
"Aku sangat merindukan kakak." liyon berbisik setelah melepas penyatuan bibirnya dan menatap lira dengan tatapan yang sangat lembut serta penuh dengan kasih sayang yang mendalam.
"Uhuk, kamu bilang katanya pergi selama 2 hati kenapa sudah kembali." lira mendorong tubuh liyon menjauh dan memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" liyon bertanya dan menggenggam tangan lira kuat.
"Hentikan.! Bukankah aku sudah bilang kalau aku gak mau kamu mengumumkan semuanya." teriak lira dan membuat liyon sedih serta orang - orang yang tadi berkumpul jadi merasa canggung.
"Kau ingin kan? Kau ingin melakukannya iya kan? Baik ayo kita lakukan sekarang." lira menarik tangan liyon berjalan menuju rumah utama, sementara liyon hanya menurut dengan bingung sama perubahan sikap lira.
"Kak hentikan." liyon menahan tangan lira yang berusaha membuka kancing baju liyon saat mereka sampai didalam kamar liyon.
"Kenapa, kenapa aku harus berhenti. Bukankah ini yang kamu inginkan dari ku." ucap lira menatap liyon dengan tajam.
"Kakak mabuk." liyon menahan tangan lira agar tak menyentuh kemana - mana pada tubuhnya.
"Mabuk? Ya aku memang mabuk, tapi aku sudah begitu tau dan juga paham dengan mu liyon. Aku tau betul kapan kamu mulai berhas-rat dan kapan kamu menahannya, jadi sekarang tak usah kamu tahan lagi, untuk apa kamu menghentikan aku kalau kamu juga menyukainya dan sangat menginginkannya." lira melangkah mendekat dan liyon melangkah mundur.
"Tahan kak, aku tak menginginkan ini. Aku hanya ingin bicara pada kakak, aku tau aku merindukan kakak tapi bukan begini caranya." liyon mencegah lira melakukan lebih pada dirinya.
"Aku memang pergi tadi dan berencana akan kembali setelah 2 hari, karena aku mau menyusul Farid. Tapi saat aku pulang karena ada yang ketinggalan aku melihat kakak dan yang lain lagi berpesta, dan kenapa juga kakak tiba - tiba tersedak dan batuk - batuk itu bikin aku khawatir pada kakak" jelas liyon panjang lebar dengan panik pada lira yang terus saja melangkah maju mendekati liyon.
Lira terlalu lama mengenal liyon dan sudah sangat memahami reaksi tubuh liyon, lira terus saja memancing liyon dan menatapnya dengan tatapan sayu yang terlihat manis dan menggoda bagi liyon, serta lira tak mendengarkan penjelasan apa yang disampaikan oleh liyon.
Lira melihat liyon sudah berkali - kali menelan salifanya dan memalingkan pandangannya dari tatapan lira, dan lira sangat tau kalau saat ini liyon sedang mati - matian menahan diri dan has-ratnya yang mulai tergoda.
"Kenapa Liyon? Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu merindukan aku, sekarang aku sudah ada dihadapan mu." lira bertanya sambil menempelkan bagian dadanya pada dada liyon.
"Apakah kamu sudah tak bernaf-su lagi pada ku? Tak tertarik pada ku? Apa karena ada wanita lain sehingga kamu sudah tak lagi menginginkan diriku? Atau kamu sudah sadar bahwa yang ada pada diriku hanyalah tubuhku saja?" sambung lira dan menekan bagian dadanya pada dada liyon.
"Deg." jantung liyon berdebar semakin cepat.
__ADS_1
"Kak dengarkan aku dulu." liyon lagi - lagi menelan salifanya dan berusaha menahan lira.
"Kenapa? Apa kamu sudah sadar kalau aku bukan sip...emm." kalimat lira tertahan karena liyon sudah melakukan penyatuan bibirnya lagi dan sudah tak tahan dengan godaan yang diberikan oleh lira.
Bagian Liyon
"Sial, kenapa jadi begini padahal aku hanya ingin bicara dan menjelaskan pada lira kalau yang terjadi pada saat ini adalah sebuah permainan dan jebakan saja." batin liyon.
Liyon menatap lira yang terus memprofokasi dirinya dengan sentuhan tubuhnya berkali - kali, dan itu membuat bagian kecil dari tubuh liyon bangkit serta bereaksi dengan sangat cepat seolah dia tau bahwa sarung tempatnya sembunyi dan bermain telah ada tepat didepan matanya.
"Bisa bahaya kalau terus seperti ini." suara hati liyon menahan pergerakan dari tangan lira.
Liyon tak mampu dan tak sanggup lagi bertahan dengan godaan yang diberikan oleh lira, apa lagi sentuhan dan tekanan pada buah dada yang kenyal dibagian dada lira menggelitik seluruh saraf tubuh liyon dan membuat bagian kecil tubuhnya semakin menegang dengan sempurna.
"Kak aku mau menjelaskan maslah pesta waktu itu dan juga ugh." liyon tak tahan lagi saat lira menekan pada bagian dadanya dengan dada lira yang ada daging kenyal disana.
