Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Mencari sampai malam


__ADS_3

Sementara dirumah lira sedang berfikir keras untuk mencari kerjaan baru, yang nyaman dan juga banyak uangnya.


"Apa aku minta bantuan pada Yuniar untuk mencarikan kerjaan ya." lira berusaha untuk menghubungi yuniar.


"Ah, sebaiknya aku menginap saja di rumah Yuniar malam ini dan membantu di, iya begitu saja." lira telah bertekad.


"Halo Yun, apa aku boleh menginap di rumah mu malam ini? Tidak aku tak ada kerja an besok pagi, iya nanti aku ceritakan saat kita ketemu saja ok. Tut" lira bersiap setelah mematikan panggilan telpon dengan yuniar.


Lira pun bergegas pergi ke rumah Yuniar setelah memberi kabar lewat pesan singkat pada satria kalo dia tidak akan pulang malam dan menginap di rumah Yuniar.


...🍂🍂🍂...


Di kantor liyon terlihat sangat suram dan tak bersemangat, apa lagi tadi pagi saat dia datang dia tak melihat lira dan juga tak ada kabar dari lira.


"Bos data laporannya sudah dikirimkan ke tuan Haris dan seperti nona lira sudah menyiapkan semuanya dengan tepat." lapor farid pada liyon yang menanyakan soal laporan kerja samanya dengan tuan Haris.


"Apa kamu mendengar dia dimana? Apakah dia lagi bertugas untuk mengawal mama lagi?" liyon bertanya dengan masih melihat berkas berkasnya.


"Tidak saya tidak mendengar laporan apa pun." jawab Farid dengan cepat.


"Baik, kau boleh pergi." liyon menyuruh Farid keluar dari ruangannya.


Tok...Tok...Tok


"Masuk." ucap liyon saat dia mendengar pintu ruang kerjanya ada yang mengetuk dari luar.


"Selamat pagi pak."


"Ada masih pagi sudah kesini, apa ada laporan dari HRD?" tanya liyon yang melihat orang dari pihak HRD menemuinya.


"Iya maaf sayang mengganggu, sebenarnya prosesnya sudah berjalan dan sudah diserahkan dari kemaren siang, cuma saya membutuhkan tanda tangan dan juga ACC dari bapak sebagai pimpinan dan bos di sini. Ini saya serahkan surat pengunduran diri dari sekretaris lira kemaren sore." ucap orang HRD itu.


Brak.!


"Apa?! Apa katamu tadi, surat pengunduran diri?" liyon bertanya dengan terkejud sampai menggebrak meja.


"Ah, iya benar." jawab orang HRD dengan terkejud dan juga bingung melihat reaksi dari bosnya.


"Hentikan prosesnya dan jangan dilanjutkan, tidak ada hal pengunduran diri atau apa pun itu namanya." ucap liyon dan langsung pergi keluar dari ruangannya meninggalkan orang itu sendiri berdiri dengan bengong dan juga berkas berkas yang tergeletak diatas meja kerjanya.


Braak.!


Liyon membanting pintu ruangannya yang membuat Endang dan juga Safitri terkejud.


"Eh, kenapa dengan bos mbak? Kok keluar dengan wajah kusut dan marah begitu?" tanya Endang pada Safitri yang Safitri juga tidak atau.

__ADS_1


"Farid temui aku di parkiran sekarang juga." perintah liyon pada farid lewat panggilan telpon.


"Eh, Bu ada apa? Apa ada masalah gawat? Tadi saya melihat bis keluar dengan marah." tanya Endang pada orang HRD yang keluar dari ruang kerja liyon.


"Tidak tau, aku cuma menyampaikan padanya surat pengunduran diri dari teman kalian lira."


"Apa?! Pengunduran diri?" jawab Endang dan Safitri bersamaan.


"Ada apa dengan kalian, semua sama saja reaksinya. Bahkan bos juga seperti itu tadi." gumam orang HRD itu meninggalkan Endang dan juga safitri yang masih bengong.


Seperginya orang HRD itu Endang dan Safitri saling pandang dan mereka sama bingungnya karena tak ada kabar apa apa dari lira soal dirinya yang akan mengundurkan diri.


"Bos ada apa, kenapa nada bicaranya seperti telah terjadi sesuatu." Farid lari kearah liyon yang berdiri disamping mobilnya.


"Berikan kuncinya, nanti kalo kamu mau pulang bisa naik angkot atau gunakan mobil kantor." ucap liyon tak menjawab pertanyaan dari Farid.


"Biar aku antar mau kemana." tawar Farid pada liyon yang terlihat sangat gusar.


