Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pendamping pesta


__ADS_3

Setelah melakukan perundingan dengan keluarga Lira Mama Li pun pergi meninggalkan keluarga Lira dengan hati ringan dan bahagia seolah segala beban telah terangkat dari pundaknya.


"Pak Yus kita ke mol dulu mampir ke all shop." perintah mama Li dengan wajah yang terlihat sangat sumringah.


Mama Li belanja segala macam setelan baju, jaket, sepatu dan juga kemeja. Isi mobil penuh dengan semua belanjaan dari mama Li dan itu masih terasa kurang baginya. Pak Yus bingung yang melihat saat berangkat tadi majikannya itu terlihat sedih dan tertekan, namun sekarang majikannya seperti orang yang kesurupan belanja begitu banyak belanjaan dengan sangat senang.


"Pak Yus nanti saat sampai di toko mainan kita berhenti sebentar disana ya." ucap mama Li dan pak Yus hanya bisa mengangguk dengan heran.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama berada di rumah Lira ya? Kenapa nyonya jadi aneh seperti itu." gumam pak Yus melihat majikannya juga belanja banyak mainan dan beraneka ragam. Hampir semua mainan di toko itu diborongnya.


...🍂🍂🍂...


"Kak nanti pulang sama aku ya, karena yang lain sudah menunggu kakak di rumah nenek." ajak Satria yang datang ke hotel tempat kerja Lira untuk mengembalikan hanpon Liyon yang dibawah oleh Ferdi.


"Iya, tapi Sat apa ibu dan ayah tak marah pada ku?" Lira bertanya dengan cemas


"Itu,,,"kalimat Satria dijedah "nanti kakak temui sendiri saja, marah atau tidak kakak hadapi saja" jawab Satria setelahnya.


"Hem." Lira kembali fokus pada pekerjaannya.


Tok tok tok


"Iya, siapa?" Liyon membukakan pintu kamarnya dengan menggunakan jubah mandi, dan terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Kau baru selesai mandi?" tanya Satria yang merasa heran melihat Liyon jadi sering mandi seharian ini.


"Kenapa kau kesini, apa keluarga mu sudah datang? Kalau sudah suruh mereka kesini saja langsung istirahat di sini." ucap Liyon dan berjalan masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju.


"Hanpon mu, biar besok pagi saja ku ajak mereka kesini karena acaranya kan sore. Apa Farid tak kemari?" tanya Satria menuangkan jus buah jeruk yang sudah disediakan dilemari pendingin.


"Mungkin bentar lagi, karena aku baru saja menghubungi dia." jawab Liyon yang ikut mengambil jus jeruk dan duduk di sofa ruang tunggu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Liyon merasa aneh dilihat Satria dengan tajam


"Kau tak melakukan apa - apa terhadap kakakku kan semalam?" tanya Satria langsung tanpa basah basih.


"Uhuk uhuk." Liyon tersedak jus yang dia minum dan terbatuk - batuk dengan sangat lama sampai hampir kehilangan nafasnya.

__ADS_1


"Kau ini, apa kau beneran telah melakukan sesuatu pada kakakku?! Apa kau tak bisa menahannya? Bukankah selama ini kau selalu bisa mengatasi hasrat mu yang satu itu hah?!" kesal Satria sambil menepuk - nepuk punggung Liyon yang kadang dengan sengaja diperkeras sekalian mengerjai Liyon.


"Ada apa ini?" Farid yang punya kunci kamar Liyon kaget melihat Satria menepuk punggung Liyon dengan kesal dan Liyon yang terbatuk tak berhenti.


"Dia sudah buka puasa,! Anak ini bikin kesal saja." jawab Satria dengan nada yang benar - benar terlihat kesal dan marah.


"Kau, mau membunuhku ya?!" jawab Liyon dengan marah juga setelah dia bisa mengatasi tersedaknya.


"Kau kenapa Rid.?" tanya Liyon dan Satria bersamaan yang melihat Farid tiba - tiba menjatuhkan berkas yang dipegangnya.


"Ah, tidak. Tidak ada apa - apa." jawab Farid gugup.


"Sepertinya ada yang tak beres dari kalian." ucap Satria menatap Farid tajam dan Farid hanya tertunduk tak berani melihat Satria seolah dia anak lelaki yang telah melakukan kesalahan dan takut dihukum oleh ayahnya.


"Aku mau tanya pada kalian berdua, semalam di rumah sa, eh siapa yang telepon." kalimat pertanyaan Satria soal malam yang katanya mereka ke rumah sakit namun semua tak ada disana terhenti karena ada panggilan masuk yang membuat Satria mengurungkan untuk bertanya.


"Aku pulang dulu karena kakakku sudah menunggu." jawab Satria dan langsung keluar dari kamar Liyon. Terlihat Farid dan Liyon bernafas lega karena tak jadi dihakimi oleh Satria.


...🍂🍂🍂...


"Mama!" Ferdi yang lari dari dalam rumah dan menghambur dalam pelukan Lira membuat dia merasa sedikit merasa tenang.


"Kenapa Mama pulang lama sekali? Ferdi sudah merindukan Mama, dan di sini ada semuanya, ada kakek, nenek, buyut, Tante Yuni dan para Tante serta Om yang lain yang bekerja sama nenek." Ferdi mulai berceloteh menceritakan ini dan itu pada Mamanya dengan sangat riang.


"Apa kamu tak merindukan kami nak?" tanya Bu Yulia mendekati Lira.


