
Keesokan pagi saat liyon bangun lira sudah tak ada ditempat dan setelah dicariin disekitar rumah lira juga tak ada di rumah, liyon hanya bisa menghela nafas karena baru ingat kalau hari ini lira keluar dari rumah dan tak akan merawat liyon secara penuh sebab liyon sudah tak memakai perban dan juga sudah bisa mandi sendiri.
"Selamat pagi Bos Liyon." sapa farid yang melihat liyon bengong saja didepan meja makan.
"Hah, kenapa dia suka sekali pergi di pagi hari tanpa pamit pada ku." gumam liyon yang selalu bertanya tanya kenapa lira kalau pergi dari rumahnya selalu saja pagi pagi dan sebelum dia bangun.
Farid tersenyum melihat liyon yang menggerutu karena lira, Farid sangat kenal dengan bos-nya yang sudah dia kenal sejak lama sekali.
"Farid apa kamu sudah mendapatkan semua infonya tentang mereka?" tanya liyon pada Farid yang ikut sarapan.
"Iya tapi hanya sebagian saja yang bisa aku temukan, sepertinya dibermain bersih dan juga selalu menggunakan orang lain sebagai kambing hitam."
"Dan 1 lagi yang kutemukan, dia suka menggaet orang yang diincarnya dengan menggunakan tumbal terbaiknya."
"Maksud mu apa? Dia suka memberi umpan pada buruannya seperti saat ini?" tanya liyon untuk lebih memastikannya.
"Iya, seperti saat ini dia menggunakan putrinya yang kebetulan menyukai mu." jelas Farid yang menemukan informasi yang diselidiki oleh Farid.
"Baiklah, kita bahas lagi nanti. ayo kita berangkat." ajak liyon dan Farid mengikutinya dari belakang.
Selama perjalanan liyon terus menghubungi lira yang sudah pergi dari rumahnya di pagi hari, namun lira tak mengangkat panggilan dari liyon dan nomornya terus saja diluar service area, kadang juga sibuk dipanggilan lain.
...🍂🍂🍂...
"Halo lira, wah ternyata benar kamu ya. Senang ketemu sama kamu." sapa Robin pada lira saat mereka ketemu di perusahaan tempat lira bekerja.
"Ah Robin, kamu ada urusan apa datang ke sini?" lira yang terkejut bertemu dengan Robin bingung mau menjelaskan apa karena waktu itu dia tak ada kabar setelah kencan buta itu bersama dengan Robin
"Aku ada urusan sama devisi pemasaran di sini, karena kantor kamu memesan sebuah desain untuk ruangan dan aku ada janji temu dengan mereka di sini." jelas Robin pada lira.
"Oh iya kalau nanti kamu tak ada urusan maukah kamu ketemu sama aku untuk makan siang bersama, karena ada yang ingin aku omongin sama kamu." ajak Robin dan setelah berfikir sebentar akhirnya lira pun setuju.
"Kalau begitu aku pergi dulu nanti aku hubungi kamu." ucap robin dan dia pun pergi meninggalkan lira.
"Ya Ampun aku merasa sangat bersalah pada Robin, karena setelah acara kencan buta itu aku sama sekali tak menghubungi dia." lira bergumam sambil berjalan menuju ke lif.
__ADS_1
Selama bekerja lira sama sekali tak memperhatikan liyon dan lira hanya akan masuk ke dalam ruangan liyon kalau liyon menghubungi dia atau kalau ada perlu untuk menanda tangani berkas saja.
"Kenapa seharian ini dia begitu dingin pada ku, bahkan tak menanyakan sol luka ku lagi. Apa karena benangnya sudah diangkat jadi dia tak peduli lagi dengan ku?" liyon berfikir sendiri soal lira yang tak menanyakan tentang keadaannya sama sekali hari ini.
"Bos.!" panggil Farid dengan sedikit tenaga karena liyon bengong
"Waeh iya.! Tak bisa kah kau berkata lebih halus?" kesal liyon pada Farid yang mengejudkan dia.
"Aku sudah memanggil dari tadi." jawab Farid dengan nada kesalnya.
"Katakan." liyon memerintahkan Farid.
"Iya, data terbaru yang baru saja aku dapatkan menjelaskan bahwa dia adalah orang kejam dan juga tega memanfaatkan siapa saja demi keuntungannya sendiri." Farid menjelaskan panjang lebar bapa liyon dan juga memberikan data yang dia dapatkan termasuk hasil tipuan serta penyala gunaan dana dari sebuah proyek yang pernah ditangani oleh orang yang sedang diselidiki oleh liyon
"Simpan semuanya dan akan kita gunakan itu sebagai senjata pada saatnya nanti, untuk sekarang kita di saja dulu pura pura tak tau dan ikuti permainannya." jelas liyon dengan senyum yang sangat mengerikan.
