
Pagi hari pun tiba, mentari bersinar dengan terik. Cahayanya mampu menerangi seluru sudut bagian bumi ini.
Pagi ini Shafa alias Vidya memutuskan untuk jalan-jalan pagi, ia bosan di rumah jika harus terus mendengarkan ucapan Arya. Lagi pula Vidya tidak akan bepergian jauh lagi, ia akan berjalan-jalan di taman saja untuk sekedar menghirup udara segar.
"Aduh...."
Perhatian Vidya pun teralihkan saat mendengar rintihan kesakitan, Vidya pun segera berlari ke arah wanita paruh baya yang saat ini sudah jatuh terduduk sambil memegangi kakinya yang Vidya yakini terasa sakit.
"Saya bantu ya Bu," ucap Vidya yang fokus memasukkan buah-buahan milik wanita paruh baya itu ke dalam paper bag.
"Vidya?"
Tangan Vidya yang tadi begitu cekatan memasukkan buah-buahan ke dalam paper bag milik Ibu itu pun seketika terhenti, tubuh Vidya menegang di tempatnya saat mendengar wanita itu memanggil namanya.
Perlahan Vidya mengangkat kepalanya, lalu matanya membulat ketika melihat siapa sosok yang saat ini sedang ia bantu.
"Kamu Vidya kan?" Tanya wanita paruh baya itu membuat Vidya gelagapan.
"Maaf anda salah orang, saya permisi," ucap Vidya yang memilih untuk pergi saja daripada harus berhadapan dengan serpihan masalalunya dan membuat identitasnya menjadi terbongkar.
"Aduh!"
Vidya kembali membalikkan badan saat mendengar suara rintihan kesakitan lagi dari arah belakangnya, dengan cepat Vidya berlari ke arah wanita paruh baya itu lagi.
"Hati-hati Umi!" pekik Vidya tanpa sadar membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget.
"Kamu bilang apa? Umi?" Tanya wanita paruh baya itu membuat Vidya tersadar bahwa ia sudah mengatakan hal yang membuat dia dalam bahaya.
Vidya tak menghiraukan pertanyaan wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Umi nya sendiri, Vidya hanya fokus mengobati luka di kaki Umi nya sambil terus menundukkan kepala.
"Sudah selesai, saya permisi," ucap Vidya yang bergegas bangkit dan berniat untuk segera pergi.
"Tunggu!"
Namun langkah Vidya terhenti seketika, ia diam namun tidak berani membalikkan badannya.
Tubuh Vidya meremang, saat tiba-tiba saja Uminya memeluk dia dari belakang. Vidya dapat merasakan pakaiannya basah dan Vidya sudah menduga bahwa saat ini Umi nya pasti sedang menangis.
Mata Vidya sudah memanas, sebenarnya ia ingin sekali membalas pelukkan Umi nya itu namun Vidya harus tetap berpura-pura sebagai orang lain di depan Umi nya sendiri.
"Vidya ... hiks ... Umi merindukan Vidya," lirih Umi Vidya yang masih tetap pada posisinya, memeluk Vidya dari belakang dengan erat.
Air mata Vidya tidak dapat terbendung lagi, ia sudah menangis saat ini. Umi nya ada di dekatnya tapi ia tidak bisa berbuat apapun, padahal hatinya begitu mengebu-gebu merindukan sosok malaikat tak bersayapnya.
Umi Vidya pun membalikkan tubuh Vidya, membuat Vidya tak berkutik seketika tatkala harus berhadapan dengan Umi nya seperti sekarang ini.
"Kamu benar Vidya kan?" Tanya Umi Vidya lirih, perlahan tangannya terulur mengusap lembut pipi Vidya.
Vidya memejamkan matanya saat merasakan usapan tangan lembut sang Umi yang selama ini ia rindukan.
"Ka ... kamu benar Vidya kan?" Tanya Umi Vidya lagi dengan suara bergetar.
__ADS_1
Vidya menghela nafasnya, lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya membuat Umi Vidya sontak memundurkan langkahnya.
"Ke ... kenapa bisa? Bukannya kamu sudah meninggal?" Tanya Umi Vidya yang masih terperanjat dalam kebingungan.
Vidya yang melihat Uminya tampak kebingungan pun, langsung berhambur dan memeluk Uminya erat sambil menumpahkan rasa rindu yang selama ini sulit sekali ia tahan.
"Umi ... hiks ... maafin Vidya," lirih Vidya yang memeluk Uminya erat.
Umi Vidya masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini, namun perlahan tangannya terulur dan membalas pelukkan Vidya.
"Sttt jangan nangis nak, semuanya akan baik-baik saja."
Vidya menganggukkan kepalanya, ia begitu rindu mendengar nasihat Umi nya yang selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Vidya tak pernah merasa khawatir.
"Putriku kembali," ucap Umi Vidya lalu sambil mengusap lembut kepala Vidya yang tertutupi oleh kerudung.