"Tak perlu." liyon langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Sebenarnya ada apa, apa ada hubungannya dengan nona Lira?" gumam Farid yang melihat liyon sudah menghilang dengan cepat dari pandangannya.


"Kak dimana kamu sebenarnya."


Tuuuuuutt


Panggilan telepon liyon tak tersambung, dan sudah berkali kali liyon menghubungi lira dalam perjalanan.


"Aaah.!" liyon memukul setir mobilnya dengan kesal


"Kemana dia biasanya pergi, kenapa aku begok sekali. Bahkan tak tau apa apa tentang dirinya, apa aku pantas menyukainya?" gumam liyon dengan kesal pada dirinya sendiri yang masih melajukan mobil dengan mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari lira dan berharap akan menemukan lira dijalan.


Tuuuuuutt...tuuuuuutt


Panggilan ini sedang diluar service area.


"Aaaaah, sial." liyon terlihat semakin tak tenang.


Liyon berkeliling ke segala penjuru tempat, dan semua tempat telah dia datangi bahkan rumah orang tua liyon dan juga rumah nenek lira yang sebelumnya telah dia selidiki dan cara tau.


"Kak dimana kau sebenarnya dan kenapa telpon mu tak bisa nyambung. Apakah kamu semarah itu pada ku?" liyon memarkir mobilnya ditepi jalan dan dia sudah merasa lelah menjari lira hingga 8 jam sampai melupakan makan.


"Kamu memang ber*ngsek liyon, bagaimana bisa kamu memaksakan kehendak mu seperti itu. Ini Indonesia bukan diluar, dan semua wanita punya hak untuk menolak jika itu tak diinginkannya." liyon mengacak rambutnya dan bergumam menyesali segala perbuatannya yang memaksa lira.


"Rumah, apa aku harus ke rumahnya lagi? Mungkin saja dia sudah pulang sekarang." liyon pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju ke rumah lira lagi.

__ADS_1


"Satria? Kenapa bisa satria ada di rumah kakak?" liyon mengerutkan keningnya saat dia melihat satria di depan rumah lira.


"Satria." panggil liyon yang sudah berdiri dibelakang satria yang sedang membetulkan motornya.


"Eh, Liyon kenapa kamu ada di sini?" satria berdiri dan bertanya heran.


Kruuuucuuk


Suara perut liyon berteriak karena dari siang belum diisi. Dan spontan itu membuat satria tertawa.


"Keras banget bunyinya. Ayo masuk kalo gitu ku buatkan makanan untuk mu." ajak satria pada liyon.


"Apa masuk? Membuat makanan? Sedekat apa hubungan mereka sebenarnya." batin liyon yang mengikuti satria.


"Kamu tinggal di sini?" tanya liyon dengan nada tak suka.


"Hei, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi." ucap satria yang melangkah masuk menuju ke arah dapur.


"Aku yang bertanya.!" kesal liyon


Dengan terbahak satria menatap liyon. "ini rumah kakak ku, dan kami tinggal bersama. Bukankan dia bekerja di perusahaan mu? Lira Anggraini, sekretaris mu." jawab satria santai.


"Mau dicampur saja telurnya atau digoreng sendiri?" tanya satria yang mau membuatkan mie instan liyon.


"Dia kakak mu? Di campur." jawab liyon dan rasa kesalnya mulai sedikit mereda.


"Ya, dia kakak ku. Tapi tenang saja malam ini dia tak ada di rumah. Tadi pagi dia kirim pesan kalau mau bermalam di rumah temannya kak Yuniar." jelas satria dengan nada sendu.


"Kau sedih, kenapa? Kalian bertengkar?" liyon bertanya karena satria terlihat sedih.


"Tidak, kamu masih ingat dengan ceritaku kalau aku menyukai seseorang?" melihat liyon yang duduk didepannya.


Deg


Jantung liyon berdebar dan tangannya mengepal kuat, saat dia ingat bahwa satria pernah bilang kalo dia menyukai seorang gadis yang 5 tahun diatasnya.


"Iya, apa dia kakakmu itu?" tanya liyon dengan jantung yang semakin kuat berdebarnya.


"Apa kau gila.!" bentak satria


"Aku menyukai temannya kak Yuniar, namun dia telah memiliki seorang kekasih sekarang." satria menjawab dengan senyum kecut.


"Syukurlah." jawab liyon bernafas lega.


"Kamu ini benar benar sial ya.! Nyesel aku buatin kamu makanan." teriak satria kesal karena liyon bukannya simpati namun terlihat senang.

__ADS_1


"Tidak bukan begitu maksud ku, lagian siapa yang minta kau buatin makanan. Aku bisa masak sendiri." bela liyon.


__ADS_2