Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Keputusan yang bulat


__ADS_3

Pagi itu liyon terlihat sangat bersemangat dan sejak kejadian kacau dihari pertunangan hari itu liyon tak sekali pun datang kerumah orang tuanya dan dia juga tak mau dijodohkan dengan wanita manapun oleh mamanya, karena jika itu terjadi lagi maka liyon memilih untuk kembali lagi ke Beijing dan gak mau memegang perusahaan dan memilih keluar dari KK keluarganya.


Liyon jadi lebih dingin dari sebelumnya dan dia telah memblok perusahaan dari keluarga Bagaskara sepenuhnya sehingga sebagian dari keluarga Bagaskara yang masih bekerja di perusahaan itu hanya bisa menjadi bawahan liyon, dan mereka tak diberi hak apa pun dalam perusahaan.


"Selamat pagi pak." sapa salah satu pegawai liyon yang melihat liyon datang berkunjung ke perusahaan dengan dikawal oleh Farid dan Satria.


Liyon hanya menjawab sapaan dari pegawai itu dengan anggukan saja, bagi semua pegawai di perusahaan Bagaskara liyon adalah atasan dan pimpinan yang dingin dan disiplin. Karena liyon saat menghadapi mereka selalu saja tegas, sekali melakukan kesalahan yang dianggap fatal mereka langsung dipecat tanpa ada pemberitahuan.


"C*h, aku harus bisa menumbangkan dia. Awas saja aku pasti akan membuat dia dalam posisi yang sulit." gerutu seorang pegawai yang masih ada keluarga dengan Bagaskara.


"Liyon bagaimana semuanya apakah harus mengeluarkan semua anggota keluarga Bagaskara sekarang juga? Karena aku yakin lambat laun mereka pasti akan memberontak pada kepemimpinan mu saat ini, terlihat jelas dari raut wajah mereka kalau mereka tak puas dengan mu." jelas Farid pada liyon yang melihat reaksi semua anggota keluarga Bagaskara saat mengikuti rapat kemaren.


"Tidak perlu Rid, kita lihat saja mau mereka apa. Jika mereka ingin mencari gara - gara bukankah di sini ada kau dan juga satria." jawab liyon santai sambil melihat berkas pembukuan dari perusahaan Bagaskara.


"Hei kau pikir aku tukang pukul, seenaknya saja. Aku adalah sekretaris ya." jawab satria dengan kesal karena liyon selalu saja mengikut sertakan dirinya disetiap urusan keluar dan selalu saja setiap saat satria jadi pelindung bagi liyon dan menghadapi orang -noramg yang ingin mencelakai liyon.


"Bukankah sudah ku bilang kau adalah sekretarisku dan juga pengawalKu.* jawab liyon tersenyum sekilas, karena liyon mulai menyadari kalau sifat satria sedikit mirip dengan lira saat satria marah dan merasa kesal pada dirinya.


"Dasar orang gila." gerutu satria dan duduk di sofa tak mau membantu liyon dalam meneliti berkas, sementara Farid hanya menatap heran karena satria dan liyon selalu saja bertengkar namun juga cepat baikan, dan itu sudah terjadi sejak mereka kuliah namun sekarang pertengkaran mereka jadi lebih sering.


"Sat saat pulang nanti jangan lupa kamu ambil alih semua datanya dan blok saja, aku ingin lihat bagaimana reaksi mereka para tikus - tikus kecil itu. Aku tau selama ini mereka telah mencuri data." perintah liyon pada satria.


"Kau benar - benar kejam ya, memberi mereka makan dan langsung membunuhnya, apa kau menganggap mereka sudah mirip hewan kurban." jawab Satria.


"Karena mereka memang pantas untuk dikorbankan." jawab liyon dingin.


"Aku sudah mengambil keputusan bahwa aku akan melakukannya sekaligus dan dalam sekali tangkap langsung semuanya, aku tak mau menyisakan satu pun dari mereka. Jadi aku ingin lihat apa yang akan mereka lakukan jika aku mematahkan kaki dan tangan mereka langsung dalam satu tarikan." ucap liyon dengan dingin seolah tanpa ampun.


"Ya terserah kau saja, karena kau adalah bosnya bukan begitu Rid." ucap satria dengan mengangkat kedua bahunya.


"Hahaha, ya begitulah." jawab Farid tertawa menanggapi kata - kata dari satria.


...🍂🍂🍂...


Ditempat lain sepulang dari kerja lira membawah anaknya jalan - jalan kepertunjukan malam dan membeli banyak cemilan. Ferdi terlihat sangat senang dan bahagia karena jarang sekali lira pulang kerja lebih awal.


"Mama aku mau itu, itu - itu manisan itu." tunjuk Ferdi pada manisan buah ceri yang terlihat sangat menggoda dengan warna merahnya yang terang.


"Hem, apa kau senang? Kenapa kau begitu menyukai rasa - rasa asam, jeruk kau juga suka yang rasanya sedikit asam." ucap lira menggendong Ferdi setelah membelikannya manisan.

__ADS_1


"Mama, apa yang mama katakan. Manisan itu enak dan rasa asam itu bikin segar, dan karena aku sudah manis jadi aku memilih yang sedikit asam saja biar seimbang." jawab Ferdi dengan wajah polosnya.


"Kau ini, wajahmu dan kata - kata mu tak sesuai tau." jawab lira mencubit pipi anaknya dengan gemas.


"Pergilah mandi dan mama siapkan susu untuk mu." ucap lira pada anaknya setelah sampai di rumah mereka.


"Baiklah." jawab Ferdi dan dia langsung melepas semua bajunya ditempat lalu dia masuk kedalam kamar mandi.


