
"Kau belum tuntas." Liyon tersenyum menatap Farid. "Apa yang kau lakukan sebenarnya, kau kan sudah menjadi seorang kepala keluarga setidaknya kau harus bisa lebih tegar lagi, jangan membuat sulit sesuatu yang mudah, hanya masalah itu jangan sampai mempengaruhi kehidupanmu. Aku bahkan pernah menahannya untuk waktu yang cukup lama. Kau tau seperti apa rasanya. Seolah bendungan itu mau jebol namun tak ada tempat untuk menampungnya, rasanya sungguh sangat menjengkelkan." ucap Liyon satai dengan meminum minumannya.
"Haaaa,,, kenapa anak - anak kita tak bisa mengerti dengan kebutuhan papanya." jawab Farid menghela nafas, "Arlin terbangun dan terus memanggilku disaat aku hampir mencapai puncaknya. Dan itu sangat tak enak saat diputus ditengah jalan begitu saja. Apa seorang wanita tak merasakan? Atau hanya kaum kita saja yang merasakan betapa tak nyamannya jika hal itu belum dituntaskan." Farid mulai mengatakan semuanya dengan mabuk, dan itu membuat temannya tau kenapa dari tadi Farid terlihat aneh dari biasanya.
"Tunggu, jadi maksudnya belum tuntas adalah,,, kau belum sampai menyelesaikan permainan mu dengan istrimu? Wah parah itu, bagaimana bisa kau berhenti ditengah permainan? Itu pasti tak enak dan juga tak nyaman sekali." ucap Brayen menggebu - gebu.
"Ya, ya aku tau itu tak enak dan sangat tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi, putriku sudah bangun dan memanggil - manggil diriku dengan wajah polosnya." jawab Farid yang sudah mabuk berat.
"Dia sudah mabuk berat, hubungi supir pengganti untuk mengantarkan dia pulang." ucap Liyon dengan menatap Farid dengan tatapan santai.
"Apakah memiliki anak bisa samapai separah itu? Kenapa aku jadi khawatir dan takut sendiri ya." gumam Satria dalam hati memperhatikan Farid dan Liyon bergantian.
"Rid ayo pulang supir pengganti untuk mu sudah datang." Bagas mengangkat tubuh Farid yang sudah mabuk berat.
"Kau mau membawah ku kemana, aku tak mau." Farid mendorong tubuh Bagas.
"Aduh, kuat banget dia walau sudah mabuk begitu, memang pantas dijadikan pengawal selama bertahun - tahun. Sekarang istrinya bagaimana ya apa gak remuk itu anak orang." gerutu Bagas yang merasa sakit karena punggungnya menabrak pinggiran meja.
"Jangan ganggu aku pergilah." Farid lagi - lagi mendorong orang yang ingin membantunya berdiri, dan kali ini Brayen yang dapat dorongan kuat dari Farid.
"Bocah ini." Liyon sudah tak sabar dengan Farid yang dari tadi mendorong orang yang mau membantunya.
"Farid bangun!!" bentak Liyon, "Kau mau aku buang jika masih tetap tak mau dengar hah, bangun gak?!" Liyon berdiri didepan Farid dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Glek
Bagas dan Brayen yang menatap Liyon merasa takut karena Liyon kalau sudah marah sangat menakutkan, mereka menelan salifanya. Dan Farid langsung bangun dan berdiri dengan oleng didepan Liyon.
"Ma-maaf kakak, aku akan pulang tolong jangan marah dan jangan buang aku. Karena aku takut sendirian lagi seperti dulu." ucap Farid dengan menangis menatap Liyon sedih.
"Baik, ayo pulang sekarang kasian anak dan istrimu di rumah." ucap Liyon lagi dan melangkah keluar dari ruangan vip itu.
"Ok, iya aku pulang sekarang, dia sangat galak kalau lagi marah kalian jangan bikin dia kesal." ucap Farid menatap Bagas, Brayen dan Satria.
"Ternyata dia masih saja takut sama Liyon ya." ucap Bagas berbisik.
