Without You

Without You
[S2] Menghibur Vidya


__ADS_3

Ting tong ting tong


Suara bel berbunyi nyaring, membuat Vidya dan Arya yang tadi sedang mengobrol pun jadi terhenti.


Mereka berdua kini saling berpandangan satu sama lain, dengan dahi yang berkerut bingung.


"Siapa yang datang ya?" Tanya Vidya pada Arya.


"Aku gk tau juga deh," jawab Arya seraya mengangkat kedua bahunya.


"Aku bukain pintunya dulu ya," izin Vidya dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.


"Apa lagi?" Tanya Vidya saat Arya menahan tangannya.


"Jangan lama-lama ya, nanti aku kangen."


Vidya tertawa mendengar ucapan Arya barusan, apalagi wajah pria itu yang sudah mengedip-ngedipkan matanya genit.


"Gombal teruss," sindir Vidya dan Arya hanya menanggapinya hanya dengan kekehan lalu melepaskan tangan Vidya, membiarkan gadis itu pergi.


Cklek


Vidya membulatkan matanya saat melihat sosok seseorang yang kini berdiri di depannya.


"Kenapa diam? Kaget liat kedatangan saya?"


"Silahkan masuk Mamah," ucap Vidya yang memberikan jalan untuk Mamah mertuanya.


Mamah Arya pun berjalan masuk ke dalam rumah, melewati Vidya begitu saja. Vidya hanya menghembuskan nafasnya pelan, di dalam hati ia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa nantinya.


"Mamah kan sudah bilang sama kamu, tapi kamu gk pernah dengerin Mamah. Lihat sekarang! Putrimu itu tidak mau tinggal lagi bersama kamu itu semua karna perempuan itu, ia sudah membohongi kita semua selama ini. Seharusnya kamu menikah dengan Syabil bukan dengan Vidya!"

__ADS_1


Vidya yang tadi hendak bergabung bersama Mamah mertuanya dan Arya di ruang tamu pun mengurungkan langkahnya, ia lebih memilih diam di balik tembok yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang keluarga.


Vidya meneteskan air matanya tatkala mendengarkan ucapan pedas Mamah Arya yang terdengar begitu membenci dirinya. Padahal Vidya juga tidak apa yang telah ia perbuat, ia tau ia memang sudah melakukan kesalahan namun Vidya sudah minta maaf dan berjanji akan memperbaiki semuanya.


"Mah, Vidya juga sudah berusaha selama ini. Mamah jangan terus-terusan menyalahkan Vidya."


Vidya menangis sesegukkan, ia terus mendengarkan semua percakapan antara Mamah mertuanya dan juga Arya yang saat ini terdengar sedang berdebat.


"Terserah kamu Arya, kamu gk pernah mau dengerin Mamah. Kamu hanya fokus mendengarkan gadis itu saja, kamu di guna-guna atau gimana sama perempuan itu?!"


Arya menghela nafasnya, tidak habis fikir dengan jalan fikiran Mamahnya. Dulu Arya kira Mamahnya itu sudah berubah dan tidak membenci Vidya lagi namun nyatanya Mamahnya masih tetap sama.


"Mah, udah dong Mah. Mamah bisa gk sih gk usah ikut campur urusan rumah tangga Arya? Arya ini udah besar Mah," gerutu Arya seraya menghela nafasnya jengah akan sikap sang Mamah.


"Apa kamu bilang? Oh jadi maksud kamu Mamah ini gk boleh ikut campur rumah tangga kamu gitu? Oke kalau begitu, asalkan kamu tau ya pantas saja Reilla tidak mau tinggal dengan kamu, dia saja tau kalau Ibu nya itu perempuan yang gk baik. Cih menjijikan!"


Setelah mengatakan hal itu Mamah Arya langsung berjalan ke luar rumah dengan langkah kesal dan sambil mengerutu.


Brakk


"Vidya? Kamu ngapain diri di sini?" Tanya Arya yang menangkap sosok Vidya sedang duduk di anak tangga.


"Hiks ... Arya, sebegitu burukkah diriku hingga putriku tidak mau tinggal dengan kita?" Tanya Vidya dengan tatapan nanar sambil terisak.


Arya menghela nafasnya pelan, ia kemudian ikut mendudukkan dirinya di samping Vidya. Tangan Arya bergerak mengusap lembut pipi Vidya dan menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Vidya.