"Tapi Umi masih bingung dengan apa yang terjadi, semuanya seperti mimpi," ucap Umi Vidya saat merasa bahwa Vidya sudah lebih tenang dari sebelumnya.
Vidya melerai pelukkannya dengan sang Umi, Vidya menatap lembut Umi dengan matanya yang sudah sembab karna menangis.
"Kamu harus jelaskan semua yang terjadi pada Umi," ujar Umi Vidya dan di balas anggukkan oleh Vidya.
Umi kembali menyungingkan senyumannya, tangannya kembali terulur membelai lembut wajah Vidya dengan sayang.
"Umi senang kamu sudah kembali."
Vidya tersenyum, lalu menggambil tangan Uminya yang tadi membelai lembut wajahnya. Di tatapnya tangan sang Umi yang sudah mulai berkeriput, Vidya pun mencium punggung tangan Umi seraya mengumamkan permintaan maaf, ia merasa bersalah sudah membohongi Uminya selama ini.
"Tentu, tapi sebelum itu kita pulang ke rumah dulu ya nak. Kamu pasti rindu pulang ke rumah kan?" Tanya Umi Vidya yang tentu saja langsung di sambut anggukkan kepala antusias oleh Vidya.
"Biar Vidya yang bawakan buah-buhannya mi," ucap Vidya yang menggambil alih paper bag yang berisi buah dari tangan Uminya.
Um Vidya tak melarang, ia tersenyum bahagia bisa melihat putrinya kembali walaupun di hati ia masih merasa janggal dengan apa yang saat ini terjadi namun kejanggalan itu segera ia tepis. Baginya kehadiran Vidya kembali itu adalah sebuah anugerah yang harus ia syukuri.
Umi Vidya mengandeng tangan Vidya dengan begitu erat, ia tidak mau jika sampai harus kehilangan putrinya untuk yang ke dua kalinya.
"Kita sampai di rumah," ucap Umi Vidya yang saat ini sedang membuka pintu rumahnya.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya, Vidya merasa matanya kembali memanas. Rumahnya tidak banyak berubah, semuanya masih tetap sama. Bahkan barang-barangnya juga masih tertata rapih di tempatnya.
"Duduk dulu nak," ujar Umi Vidya yang menuntun putrinya untuk duduk terlebih dahulu.
Vidya menurut, setelah duduk ia masih mengamati rumahnya yang begitu ia rindukan selama 15 tahun ini.
"Sekarang kamu bisa jelaskan semuanya pada Umi kan?" Tanya Umi Vidya membuat perhatian Vidya teralihkan ke arah Uminya.
"Tentu mi," jawab Vidya yang sudah yakin untuk menceritakan semuanya pada sang Umi.
"Umi pasti kaget kan, Umi juga pasti bertanya-tanya kenapa Vidya bisa hidup lagi."
Umi Vidya pun menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang putrinya itu ucapkan.
__ADS_1
Vidya pun mulai menceritakan semuanya pada Umi, Vidya bercerita bahwa sebenarnya dirinya tidak meninggal. Yang meninggal itu bukanlah Vidya melainkan Vyra, kembarannya Vidya.
Vidya memang memiliki kembaran sejak kecil dan Umi Vidya juga tau itu, namun yang membuat Umi Vidya heran adalah bukankah Vyra, kembaran Vidya sudah meninggal saat ia masih berumur 5 tahun karna terkena tsunami di Aceh? Lalu kenapa bisa hidup lagi?
Vidya kemudian lanjut menjelaskan, sebenarnya Vyra selamat dari sunami Aceh saat itu namun Vyra hilang dan di temukan oleh seorang pria berkebangsaan Amerika yang kebetulan di tugaskan ke Aceh saat sunami melanda. Vyra di angkat menjadi putri pria berkebangsaan Amerika itu, Vyra di besarkan dan di sekolahkan di Amerika. Namun semua itu tidak membuat Vyra lupa akan keluarganya yang ada di Indonesia.
Vidya bertemu dengan Vyra sebenarnya sudah sejak lama, saat itu ia baru duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia berkomunikasi dengan Vyra lewat email dan belum sempat bertemu dengan Vyra karna saat itu.
Lalu setelah bertahun-tahun lamanya, tepatnya saat Vidya sedang mengandung putrinya. Vidya mendapat kabar dari Vyra bahwa dia ada di Turki, Vyra meminta Vidya untuk datang di datang ke sana karna ada suatu hal yang harus ia beritahukan pada Vidya yang notabennya adalah kembarannya.
Sebenarnya kepergian Vidya ke Turki saat itu bukan hanya karna untuk menyegarkan fikirannya dari masalah yang ia hadapi karna Arya, melainkan Vidya ke sana untuk menemui kembarannya yang sudah lama tidak ia temui.
Sampai di Turki, Vidya berhasil bertemu dengan Vyra. Vidya berhasil d kejutkan dengan fakta yang selama ini Vyra sembunyikan, rupanya gadis itu mengidap penyakit kanker dan sudah memasuki stadium akhir.
