
Setelah melakukan pertemuan dengan Rian yang bisa dibilang gagal itu Liyon pergi dan menyuruh Farid kesebuah TK untuk menjemput jagoan kecilnya yang sudah mulai aktif masuk sekolah hari ini. Dari jauh terlihat anak kecil yang sedang bermain dengan beberapa rapa temannya dan terlihat sangat bahagia.
"Ferdi." panggil Liyon dari jauh dan Ferdi langsung lari dan menghambur kedalam pelukan Liyon.
"Pa, eh Om" ucap Ferdi dengan nyengir karena lupa jika diluar harus merahasiakan siapa Liyon.
"Hahaha, apa saya Om Farid sudah tau siapa Ferdi bagi papa." jawab Liyon tertawa dan menyentuh hidung Ferdi.
"Hihihi, iya papa." jawab Ferdi nyengir lagi menunjukkan sederet gigi putihnya yang berbaris dengan rapi.
"Ferdi sudah makan? Ayo kita pergi makan sayang." ajak Liyon dan Ferdi langsung mengiyakan ajakan Liyon.
Setelah pamit pada gurunya Ferdi langsung pergi bersama dengan Liyon dengan sangat bahagia. Dan Liyon membawah putranya itu ke restoran hotelnya. Di restoran itu Farid yang melihat merasa lucu karena dua orang yang tidak lagi terlihat mirip melainkan sama persis, dari caranya makan, mengupas udang bahkan makanan yang mereka suka dan tidak juga sama persis.
"Apa setelah makan ini Ferdi akan balik lagi ke sekolah Pa?" tanya Ferdi disela - sela makannya.
"Tidak, kenapa harus kembali lagi ke sana? Teman - teman mu pasti sudah pulang karena ini adalah jam makan siang." jawab Liyon menatap putranya dengan aneh.
"Kenapa kok tiba - tiba tak selera makan?" sambung Liyon dengan pertanyaan karena Ferdi berhenti makan secara spontan.
"Mama pasti akan marah besar, karena Ferdi lari dari belajar." jawab Ferdi dengan takut dan cemas.
"Hem, jadi Ferdi takut sama Mama? Tapi tenang saja, Mama takut sama Papa jadi urusan sama mama serahkan saja sama papa ok. Ayo lanjut makan lagi." liyon memberi tahu pada Ferdi kalau mamanya takut pada dirinya.
...🍂🍂🍂...
Disisi lain pak Hendra tak tau harus menghadapi Meli bagaimana, karena setelah sembuh dan kembali belajar tiba - tiba saja Meli jadi murung dan juga mengurung diri didalam kamar serta pernah melakukan percobaan bunuh diri.
"Sayang Mel buka pintunya nak, jelaskan pada papa apa yang terjadi padamu?" pak Hendra mencobak merayu putrinya yang dari pagi mengurung diri dikamar mandi.
"Hiks, hiks, hiks." suara isak tangis Meli yang terdengar oleh pak Hendra.
"Mel, Meli buka pintunya nanti kamu bisa masuk angin disitu, ayo bicara sama papa. Tolong jangan begini nak, jangan buat papa cemas dan takut." bujuk pak Hendra pada Meli.
"Papa tak punya siapa - siapa lagi selain dirimu, jika sampai terjadi apa - apa padamu maka papa juga akan ikut hancur Mel. Buka pintunya kita bicara." bujuk pak Hendra lagi dan akhirnya Meli keluar dengan wajah sembab serta bengkak karena kebanyakan menangis.
"Papa." Meli memeluk pak Hendra dengan sangat erat dan menumpahkan lagi tangisnya hingga jatuh pingsan.
Ya Meli sudah sering kali jatuh sakit sejak kejadian penyekapan itu, dan rasa percaya serta cerianya juga hilang. Apa lagi seminggu ini tiba - tiba Meli jadi sering murung bahkan melakukan percobaan bunuh diri.
"Meli hamil Pa, hiks." ucap Meli dengan tangisnya dan itu spontan membuat pak Hendra kaget
"Meli tak tau ini anak siapa dan kenapa Meli harus mengandung anak orang - orang jahat itu Pa, Meli tak mau Pa tolong Meli." Meli terus menangis dan mengadukan pada papanya soal kehamilannya.
