
"Sayang kamu sudah sadar?" Liyon mendekat dengan tatapan khawatir.
"Iya aku hanya ngantuk saja kenapa kamu sampai memanggil Bagas kemari? Bikin malu saja." Lira heran pada kekhawatira Liyon yang berlebih.
"Tak apa sayang aku hanya khawatir saja, tapi tubuhmu jadi makin berat ya sayang, sepertinya tubuhmu semakin berisi." Liyon berkata dengan santai ingin bercanda dengan Lira, tapi wajah Lira yang tadinya baik langsung mendung serta menangis dengan sangat sedih mendengar perkataan Liyon.
"Eh, sayang jangan sedih, itu tak masalah bagiku kamu tetap wanita kesayangan ku, aku hanya bercanda saja tadi." ucap Liyon panik dia menatap Bagas dengan bingung karena emosi Lira kadang tak menentu.
"Jangan menatapku aku tak tau, sebaiknya kau bawah periksa ke bagian ginekologi untuk tau lebih pastinya." jawab Bagas mengangkat kedua bahunya.
"Terus buat apa kau jadi dokter kalau tak tau?" tanya Liyon dengan kesal menatap Bagas.
"Hei, aku ini dokter bedah dan syaraf bukan dokter kandungan, jadi aku tak tau kalau masalah kehamilan ya. Apa kau pikir semua dokter bisa tau apa saja, itu ada bagian - bagiannya. Haah, bikin kesal saja." jawab Bagas dengan marah juga pada Liyon.
Setelah berhasil menenangkan Lira keesokan paginya Lira bikin ribut lagi karena dia gak mau memakai semua baju yang ada didalam almari dan ingin menggunakan baju yang baru disetrika dan masih hangat.
"Liyon menjauh lah kau bau aku gak suka." Lira mendorong Liyon yang mau mendekat dan mengecup keningnya.
"Ok, sayang kita ke rumah sakit seperti yang dikatakan oleh Bagas kemaren ya? Kita periksakan keadaan kamu dan kesehatanmu." ucap Liyon membujuk Lira.
"Baiklah, tapi jangan gunakan baju itu dan jangan pakai minyak wangi aku gak suka." jawab Lira dan dengan cepat Liyon ganti baju yang baru disetrika juga sama dengan Lira.
Selama perjalanan ke rumah sakit Liyon sudah berhenti berkali - kali karena Lira ingin beli setiap apa yang dia lihat. Jarak rumah Liyon dan rumah sakit yang harusnya ditempuh dalam 30 menit malah ditempuh Liyon dalam 1 setengah jam.
...🍂🍂🍂...
Setelah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan dokter kandungan Lira diperiksa, Liyon yang mengikuti dan melihat tak tau apa pun, dan ada apa didalam perut Lira karena semua gambarnya hitam.
"Selamat ya ibu, bapak, ini memang sedang hamil dan ada 2 kantong di rahim ibu. Bisa kemungkinan anak kalian nanti kembar tapi tidak identik." jelas dokter itu pada Lira dan Liyon.
"Jadi istri saya beneran hamil ya?" tanya Liyon tak percaya.
"Benar pak usia kehamilannya masih berkisar 9 Minggu jadi masih belum melihat jelas janinnya, tapi didalam rahim istri anda ada 2 kantong yang artinya adalah kalian akan mendapatkan 2 bayi dalam kehamilan ini." jelas dokter lagi pada Liyon dan Lira yang sudah duduk dikursi dipan meja dokter.
"Sayang terima kasih, terima kasih banyak aku sangat menyayangimu." ucap Liyon sangat bahagia dia memeluk dan mencium Lira. Kebahagiaan Liyon tak bisa digambarkan dengan apa pun dan tak bisa diungkapkan dengan kata - kata.
__ADS_1
"Ya ampun, bahagia banget jika aku punya suami yang penyayang dan juga setampan itu." bisik perawat yang ada diruangan dokter itu bersama dengan temannya.
"Benar, dia sangat tampan. Dan tampannya kebangetan." bisik temannya juga
"Baiklah nanti saya akan memberikan vitamin pada ibu, tolong ditebus dan diminum secara rutin ya." jelas dokter menuliskan sebuah resep.
"Apakah ibu ada masalah dalam kehamilan ini, atau keluhan yang ibu rasakan?" tanya dokter pada Lira.