"Jangan nangis, aku gk mau kamu sedih kaya gini," ucap Arya yang mengusap lembut puncak kepala Vidya.


"Semua ini bukan salah kamu Vidya, Reilla mungkin masih belum bisa menerima ini semua karna dia masih kaget. Tapi aku yakin dia pasti perlahan akan luluh dan akan memaafkan dirimu, bukankah surga itu berada di bawah telapak kaki Ibu? Kamu adalah Ibu nya Reilla, aku yakin sejauh apapun putri kita pergi, dia pasti akan kembali lagi ke dalam dekapan kita," ucap Arya dengan tatapan teduh yang menenangkannya.


Vidya membalas senyuman Arya, gadis itu menganggukkan kepalanya pelan. Arya pun langsung membawa Vidya ke dalam dekapannya, ia mengusap punggung Vidya agar gadis itu menghentikan tangisnya.

__ADS_1


Arya jadi berfikir pasti berat jika jadi Vidya, gadis itu pasti sangat tertekan saat ini. Setelah Reilla memutuskan untuk pergi dan memilih tuk tinggal di Jerman bersama dengan Syabil, putrinya itu tidak pernah menghubungi Arya lagi.


Namun untuk tau kabar keadaan Reilla, Arya telah menyewa seseorang untuk mengawasi gerak-gerik putrinya selama di Jerman sana. Setiap seminggu sekali orang yang Arya sewa untuk mengawasi Reilla akan selalu memberikan informasi terkait dengan putrinya di sertai dengan foto-foto Reilla yang mampu mengobati rasa rindu Arya pada putrinya itu.


Arya belum mengatakan semua itu pada Vidya bahwa ia menyewa seseorang untuk mengawasi putri mereka di Jerman, rencananya Arya akan memberitahu hal itu nanti pada Vidya.


"Mamah kamu masih marah sama aku ya?" Tanya Vidya yang masih ada di dalam dekapan Arya.


"Kamu kaya gk tau Mamah aja, dia kan selalu gitu," ucap Arya lagi yang memang sudah paham dengan tabiat Mamahnya yang dari dulu tak pernah berubah.


"Udah gk usah di fikirin lagi, kamu gk boleh sedih. Aku gk mau lihat kamu sedih terus," ucap Arya yang melerai pelukkannya.


Cup


Arya mencium kening Vidya lama, lalu ciumannya berpindah ke kedua kelopak mata Vidya, dan terakhir tepat di kedua pipi Vidya.


"Aku cinta kamu banget," ucap Arya menatap Vidya dalam.


Seolah terhipnotis oleh tatapan Arya, Vidya hanya bisa diam dengan wajah yang sudah memerah.


"Kok malah diem sih?" Tanya Arya sambil mencebikkan bibirnya, Vidya jadi gemas sendiri melihat ekspresi Arya saat ini.


"Emang aku harus ngomong apa?" Tanya Vidya bingung sendiri jadinya.


"Aku kan udah bilang aku cinta kamu kok gk di jawab?"


Vidya tidak bisa lagi untuk tidak tertawa melihat ekspresi mengemaskan Arya, bahkan tanpa Vidya sadari ia sampai memukul bahu Arya karna saking gemasnya.


"Aish! Cewek emang gitu ya? Kalau ketawa suka mukul-mukul gitu," ujar Arya sambil mengusap lengannya yang terasa agak sakit karna kena pukulan Vidya.


"Hehe udah kebiasaan abisnya," ucap Vidya sambil menunjukkan cengirannya.

__ADS_1


Arya tersenyum lalu merangkul Vidya, Vidya menyenderkan kepalanya di pundak Arya dengan nyaman. Bagi Vidya tak ada tempat ternyaman selain pelukkan Umi dan Abi, serta pelukkan dari Arya, suaminya ini.


Dalam hati Vidya selalu berdoa agar Arya tetap bersamanya, selalu ada di sisinya dan selalu menemani dirinya kala dia sedang senang mau pun sedang bersedih. Vidya juga berharap kebahagiaanya bisa semakin lengkap dengan kehadiran Reilla di dalam keluarganya, semoga saja Reilla bisa segera memaafkan Vidya dan kembali pada dirinya lagi.


__ADS_2