Pertemuan setelah 6 tahun lamanya membuat Lira sangat merindukan semua keluarganya. Dan ada perasaan bersalah pada mereka semua karena pergi tanpa pamit dan juga kabar berita.


"Dasar anak nakal, tak tau diri, tak bisa dewasa, menyebalkan, bla bla bla." Bu Yulia memukuli Lira sambil memarahi Lira dan juga menangis.


"Maafkan Lira Bu." jawab Lira tak menghindar dari pukulan ibunya. Lalu mereka menangis bersama sambil berpelukan dengan sangat erat.


Setelah saling melepaskan rasa rindu dan permintaan maaf, Lira dan semua anggota keluarganya menghabiskan waktu malam itu untuk berkumpul bersama dengan makan dan bakar - bakar ikan bersama dengan semua pegawai nenek Sulasih. Dan Lira terlihat sangat manja sama ibunya, dia tak mau lepas dari pelukan sang ibu yang kadang satria ikut menempel juga pada sang ibu.


"Tak terasa anak - anak ku telah dewasa dan mereka telah memilih pasangan mereka yang akan mereka jadikan penopang bagi hidup mereka, rasanya baru kemaren aku melahirkan Satria dan mengejar Lira untuk menyuruhnya mandi karena suka main lumpur dan berkelahi." Bu Yulia memeluk Lira dan Satria dan mengenang masa kecil mereka yang selalu merepotkan dirinya.


"Ya, ayah juga sama. Rasanya baru kemaren ayah mengajari Lira beladiri dan sekarang dia telah menjadi seorang ibu dari anak yang begitu pintar." ucap ayah Bambang menyambung kalimat Bu Yulia.

__ADS_1


Malam itu terasa sangat menyenangkan bagi keluarga Lira, dan Ferdi terlihat sangat senang karena memiliki banyak teman serta anggota keluarga yang lain yang bisa diajak bicara dan bermain bersama, tak hanya Lira.


...🍂🍂🍂...


Keesokan paginya satria membawah semua keluarganya ke hotel karena pada sore harinya akan diadakan pesta resepsi atas pernikahannya dengan Yuniar yang telah dilakukan 3 tahun lalu, dan disambunh malam harinya perkenalan pimpinan hotel yang baru.


Semua pegawai hotel menyambut keluarga Satria dengan sangat ramah dan juga sudah menyiapkan kamar untuk semuanya dengan nyaman. Mereka semua juga baru tau kalau kaki tangan pimpinan mereka adalah saudara dari Bu Ani yang mereka sukai karena orangnya baik dan juga pandai berkelahi.


"Ibu, Ayah, Nenek. Kenalkan ini Rian yang dulu selalu membantu Lira saat Lira sedang dalam kesulitan." Lira mengenalkan Rian kepada keluarganya karena sore ini Lira akan membawah Rian sebagai pasangannya ke pesta Satria.


"Iya terima kasih atas bantuannya nak Rian yang selama ini sudah membantu anak ayah dan juga ibu, ayo silakan masuk dulu acaranya masih kurang 30 menit lagi." ucap ayah Lira pada Rian.


"Terima kasih Om, Tante dan juga nenek." jawab Rian dengan sopan dan menyalami orang tua Lira serta nenek Lira.


"Lira pasti sangat merepotkan kamu ya waktu itu. Maafkan Tante ya punya anak tapi merepotkan saja bisanya." ucap ibu Lira pada Rian.


"Tidak sama sekali Tan, saya senang bisa membantu Lira dan juga tak merasa repot sama sekali, dan walau pun reoon saya rela untuk direpotkan oleh Lira selamanya." jawab Rian dengan wajah penuh dengan senyuman.


Mendengar jawab dari Rian ibu dan ayah Lira saling pandang karena mereka merasa kalau Rian ini memiliki perasaan pada Lira.


"Bu Ani acaranya sudah mau dimulai dan mempelai wanita harus bertemu dengan mempelai pria." ucap pegawai hotel yang bertanggung jawab atas acara malam itu.


"Baik, ayo semua kesana. Lira akan kekamar Yuniar." Lira langsung pergi kedalam kamar Yuniar dan membawah Yuniar keluar untuk bertemu dengan Satria.


"Kau sangat cantik adik ipar ku." ucap Lira menggoda Yuniar, dan Yuniar tersenyum bahagia.


"Deg, Nyuut." jantung Liyon berdebar dan juga ada rasa sakit disana saat dia melihat Lira dan juga Rian bersama.


Acara sore itu berlangsung dengan sangat meriah dan juga ramai. Setelah selesai acara semua pegawai hotel sedang menunggu pengumuman dan juga tak sabar ingin melihat wajah pimpinan baru mereka.


"Wah tak ku sangka kau bisa hadir di pesta sahabatku ini." ucap Liyon menyapa Rian yang sedang berdiri didepan meja minuman dan sedang mengambilkan minum untuk Ferdi.


"Tentu saja karena aku adalah orang spesial bagi Lira dan aku adalah pasangan serta pendamping pestanya malam ini." jawab Rian sengaja menunjukkan kalau dirinya sangat berarti bagi hidup Lira saat ini.


"Ok, selamat dan silakan menikmati hidangannya." jawab Liyon lagi dan pergi meninggalkan Rian dengan kesal.


"Baru menjadi pendamping Pesta saja bangga, memang apa yang dibanggakan. Mukanya itu bikin kesal." gerutu Liyon dengan kesal sambil berjalan mendekati Satria dan Farid yang sedang berbicara sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2