
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia memiliki mu dan juga putri kecil kita. Aku tak menyangka kalau dia memiliki paras yang sama dengan ku dan tatapan mata sendu seperti mu, sungguh perpaduan yang sangat luar biasa. Aku yakin saat Arlin besar nanti dia akan secantik dirimu." ucap Farid tersenyum bahagia dengan sesekali mengecup kening Meli.
"Apa tua,,, eh mas Farid tak menyesal dan kecewa sama aku? Karena aku sempat tak percaya dan benci banget sama pernikahan ini." tanya Meli hatin- hati pada Farid karena takut menyinggung Farid.
"Tidak, justru mas yang takut kalau kamu kecewa sama mas. Karena awal kita yang tak menyenangkan. Aku telah merenggut paksa mahkota mu dan juga memaksa menikahi ku demi anak yang kau kandung, padahal itu semua adalah akal - akalan ku saja untuk bisa mengikat mu dalam sisiku." jawab Farid jujur.
"Jadi rencana perceraian itu? Apakah itu juga akal - akalan?" tanya Meli mendongak melihat Farid.
Farid tersenyum manis melihat Meli, "Tidak itu serius karena aku tak mau mengurung mu dalam belenggu yang tak kau inginkan. Terlebih lagi aku sudah tak sanggup untuk menguasai diriku dan tak mampu lagi menahan keinginan ku untuk menyentuhmu." jawab Farid dan mengecup bibir Meli.
"Pindahkan Arlin apa kau tak sakit dia tidur di dadamu begitu?" tanya Farid khawatir kalau nanti Meli merasa sesak karena berat Arlin sudah sangat berat sekarang ini.
"Iya sedikit sesak, tapi dia lucu ya? Tak tau apa - apa dan hangat, polos serta lemah. Dia pasti sangat rapuh jika kita tidak menjaganya dengan baik." ucap Meli yang mengelus kepala Arlin yang telah terlelap.
"Iya, itu sebabnya kita harus menjaga dia dengan sangat baik." jawab Farid dan mengangkat tubuh Arlin untuk dipindahkannya ke tempat tidurnya sendiri.
Meli tersenyum menatap Farid yang terlihat begitu luwes dan juga penuh dengan kelembutan saat dia menggendong Arlin. "Bagaimana bisa aku menikah dan juga dicintai oleh orang begitu aneh bagi ku. Dia keras dan juga galak, namun saat berdua saja dia sangat perhatian dan juga kadang konyol kalau lagi mabuk." gumam Meli dalam hati dan dia tertawa sendiri.
"Hem, kenapa kamu tertawa sendiri sayang apa yang sedang kamu bayangkan hah?" tanya Farid mendekati Meli
"Tidak, tidak ada,,,, ah, um. Jangan nanti Arlin bangun." bisik Meli
"Tidak akan jika kamu diam saja." bisik Farid.
"Mas, hihihi,,, aduh." Meli tertawa pelan dan membiarkan saja Farid melakukan sesuatu pada dirinya.
"Aduh, ni orang padahal masih siang kenapa kenapa sudah sangat bersemangat sih." gumam Meli menatap Farid menyamping yang sedang terlelap lagi karena lelah sehabis bertempur.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
"Sayang haruskah kamu pergi berlibur tanpa mengajak aku?" tanya Satria pada Yuniar yang telah merencanakan liburan sama Lira untuk menenangkan hatinya sebelum datang hari persalinan.
"Aduh Uda deh kenapa jadi manyun - manyun begitu sih." jawab Yuniar menyentil bibir Satria
"Duh setelah hamil kamu jadi gak perhatian sama aku." Satria terus saja mengikuti Yuniar.
"Satria, sudah deh. Kamu Uda ngikutin aku dari pulang kerja tadi loh. Aku capek kalau kamu ngikutin muluh." kesal Yuniar.
"Aku sangat sayang sama kamu sayang, hem,,, tubuhmu bau harum sangat enak dan juga nyaman. Aku ingin sayang." ucap Satria tersenyum dan menunjukkan sederet gigi putihnya.
"Gak mau, awas aku gerah mau nyisir rambut nih." ucap Yuniar mendorong Satria.
"Kamu uda gak suka sama aku ya? Gak mau sama pelayanan ku lagi? Padahal sebelumnya kamu sangat semangat dan selalu aku layani dimana pun kamu mau. Sekarang yang aku ingin malah kamu gak mau." Satria terlihat sedih dan mundur menjauhi Yuniar yang sedang duduk didepan meja rias.
"Ya ampun, bukan begitu. Sekarang perutku uda semakin besar rasanya aku males bergerak, Kalau begitu sekali saja ya? Dan jangan terlalu bersemangat aku capek." ucap Yuniar yang pada akhirnya mengalah pada keinginan Satria suaminya.
"Baik, kamu nilai sendiri." Satria langsung ceria dan bersemangat lagi setelah sedih.
...🍂🍂🍂...
