Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Anak yang pintar


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit Liyon dan Farid sampai pada sebuah gedung olah raga milik keluarga Lean, dan disana ternyata sudah berkumpul beberapa dari orang - orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam bidang bisnis termasuk Santo yang juga berada disana.


"Liyon, wah sudah lama sekali aku tak melihat mu. Kau begitu sibuk sampai tak ikut datang di acara pembukaan gedung ini dan hanya kakak mu saja yang hadir, kau sungguh kejam pada ku." lean tanpa henti menghujani Liyon dengan berbagai keluhan atas dirinya yang tak ikut hadir dalam acarnya yang dibuka 1 tahun lalu.


"Ya, dan sepertinya sekarang gedung ini sangat ramai pengunjung dan kau sukses besar." jawab Liyon dan berjalan duduk disebuah kursi santai.


"Hahaha, ya aku sangat senang karena area ini sangat strategis dan juga fasilitas di sini semua ada." jawab lean dengan bangga.


Sementara disudut lapangan ada seseorang yang menatap tak suka pada Liyon, dia menatap tajam pada Liyon dengan tatapan kebencian.


"Liyon ayo main, kau tak mau ikut main?" tanya Haris yang dari tadi melihat Liyon duduk dan memainkan hanponnya.


"Bukankah Farid sudah menemanimu main, dan ada Lean juga. Masih harus aku juga ikut main?" tanya Liyon balik menatap Haris dengan tatapan yang dingin.


"Duh kau ini kejam banget." Haris merajuk dan pergi.


Melihat itu Liyon tersenyum dan bangun mengikuti Haris lalu dengan cepat dia berlatih tinju dengan Lean, dan setelah 2 ronde Liyon berganti melawan anak buah Lean dan juga Haris dalam adu kebolehan serta latihan otot.


"Wah Liyon tak ku sangka setelah lama tak tampil kamu tetap saja luar biasa." puji Lean setelah melihat Liyon.


Saat istirahat setelah 1 jam Bermandi keringat Liyon duduk dikursi meja bundar sedang menikmati minumannya dan mengatur nafasnya tiba - tiba saja ada seseorang yang mendekati dirinya.


"Wah lihat siapa ini, Liyon tak ku sangka kau sungguh hebat, ku pikir kau hanya hebat dalam ucapan saja." ucap Santo meledek Liyon dan datang mendekati Liyon bersama dengan tuan Haris dan yang lainnya.


"Ku pikir kau memaksakan diri untuk ikut dalam perkumpulan ini." jawab Liyon dengan tersenyum.


"Tuan Rian." teriak Lean yang melihat Rian datang.


"Maaf saya datang terlambat karena menyiapkan jagoan kecil." ucap Rian dengan senyuman yang mengembang.

__ADS_1


"Wah - wah saya tak menyangka kalau tuan Rian juga datang bersama dengan nona Ani." sambut Santo mendekati Rian dan Lira.


"Liyon apa yang terjadi? Kupikir itu hanya rumor, ternyata dia memang bersama dengan Lira?" tanya tuan Haris dengan berbisik pada Liyon.


"Jangan percaya dengan apa yang kau lihat, karena yang terlihat mata belum tentu yang sebenarnya." jawab Liyon tersenyum menatap Lira yang mulai berjalan mendekat pada perkumpulan orang - orang yang ada dimeja bundar itu, dan semua sudah berkumpul bersama dengan pasangannya masing - masing.


Setelah saling menyapa dan mengenal, tuan Haris pergi kelapangan golf untuk bermain lagi. Dan Rian bersama Lira duduk dulu untuk berbincang dengan beberapa pebisnis yang duduk bersama dengan Liyon.


"Aku sangat iri pada tuan Rian karena dia bisa sangat beruntung bisa berpasangan dengan nona Ani. Tak seperti seseorang yang tak mau mengakui perbuatannya dan mengingkari semuanya." ucap Santo menyindir Liyon.


"Hah, kau masih saja berfikir bahwa aku adalah pria adikmu. Apa kau tak bisa melihat kenyataan bahwa semua bukti tak tertuju kepadaku, jangan memaksakan sesuatu yang tak seharusnya. Kau adalah seorang pebisnis jadi kau pasti tau untung dan rugi dalam sebuah kesepakatan." ucap Liyon dengan tatapan tajam pada Santo.


"Liyon jangan sombong kau, aku pasti akan membuktikan semuanya kalau itu adalah rekayasa yang kau lakukan." Santo berkata dengan geram.


