Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Rasa Frustasi Liyon


__ADS_3

"Wah sepertinya sudah baikan mbak, bengkaknya juga sudah mendingan. Tapi mbak lira jangan pakek sepatu hak tinggi dulu ya, nanti bisa membebani kaki mbak lira" ucap surep menjelaskan pada lira yang sedang mengurut kaki lira yang keseleo.


"Bagaimana mas Surep, apa kaki kakak sudah baikan?" tanya satria pada surep.


"Wah iya mas Satria sudah baikan cuma mungkin masih ada sedikit nyeri kalo berjalan atau berdiri terlalu lama." jelas surep pada satria yang duduk disebelah lira.


"Baiklah besok pagi kalo kerja aku antar." satria menawarkan diri dan lira membalasnya dengan senyuman.


...🍂🍂🍂...


Liyon merasa kesal pada lira, yang dia lihat sedang bermesraan dengan seorang pria. Liyon langsung melajukan mobilnya dan selama dalam perjalanan liyon terus mengumpat dan menahan rasa kesalnya, dia merasa kesal pada lira yang tak pernah melihat dirinya.


Liyon merasa tak tenang dia menghubungi lira berkali kali namun lira tak meresponnya, karna hanpon lira sedang mati kehabisan daya.


"Aaaaah." liyon merasa frustasi dan tak sabar ingin cepat hari senin.


Didalam rumahnya liyon tak bisa istirahat dengan tenang karena dia terus kepikiran soal lira, dan juga menyesal karna melampiaskan kemarahannya pada lira yang sebenarnya tak tau apa apa persoalan di kantor.


...🍂🍂🍂...


Keesokan paginya liyon sudah berangkat ke kantor dengan membawah mobil sendiri dan juga datang sangat pagi.


"Kak nanti aku jemput saat pulang kerja."


"Tidak usah Sat, nanti kakak naik bus saja jadi kami gak perlu ke sini. karna jarak kantor kamu kau dari sini." jelas lira yang tak mau membuat satria susah.


" tapi janji kakak harus selalu memberi kabar sama aku ya?" perintah satria dengan mengusap kepala lira.


"Tentu saja adik ku yang baik, dan terima kasih selama 2 hari kami sudah menjaga aku dengan baik, cup" lira membalas belaian satria dengan kecupan di pipi satria, lalu keluar dari mobil satria dan masuk ke kantornya.


Sementara disisi lain liyon yang memperhatikan dan melihat dari awal merasa sangat geram.


"Hebat sekali, setelah kemaren dengan pria lain bermesraan di depan rumah, sekarang dengan teman ku sendiri satria. Sebenarnya aku apa bagi mu kak." liyon mengepalkan tangannya dengan kuat dan memukul setir mobilnya.


Lira yang masuk merasa heran dan juga bingung, karna dari dia berjalan melewati lobby sampai menuju ruang sekretaris dia selalu diperhatikan oleh semua rekan kerjanya.


"Endang." lira menyapa dan tersenyum terhadap Endang.

__ADS_1


"Eh, lira cepat ke sini ada kabar heboh." Endang menarik tangan lira dan mulai menggosib.


Endang menceritakan semua kejadian saat lira tak masuk kantor dan mengawal nyonya li, dan juga video orang yang selalu bermain di ruang sekretaris sampai membuat Endang tak enak kalo berangkat pagi pagi.


"Apa benar ada kabar seperti itu? Pantas saja dari tadi aku merasa semua orang sedang mengawasi ku, membuat aku merasa tak enak." lira merasa terkejud dan juga bersalah pada yusnia.


"Ya, itu sih ulahnya sendiri. Dia sendiri yang berbuat mesum kok malah menyalahkan orang lain dan menjadikan kamu sebagai kambing hitam." ucap Endang dengan geram.


"Nanti makan siang bareng aku lagi ya, kita pergi bareng bareng." Endang berkata dengan sangat riang.


"Iya, baiklah aku kembali ke ruangan ku dulu." lira berdiri dan berjalan menuju lif mau keriangannya dilantai atas dari ruang sekretaris.


"Ok, barengan." Endang mengambil tasnya dan berjalan mengikuti lira.


"Lah, kamu mau kemana?" lira menatap Endang bingung.


"Hahaha aku kan sekarang yang menggantikan posisi yusnia." Endang berkata dengan membanggakan dirinya sendiri.


"Benarkah? Senangnya." lira memeluk Endang dan masuk kedalam lif.


"Eh, iya dari tadi aku mau tanya lupa. Kaki kamu kenapa?" Endang memperhatikan jalan lira yang sedikit pincang.