Vidya ingat dia sampai menangis saat itu karna merasa sedih, pertemuan pertamanya dengan saudara kembarnya harus sebegitu menyakitkan.
Namn Vyra bilang bahwa dirinya akan baik-baik saja, kalau pun dia harus pergi. Dia akan pergi dengan tenang karna ia masih di beri kesempatan untuk bertemu dengan Vidya, kembarannya yang selama ini ia rindukan.
Merasa begitu akrab dengan Vyra, Vidya pun menceritakan semua yang telah ia alami pada Vyra termasuk perihal hubungannya dengan Arya. Vyra yang merasa kasihan pun berniat membantu Vidya, awalnya Vidya menolak namun Vyra bilang ia melakukan ini untuk yang terakhir kalinya karna ia tidak tau bisa hidup sampai kapan mengingat penyakit yang ia derita semakin parah.
Lalu setelah pertemuan dengan Vyra di Turki, keesokan harinya Vidya mendapatkan keberadaan Siren yang meminta dirinya untuk kembali ke Indonesia.
Vidya akhirnya kembali ke Indonesia, sebelumnya ia juga sempat berpamitan pada Vyra walau hanya lewat pesan singkat karna saat itu Vidya tak ada waktu untuk bertemu dengan Vyra.
Namun setelah itu, entah bagaimana Vyra bisa tau kalau Vidya telah menggalami kecelakaan. Vyra langsung pergi ke Indonesia, awalnya untuk menjenguk Vidya namun saat ia ingat kembali penderitaan yang Vidya alami karna ulah pria bernama Arya seketika Vyra pun membuat rencana.
Rencana yang mengawali semua kejadian ini, sebenarnya setelah melahirkan Vidya sempat sadar dan baik-baik saja hanya kepalanya yang menggalami benturan begitu keras membuatnya harus kembali hilang ingatan.
Hal itu di manfaatkan oleh Vyra untuk membalaskan penderitaan yang telah Vidya alami akibat ulah Arya, Vyra ingin membuat Arya menyesali perbuatannya pada Vidya.
Singkat cerita, Vyra berhasil membawa Vidya yang saat itu masih tak sadarkan diri keluar dari rumah sakit tentu saja dengan bantuan beberapa dokter yang telah ia sogok untuk membantu dirinya membawa kabur Vidya yang kebetulan menggalami hilang ingatan.
Vyra juga menyuruh bawahannya untuk menyiapkan helikopter dan meminta membawa Vidya pergi jauh, ke luar negri.
Vyra pun memilih untuk menggantikan posisi Vidya di rumah sakit, namun sayang penyakit Vyra saat itu kambuh dan akhirnya ia harus meregang nyawanya setelah berhasil membawa kabur Vidya.
Yang Arya dan keluarganya lihat saat itu bukanlah Vidya, melainkan Vyra yang sudah kehilangan nyawa akibat penyakit yang di deritanya.
Wajah Vidya dan Vyra memang sangat mirip sehingga sulit di bedakan oleh Arya dan juga keluarganya, jadi mereka menyangka bahwa saat itu bukan Vyra yang meninggal namun Vidya.
"Jadi maksud kamu yang meninggal itu Vyra?" Tanya Umi yang kaget mendengar cerita Vidya.
"Iya Umi," jawab Vidya sambil menghela nafasnya yang terasa sesak saat kembali mengingat kepergian saudara kembarnya itu.
"Lalu masalah hilang ingatan yang kamu alami, itu benar atau rekayasa?" Tanya Umi Vidya lagi.
Kemudian Vidya kembali melanjutkan ceritanya, selama menggalami hilang ingatan itu Vidya tinggal bersama Khatlin, temannya Vyra di Amerika. Namun sayangnya Vidya di sana tidak mendapatkan perlakuan yang baik, ia justru menggalami siksaan dari Ayahnya Khatlin yang selalu saya memukulinya.
Karna tak tahan di siksa terus menerus, Vidya pun memutuskan untuk pergi. Namun sayang ia kembali tertangkap oleh Ayah Khatlin.
Ayah Khatlin pun memutuskan untuk menjual Vidya tanpa sepengetahuan Khatlin, akhirnya singkat cerita Vidya pun di bawa oleh orang yang telah membelinya ke Indonesia. Vidya pun akhirnya terjebak di sebuah klub malam yang selalu menyuruhnya untuk bekerja melayani para pria hidung belang, walaupun Vidya tidak mengingat apapun dari masalalunya ia tetap merasa takut dan berulang kali menolah melayani para pria hidung belang yang tentu saja membuat Vidya sering mendapatkan siksaan.
__ADS_1
Sampai akhirnya Vidya bertemu dengan Arya, saat itu ia belum mengingat apapun namun melihat wajah Arya membuatnya tanpa sadar menyebutkan nama pria itu. Vidya bersyukur di pertemukan dengan Arya, ia bisa bebas dari tempat klub malam itu dan perlahan ingatannya juga kembali itu semua karna Arya yang telah menolongnya. Vidya sangat berterimakasih pada Arya akan hal itu.