"Tidak ada semua baik - baik saja, hanya sering ngantuk." jawab Lira, dan dokter itu pun mengangguk tanda mengerti.
"Baik, ini resepnya silakan ditebus dan ikuti perawat yang akan mengantar bapak dan ibu." ucap dokter itu.
"Mari ikuti kami pak, Bu." ucap perawat itu mengantar Lira dan Liyon.
"Aduh. Maafkan saya pak dan terima kasih." ucap perawat yang mengantar Liyon saat hampir jatuh karena salah menginjak anak tangga.
"Tidak apa, apa anda tidak terluka? Anda tidak apa - apa kan? Berhati - hati lah." ucap Liyon yang menangkap perawat itu dan membantunya berdiri.
"Tidak apa pak, sekali lagi terima kasih." ucap perawat itu pada Liyon dengan wajah yang sudah bersemu merah dan jantung yang berdetak sangat cepat.
"Ayo sayang, kita pulang." Liyon merangkul pinggang Lira dan berjalan keluar menuju parkiran mobil.
"Ya ampun, ya ampun, ya ampuunnnn. Beruntung banget sih wanita itu punya suami yang sangat luar biasa tampannya." ucap teman perawat itu setelah Liyon dan Lira pergi.
"Iya benar, pasti saat di ranjang dia sangat hot. Karena tadi saat aku tanpa sengaja hampir jatuh dan ditolongin olehnya, ya ampun ototnya sangat kekar, saat aku menyentuhnya." balas teman dari perawat itu.
"Aku mau pergi ke rumah Satria." ucap Lira saat mereka dalam perjalanan pulang
"Iya, aku antar kesana." Liyon berkata dengan senyuman yang terlihat sangat bahagia.
...🍂🍂🍂...
"Yuni,,," panggil Lira dengan sangat bahagia menerobos masuk kedalam rumah.
"Eh Lira aku baru saja mau main ke rumah mu, nih aku sudah siap - siap." Yuniar menunjukkan tas yang mau dibawah ke rumah Liyon dan Lira.
__ADS_1
"Hahaha, tidak perlu aku sudah datang." Lira tertawa bahagia.
"Kenapa? Tak biasanya kakak seperti itu." tanya Satria yang duduk di ruang tamu sama Liyon.
"Ayo kita lakukan tos kayak jaman sekolah dulu." ajak Lira dan mereka pun melakukan tos seperti jaman mereka masih sekolah dulu.
"Ini lihat sendiri." Liyon menyodorkan sebuah amplop kertas pada Satria.
"Ini apa, untuk ku?" tanya Satria bingung.
"Lihat sendiri, itu penyebab dari perubahan kakak mu." jawab Liyon datar dan membaut Satria semakin bingung.
"Hei, hei tos-nya kurang satu. Sekarang kita juga harus melakukan tos perut juga." ucap Lira dan Yuniar langsung nyambung.
"Hahahaha." mereka berdua tertawa bersama dengan sangat bahagia setelah melakukan tos perut dengan cara menabrakkan perut mereka berdua.
"Selamat Lira." ucap Yuniar memeluk Lira karena Yuniar seperti listrik tegangan tinggi hanya dengan sebuah kode dia langsung bisa tau apa yang dimaksud oleh Lira.
Liyon yang melihat ulah tingkah Lira merasa sangat gemas, karena bagi Liyon tingkah Lira terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Ya ampun, kakak hamil juga? Jadi mereka hamil bersama? Betapa ramainya nanti mereka." Satria mengeluh dan terlihat lemas.
"Kenapa begitu?" Liyon bertanya karena tak tau apa yang dikatakan oleh Satria
"Liyon tolong bantu aku mengambilkan tas putih itu." teriak Lira memanggil Liyon.
"Oh, iya apa yang ini?" tanya Liyon dan memberikan kepada Lira yang sedang memasak bareng Yuniar.
"Liyon bukan yang ini. Yang satunya." ucap Lira dan Liyon berdiri mengambilkan yang lainnya.
"Hahaha, Lira jangan begini ini nanti bisa tak enak rasanya ayo ditambahin ini saja." Yuniar menyarankan.
"Ya ampun apa yang mereka lakukan? Berisik sekali." ucap Liyon yang mendengarkan Lira dan Yuniar di dapur.
"Biarkan saja asal tak menyuruh kita mencobak masakan yang aneh saja." jawab Satria
__ADS_1