"Jadi kita melakukannya seolah kita telah memakan umpannya dan terpancing kedalam permainannya begitu?" ucap Farid yang dianggukkin oleh liyon.
"Apa tak apa jika begitu? Bagaimana jika dia mengambil banyak data dari perusahaan. Apa tak terlalu beresiko seperti itu." Farid terlihat khawatir dengan cara dan rencana liyon.
"Oh, baiklah aku mengerti maksud kamu. Akan aku lakukan sesuai rencana." jawab Farid lalu pergi meninggalkan ruangan liyon.
Sore itu lira pulang ke rumahnya dia tak lagi pulang ke rumah liyon karena liyon sudah sembuh, dan begitu sampai di rumah lira meminta penjelasan pada satria dan juga Yuniar soal hubungan mereka berdua yang terjalin dibelakangnya.
Yuniar membuka cerita dan menjelaskan bagaimana awalnya mereka bisa terjebak dalam situasi yang memaksa mereka harus menjalin hubungan yang tanpa disadari oleh Yuniar.
"Maksud mu, cerita yang kamu ceritakan padaku beberapa waktu yang lalu adalah kisah mu dengan bocah tengil ini?" lira bertanya tak percaya.
"Kak, aku sudah lama menyukainya dan aku tak bisa lagi mengalah untuk melepasnya." jelas satria.
"Aku tak peduli dengan hubungan romansa kalian, yang aku pertanyakan adalah kenapa kalian merahasiakannya dari ku dan tak mau menceritakannya secara gamblang dan jelas kepada ku."
"Dan ini, aku merasa kalau aku telah dikhianati oleh kalian berdua, dan kau." lira menunjuk pada satria, "Bukankah kau bilang akan selalu ada untuk ku dan tak akan pernah meninggalkan aku, kenapa sekarang kau malah mau pergi meninggalkan aku sendiri dan mau tinggal bersama dengan dirinya?"
"Kau benar - benar tak setia Sat, kau mengkhianati ucapan mu pada ku." lira berkaca kaca karena mau ditinggal satria tinggal bersama dengan Yuniar.
__ADS_1
"Li - lira maafkan aku, aku sudah bilang padanya tak usah ikut aku tapi dia memaksa." Yuniar merasa bersalah pada lira.
"Tidak bisa, kamu gak boleh tinggal seorang diri. Aku gak mau si Denis b*r*ngs*k itu mengganggu mu." jawab lira dengan tersenyum, "Tapi kalian harus sering - sering main kerumah ku."
"Dan Sat apa ayah sama ibu sudah tau? Kamu jangan bertindak sembarangan." tanya lira pada satria.
"Mereka semua sudah tau, dan aku berencana libur kerja Minggu depan akan membawah Yuni ketemu sama mereka." jelas satria.
Yuniar dan lira berpelukan dengan bahagia karena tak menyangka bahwa semua ceritanya akan jadi seperti ini, sahabat jadi saudara dan juga keluarga. Dan setelah pertemuan juga penjelasan itu satria dan juga Yuniar pergi ke rumah Yuniar, tinggallah lira seorang diri seperti awal menempati rumah itu.
Ting tong
"Siapa malam - malam begini bertamu." gumam lira dan mengintip dari balik korden jendela.
"Liyon? Ngapain dia ke sini malam - malam." gerutu lira dan membukakan pintu untuknya.
"Kakak lama sekali bukanya." keluh liyon dan menerobos masuk kedalam.
"Kamu ngapain ke sini malam - malam?" tanya lira dengan dingin.
"Aku merindukan kakak apa aku salah datang untuk menemui pacar ku sendiri? Dan aku bawakan ini untuk kakak." liyon menunjukkan buket bunga dan juga makanan kesukaan lira.
"Terserah kamu saja, jangan ganggu aku karena aku capek dan juga ngantuk banget, aku mau tidur. Dan aku tak lapar, kamu taruh saja bunganya di vas kosong itu lalu makanannya bisa kamu makan atau simpan di lemari es." lira melangkah masuk kedalam kamarnya setelah bicara.
"Aku tidur dimana kak?" liyon bertanya dengan mengikuti lira
"Terserah kamu mau tidur dimana, ada 2 kamar kosong karena satria sudah pindah." jawab lira lalu dia menutup pintu kamarnya.
"Ya kak? Jahat banget sih dia. Sudah seharian di kantor gak ketemu, pulang kerja juga gak ketemu, sekarang dicuekin."
"Kenapa dia berubah jadi seorang pacar yang begitu dingin sih."
Liyon mengeluh, karena dia tak dapat sambutan baik dan hangat dari lira dan juga dicuekin oleh lira.
Liyon awalnya tidur di sofa, namun saat tengah malam setelah dari kamar kecil malah melangkah masuk kedalam kamar lira dan tidur bersama dengan lira, sambil memeluk lira dengan sangat erat.
__ADS_1