"Katakan Pa, Meli harus bagaimana? Meli tak mau melahirkan anak ini, kenapa anak ini harus ada dan tinggal ditubuh Meli kenapa Pa, kenapa?!" teriak Meli histeris
"Tidak sayang tidak, Tia bukan anak orang - orang jahat itu. Dia adalah penyelamat mu dan kamu harus menjaga serta merawat dia karena dia adalah buah hati mu." jelas pak Hendra.
"Dengarkan papa sayang, anak ini tak bersalah" pak Hendra memegang perut Meli, "Dia adalah anugrah untuk kamu Daan yang akan memberikan kebahagiaan untukmu." ucap pak Hendra berusaha menenangkan Meli.
"Dengar, anak ini adalah anak dari orang yang sangat hebat dan juga baik, kamu tak boleh menyakiti dia karena ini adalah salah papa sayang." ucap pak Hendra dan mulai menjelaskan serta menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Meli.
__ADS_1
Ingatan pak Hendra.
"Ugh, tidak nyaman, panas aku main disentuh tolong sentuh aku aku mohon tolonglah aku." Meli yang duduk dikursi belakang mulai meracauh dan terus mengganggu Farid yang sedang menyetir.
"Nona duduklah, tolong singkirkan tangan putri bapak dari leher saya." ucap Farid pada pak Hendra yang duduk disebelah Farid.
"Meli jangan begini nak, duduklah lagi dengan tenang." pak Hendra melepaskan rangkulan tangan Meli di leher Farid.
"Ugh," kciiiit "Nona?!" Farid marah karena hampir saja mau celaka dengan menabrak mobil didepannya karena tiba - tiba Meli menarik dan memutar wajah Farid lalu mengecup kening Farid.
"Tuan Farid biar saya yang menyetir." ucap pak Hendra dan meminta Farid untuk turun dan berpindah, karena bisa celaka jika Farid yang membawah mobil.
"Tidak, sebaiknya bapak kendalikan putri bapak." tolak Farid.
"Tapi kalau dibiarkan begini terlalu lama kasian putri saya tuan Farid, jadi kita harus cepat sampai" tukas pak Hendra lagi dan Farid pun turun berpindah posisi dengan pak Hendra.
"Kita sudah sampai tuan Farid, tolong bantu saya membawah putri saya masuk." pinta pak Hendra dan Farid yang dari tadi sibuk menenangkan Meli tak sadar kalau pak Hendra tak membawa mereka ke rumah sakit melainkan pulang ke rumah.
"Loh ini bukan rumah sakit pak." ucap Farid kaget saat dia sadar ini halaman rumah pak Hendra.
"Iya ini rumah saya tolong bantu saya membawa putri saya masuk dulu." pak hendra memohon pada Farid dan Farid mengikutinya saja.
Setelah didalam rumah dan di sebuah kamar pak Hendra memohon pada Farid untuk membantu dan menolong penderitaan putrinya serta menjelaskan kalau putrinya masih gadis dan belum pernah disentuh oleh pria mana pun, mendengar itu Farid marah besar pada pak Hendra namun ulah Meli yang terus saja berusaha meraba tubuh Farid membuat Farid juga mulai memiliki gejolak hasrat.
"Saya mohon tuan, tolong hilangkan penderitaan putri saya tolong saya. Saya tak akan menuntut apa - apa pada tuan." permohonan pak Hendra lagi dan mengunci Meli sama Farid didalam kamar Meli.
Ceklek
Jika nanti terjadi sesuatu katakan pada ku, dan maafkan aku. Ini permintaan anda aku hanya menjalankan, tapi aku akan bertanggung jawab jika diminta.
^^^Farid^^^
Kembali pada kenyataan
"Maksud papa apa? Jadi papa yang menyerahkan Meli pada pria itu yang merupakan atas papa dikantor papa?" tanya Meli tak percaya.
"Maafkan papa saya, karena papa sudah tak tau harus bagaimana melihat kamu yang tersiksa, dan lagi dia adalah orang yang baik, papa sudah mengenalnya sangat lama." jelas pak Hendra pada Meli.
"Papa?! Apa papa tak tau kalau Meli menyukai orang lain, kenapa papa tega melakukan ini pada Meli putri papa sendiri." teriak Meli pada pak Hendra
"Aku benci papa.!" teriak Meli lagi semakin histeris.
...🍂🍂🍂...
"Ferdi" teriak Lira memanggil nama Ferdi begitu masuk kedalam rumah Liyon.