Pagi itu semua orang sibuk, dan liyon terlihat tak peduli dengan lira, bahkan saat rapat juga yang bekerja adalah Safitri sama Endang, sementara lira hanya berdiam diri karna tak ada tugas untuknya.


Dari pagi hingga menjelang waktu pulang lira hanya berdiam diri mengerjakan tugasnya yang tertunda saat dia mengawal nyonya Li, karna liyon yang tak mengganggunya membuat lira bisa menyelesaikan semua laporannya yang sempat tak terkerjakan sama sekali.


"Ah senangnya akhirnya semua laporan ku selesai, jadi aku tak perlu lembur lagi untuk mengerjakan semuanya." lira meregangkan tubuhnya merasa lega dengan semua laporannya yang terselesaikan dengan baik.


"Wah, tidak ada pekerjaan yang tersendat ya. Enaknya kalo begitu kita bisa pulang dan makan bersama ok.!" Endang berseru dengan senang.


"Tentu.!" lira dan Safitri bersuara dengan serempak.


"Lira ikut aku." perintah liyon dengan dingin dan membuat ketiga sekretaris itu merasa berkidik.


Lira, Endang dan juga Safitri saling tatap dan merasa takut dengan aura liyon yang dari pagi terlihat menyeramkan.


"Cepat pergi Lir nanti bos marah, karna tadi di ruang rapat sudah sangat menakutkan." bisik Endang dan dianggukkin oleh Safitri.

__ADS_1


Saat lira celingukan mencari liyon yang tadi keluar tak terlihat dimana pun, dan Farid menghampiri lira untuk mengatakan kalo lira ditunggu liyon diparkiran.


Dengan jalan yang sedikit pincang lira mencari mobil liyon, dan karna lira tak bisa mengenali mobil jadi lumayan lama celingukan diparkiran.


"Kak!" liyon langsung menggendong lira menuju mobilnya.


Tanpa bersuara liyon langsung melajukan mobilnya dan lira juga diam, hingga suasana dalam mobil itu sangat hening.


"Kita mau kemana? Aku gak mau ke rumah kamu. Maaf aku bukan pemuas untuk mu." lira membuka suaranya karna dia gak mau lagi terjerat dengan liyon.


Cekiiiiiiitt.!!


Liyon langsung mengerem spontan mobilnya saat dia mendengar lira berkata kalo dirinya gak mau jadi pemuas baginya.


"Maksud kakak apa? Bagi kakak aku ini apa?" liyon bertanya saat dia memarkirkan mobilnya ditepi jalan.


"Ku pikir kita melakukannya karna kita sama sama mau." liyon berkata sambil menatap lira.


"Y ya, awalnya kita emang sama sama mau. Tapi aku tak pernah minta untuk melanjutkan hubungan ini dengan mu." jawab lira kiri sambil menundukkan wajahnya.


"Maksud kakak? Sebenarnya kakak melihat ku seperti apa selama ini, apa kakak menganggap aku ini monster?" liyon bertanya dengan amarah yang ditahan.


"Apa bagi kakak aku tak ada artinya sama sekali? Tak bisakah kakak melihat ku sekali saja, hanya sekali. Kakak begitu bahagia dan bisa tertawa lepas saat bersama dengan pria lain, namun saat bersama ku kakak seolah menahan beban yang begitu besar. Kenapa, kenapa kakak tak bisa melihat aku?" liyon mulai frustasi lagi menghadapi lira, karna lira tak menjawab apa pun pertanyaan liyon dan hanya tertunduk tak bergeming.


Ceklek


Liyon keluar dari mobilnya, dia berteriak dan memukul mukul mobilnya tanpa peduli dengan tangannya yang lecet kena pinggiran lampu mobil yang menggores di telapak tangannya.


Liyon menatap lira yang ada di dalam mobilnya dengan rasa yang campur aduk.


"Kenapa, kenapa jadi seperti ini. Kenapa.!" teriak liyon yang semakin membuat lira takut.


"Lihatlah dia menatapku dengan ketakutan, dia bisa menghajar orang namun dia tak pernah melakukannya dengan ku secara benar, dan dia hanya bisa menghindar serta menahan semuanya."


"Aku tak ingin membuatnya takut pada ku, aku hanya ingin bersama dengannya."


liyon terus bergumam dan mengacak rambutnya, dia benar benar tak mengerti dan tak bisa menebak hati lira.

__ADS_1


"Aku antar Kaka pulang sekarang." ucap liyon saat dia masuk lagi kedalam mobil dan melakukannya dengan kencang tanpa bersuara apa pun.


__ADS_2