"Liburan dengan semua para ibu - ibu dan juga para guru sekolah Ferdi, dan sekalian aku membawah Yuniar untuk ikut juga. Jadi rencananya aku dan Yuniar atau mungkin Meli jika dia mau ikut juga akan berangkat lebih awal sebelum acara darma wisata sekolah Ferdi, dan setelahnya saat mau pulang kami akan bergabung dengan semua orang dari sekolah Ferdi sekalian perjalanan pulang begitu." jelas Lira pada Liyon.
"Kalian kenapa begitu bandel sih, kamu juga. Bukankah kalian ini sedang hamil, kenapa kamu malah terlihat lebih berenergi dari pada sebelumnya. Emangnya kamu gak merasa berat bawah 2 bayi dalam perut seperti ini." jawab Liyon mengusap perut buncit Lira.
"Hihihi,,, kan gak liburan jauh, lagian apanya yang berat orang mereka sangat baik dan bisa diajak berkompromi, mereka tak pernah rewel dan juga sangat anteng tak pernah membuat aku mual pusing atau yang lainnya." jawab Lira tersenyum menatap Liyon.
"Hem,,, baiklah kalau begitu bawah Sulasih, Surti, dan Warti. Juga tak boleh berhenti menghubungi aku setiap saat dan setiap 30 menit sekali." ucap Liyon dengan memberikan syarat yang aneh pada Lira.
"Hei, jangan aneh - aneh deh. Bagaimana mungkin menghubungi mu setiap 30 menit sekali, sama saja dengan aku tak bisa menikmati liburan kalau kayak gitu." Lira menjawab dengan memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Hahaha,,, ok - ok. Aku tuh sangat khawatir pada mu sayang." jawab Liyon memeluk Lira erat.
Sesuai dengan yang telah disepakati, Lira yang sehari sebelumnya sudah menghubungi Meli untuk ikut serta pun telah tiba dengan diantar oleh Farid kekediaman Liyon. Lira dengan jagoan kecilnya Ferdi dan usia kehamilannya yang sudah memasuki 7 bulan, Yuniar dengan kehamilannya yang sudah mulai memasuki 8 bulan, serta Meli dan putri kecilnya yang cantik. Mereka bertiga berdiri didepan mobil yang akan membawah mereka semua pergi berlibur tanpa para suami mereka, terlihat sangat menawan dan juga sangat cantik dimata para suami mereka yang sedang mengawasi mereka yang lagi memasukkan barang bawahan dan untuk segerah pergi berlibur.
"Dia memang istriku yang luar biasa, rasanya aku tak bisa dan tak ingin melepaskannya dari pelukan ku sedetik pun. Dia bagai minuman yang memabukkan." gumam Liyon sambil tersenyum menatap Lira, tanpa sadar kalau disisi kanan dan kirinya ada Satria dan juga Farid yang bisa mendengar gumamannya.
"Ya dia memang sesuatu hal yang memabukkan melebihi segala jenis minuman yang ada di dunia ini." sambung Farid yang menatap Meli dengan tatapan penuh cinta.
"Ya, ya rasanya aku juga tak rela berpisah darinya. Aroma tubuhnya lebih harum dari pada pewangi di dunia ini, dan kulit lembutnya melebihi sutra termahal yang pernah ada." sahut Satria juga ikut menimpali apa yang diucapkan oleh kedua temannya.
"Dia adalah candu ku yang sangat luar biasa dan sangat nikmat." ucap ketiga suami itu secara bersamaan seakan mereka sudah merancangnya untuk diucapkan secara bersamaan.
"Eh, kalian." Liyon tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan bersama dengan Farid dan juga Satria.
"Ya, habis kau mengucapkannya dengan sangat penuh perasaan jadi aku juga ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan." jawab Satria tersenyum
"Aku juga, aku ingin mengucapkan untuk menggambarkan isi hati ku." jawab Farid saat Liyon menatapnya.
"Haaah,,, ya sudah. Kita memang telah menjadi budak dari istri kita." gumam Liyon menghela nafas.
"Sayang, tunggu lah aku akan menyusul mu besok." ucap Liyon mendekati Lira yang mau masuk kedalam mobil setelah selesai menunggu Gali memasukkan semua barang bawahan.
"Aku akan sangat merindukanmu malam ini." bisik Liyon memeluk Lira dan mengecup pipi serta kening Lira, dan Lira membalasnya dengan senyuman hangat.
"Jangan tersenyum terlalu manis itu membuat ku semakin tak tahan dan ingin segerah memakan mu." bisik Liyon ditelinga Lira.
"Liyon." Lira memukul lengan Liyon
"Hahaha,,, hati - hati dijalan, Ferdi jaga Mama dan adik - adik dengan baik ya Boy." ucap Liyon memeluk Ferdi dan mencium pipi Ferdi.
__ADS_1
"Baik, papa. Dada semua." ucap Ferdi dan mobil pun melaju pergi dari halaman rumah Liyon.
Satria dan Farid yang juga berpamitan dan melepas kepergian para istri mereka untuk berlibur melambaikan tangan mereka dengan tersenyum bahagia."