Lira tersenyum tipis melihat anaknya yang begitu dewasa dan sangat pintar, karena diusianya yang masih 6 tahun Ferdi sudah bisa melakukan semuanya sendiri untuk dirinya dan juga sangat tenang tak pernah merepotkan lira.


"Bagaimana jadinya jika liyon tau kalau aku pergi membawah benih darinya yang sekarang menjadi seorang anak yang pintar dan juga pengertian." gumam lira dalam hati.


"Mama aku sudah selesai." ucap Ferdi keluar dari kamar mandi dengan bau harum sabun.


"Iya baiklah, ini susunya habiskan dan cepat pergi ke kamar ganti baju dan tidur, mama mau mandi dulu." lira menyerahkan segelas susu hangat pada Ferdi. Setelah menghabiskan susunya Ferdi pergi kedalam kamar dan menata tempat tidur itu untuk dia tiduri bersama dengan mamanya.


"Ferdi ada yang ingin mama katakan pada Ferdi." ucap lira sambil mengeringkan rambutnya.


"Apa ma? Apa mama mau menikah dengan om Rian?" tanya Ferdi menatap lira.


"Hei siapa yang bilang begitu?" tanya lira naik ketempat tidur dan memeluk Ferdi.


"Hem,,,kalau mau apa Ferdi juga mau punya papa om Rian?" tanya lira balik pada anaknya.


"Aku,,,aku terserah mama saja, apa itu yang ingin mama bicarakan." jawab ferdi dengan sedikit kecewa.


"Tidak bukan itu, mama mau bilang bagaimana kalau kita ke Indonesia?" tanya lira menatap wajah polos Ferdi yang terlihat terkejud.


"Indonesia. Kenapa kita harus kesana ma?" tanya ferdi bingung.


"Ya, mama dapat promosi naik jabatan jadi manager tapi adanya di indonesia, sebenarnya jika kita kesana nanti ferdi bisa ketemu sama om satria, Tante Yuniar, nenek, kakek dan juga nenek buyut." jelas lira pada Ferdi dan terlihat wajah yang berbinar dari anaknya itu.


"Benarkah ma? Jadi Ferdi bisa ketemu sama mereka semua?" tanya Ferdi bersemangat.


"Tapi ma, apakah mereka akan menerima Ferdi nanti? Karena Ferdi tak pernah ketemu mereka dan tiba - tiba saja Ferdi ada, nanti kalau mereka mengira Ferdi adalah anak siluman bagaimana?" tanya Ferdi seketika wajahya berubah jadi sedih.


"Hei siapa yang mengajari kamu seperti itu?! Mereka tak akan begitu." jawab lira geram.


"Kata bibi depan rumah, dia bilang Ferdi anak siluman karena Ferdi gak punya papa" jawab Ferdi polos.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu gak punya papa, mereka gak tau saja kalau papa mu adalah orang hebat." jawab lira dengan semangat.


"Benarkah, apa kehebatan papa ma?" tanya Ferdi naik kepangkuan lira.


"Eh, apa."Lira terkejud dan dia malah membayangkan liyon saat menyentuhnya dan menjamahnya dengan sangat hebat.


"Mama." Ferdi menggoyang lengan lira.


"Aduh gila, kenapa aku malah membayangkan hal itu sama brandal itu." batin lira dan dia menatap Ferdi serta memeluknya.


"Papamu hebat dalam segala hal." jawab lira tersenyum.


"Ya aku juga ingin hebat dalam segala hal, biar bisa menjaga dan melindungi mama" jawab Ferdi dengan riang.


"Baiklah kamu sudah hebat dalam segala hal kok dan mama sangat senang untuk itu semua. Jadi Ferdi tak akan keberatan jika kita harus ke Indonesia?" tanya lira membaringkan tubuh anaknya.


"Tidak, ayo kita putuskan dengan bulat ma, untuk kita berangkat kapan. Ferdi ingin ketemu sama semuanya." jawab Ferdi memeluk tubuh lira


"Tapi di sana juga," kalimat lira tertahan.


"Kenapa ma? Di sana juga ada papa ya? Mama takut untuk ketemu sama papa? Mama jangan khawatir aku akan menjaga mama." jawab Ferdi mengelus pipi Lira.


"Bukan itu, mama hanya tak ingin kalau kamu ketahuan dan akan direbut dari tangan mama." jawab lira dengan tersenyum.


"Mama jangan takut aku tak akan ikut siapa pun, karena bagi ku mama adalah peri kecilku dan tak akan pernah aku tinggalkan. Karena aku sayang mama." jawab Ferdi mengecup pipi lira.


"Mama juga sangat menyayangimu." jawab lira dan juga mengecup pipi Ferdi dengan gemas.


"Iya, tak ada yang bisa merebut anakku dari tangan ku dan tak akan ku biarkan mereka memisahkan aku dengan anakku. Baiklah aku sudah mengambil keputusan yang bulat kalau aku akan kembali ke Indonesia." suara hati lira dan dia pun terlelap dalam tidurnya dengan memeluk si kecil Ferdi.


Keesokan paginya sesuai dengan apa yang sudah dipikirkannya semalaman dan keputusannya yang pasti tanpa ragu lagi, lira menemui atasannya dan dia memilih menerima promosi atas kenaikan jabatan dan akan pindah ke Indonesia.


"Apa kamu sudah memutuskannya dengan bulat Lira?' tanya atasan lira.


"Sudah pak, saya sudah memikirkannya dan juga sudah memutuskan dengan bulat untuk mengambil kesempatan ini." jawab lira dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu kau akan berangkat mulai minggu besok dan akan langsung bekerja pada hari Seninnya bagaimana?" tanya atasan lira.


"Iya, baiklah pak. Saya akan langsung berkemas setelah pulang kerja hari ini." jawab lira dan dia pun mulai merencanakan banyak hal dalam kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2