"Apa yang ingin kau buktikan, aku tak suka dengan barang bekas milik adikmu itu. Apa kau tak tau sudah berapa orang yang memakai miliknya?" tanya Liyon dengan sindiran tajam.


"Liyon jangan arogan kamu, wanita bukanlah sebuah barang." ucap Santo geram menatap Liyon.


"Wah, Papaku keren dia bisa membuat Om itu kesal hanya dengan kata - kata santainya." gumam Ferdi dalam hati mengawasi Liyon sambil meminum jus yang diberikan oleh Lean.


"Hai sudah - sudah ayo sebaiknya kita main saja, kita kesini mau main kan." ucap Lean pada semuanya.


"Hah, iya aku jadi penasaran wanita seperti apa yang akan mendampinginya nanti." ledek Santo pada Liyon.


"Wanitaku tak pantas kau sebut dengan mulutku itu, dan yang jelas dia adalah milik ku dan hanya ada aku yang memaki dia dari awal hingga akhir." jawab Liyon dingin pada Santo, lalu melirik pada Lira, sontak itu membuat Lira salah tingkah.


"Huh." Santo mengabaikan Liyon dan berusaha bicara sama Lira.


"Nona Ani bagaimana kalau nanti aku mengantar mu untuk melihat mobil mu yang ada di bengkel? Pasti sudah hampir selesai diperbaiki mobilnya." tanya Santo pada Lira dan berusaha menyentuh tangan Lira.

__ADS_1


"Tidak terima kasih." tolah Lira menarik tangannya.


"Apa maksud dari tuan Santo, dia adalah pasangan yang datang bersama dengan ku." ucap Rian yang merasa terusik.


"Ah tidak begitu, saya hanya menawarkan saja. Nona Ani akan tetap pergi bersama dengan anda tuan Rian." ucap Santo dengan senyuman canggung.


"Kenapa tuan seperti berusaha untuk mendekati Mama ku." celetuk Ferdi yang dari tadi mengawasi Santo cekcok dengan Liyon.


"Eh, hahaha kau sangat pintar siapa nama mu?" tanya Santo berusaha mendekati Ferdi.


"Kenapa, apa tuan ingin mendekati Mama ku melalui aku? Dari cara tuan bicara dan mendekati Mama terlihat seperti memiliki maksud dan tujuan tersendiri. Tapi maaf kami tak tertarik pada tuan, dan sudah jelas Mama menolak tuan." ucap Ferdi menatap Santo dengan benci.


Liyon tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ferdi. "Anak yang pintar, dia benar - benar putraku. Caranya melihat dan menarik kesimpulan sungguh jeli dan luar biasa." Liyon bergumam dalam hati.


Santo yang mendapatkan pukulan dari Ferdi langsung diam tak berkutik, dia seakan telah kalah telak dengan Ferdi yang masih berumur 5 tahun. Dengan canggung Santo pergi meninggalkan tempat dan bermain golf dengan tuan Haris dan yang lainnya yang dari tadi tak ikut dalam obrolan Liyon dan Santo.


"Ferdi mau main apa?" tanya Rian dengan penuh sayang pada Ferdi.


"Seorang jagoan akan memilih permainan yang ekstrim, mau mencobak melawan ku?" tanya Liyon berdiri dibelakang Rian dan Lira.


"Iya mau." jawab Ferdi langsung memutar tubuhnya menghadap Liyon.


"Eh, jangan nanti kamu lelah" cegah Lira pada Ferdi.


"Jangan khawatir aku masih mampu membuat mu puas nanti malam jika kau masih meragukan aku." jawab Liyon mengedipkan sebelah matanya pada Lira.


Rian yang tau maksud dari arah pembicaraan Liyon hanya bisa mengepalkan tangannya, karena tadi waktu menjemput Lira dia melihat ada tanda merah dileher Lira. Dan Rian paham itu pasti ulah Liyon.


"Apakah Liyon sudah mulai menargetkan lira lagi?" suara hati Rian dengan cemas.

__ADS_1


Terlihat Liyon dan Ferdi masuk kedalam ring dan melakukan panaskan, dari pada berkelahi Liyon terlihat seperti sedang mengajarkan teknik bela diri yang tepat saat dalam situasi genting. Liyon juga memberikan pengetahuan yang lebih dalam lagi dalam menentukan titik serang.


Lira yang duduk dan mengawasi Ferdi jadi terlihat bahwa dia adalah pasangan yang datang bersama dengan Liyon bukan Rian yang saat ini ikut bermain tenis sama tuan Lean.


__ADS_2