"Hem, masih takut banget. Karena secara dia sejak kecil adalah Liyon yang membiayai Farid, dan Liyon adalah keluarga Farid satu - satunya." jawab Brayen dan mengikuti Farid keluar
"Iya, tapi lucu melihat Farid kalau lagi takut dan memelas begitu mukanya kayak anak kecil." ucap Bagas lagi yang berjalan dibelakan Satria dan Brayen.
"Wae, hati - hati jalannya." ucap Satria spontan memapah Farid yang hampir jatuh.
"Tolong antarkan dia pulang ke alamat ini." ucap Liyon pada supir yang mau membawah Farid pulang.
"Baik pak." jawab supir itu dan mobil Farid langsung melaju pergi.
"Baik aku pulang dulu, Sat besok bilang pada Farid gak usah masuk kerja dulu." ucap Liyon pada Satria lalu dia juga pergi.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
"Tuan muda." sambut bi Min yang melihat Liyon pulang larut.
"Kenapa bibi belum tidur?" tanya Liyon yang berjalan masuk rumah dengan memegangi belakang kepalanya.
"Tidak, bibi baru saja bangun karena tadi non Lira minta dibangunin kalau tuan muda belum pulang jika sudah jam 10 malam." jawab Bi Min dan Liyon tersenyum mendengar penuturan dari bi Min.
"Dimana dia sekarang?" tanya Liyon dengan tersenyum cerah.
"Di kamar tuan muda Ferdi." jawab Bi Min.
"Baik lah, bibi kembali lah istirahat sudah malam." ucap Liyon dan dia melangkah masuk kedalam kamar Ferdi.
Liyon tersenyum melihat Lira yang tertidur menyamping sambil Ferdi memeluk perut Lira yang terlihat semakin membuncit.
"Kenapa dia begitu menggemaskan begini ya?" gumam Liyon dan mengecup pipi Lira.
"Ehm, sudah pulang ya. Apa sudah makan malam?" tanya Lira berbisik karena takut membangunkan Ferdi.
"Belum sayang." jawab Liyon tersenyum menatap Lira.
"Baiklah, ayo aku panaskan makanannya dulu." ucap Lira bangun perlahan agar Ferdi tak terganggu.
Liyon memasang guling pada sisi kanan dan kiri Ferdi agar dia aman, lalu Liyon mengecup kening Ferdi dan membenarkan selimutnya. "Putra papa, jagoan papa. Kau harus jadi orang yang kuat agar bisa menjaga dan melindungi adik - adik mu." Liyon mengusap kepala Ferdi dengan penuh rasa sayang. "Maaf ya sayang jika papa memberimu beban tanggung jawab besar dimasa depan nanti, karena kau adalah bintang papa." Liyon pun keluar setelah mengucapkan kalimatnya.
"Sayang,,, kamu kok harum banget sih." ucap Liyon yang nemplok dan memeluk Lira dari belakang.
"Aku ingin makan sayang ku." ucap Liyon lagi dan menggesekkan kepalanya.
"Duh kenapa kamu jadi seperti anak kecil sih." jawab Lira yang kepalanya miring - miring karena digesek oleh Liyon.
"Ayo makan biar aku pindahkan dulu semuanya ke meja makan." Lira mendorong tubuh liyon.
"Iya aku mau makan, tapi ini lebih ingin aku makan." jawab Liyon yang mengangkat tubuh Lira naik keatas.
"Liyon, sup-nya,,," Lira berpegangan erat pada Liyon karena takut jatuh.
"Sup-nya nanti saja sayang, ini yang lebih darurat." jawab Liyon yang terlihat tak sabar.
...🍂🍂🍂...
"Eh, tuan upst,," Meli menutup mulutnya dengam kedua tangannya. "Maaf papanya Arlin barusan kak Satria telepon katanya hari ini tidak usah masuk kerja istirahat saja." ucap Meli memberitahu info dari Satria.
"Tadi kamu bilang sapa sayang?" tanya Farid mendekati Meli.
"Tidak, Arlin sayang papa mau ngajak main." ucap Meli yang langsung mengangkat Arlin menghalangi Farid mendekati dirinya.
__ADS_1
"Papa, main." ucap Arlin dengan riang mengangkat kedua tangannya minta digendong Farid.
"Hihihi,,, Arlin main dulu sama papa y, mama buatin susu dulu." ucap Meli lari meninggalkan kamar Arlin.
