membuat Syabil jadi merasa tidak enak ia bertanya-tanya apakah dirinya sudah melakukan kesalahan sehingga membuat gadis kecil itu terdiam?
"Kak Syabil, Rei boleh tanya gk?"
"Tentu, Reilla mau tanya apa?"
Reilla pun terdiam, ia sedang memikirkan apakah akan bertanya hal itu atau tidak pada Syabil.
"Kak Syabil punya Ibu?" Tanya Reilla, meskipun bingung Syabil tetap menganggukkan kepalanya.
"Gimana rasanya masak bareng sama Ibu? Gimana rasanya punya seorang Ibu?" Tanya Reilla yang menatap lekat Syabil.
"Kenapa kamu nanya gitu?" Tanya Syabil yang bingung sendiri dengan pertanyaan Reilla.
"Karna Rei sudah gk punya sosok Ibu lagi, Ummah sudah ada di surga jadi maaf Rei gk bisa jawab pertanyaan Kak Syabil tadi," ucap Reilla lalu menundukkan kepalanya dalam, rasa rindu pada Ummahnya kembali muncul menyeruak dari dalam qalbunya.
Mendengar ucapan Reilla barusan, Syabil baru sadar kalau ternyata gadis kecil itu sudah tidak punya sosok Ibu dan Syabil merutuki pertanyaan yang ia ajukan tadi.
Melihat raut sedih Reilla, Syabil pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Reilla. Reilla yang merasa kepalanya di usap lembut seseorang pun akhirnya mendongakkan kepalanya ia melihat Syabil tersenyum padanya.
"Maaf," ujar Syabil tulus, matanya sudah berkaca-kaca ketika menatap wajah Reilla. Reilla tidak menjawab namun ia langsung memeluk pinggang Syabil sambil terisak.
__ADS_1
Syabil hanya bisa diam, ia jadi ikut terisak membayangkan betapa sedihnya Reilla yang di usai sekecil itu harus di tinggal oleh sosok seorang Ibu, itu pasti sungguh berat bagi anak seusia Reilla.