"Baiklah aku bicarakan nanti saja setelah aku meladeni apa yang telah dia buat sendiri." gumam liyon dalam hati dan langsung meraup bibir lira tanpa sisa.
"Kamu sudah mulai bereaksi liyon.?" lira bertanya dengan senyuman yang terlihat janggal bagi liyon.
"Kau yang mulai dan kau juga yang minta lira. Kau sangat tau bahwa aku tak pernah bisa tahan jika itu adalah dirimu." jawab liyon dan dia menyatukan bibirnya lagi dengan bibir lira serta menggiring lira ketempat tidur.
"Puaskan diriku, tundukkan apa yang sudah kakak pancing untuk bangun. Karena dia telah bangun dengan tegap dan sangat sempurna sekarang." bisik liyon tepat ditelinga lira.
Lira bangun dan menaiki tubuh liyon setelah mereka sudah tak tertutup sehelai benang pun ditubuhnya. Lira mengarahkan senjata liyon yang sudah siap tempur pada dirinya dan bergerak lincah diatas tubuh liyon sehingga membuat liyon melayang ke alam langit kenikmatan.
"Siapa yang mengajari kamu melakukan ini sayang, kamu sungguh sangat nikmat." ucap liyon dengan tersenyum menatap wajah lira yang bermandikan keringat.
"Kenapa, apa kamu suka liyon? Aku melihat dan mempelajarinya langsung dari YouTube." lira menjawab dengan senyuman dan tatapan sayu yang sangat menggoda bagi liyon.
"Kamu sangat pintar sayang, aku sangat puas dengan permainan mu saat ini, karena ini sungguh sangat nikmat." ucap liyon yang tak tinggal diam, dia menangkap dua buah dada lira yang bergerak seirama dengan gerakan tubuh lira dan menggantung dengan indah serta menari - nari didepan mata liyon.
__ADS_1
"Egh, sayang." gumam liyon mulai mengeluarkan suara merdunya.
Lira bergerak semakin liar dan lincah diatas tubuh liyon dengan keringat yang bercucuran meluncur dari wajahnya menuju leher dan dadanya dengan indah saling berselancar beriringan satu sama lain membasahi tubuh lira yang putih dan mulus.
"Aah.!" jerit lira panjang dan tumbang saat dia telah mencapai puncaknya, liyon berkali - kali menc*um kening lira dan memeluk tubuh lira yang jatuh menimpah dirinya.
"Kamu sudah dapat sayang? Sekarang giliran ku." bisik liyon dan dengan cepat membalikkan tubuh lira tanpa melepas senjata yang berharga dan pembuat keturunan itu lepas dari sarangnya.
Liyon menyatukan bibirnya dengan bibir lira dan melum-matnya dengan lembut serta dalam sambil tubuh bagian bawahnya terus bergerak memompa dengan lembut pula.
"Egh." suara lira keluar lagi dan dia kembali lagi mengikuti gerakan tubuh liyon.
Mereka saling beradu dan suara mereka saling bersahutan memenuhi seluruh ruang kamar liyon, mereka berpadu dan saling memacu satu sama lain untuk mencari kenikmatan surgawi yang ada didunia ini, hingga gerakan liyon semakin brutal dan cepat, serta suara - suara merdu yang keluar dari mereka berdua semakin nyaring terdengar diseluruh ruang kamar liyon sebagai saksi bisu persatuan mereka berdua.
"Lira.!" panggil liyon panjang atas nama lira saat dia hampir mencapai kenikmatannya.
Mereka saling berpadu dalam gerakan yang lincah hingga tubuh lira mulai bergetar lagi dan mereka mendapatkan puncak mereka bersamaan dengan lira mendapatkan yang kedua kalinya.
Liyon ambruk disebelah lira dengan nafasnya yang tersengal dan tubuhnya basah dengan keringat, lira menatap dalam wajah liyon lalu tersenyum.
"Jangan menggodaku dengan tatapan kakak." ucap liyon dengan menutup matanya.
"Dari mana kamu tau aku menatapmu?" lira bertanya dan menggerakkan tubuhnya menghadap liyon.
"Tentu saja aku tau karena kakak itu bagai bayangan yang tak bisa lepas dari ku." jawab liyon menatap lira sambil mengusap pipi lira dengan sayang.
"Ayo tidur sayangku, karena aku sudah lelah." liyon menarik tubuh lira masuk kedalam pelukannya.
Saat liyon telah terbuai dalam tidurnya lira menatap wajah liyon sangat lama dan dalam, lira mengusap pipi liyon dan menyibakkan rambut liyon yang menutupi keningnya sehingga menunjukkan mata liyon yang tertutup dengan bulu mata yang panjang dan indah.
"Maafkan aku liyon, karena aku tak bisa menepati janji ku. Seperti yang kamu bilang aku adalah bayangan dan hanya akan menjadi bayangan saja untuk mu." ucap lira mengecup kening liyon dan dengan pelan turun dari tempat tidur lalu memakai bajunya lagi.
__ADS_1