"Eh, sayang,,," Farid tersenyum. "Istriku menggemaskan sekali sih kalau lagi malu - malu begitu." gumam Farid tersenyum melihat Meli lari menghindari dirinya.
"Malu, papa malu." ucap Arlin menepuk pipi Farid agar melihat kearahnya.
"Sayang, mama sangat menggemaskan ya sama kayak kamu. Papa sangat sayang banget sama kalian berdua, gimana kalau Arlin punya adik, apa Arlin mau? Arlin mau kan punya adik ya, mau kan sayang, hem. Mau kan?" Farid menciumi putri kecilnya itu sampai Arlin tertawa terpingkal - pingkal sama ulah Farid.
"Loh, Arlin jangan dibikin tertawa sampai seperti itu mas, nanti dia gak mau makan dan susah tidur." ucap Meli yang masuk membawakan susu untuk Arlin.
"Iya Mama. Arlin sama papa gak nakal lagi, iyakan sayang." ucap Farid menatap Meli, dengan Arlin dipangkuannya.
"Ya sudah, sini biarkan Arlin minum susu dulu." Meli meminta Arlin dari tangan Farid.
"Eh, tunggu. Kamu bilang apa tadi? Aku seperti mendengar sesuatu yang kamu ucapkan untuk ku." tanya Farid ingin memastikan kalimat yang diucapkan oleh Meli yang kurang jelas didengar oleh Farid.
"Tidak, tadi Meli bilang biarkan Arlin minum susu dulu." ucap Meli mengulangi kata - katanya.
"Tidak aku rasa tadi bukan itu." ucap Farid yang masih penasaran.
"Tidak ada lagi." ucap Meli lagi, yang sudah menggendong Arlin.
"Katakan sekali lagi sayang,,, aku tau kamu tadi menyebutkan sesuatu untuk aku." Farid mendesak Meli dan Meli tetap saja mengelak.
"Jadi masih tetap gak mau bilang begitu?" tanya Farid yang langsung merangkul Meli dan Arlin lalu menarik tubuh kedua wanita kesayangannya itu dalam pelukannya dan membuat mereka bertiga jatuh ketempat tidur dengan posisi Farid dibawah.
"Aaaaah, maaass,,," teriak Meli kaget dan Arlin tertawa terpingkal - pingkal.
"Katakan sekali lagi." ucap Farid menatap Meli yang sudah menggeser tubuhnya.
"Tidak, tidak ada kedua kali." jawab Meli yang mau bangun.
"Arlin, mama adalah musuh ayo serang bersama." seru Farid dan mulai menggelitik Meli, Arlin pun ikut naik ditubuh Meli dan berusaha membantu papanya untuk menggelitik mamanya.
"Aaaa,,, kalian iya, iya ampun mama menyerah." ucap Meli yang tertawa kegelian.
"Katakan dulu, ayo katakan lagi apa yang tadi disebutkan." ucap Farid yang masih menggelitik kaki Meli.
"Ayo, mama ayo." Arlin ikut berseru dengan suara cadelnya dan nemplok didada Meli.
"Iya, iya berhenti dulu geli. Mas Farid.!" teriak Meli
"Sekali lagi sayang." ucap Farid dengan tatapan berharap.
"Ma-mas Farid." ucap Meli malu - malu
__ADS_1
"I love you baby." ucap Farid dan mencium Meli sama Arlin bergantian, sampai akhirnya mereka bertiga tidur bersama dengan posisi Meli berbantalkan lengan Farid, dan Arlin diatas tubuh Meli dengan botol susunya.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia memiliki mu dan juga putri kecil kita. Aku tak menyangka kalau aku akan bisa menikahi wanita yang telah dengan diam ku cintai, terlebih lagi aku memiliki seorang putri yang sangat cantik dan menggemaskan darimu." ucap Farid mengusik kepala Meli, "Lihatlah dia memiliki paras yang sama dengan ku dan tatapan mata sendu seperti mu, sungguh perpaduan yang sangat luar biasa. Aku yakin saat Arlin besar nanti dia akan secantik dirimu." ucap Farid tersenyum bahagia dengan sesekali mengecup kening Meli.