"Mama" Ferdi yang dari tadi bermain di ruang kerja Liyon karena ingin menemani papanya kerja tiba - tiba saja lari dan bersembunyi dibelakang Liyon
"Kenapa?" Liyon yang merasa aneh pun bertanya pada putranya yang sedang bersembunyi dibelakangnya.
"Ada mama." jawab Ferdi dengan mata bulatnya.
__ADS_1
"Nyonya Lira." panggil bi Min
"Maaf bi, apa bibi melihat Ferdi kesini?" tanya Lira dengan sopan.
"Ada di ruang kerja tuan muda Liyon." jawab Bi Min
"Terima kasih," Lira langsung melangkah menuju ruang kerja dan begitu di buka di sana ada bocah kecil yang sedang sembunyi karena tau apa kesalahannya, sedangkan Liyon tetap santai melihat berkas - berkas diatas mejanya.
"Jangan menakuti anak tak baik." ucap Liyon tanpa melihat Lira.
"Dan kau apa? Mengajari anak bolos di pelajaran terakhirnya?!" tanya Lira dengan geram mendekat ke arah meja kerja Liyon.
"Bolos apanya, itu sudah waktunya pulang dan pelajaran terakhirnya hanya bermain saja." ucap Liyon yang masih tak menatap Lira karena sibuk dengan pekerjaannya.
"Bermain juga merupakan jam belajarnya dan aku tak suka kamu sembarangan, jangan ajarkan dia hal - hal yang salah." Lira berkata dengan kesal dan Liyon hanya melirik Lira sekilas.
"Ferdi ayo kemari jangan sembunyi seperti itu, dan jangan pernah lagi bolos atau meninggalkan kelas sebelum mata pelajaran selesai" Lira berjalan kesamping Liyon untuk meraih putranya yang sedang sembunyi dibelakang Liyon dengan pegangan kursi.
Cup
Liyon menc*um bibir Lira dan merangkul pinggangnya, ******* dengan dalam, "sudah ku bilang jangan menakuti anak." ucap Liyon menatap bola mata Lira dengan dalam setelah mengurai c*umannya.
"Liyon kau." Lira melangkah mundur menghindari Liyon.
"Ferdi bilang maaf pada mamamu." ucap Liyon setelahnya.
"Mama maaf, lain kali Ferdi tak akan mengulanginya lagi." ucap Ferdi dengan tertunduk dan menggenggam baju bawahnya dengan erat.
"Bagus anak papa," Liyon mengusap kepala Ferdi dan melangkah mendekati Lira.
"Maafkan aku ya sayangku, ini salah ku yang membawah dia keluar dari kelas terakhirnya." ucap Liyon memeluk Lira lagi dan mengecup pipi Lira dengan lembut.
"Jangan diulangi lagi." ucap Lira uang sudah tak marah lagi, dan Liyon menatap putranya dengan mengedipkan sebelah matanya lalu dibalas dengan senyuman oleh Ferdi.
"Mama sudah gak marah lagi?" tanya Ferdi melangkah mendekat dan ikut memeluk mamanya.
"Anak baik, lain kali tak boleh ikut sama papa jika belum waktunya jam pulang ok." ucap Lira duduk di sofa dengan memangku Ferdi.
"Iya." Ferdi menjawab dengan wajah polosnya.
Liyon tersenyum melihat pemandangan itu dan dia mengucapkan rasa syukurnya dalam hati karena orang - orang yang dia sayang sekarang berada dalam genggaman dia, dan Liyon berjanji dia tak akan melepaskan Lira dan Ferdi apa pun yang akan terjadi.
"Kenapa kalian hanya bermain berdua saja, papa juga mau." Liyon mendekat dan memberikan kecupan dipipi Lira dan juga Ferdi bergantian.
"Ferdi janji sama mama, nanti tak akan terpengaruh sama bujuk rayuan papa." ucap Ferdi dengan tegas pada mamanya.
"Iya harus janji, jika melanggar maka tidak boleh tidur sama mama." jawab Lira
"Kalau begitu papa saja yang tidur sama mama." Liyon memeluk Lira
"Gak boleh Ferdi yang tidur sama mama." Ferdi ikut memeluk Lira erat.
__ADS_1
Malam itu Lira menginap di rumah Liyon karena Ferdi gak mau pulang dan ingin tidur di rumah papanya